LOGINKanaya terdiam, terasa seperti baru ditampar kata-katanya sendiri.
“Tidak … bukan begitu …”
Mobil menepi perlahan.
“Selesai. Silakan,” gumam Liam datar.
Kanaya menghela napas, lalu buru-buru membuka pintu, menunduk dalam. “Terima kasih sudah mengantar. Selamat malam.”
Dia melangkah cepat pergi tanpa berani menoleh kembali, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh.
****
Beberapa hari berlalu. Siang itu Kanaya berlari tergesa menembus kerumunan orang di trotoar. Waktu hampir habis dan sekarang dia terjebak macet dalam perjalanan menuju kantor catatan sipil.
Padahal hari ini adalah jadwal Kanaya dan Liam menandatangani berkas akhir pembuatan akta nikah setelah semua proses online selesai.
“Tadi kenapa nggak naik motor saja…” gumam Kanaya pelan sambil memijat betis yang mulai kram. Namun dia kembali berlari, menuruni tangga dengan hampir saja terpeleset karena terburu-buru.
Sebelumnya, Liam sempat menghubunginya untuk menjemput di dekat asrama, katanya permintaan Nenek Riana. Kanaya menolak, merasa tidak enak merepotkan dan mengira naik bus cukup cepat. Sekarang dia hanya menyesal dalam diam.
Begitu tiba di area gedung catatan sipil, Kanaya melihat Liam sudah berdiri sendirian di sisi parkiran, tangan satu memegang ponsel, wajahnya jelas tidak sedang dalam suasana baik.
Kanaya menghampiri, masih berusaha menata napasnya.
“Maaf, Pak. Saya terlambat. Bus-nya terjebak macet,” ucapnya pelan, dia menunduk, napasnya masih terengah.
Liam mengangkat wajah, menatap sebentar dengan ekspresi datar. Lalu, pria itu memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan mendahului Kanaya. “Ayo, lima menit lagi mereka akan tutup untuk makan siang.”
Kanaya menelan ludah, lalu bergegas mengejar Liam.
Kanaya bergegas menyusul Liam memasuki gedung. Karena semua berkas sudah diurus secara online sebelumnya, mereka hanya menunggu giliran untuk foto sebagai langkah terakhir proses pembuatan akta nikah.
Prosesnya berjalan cepat, meski sempat canggung ketika fotografer meminta mereka berdiri lebih dekat. Kanaya menahan napas, sementara Liam hanya bergeser sepersekian tanpa ekspresi.
Tak lama setelah itu, keduanya keluar dari kantor catatan sipil dengan masing-masing memegang salinan akta nikah.
Di luar, Liam melihat ke arah Kanaya sekilas. “Kita makan dulu.”
“Eh … Nggak usa—” belum selesai Kanaya bicara, perutnya justru lebih dulu berbunyi.
Kruukk!
Kanaya membeku, pipinya memanas. Dia langsung menundukkan kepalanya merasa malu.
“Ayo, setelah makan baru saya antar kamu pulang,” kata Liam lagi dengan senyum tipis di bibirnya setelah mendengar bunyi perut Kanaya.
“Baik, Pak…” Kanaya hanya bisa mengikuti dari belakang, berjalan cepat agar tidak tertinggal.
Begitu Liam membuka pintu mobil untuknya, Kanaya menelan ludah dan masuk tanpa banyak kata.
‘Aku benar-benar tidak mengerti orang ini, kadang dingin menyebalkan, kadang baik,’ pikir Kanaya dalam hati sambil menarik napas panjang sebelum pintu mobil tertutup.
Perjalanan berlangsung dalam keheningan yang canggung. Tak ada satu kata pun terucap di antara mereka. Hanya suara mesin dan deru angin AC yang terdengar memenuhi kabin mobil.
Kanaya memandang lurus ke luar jendela, berusaha mengatur napasnya yang terasa memburu. Sementara itu, Liam tetap fokus pada jalan, kedua tangannya menggenggam setir cukup kuat.
Begitu mobil berbelok dan memasuki area parkir restoran, Kanaya baru menyadari betapa tegangnya suasana sepanjang perjalanan. Jantungnya masih berdetak kencang ketika mobil akhirnya berhenti.
Liam mematikan mesin dan berkata pelan, “Ayo.”
Keduanya duduk berhadapan di salah satu restoran dekat kantor catatan sipil. Mereka sudah memesan makanan dan minuman, kini hanya menunggu pesanan datang. Suasana masih terasa kaku; masing-masing sibuk menatap layar ponselnya.
Kanaya melirik sekilas ketika melihat Liam memotret buku nikahnya dan mengetik sesuatu. Liam mengangkat kepalanya, menangkap tatapannya.
“Nenek minta bukti kalau kita sudah selesai urusan di catatan sipil,” ujarnya singkat sambil memperlihatkan layar ponselnya sekilas.
Kanaya mengangguk pelan. “Oh… baik.”
Liam meletakkan ponselnya di meja. “Setelah ini, urus surat pindah dari asrama.”
Kanaya memandangnya, tampak terkejut. “Secepat itu?”
“Kita sudah menikah. Kamu paham kan?” jawab Liam datar. “Tenang saja, kita tidak tinggal dengan keluarga saya. Saya punya rumah sendiri.”
Kanaya menarik napas pendek sebelum mengangguk. “Baik. Besok saya urus.”
“Saya siapkan formulirnya. Ambil di ruang dosen, tinggal isi datanya.”
“Baik, Pak,” sahut Kanaya pelan.
Diam kembali menyelimuti meja. Tidak sampai lama, pesanan mereka datang. Mereka makan dengan tenang, tanpa percakapan lain di antara mereka.
Saat menyuapkan makanan ke mulutnya, Kanaya berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. Namun dada dan pikirannya terasa penuh sesak. Semua terjadi terlalu cepat, bahkan dirinya masih belum sepenuhnya memahami bagaimana dalam hitungan hari dia bisa berakhir duduk satu meja sebagai seorang istri… dari dosennya sendiri.
Setiap kali tanpa sengaja menatap wajah Liam di hadapannya, rasanya seperti mimpi yang absurd. Bukan ini rencana hidupnya. Bukan ini bayangan tentang pernikahan pertamanya. Semua terasa serba asing, serba canggung, dan sulit diterima akal.
Kanaya menunduk, menatap buku nikah yang tergeletak di samping ponselnya. Namanya tertera jelas di sana, berdampingan dengan nama Liam.
Akhirnya, Kanaya hanya bisa menghela napas pasrah. Setidaknya, pernikahan ini mungkin bisa menyelamatkan nasib ibunya dari sikap kasar ayah tirinya itu. Urusan bagaimana dia dan Liam di kampus, bisa dipikir belakangan.
****
Setelah selesai makan, Liam berdiri lebih dulu dan merapikan buku nikahnya ke dalam map.
“Ayo. Saya antar kamu pulang,” ucapnya singkat.
Kanaya buru-buru ikut berdiri. “Tidak usah, Pak. Saya bisa naik bus atau ojek saja. Lagipula arah pulangnya berbeda.”
Liam menghentikan langkahnya, menatap Kanaya datar. “Mulai hari ini berhenti menolak seperti itu.”
Kanaya terdiam, tidak menyangka nada suara Liam begitu tegas. Tapi, dia juga bingung kenapa Liam berkata seperti itu.
“Saya suami kamu sekarang,” lanjut Liam tanpa mengalihkan pandangan. “Tidak seharusnya seorang istri menolak perintah suaminya.”
Kanaya terkejut, dia menelan ludahnya perlahan, tak mampu membalas. “Tapi saya tidak biasa merepotkan—”
“Bukan merepotkan,” potong Liam cepat.
Tidak punya pilihan lain, Kanaya hanya mengangguk pelan. “…Baik.”
Mereka berjalan keluar restoran dalam diam sampai masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju asrama berlangsung hening, hanya suara mesin dan sesekali suara klakson kendaraan lain yang terdengar.
Sesampainya di depan gerbang asrama, Liam memberhentikan mobil pelan. “Besok saya urus formulir pindahnya.”
Kanaya memegang gagang pintu, ragu sejenak. “Terima kasih… Pak.”
Liam menoleh sekilas, lalu mengangguk pelan.
Namun, ketika hendak membuka pintu mobil, Kanaya mengurungkan niatnya. Dia kembali menatap Liam dengan ragu. Tangannya masih menggenggam erat map berisi buku nikah mereka.
“Kenapa?” tanya Liam singkat.
“Anu … Pak, apa boleh kita sembunyikan dulu pernikahan ini dari orang-orang di kampus?” tanya Kanaya ragu, dia bahkan tak berani menatap wajah Liam. “Saya tidak mau suasana di kampus jadi aneh, atau orang-orang mulai membuat gosip macam-macam. Soal hubungan malam itu juga saya tidak pernah bilang ke siapa-siapa.”
Liam terdiam beberapa detik, tidak langsung menjawab.
Kanaya buru-buru melanjutkan, takut salah paham. “Saya hanya butuh waktu, setidaknya sampai semuanya lebih stabil. Saya tidak siap kalau heboh.”
Liam menatapnya lama, seolah mencoba membaca alasan di balik matanya.
Hening menggantung di antara mereka.
Akhirnya, Liam mengangguk pelan. “Baik. Saya mengerti.”
Kanaya menghembuskan napas lega. “Terima kasih.”
Tanpa menambahkan apapun, Liam kembali menatap ke depan. “Masuklah. Istirahat.”
“Kakak yakin?” Kanaya menatap sedikit khawatir.Namun beberapa detik kemudian Kanaya terdiam sejenak. “Oh tidak, tatapan itu.” Kanaya menatap Liam penuh selidik. “Tatapan yang sama saat kita berada di hotel waktu itu.” ucap Kanaya dalam hati saat menyadari sesuatu.Ia tidak melupakan tatapan itu, tatapan saat Liam berada diatas kendali pria tersebut, meski dalam keadaan setengah sadar ia masih dapat melihat cukup jelas tatapan yang awalnya membuatnya takut namun perlahan menenangkan.****“Kak tadi aku minta untuk turun di dekat rumah sakit saja, kenapa malah jadi dibawa ke parkiran basement sih.” keluh Kanaya.“Memangnya kenapa sih? Ini bukan di area kampus juga, apa di rumah sakit juga harus dirahasiakan?”“Bukan gitu, kan ada beberapa teman mahasiswa juga yang ikut magang disini. Kalau mereka tahu gimana?”“Tinggal bilang saja kalau memang kita sudah menikah dan meminta mereka untuk tutup mulut sementara waktu sampai kamu siap.” sahut Liam yang sudah selesai memarkirkan mobilnya d
“Karena sepertinya yang kemarin gagal total, jadi kali ini aku harus pastikan harus bisa berhasil. Aku sudah tidak sabar untuk menimang keponakanku yang imut nanti,” gumam Aksa tersenyum penuh makna lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.Tanpa Kanaya sadari, saat dirinya mandi. Aksa sudah menaruh sesuatu kepada sup ayam buatannya yang sudah dipisahkan khusus untuk Liam sebelumnyaKanaya baru saja selesai mencuci piring, dia bersiap untuk pergi ke kamar mengerjakan tugas kuliahnya. Langkahnya perlahan namun pasti meninggalkan dapur setelah memastikan semua dalam keadaan bersih dan rapi, saat sampai di depan pintu kamar Kanaya mendengar suara orang menekan pin smart door rumah.“Kakak sudah pulang, aku kira akan pulang lebih malam seperti kemarin.” tanya Kanaya menghampiri Liam yang baru saja masuk dan melepas kedua sepatunya di depan pintu.“Apa Kanaya masih belum tahu tentang aku dan keluarga Wicaksana? Sudahlah memang lebih baik jangan tahu dulu sepertin
Kanaya tiba-tiba tersedak begitu melihat Liam begitu saja duduk di sampingnya lalu fokus dengan makanan dinampannya.“Sebagai tenaga medis kita jangan banyak mengeluh, apalagi membicarakan hal tidak baik tentang pasien kepada orang lain sekalipun teman sendiri.” ucap Liam dengan santainya.“Maaf pak, saya tidak akan mengulangi hal tersebut.” Kanaya bergegas meminum airnya karena masih dalam kondisi tersedak.“Lain kali tolong dijaga bicaranya, bagaimana kalau apa yang kalian bicarakan nanti tidak sengaja terdengar oleh keluarga pasien? Jangan sampai nanti kalian dituntut karena hal tersebut,”“Baik Pak.” ucap Kanaya dan yang lainnya secara bersamaan.Kanaya berusaha untuk segera menghabiskan makanannya, namun rasanya sangat sulit sekali ditelan. pandangannya tidak begitu fokus begitu pun tidak begitu mendengarkan apa yang Naira dan temannya yang lain berbicara, fokusnya teralihkan karena beberapa orang yang ada di kantin tidak sedikit yang melirik ke arah mejanya.Sedangkan Naira dan
“Halo semuanya perkenalkan saya Kiara larasati, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik selama kalian disini serta mendapatkan pengalaman terbaik yang tidak terlupakan selama kalian semua magang disini mohon kerjasamanya ya.” ucap Kiara tersenyum menatap mahasiswa satu per satu.Semua bertepuk tangan dan satu persatu para mahasiswa memperkenalkan diri mereka masing-masing.Tugas pertama mereka adalah merawat pasien, masing-masing akan merawat satu pasien untuk beberapa kedepan, para pasien merupakan pasien observasi yang dalam beberapa hari lagi akan pulang.Satu per satu Kaira menunjukan ruang pasien yang akan dirawat oleh masing-masing mahasiswa, terakhir kini giliran Kanaya. Kaira dan Kanaya masuk ke salah satu ruangan pasien, disana terdapat empat pasien di ruangan tersebut.Kanaya merasa sedikit gugup namun dia berusaha tetap tenang, untuk pertama kali menjaga dan melayani pasien secara langsung. Terlebih dia belum mengetahui pasiennya seperti apa, mulai sakitnya karena apa se
Aksa meletakan ponselnya di lemari kecil di samping tempat tidur. “Maaf ya kak Liam, kakak ipar. Aku hanya mengikuti keinginan nenek, aku juga ingin segera ada yang memanggilku paman tampan soalnya.” gumamnya menatap langit-langit kamar sang kakak.Aksa terkekeh sendiri membayangkan kelak sang keponakan memanggilnya “Paman tampan.” apalagi jika keponakannya perempuan, akan dia pastikan membuat keponakannya selalu menempel padanya.Kanaya dan Liam baru saja tiba di kamar, Liam bersiap untuk membersihkan diri duluan.“Kamu kenapa?” tanya Liam melihat Kanaya duduk di tepi tempat tidur dengan gelisah.“Nggak tahu gerah banget kak, perasaan tadi sudah aku hidupin acnya.” sahut Kanaya mengusap-usap leher dan mencoba mengibas-ngibaskan pakaiannya.Liam mendekat setelah dirasa ada yang aneh dengan Kanaya, dia memegang leher dan dahi wanita tersebut untuk mengecheck kondisinya. Namun dia terkejut saat tiba-tiba Kanaya memeluk tubuhnya.“Kak, sepertinya ada yang tidak beres dengan tubuhku,” uca
“Celaka! Kenapa bisa aku lupa membawa pakaian ganti, kak Liam sekarang ada di kamar nggak ya?” gumam Kanaya menggigit bibir bawahnya seraya mengeratkan handuk yang melilit tubuhnya dengan panik.Kanaya menepuk jidatnya beberapa kali karena kecerobohannya kali ini, padahal saat awal dia sudah menyiapkan pakaian ganti setelah tahu Liam akan satu kamar mulai malam ini sampai beberapa hari kedepan. Namun dia lupa membawanya karena terburu-buru pergi ke kamar mandi, dan kini dia kelimpungan bagaimana cara dia keluar dari kamar mandi dengan hanya selembar handuk yang melilit sebagian tubuhnya.Kanaya menarik nafas dalam-dalam mencoba tetap tenang keluar dari kamar mandi, dia berjalan mengendap-endap dengan pandangan waspada memantau sekitar apa ada Liam di kamarnya atau tidak.Kanaya menghela nafas lega setelah sudah memastikan tidak ada keberadaan Liam di kamar, dengan langkah cepat dia mengambil pakaian ganti yang sudah disiapkan tadi di kursi meja rias.****“Aksa lima menit lagi bel







