ログインKanaya yang baru saja memasukkan makanan ke dalam mulut hampir menyemburkannya ke meja. Ia buru-buru menutup mulut dengan kedua tangan. Namun, makanan itu telanjur membuat tenggorokan dan hidungnya terasa panas karena tersedak.Semua orang di meja makan langsung menoleh kepadanya.“Ya ampun, Kanaya! Kamu tidak apa-apa?” Danendra tampak meringis. Ia tahu betul penyebab menantunya tersedak adalah ucapan istrinya.Kanaya segera meraih gelas di sampingnya dan meneguk air sampai habis. Setelah nafasnya kembali teratur, ia mengusap sudut bibirnya.“Tidak apa-apa. Sekarang sudah lebih baik.”“Masih pagi, lho. Kenapa pembahasannya bisa merembet ke sana?” keluh Kanaya dalam hati.
“Ya ampun, ternyata tidak sia-sia juga sesekali menonton drama.” Kanaya menelan ludah, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. “Aku kira kejadian seperti ini hanya ada di drama. Ternyata mengalaminya sendiri benar-benar bikin spot jantung.”Gumamnya begitu pelan hingga nyaris tertelan suara orang-orang di sekelilingnya.Tatapan Kanaya beralih kepada Nafia. Perempuan itu kini hanya diam, tidak berkutik setelah mendengar ucapan Liam. Keberanian yang tadi memenuhi ruangan seolah lenyap begitu saja, menyisakan wajah tegang dan bibir yang terkatup rapat.Kanaya menghembuskan napas perlahan. Detak jantungnya masih belum kembali normal. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan sesuatu senekat itu sepanjang hidupnya. Selama ini, Kanaya selalu menjalani hidup dengan lurus, berhati-hati, dan sebisa mungkin menjauh dari masalah.Namun, hari ini ia justru menantang dirinya sendiri.Entah masalah apa yang akan datang setelah ini, Kanaya belum tahu. Yang jelas, ia merasa sedang b
“Setelah ini siap-siap saja rumah tangga kalian akan renggang, begitu kak William melihat semuanya aku yakin akan langsung meminta cerai saat itu juga.” gumam Nafia pelan saat berjalan hendak masuk ke dalam salah satu kamar hotel tersebut.“Kalian?” ucap Nafia dengan kebingungan.Wajah yang tadinya penuh dengan senyum penuh kemenangan kini berubah penuh kebingungan, orang yang berada di dalam ternyata bukan orang yang dia duga sesuai rencananya.Nafia mencoba mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, namun tidak menemukan keberadaan Kanaya disana. “Kenapa bukan wanita itu? kemana dia pergi sebenarnya,” ucap Nafia dalam hati mencoba mengedarkan pandangannya sekali lagi untuk memastikan.Di dalam kamar, tepatnya di atas tempat tidur dua orang langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka tidak mengenakan pakaian. Terlihat Sang pria masih setengah sadar, sedangkan wanita di sampingnya mencoba untuk membangunkan prianya.“Siapa kalian? Kenapa masuk tanpa izin.” bentak pria ya
“Baik nona.” pelayan tersebut bergegas menghampiri Kanaya.Suasana sudah mulai ramai, para tamu undangan silih berganti menghampiri Nafia untuk memberikan selamat atas “Tadinya obat itu akan aku gunakan untuk menjebak kak Liam agar bisa bersama denganku, tapi sepertinya ada sedikit perubahan.” gumam Nafia pelan tersenyum penuh arti.“Nona minumannya.” tawar pelayan tersebut kepada Kanaya.“Oh terima kasih,” Kanaya menerima minuman tersebut tanpa curiga dan mulai meminumnya sedikit demi sedikit.Saat ini Kanaya terpisah dengan Liam karena ada tamu undangan yang ingin membahas sedikit pekerjaan dengannya, Kanaya memilih untuk mencicipi beberapa makanan yang tersedia disana sambil menunggu Liam selesai berbicara dengan rekannya.Dari kejauhan Nafia tersenyum melihat ke arah Kanaya yang terlihat memegangi kepalanya, dia menyuruh orang sebelumnya kembali.Nafia memberikan kartu akses kamar hotel kepada pelayan tersebut. “Bawa dia ke kamar sisanya biar orang suruhanku yang lain yang akan m
“Kanaya ingat! Jangan membuat hal ceroboh dan tidak penting lainnya.” gumamnya menatap dirinya sendiri di depan cermin, setelah dirasa selesai dengan make up yang digunakannya dan tidak ada masalah dengan pakaian yang dikenakannya.Kanaya kembali menghela nafasnya, setelah siap dia bergegas untuk keluar dari kamar.“Wah ternyata gaunnya sangat pas dan cocok di kamu Kanaya.” ucap Vanya dengan sorot mata berbinar penuh kagum.Nenek Riana, dan kedua mertua Kanaya sedang berada di rumah Liam berniat berangkat bersama menuju acara.“Kakak seperti bidadari turun dari kayangan,” ucap Aksa ikut menimpali“Jangan terlalu hiperbola Aksa, itu sangat berlebihan.” sahut Kanaya seraya terkekeh.“Memang urusan fashion Vanya juaranya, benar yang diucapkan Vanya kalau gaunnya sangat cocok untuk kamu Kanaya.” ucap nenek Riana kini berdiri menghampiri istri cucunya tersebut.“Terima kasih nenek, ibu.”Danendra bergegas berdiri dari tempat duduknya. “Ya sudah ayo kita berangkat sekarang kalau semua sudah
“Kenapa kak Liam minta aku ke ruangannya, bukannya masalah tadi sudah selesai.” gumam Kanaya setelah selesai membalas pesan dari Liam dengan penasaran menanti balasan dari pria tersebut.Tak kunjung mendapatkan balasan, Kanaya memutuskan untuk langsung bergegas menuju ruangan Liam karena waktu istirahatnya tinggal sebentar lagi.Kanaya menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruang kerja Liam, dia mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam setelah dipersilahkan.“Ada apa…,” Kanaya terdiam sejenak. “Nenek, Ibu, A..ayah?” sapa Kanaya tersenyum canggung.Kanaya tidak mengetahui sebelumnya, kalau di ruangan Liam ada nenek Riana dan kedua mertuanya.Kenapa kak Liam nggak bilang ih kalau di ruangan ada keluarganya,” keluh Kanaya dalam hati.“Kemarilah!” ucap nenek Riana menepuk tempat duduk disampingnya.Perlahan Kanaya yang kini di serang rasa gugup menghampiri nenek Riana dan duduk disampingnya.“Kanaya.”“Iya nenek.”“Nanti malam kamu dan Liam ikut ke acara keluar
Kanaya membuka mulutnya, namun tak satu kata pun keluar. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.“Saya…” suaranya nyaris tidak terdengar, tenggorokannya seakan terkunci.Liam menatapnya lebih dalam, lalu berkata, “Katakan nanti saja di pertemuan keluarga.”Setelah itu, Liam lang
Tiba-tiba saja, potongan ingatan soal kejadian di ruang dosen itu kembali terputar di kepala Kanaya, ketika Liam menyinggung sikap Kanaya dengan menyebutnya sebagai wanita yang dijodohkan dengannya.Saat itu, Kanaya sama sekali tak paham dengan maksud ucapan Liam. Dia pikir, Liam mungkin salah bica
Kanaya membulatkan matanya, ini akan benar-benar menjadi akhir dari perkuliahannya.Entah apa yang dilakukannya di masa lalu hingga harus menghadapi situasi seperti ini sekarang. Kini, dia hanya bisa menghela napas dan menerima semua ini. Setidaknya jika dia tidak melawan, mungkin hidupnya masih ak
“Uhh … tolong pelan-pelan …”Kanaya menggeliat ketika pria itu menjamah tubuhnya. Rasa geli sekaligus nikmat menyerang seluruh indera di tubuh Kanaya.Beberapa menit yang lalu, gadis–tidak, wanita itu masih dalam keadaan sadar di pesta ulang tahun temannya. Namun, entah apa yang terjadi, tiba-tiba







