LOGINteman-teman buku ini ganti cover kemarin ^^
Dua bocah itu berjalan sambil merengut, kaki mereka sengaja dihentak-hentakkan ke lantai marmer. Kali ini mereka sangat kompak berbagi kekecewaan, bahkan Leksa berlagak menjadi kakak yang dewasa dengan merangkul bahu adik kembarnya. Mereka saling menguatkan karena rencana ke desa gagal total."Terus kita liburan di mana? Sekolah nanti ‘kan libur lama," tanya Leksa sambil menatap lurus ke depan dengan wajah ditekuk.Laksa terdiam sesaat, lalu memutar bola matanya mencari ide lain. "Di rumah Opa? Atau rumah Kakek Raymond?"Leksa langsung menggeleng kuat-kuat. "Nggak seru! Di sana cuma duduk-duduk doang, nggak bisa main air sepuasnya kayak di rumah Abah."Dirga yang sedari tadi berdiri sembari merapikan jam tangaan, hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Dua bocah itu sudah memikirkan rencana liburan sekolah dengan sangat serius, padahal waktu libur masih sangat lama.“Kalian mirip Mami kalau merajuk,” gumam Dirga.Dirga pun melangkah, sengaja mengeraskan langkah sepatu agar kedua anak
Sementara itu di apartemen, suasana di dalam kamar tidur utama sudah terlalu panas dan pengap oleh aroma keringat dari gairah. Randy terus menumbuk miliknya lebih dalam, menghujam langsung ke inti sang istri. Setiap sentakan Randy disambut dengan desahan Dinda yang terdengar liar dan tidak terkontrol."Ahhh ... Mas Randy ... ugh, iya di situ, jangan berhenti," racau Dinda dengan suara serak yang sangat menggoda, membuat darah Randy tambah mendidih.Sudah lebih dari satu jam pria itu menggagahi istrinya ini tanpa berbelas kasih. Randy benar-benar melepas seluruh penat dan stres kerja bersama Dinda.Bagi Randy satu kali pelepasan tidak cukup untuk menuntaskan dahaga pada tubuh wanita yang sangat ia cintai ini. Apalagi, ia merasa memiliki misi khusus, mengejar target untuk menghamili Dinda agar apartemen mereka tidak lagi sepi.Sentakan Randy makin bertenaga, membuat ranjang mereka berderit seiring dengan napas yang memburu. Dinda yang mencapai batas ketahanan pun mulai melengkungkan pun
Pukul enam sore ini, Laras meneguk air mineral hingga tandas. Kerongkongannya terasa kering usai berjibaku di ruang operasi selama hampir dua jam. Wanita itu membantu seorang ibu yang kebetulan juga melahirkan bayi kembar melalui prosedur caesar.Kini ia menyandarkan punggung pada pintu besi lemari, membiarkan sarafnya rileks sejenak. Meskipun bau antiseptik masih menempel lekat di kulitnya.Senyum mengembang di bibir basahnya, tatkala membayangkan wajah Leksa dan Laksa yang menggemaskan dengan gigi ompongnya. "Mami kangen kalian," gumamnya.Pikirannya pun melayang ke masa-masa sulit saat ia mengandung si kembar. Dulu, mereka hanyalah gumpalan darah yang rapuh, kini keduanya menjadi bocah-bocah penuh tingkah yang sering membuat Laras geleng-geleng.Hanya saja ada rasa bersalah yang mencubit hati. Ya, Laras tahu ada waktu bermain yang terpaksa dikorbankan demi menempuh pendidikan spesialisnya hingga bisa berada di posisi dokter kandungan seperti sekarang. Sukses memang butuh harga, da
"Ahh ... Randy," desah Dinda kala puncak kenikmatan itu akhirnya memanjakan seluruh sarafnya.Dalam dada yang masih berdebar kencang, Dinda mengakui sesuatu yang selama ini hanya ia dengar dari desas-desus. ‘Ternyata rasanya kayak gini ... sangat enaaak, tapi ada sedikit sakit yang sempat sesak.’ Setelah Randy memacu pinggulnya untuk terakhir kali malam ini, Dinda merasa tubuhnya seperti melayang. Benih-benih cinta itu kini tertanam sempurna di dalam rahimnya, membawa kehangatan yang menjalar di malam ke tujuh mereka.Dengan napas masih tersengal, Randy menyandarkan kepala sambil mengecupi kening Dinda yang basah oleh keringat. Ia tidak berharap wanita itu hamil cepat. Lebih ingin menikmati fase pacarana bebas.**Enam tahun kemudian.Siang ini, suasana selasar rumah sakit JB yang biasanya tenang mendadak riuh oleh suara melengking yang sangat familiar di telinga."Tante Dinda!" teriak Laksa dan Leksa kompak.Dinda yang baru saja keluar dari ruang sterilisasi dengan seragam OKA hijau
“Ssssshhh …,” desahan itu keluar tanpa kontrol. Bagaimana pun, sekuat apa pun Dinda menahan, suara merdunya mendesak. Rasa panas dari dalam tubuh membuat napasnya berderu cepat.“Dinda?” bisik Randy lagi. Dan … ugh, sialnya, bibir pria itu terasa halus dan napas hangatnya menyapu daun telinga. “Sayang, Dinda? Saya tidak bisa nunggu lagi.” Suara Randy tegas.Mata Dinda mengerjap perlahan dan bulu kuduknya sangat-sangat merinding. Bahkan jantungnya berdentum keras seperti genderang yang dipukul bertalu-talu, saat merasakan ujung hidung Randy menyesap aroma lehernya.Ya, Dinda tahu, malam ini ia tidak bisa lagi mengelak di balik selimut atau pura-pura terlelap.Di balik rasa panas yang mulai menjalar ke seluruh saraf, jujur saja ada ketakutan yang membeku di hati. Dinda, membayangkan cerita menyebalkan dari teman-temannya, tentang suami yang egois di atas ranjang, bagaimana rasa sakit yang tak tertahankan, atau lebih buruk lagi, seputar fakta kekecewaan pria jika sang wanita tidak bisa me
Beberapa hari setelahnya, Raymond masih terbaring di rumah sakit. Tubuhnya yang sudah ringkih itu memerlukan waktu lebih lama untuk pemulihan. Ia pun tidak lagi memaksa pulang, lantaran ingin benar-benar sembuh. Meskipun gengsi, tetapi ia berbesar hati menerima kebaikan Dirga dengan biaya perawatan gratis di sini.Kini, mantan Casanova di eranya itu bukan hanya hidup bersama istri dan kedua anak dari perikahan sahnya. Namun, Raymond juga ingin melihat kedua putrinya yang lain sukses dan cucu-cucunya tumbuh dewasa.Siang ini, Raymond sedang melakukan panggilan video dengan si kembar. Di layar telepon genggam, tampak Laksa dan Leksa yang mulai aktif tertawa dan bermain ludah. Mereka membuat suara-suara lucu, memenuhi ruangan rawat yang biasanya sunyi.Raymond meneteskan air mata haru kala menatap wajah mungil di layar."Leksa sudah sarapan, Nak?" tanyanya dengan suara serak yang lembut.Seolah mengerti, Laksa justru menyambar dengan ocehan panjang dalam bahasa bayinya yang membuat Raymo







