MasukLima belas tahun berlalu, tidak mudah bagi Laras dan Dirga menjalani kehidupan pernikahan yang seperti roller coaster. Anak-anak tidak kecil lagi membuat mereka harus ekstra menjaga dan mendampingi tumbuh kembang Leksa dan Laksa yang kini menjelma menjadi pemuda gagah. Dirga pun resmi pensiun dari posisinya sebagai direktur utama Rumah Sakit JB. Ia lebih memilih menikmati masa tua bersama Laras yang masih tampak cantik luar biasa, meskipun usianya menginjak lima puluh tahun. Laras memang belum masuk masa pensiun, tetapi wanita itu lebih suka mengisi waktu menjadi dosen tamu di beberapa universitas terkemuka. Selain kemampuannya, tentu saja ada campur tangan sang suami. Sore ini langit senja Kota Birmingham, Inggris, lumayan mendung, ditambah hawa dingin musim gugur cukup menusuk tulang. Dirga dan Laras memutuskan untuk menetap sementara di mansion Bradley, agar lebih dekat dengan kerabat mereka yang lain di kota ini. Termasuk membersamai si kembar yang menjalani pendidikan di
Satu tahun setelah Laras akhirnya memaafkan Rama, meskipun sekadar kata-kata, setidaknya hari ini, detik ini, ia mulai berdamai dengan kenyataan, kalau Rama akan tetap ada di sekitarnya. Ya, tidak lebih dari kerabat saja, ia menghargai Dinda sebagai kakak satu-satunya, ia menghormati Raymond yang menganggapnya sebagai anak, bahkan kasih sayang pria itu sama adil padanya. Laras juga mendukung keputusan Dirga yang tulus merawat Rama. Laras memandangi wajah suaminya yang makin lama tambah menawan seiring bertambahnya usia. Bahkan dokter tampan ini seperti vampire menolak tua, meskipun usianya sudah masuk lima puluh tahun. “Lihat Leksa dan Laksa, mereka sudah besar.” Dirga terkekeh memandangi putra kembarnya yang kini berdiri di samping anak Dinda. Riuh tepuk tangan dan nyanyian lagu ulang tahun menggema di seluruh sudut apartemen mewah itu. Damar, putra kecil Dinda dan Randy, tengah merayakan ulang tahunnya yang pertama. Meskipun sederhana, pesta itu terasa sangat hangat, hanya meng
Sesampainya di rumah Laras melangkah pelan menaiki tangga. Sungguh rasannya ingin mandi dan berbaring, tetapi ia juga rindu pada dua malaikat kecilnya. Namun bukannya buru-buru masuk kamar, ia malah berhenti di tengah tangga, napasnya terasa berat karena pertemuannya dengan sang mantan tadi.Baru saja Laras hendak melangkah lagi, tubuhnya tiba-tiba melayang. Ia terpekik tatkala Dirga tiba-tiba menyusupkan lengan kekarnya dan menggendong ala bridal style."Sepertinya kamu butuh bantuan, Sayang," bisik Dirga. Suara serak basahnya itu bergetar di telinga sang istri.Refleks Laras mengalungkan tangan ke leher suaminya. "Mas, aduh! Kalau anak-anak lihat gimana? Turunin aja Mas, nanti di kamar aja, ya," protesnya malu-malu. Namun, jemarinya mulai nakal, tak tahan meraba cambang tipis di rahang tegas pria itu.Dirga justru mempererat dekapannya. "Mereka sudah tidur, lihat rumah ini sepi. Jangan takut, ini juga rumah kita," sahutnya.Dirga tahu betul istrinya baru saja melewati hari yang mengu
Rama gegas menghampiri Raymond yang asyik memberi makan ikan di halaman belakang. "Pi, Dinda udah melahirkan!" seru Rama, matanya penuh binar hangat.Saking senangnya, tangan Raymond gemetar hingga kotak makanan ikan yang dipegangnya jatuh dan tercebur ke dalam kolam. Pakan ikan itu tumpah ruah, membuat ikan-ikan di sana berebut heboh. Pria itu terpaku sejenak. "Syukurlah ... Dinda anakku," lirihnya Raymond, matanya berkaca-kaca.Sigap Rama membantu ayahnya berdiri tegak dan mengambil kotak yang mengapung. Raymond menatap putra tertuanya itu dengan penuh kasih. "Rama, kamu bisa bawa mobil, ‘kan? Antar Papi ke rumah sakit sekarang juga! Papi mau kasih tahu Tante Sandra dulu!"Tanpa menunggu jawaban, Raymond tertatih ke dalam rumah dan berteriak memanggil istrinya. "San! Cepat, kita ke rumah sakit! Dinda udah lahiran!"Istri Raymond yang sedang menuangkan air minum pun buru-buru ke kamar untuk bersolek. Wanita tambun itu memilih pakaian yang paling bagus dan elegan karena ia tid
Beberapa saat sebelumnya, Randi yang masih fokus menyetir itu mengernyit melihat nomor telepon kantor menghubunginya. Ia sudah menduga pasti ini sang atasan yang masih diam di kantor, karena menunggu istri. Cepat-cepat ia menggulir layar. Telepon tersambung. “Ya, halo, dengan Randy. Ya, Pak?” sambut Randy. Ternyata …. “Saya Raya, perawat IGD. Dokter Dinda sudah masuk ruang bersalin, Pak. Dokter Laras sendiri yang sedang menangani di dalam,” jelas suara di seberang telepon yang terdengar terburu-buru. Seketika itu juga, Randy menepikan mobilnya dengan jantung yang mendadak melompat keluar. Ia menginjak rem mendalam hingga ban mobil berdecit kasar di aspal. “Apa? Istri saya melahirkan?” tanya Randy tak sabaran. “Betul, Pak Randy. Ketubannya sudah pecah di apartemen tadi,” terang perawat itu. Randy langsung memutus sambungan telepon tanpa mengucap salam. Tangannya yang gemetar mencengkeram kemudi, dan matanya menatap lurus ke jalanan dengan pandangan yang mengabur. Ia memban
Beberapa bulan setelah Dirga membawa Leksa dan Laksa ke rumah Raymond dan bertemu Rama untuk pertama kali, Laras menjadi lebih protektif dan bahkan tidak memercayai suaminya sendiri. Sampai-sampai Dirga selalu diintrograsi ketika membawa si kembar keluar rumah.Meskipun Laras tampak tegas dan kaku, tetapi tidak ada seorang atau seekor serangga pun yang tahun bahwa dokter kandungan itu saat ini diam-diam mengawasi rumah Raymond.Setiap pulang kerja Laras selalu pergi lebih dulu, dengan alasan ingin membeli makanan pada Dirga. Tanpa sopir, tanpa fasilitas apa pun dari sang suami. Ia menggunakan jasa taksi online, dengan setiap hari mobil berganti-ganti, membuat Raymond pun tidak curiga.Seperti sekarang, ia yang melihat Rama sedang membantu seorang bocah yang seusia si kembar membuka tutup botol.“Kamu cari muka, Mas!” geram Laras, bibirnya benar-benar gatal ingin mengumpat.Ia yang sedang fokus pun mendadak terkesiap lantaran getar ponsel di tangannya. Itu bukan Dirga melain Dinda. Sat







