Home / Romansa / Skandal Terlarang Bersama Mertuaku / Bab 8: Di Bawah Kendalinya

Share

Bab 8: Di Bawah Kendalinya

Author: NACL
last update Huling Na-update: 2025-08-27 05:46:14

Darah Laras serasa berhenti mengalir. Kata-kata Amanda barusan menghantam dadanya.

“Apa maksud Dokter?” tanyanya dengan nada lirih. Jemarinya meremas ujung jas putih yang ia kenakan.

Amanda bangkit dari kursi, melangkah angkuh. Ujung hak tinggi sepatunya berdetak di lantai seakan sengaja mengintimidasi Laras. Wajah wanita itu yang dipoles make up tebal mendekat dengan senyum tajam yang menusuk.

“Dirga punya urusan lain. Mulai hari ini, aku yang pegang kamu,” tukas Amanda, dengan dagu terangkat.

Laras menelan ludah. Perutnya menjadi mulas. Antara takut, bingung, dan marah bercampur jadi satu. Ia ingin membantah, tetapi lidahnya kebas. Yang bisa ia lakukan hanya menunduk, menahan getaran halus di tangannya.

Apa mungkin inilah alasan Dirga memerintahnya datang pagi? Sungguh sial memang, ini semua karena ia bangun kesiangan.

“Kita ke Desa Sumberjati. Siapin semua barang yang harus dibawa!” titah Amanda, sambil berlalu meninggalkan Laras sendirian di ruangan.

Tunggu!

Ia belum mendapat briefing apa pun tentang tugasnya bersama Amanda. Bahkan Dirga saja tidak membahasnya, dan nama desa itu tak ada di urutan jobdesk-nya. Sekalipun membantu dokter lain, ia tidak boleh keluar dari Desa Wanasari.

Laras mengejar Amanda, lalu berkata, “Kenapa kita ke Desa Sumberjati? Dokter Dirga nggak bilang ke saya?”

“Memangnya semua urusan harus bilang ke kamu?!” sinis Amanda.

“Tapi—”

Amanda menghentikan langkah dan berdecak. “Kamu mau biarin pasien meninggal tanpa pertolongan?! Dokter macam apa pilih-pilih pasien?” bentaknya tepat di tengah koridor.

Suara Amanda menggema, sampai beberapa staf dan pasien yang berada di ruang tunggu menoleh pada mereka.

Tangan Laras terkepal di samping tubuh. Keringatnya tak henti mengalir. Kulitnya menguarkan hawa panas. Amanda membuatnya tak berkutik. Mengoyak sumpahnya sebagai dokter.

Dengan suara gemetar dan penuh keraguan ia menjawab, “Baik, Dok. Saya ikut.”

Sudut bibir Amanda berkedut samar. Mata tajamnya bagai pisau dua sisi bagi Laras.

“Nggak ada toleransi bagi siapa pun yang bertingkah! Ingat, menolong pasien itu nomor satu.” Pandangan Amanda bergeser pada setiap staf.

“Dokter Amanda memang luar biasa,” bisik seorang ibu sambil mengangguk.

Laras tercekat. Rasanya ia makin mengecil di tengah sorot kagum orang-orang itu.

Sesudah persiapan lengkap, Laras menggendong ransel berisi alat medis dan obat-obatan. Berbeda dengan Amanda yang berjalan santai di depannya. Tanpa membawa apa pun.

Laras menghela napas. Setiap langkahnya terasa berat. Beberapa kali ia menoleh ke belakang. Ada denyut sesak dalam dada.

Perjalanan ditempuh lebih dari 30 menit dengan kondisi tanah berdebu. Hamparan hutan jati dengan dedaunan kering menyambut mereka. Ilalang menutup jalan hingga setinggi pinggang, membuat langkah Laras terhambat. Rasa was-was mulai menyelinap.

“Di mana rumah warga yang sakit?” tanyanya, sambil mengedarkan mata pada semak-semak.

“Di dalam sana. Rumahnya memang di tengah hutan. Ikutin aja aku.” Amanda mulai melangkah.

“Dokter pernah ke sini sebelumnya?” Suara Laras terdengar waspada.

“Ya, kamu pikir aja sendiri.” Amanda menoleh sesaat sebelum mempercepat langkahnya.

Laras setengah berlari menerjang ilalang. “Tunggu, Dok.”

Punggung Laras mulai sakit, ranselnya cukup berat. Napasnya makin berat. Setiap kali melangkah, bayangan Amanda seakan menjauh.

‘Kenapa rasanya aku malah semakin tersesat?’ pikir Laras. Jantungnya berdegup tak karuan, bukan lelah, tetapi rasa takut yang kian merayap.

“Dokter Amanda?” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

Laras merogoh saku jas putih, berharap ponselnya bisa menunjukkan arah. Sayang, layar hanya menampilkan tulisan no signal. Dadanya makin sebak.

“Dokter baik-baik aja ‘kan?” Suara Laras melemah. Gerakan bola matanya mengedar ke segala arah. Suara-suara merasuki telinganya. Entah halusinasi atau bukan.

Jantungnya berdentam kuat. Pikirannya dipenuhi bayangan binatang-binatang buas.

“Dokter?” teriaknya lagi. Ia berjalan mundur. Kakinya menabrak akar pohon. Tubuhnya tersungkur, membentur kerasnya tanah.

“Kenapa jadi begini?” lirihnya dengan bibir gemetar. Tempat ini benar-benar asing. Bahkan sejauh mata memandang tidak ada satu pun manusia yang lewat.

Laras mencoba bangkit. Ia yakin langkahnya sudah benar. Seingatnya sejak tadi selalu berjalan lurus.

Sambil menggendong tas yang berat Laras berlari. Napasnya makin terengah. Namun yang ditemui justru ilalang setinggi dadanya.

Ia mencoba jalan lain, tetapi selalu berputar-putar. Hingga tubuhnya lemas, keringat mengalir deras, dan tenggorokan mengering. Saat terjatuh tadi, botol airnya terguling dan retak. Isinya habis seketika.

“Tolong!” Suaranya serak.

Langit mulai gelap, dan kakinya tak sanggup lagi berjalan. Laras ambruk tepat di tengah kebun jati. Niatnya menjauh dari Rama dan menenangkan hati, ternyata sama beratnya.

Rintik gerimis turun, perlahan berubah deras. Ia menyeret tubuhnya bersandar pada batang pohon paling besar. Melindungi kepalanya dengan backpack.

Tubuhnya menggigil, pandangannya perlahan menjadi gelap. Tangan yang menopang tas terjatuh ke atas paha.

“Dokter Dirga … tolong aku,” lirihnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
si laras kayak anak manja yg berasal dari keluarga kaya raya. lemah!!!!
goodnovel comment avatar
Casmuroh Casmuroh
si Amanda jahat babget
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Skandal Terlarang Bersama Mertuaku   Bab 369 Dinda Cemburu

    ‘Jadi itu … cewek yang mau dijodohin sama Pak Randy? Cantik, sih, ya, lumayan lah,’ oceh Dinda dalam hati. Egonya, tentu tak ingin kalah. Kekaguman yang tadi sempat menyergap pun kini punah, lantaran tahu siapa wanita itu.Dinda berusaha menampilkan sikap tak acuh, berpura-pura sibuk memperhatikan bulir-bulir padi. Namun, Ibu Randy seolah sengaja memanasinya dengan memuji-muji gadis itu.Telinganya benar-benar panas, dan terbakar.“Hati-hati, Neng, jangan sampai jatuh,” ujar Ibu Randy dengan nada lembut yang sama sekali tidak pernah Dinda dengar ditujukan padanya.Gadis asing itu menoleh ke arah Ibu Randy. “Kata Sopir Bapak, Bu Rima cari saya? Ada apa ya?” tanyanya sopan.Mata Bu Rima bergerak-gerak, seperti mencari alasan yang tepat, tidak lama, ia langsung menyahut, “Keponakan Ibu mau masukin anak sekolah. Kamu kan mengajar di SD. Sekolah kamu masih terima murid baru?”“Masih, Bu,” jawab gadis itu. Setelah bertukar senyum, gadis itu kembali bertanya, sorot matanya menyiratkan rasa i

  • Skandal Terlarang Bersama Mertuaku   Bab 368 Dinda Randy - Ketemu Saingan

    Malam harinya, suasana di meja makan terasa sangat sunyi, hanya diisi rimtik gerimis hujan yang jatuh di genting berpadu denting sendok. Mereka makan malam dalam keheningan yang menyesakkan.Sedari tadi Dinda memperhatikan ibunya Randy yang duduk di seberangnya, yang lebih banyak menghindari tatapan matanya, lantaran sibuk dengan piring sendiri. Berbeda dengan Randy sesekali mencoba mencairkan suasana dengan cerita ringan, tetapi usahanya sia-sia.Dinda menghela napas tertahan dalam hati berkata penuh tekad, ‘Awas, ya, kalau Ibu nanti malah tergila-gila sama gue!’ Gadis itu menatap Ibu Randy dengan tatapan penuh tantangan yang tidak terlihat. ‘Haduh, gimana sih cara meluluhkan hati calon mertua? Pusing gue.’ Ia sadar betul bahwa misinya di desa ini memenangkan hati wanita galak di hadapannya.Demi restu!Setelah makan, Dinda segera membereskan piring-piring kotor, membawa semuanya ke dapur, dan mulai mencuci. Ibunya Randy mengikuti, dengan tatapan curiga pada gadis itu.“Nggak perlu

  • Skandal Terlarang Bersama Mertuaku   Bab 367 Dinda Randy - Perlakuan Buruk!

    “M-maksud Ibu… apa, ya?” tanya Dinda, sempat tertegun sesaat. Sungguh ia tidak menyangka sambutan yang diterimanya jauh dari kata ramah.Andai saja bisa, ia ingin melarikan diri, kabur sejauh-jauhnya, tetapi bagaimana dengan Randy? Dinda melirik pria itu yang juga membelalak, mendengar pertanyaan ibunya yang merendahkan.Randy menegakkan duduknya, raut wajahnya berubah tegang. “Ibu, tolong jaga ucapan Ibu.”Rasa malu yang menusuk menjalar di wajah Randy. Ia merasa bersalah telah membawa Dinda ke dalam situasi yang memalukan ini. Reaksi ibunya jauh lebih parah dan langsung menyerang harga diri calonnya itu, bahkan mungkin … lebih parah dari Raymond.Randy menundukkan kepala sebentar, sungguh ia merasa gagal melindungi gadisnya ini dari kesalahpahaman yang dilontarkan ibunya.“Randy! Memang Ibu salah apa?” balas ibunya, nadanya tak kalah keras, wataknya juga tidak ingin mengalah. “Ibu cuma memastikan saja, Dinda ini gadis atau janda? Atau istri orang?”Wanita paruh baya itu menekankan p

  • Skandal Terlarang Bersama Mertuaku   Bab 366 Ditanya Kegadisan

    ‘Nggak pernah aku sangka, akhirnya begini. Jadi istri mertuaku sendiri, lelaki yang usianya lebih jauh dariku. Dia yang aku pikir biasa aja ternyata sosok yang hebat. Jujur, aku malu. Sampai sekarang masih malu karena nggak sepadan dengannya. Aku beruntung, punya suami yang baik, bertanggung jawab, dan … Mas Dokter setia, ya, setia. Padahal di sekelilingnya banyak perempuan cantik dan seksi, tapi dia pilih aku. Terima kasih, Mas,’ Laras membatin, sambil menangkup pipinya di atas meja kerja Dirga. Kelopak mata wanita itu mengerling lembut dan damai. Ia memperhatikan wajah serius suaminya yang memeriksa setiap laporan dari tablet.“Sayang?”“Ya, Mas?”“Kenapa?”“Nggak apa-apa.”Dirga mengangkat pandangannya dari tablet, menyentuh kepala Laras sebentar dengan tangan lebarnya yang selalu hangat. Tatapan sepasang mata karamel itu memancarkan aura yang memikat. Hingga Laras meraba pipinya sendiri yang terasa panas.Entah bagaimana bisa ia perlahan mengikuti tarikan tangan Dirga, hingga ia

  • Skandal Terlarang Bersama Mertuaku   Bab 365 Ternyata Dirga Suka Modus

    Malam makin larut, dan Dirga serta Laras sudah kembali ke apartemen. Mereka membawa dua kotak donat yang dibagikan untuk pengasuh dan Randy yang ternyata sedang bertamu, menjadikan apartemen mewah itu sebagai lahan kencan gratis bagi dua sejoli.Jika dulu merasa terganggu akan keramaian, sekarang … setelah mengenal istri bawelnya, justru suasana seperti ini membuatnya nyaman. Keluarga menjadi tempatnya pulang, bukan melarikan diri … seperti dahulu.Saat ini Dirga dan Laras sudah berada di kamar tidur utama. Dirga memandangi Leksa dan Laksa yang tertidur pulas di dalam box bayi di sisi ranjang. Berbeda dengan Laras sedang duduk di sofa kecil, sibuk memerah ASI untuk persediaan.Dirga berjalan mendekat dan duduk di samping Laras, mencium puncak kepala istrinya yang selalu wangi. “Laras, kalau nanti saya dipanggil Tuhan lebih dulu … titip anak-anak, ya,” ucap pria itu tiba-tiba, suaranya pelan dan berat.Sekejap Laras menghentikan aktivitasnya. Tangannya yang memegang botol gemetaran. Na

  • Skandal Terlarang Bersama Mertuaku   Bab 364 Naksir Sejak Awal

    Dirga membawa Laras makan malam di sebuah kafe bergaya vintage yang elegan. Suasananya hangat, dengan pencahayaan temaram dan alunan musik jazz yang lembut. Setelah memesan makanan, Laras memandang sekeliling, mengagumi dekorasi kafe yang unik ini.“Mas, ini kafe bagus sekali,” puji Laras. “Kayaknya bukan kafe biasa, deh.”Dirga tersenyum tipis sambil memotong kentang dan ikan panggang. “Ini milik keluarga, Sayang. Tepatnya punya Opa Buyut saya. Sekarang dikelola sama Tante saya yang memang hobi masak dan bisnis makanan.”Laras terkejut, tetapi sedetik kemudian Dirga menyodorkan makanan ke mulutnya. Suapan ikan dan kentang itu terlalu besar, sampai pipinya menggembung. Suami ini benar-benar keterlaluan.“Kebanyakan, Mas,” protesnya. Lalu Laras melanjutkan, “Usaha keluarga Mas banyak banget, ya? Termasuk hotel yang kita datangi itu ‘kan? Dan hotel yang jadi tempat resepsi?”“Iya, hotel itu juga didirikan sama Opa Buyut,” jawab Dirga sambil menuang air ke gelas Laras. “Tapi yang itu dik

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status