Masuk“Fi! Ayo sarapan!” Suara ketukan di pintu yang membangunkan Fiore. Ethan memanggilnya seperti biasa. Dengan hubungan mereka yang canggung, Ethan tetap memberi perhatian yang banyak pada Fiore. Sementara Fiore, masih belum bosan terombang-ambing dalam rasa yang tak ingin ia ketahui. Mereka terus menjalani hubungan yang tidak jelas. Tinggal sebagai teman serumah dengan hanya satu orang yang perhatian, sementara yang satu lagi cuma sibuk pura-pura tak peduli. “Fi! Kamu sudah bangun?” Panggilan kedua Ethan membuat Fiore terpaksa menyahut. Jika ia tak membuka mulutnya, Ethan pasti akan masuk ke dalam kamar tanpa ragu. Dan ia sedang tak ingin berdebat. “Sebentar!” Fiore memilih untuk mencuci muka saja, karena ia tidak seperti Ethan yang sibuk bekerja di kantor. Fiore hanya seorang pengrajin yang menghabiskan waktunya seharian di rumah. “Kenapa lama?” Ethan menilik wajah Fiore saat ia membuka pintu kamarnya. Dengan tatapan lurus dari puncak kepala hingga mata kaki, Fiore merasa jeng
“Fiore, terima kasih!” Ethan memeluk Fiore erat setelah mereka kembali dari kafe. Permintaan khusus dari Fiore pada Jay pasti akan segera diproses. Nantinya, mungkin proposal dari Ethan hanya sekadar formalitas. Sejak awal, kesepakatan sudah dicapai. “Aku cuma mau balas budi sama Om,” sahut Fiore dingin. Ia mengabaikan senyum lebar Ethan. Kedua kaki Fiore terus melangkah tanpa peduli. Ia memilih untuk kembali ke kamarnya. “Jangan ganggu aku. Aku mau istirahat.”Dengan benteng tinggi yang Fiore buat, akhirnya Ethan mengurungkan niat. Ethan yang awalnya ingin menyusul Fiore, jadi urung. Pria itu diam di tempatnya tanpa kata. Fiore bersyukur saat Ethan tak lagi mengekor. Ia menutup pintu rapat, lalu berbaring di atas ranjang tanpa menunggu. Langit-langit kamar menyambut Fiore. Ia menggumam pelan, mengeluh pelan atas apa yang terjadi. “Apa harusnya aku keluar dari rumah ini?” Bimbang terus menghantui Fiore. Ia ingin keluar. Fiore ingin mencoba untuk hidup sendiri saja. Ia terus-me
Sebuah helaan keras terdengar saat Fiore membuka matanya. Ranjang di sebelahnya kosong. Ethan mungkin sudah bangun sejak tadi. Fiore mencibir, memaki dalam hati. Ia terbangun dengan rasa malu yang menyelimuti atas apa yang terjadi semalam. Ethan, entah kenapa seperti orang kesetanan. Pria itu tak melepaskan Fiore sama sekali. Sepanjang malam, Ethan tidak berhenti. Fiore jadi heran sendiri. Jangan-jangan, sakitnya Ethan kemarin hanya main-main? “Duh, aku harus ketemu Kak Jay hari ini.” Fiore menepikan sesaat kecurigaannya. Ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh, lalu berjalan tertatih ke kamar mandi. Pangkal pahanya terasa perih, dan seluruh tubuhnya sakit. Ia ingin berendam lebih lama hari ini. Setelah air hangat siap, Fiore masuk ke dalam bathtub. Ia menikmati momen itu, tanpa sadar waktu sudah banyak berlalu. “Fi!” Ketukan di pintu kamar mandi mengejutkan Fiore. Ia merasa baru saja menikmati waktu berendamnya, tapi Ethan sudah menggedor pintu. “Kenapa kamu lama sekali di
“Ck!” Fiore tak bisa mengelak lagi. Setelah ancaman Ethan yang akhirnya membuat pertahanan Fiore runtuh, ia tak bisa menjauh. Ethan menempel padanya bagai lintah, mengikuti ke mana pun Fiore pergi. “Om, apa Om sudah sembuh?” Tak sabar, Fiore mengecek dahi Ethan. Demamnya sudah turun sempurna. Fiore sudah curiga saat melihat nafsu makan Ethan yang meningkat. Ethan bahkan tidak terlihat memikirkan apapun. Apa pria yang divonis tertekan oleh dokter sudah sembuh begitu saja? Langkah Ethan langsung terhenti. Ia mengalihkan pandangan ke segala arah, berusaha menghindar dari tatapan tajam Fiore. “Aku … cuma senang,” jawab Ethan terbata-bata. Pelan, Ethan mengangkat wajah, berusaha balas menatap Fiore. Ia ingin menunjukkan kalau ia jujur. “Aku senang karena kamu memaafkan aku. Karena aku bisa di sampingmu lagi, aku jadi sangat bersemangat.”Tangan Fiore terulur, menutup mulut Ethan rapat. Fiore menggeleng pelan, meminta Ethan tidak melanjutkan. “Aku memang memaafkan,” ucap Fiore, mene
“Om udah baikan, kan? Aku tinggal, ya.” Hari sudah malam dan Fiore sudah menemani Ethan sejak tadi siang. Ethan sudah memakan dan meminum obatnya. Fiore juga sudah membantu Ethan berganti pakaian. Kamar sudah rapi, dan Ethan sudah berbaring nyaman di atas ranjang dengan selimut yang hangat. “Bagaimana kalau aku sakit lagi nanti malam? Aku enggak akan kuat memanggilmu,” ucap Ethan lirih. Saat itulah Fiore mendengus kesal. “Makanya aku bilang harusnya tadi Om di rumah sakit saja!” Fiore sebenarnya tahu jika Ethan hanya sedang mengambil kesempatan. Meski begitu ia tak tega juga meninggalkan Ethan. Apalagi setelah dokter mengatakan jika Ethan kemungkinan mengalami stres ringan sampai insomnia dan sakit. “Ck!” Setelah berdecak kesal, Fiore menyiapkan tempat untuk dirinya sendiri. Ia mengambil selimut dan mengambil tempat di sofa. Namun, Ethan mengeluh lagi. “Terlalu jauh, Fiore. Bukannya kamu harus mengganti kompresku?” Setelah mengatur emosinya, FIore melangkah mendekat. Dengan sel
“Astaga!” Fiore memekik melihat tubuh Ethan yang terbaring di lantai. Wajah Ethan seputih kertas. Tubuh besarnya terkulai tak berdaya di atas lantai yang dingin. Kamar itu berantakan. Entah sejak kapan Ethan terbaring di sana. “Om kenapa?” Kantong di tangan Fiore terlepas begitu saja. Ia lupa dengan janjinya, dengan Jay, atau bahkan dengan taksi yang menunggunya di luar. Fiore mendekat pada Ethan, meraih tangannya, lalu membawa Ethan ke dalam pelukan. “Om sakit? Badan Om panas sekali!” Tangan Fiore terasa terbakar saat memegang dahi Ethan. Ia panik dan menepuk wajah Ethan berkali-kali. Ethan mengerang sebelum membuka kedua matanya. “Fi?” Suara serak Ethan dengan kedua mata yang memerah sempurna menyambut telinga Fiore. Ia semakin cemas sekarang. “Kamu … mau pergi ke mana?” Fiore melotot mendengar pertanyaan Ethan. Pria itu seperti seseorang yang sedang sekarat, tapi Ethan malah sempat-sempatnya menanyakan Fiore mau pergi ke mana. “Jangan banyak bicara, Om. Aku bawa Om ke ruma







