LOGINTangan Jay terulur menepuk lengan Fiore lembut. Pria itu tersenyum tulus pada Fiore. “Aku mau tau. Tapi kalau itu membuatmu enggak nyaman, aku enggak akan maksa.” Fiore melihat kesempatan. Di sampingnya, Jay terus menghibur dan menenangkan. Kalau bukan sekarang, ia tak akan berhasil. “Aku bukan anak keluarga Wijaya, Kak.” Fiore memulai kalimatnya. Jay terlihat terkejut, tapi berusaha tak menunjukkannya terlalu jelas. Namun, di balik meja cafe, Fiore bisa melihat sebelah tangan Jay yang bergerak gelisah. Pria itu pasti terkejut, tak menyangka. Bukan hanya Jay, Fiore pun sering berharap jika semua yang terjadi hanya mimpi. Hanya saja, semua terlalu nyata sampai ia tak bisa menyangkalnya lagi. “Aku enggak punya bakat, enggak punya keluarga, dan aku juga enggak punya … uang.”Dulu Fiore tak pernah mendewakan uang, tapi sekarang ia begitu memujanya. Ia sudah tahu betapa dunia begitu kejam untuk orang yang tak memiliki a
“Hari ini mungkin aku pulang agak malam. Aku juga enggak bisa menemani kamu terapi.” Ethan memandang Fiore dengan tatapan sendu, tapi Fiore tak menanggapinya berlebihan. Fiore merapikan dasi Ethan, lalu memeluk pria itu erat. “Aku bisa pergi sendiri. Om fokus saja sama pekerjaan,” sahut Fiore. Sudah berhari-hari Ethan pulang terlambat. Semalam saja Fiore menunggui Ethan sampai tengah malam. Sampai akhirnya Fiore tertidur di sofa dan Ethan yang memindahkannya. “Om jangan terlalu capek. Aku enggak mau Om sampai sakit.” “Kamu juga,” balas Ethan sembari mengecup singkat dahi Fiore. Setelah Ethan berangkat, Fiore langsung bersiap. Hari ini adalah hari besar. Ia akan bertemu dengan Jay. Kebetulan sekali, Jay sudah kembali ke kota dan berencana untuk tinggal. Ia akan memulai butiknya sendiri, dan Fiore tak sabar untuk ikut serta dalam rencana itu. “Untungnya aku sud
Di atas sofa, sembari bersandar, jari Fiore sibuk mengetikkan pesan. Senyumnya mengembang perlahan. Kak, ini aku Fiore. Apa Kakak ingat aku?“Sedang apa?” Fiore terkejut saat Ethan yang sebelumnya masih tidur tiba-tiba terbangun. Melihat Ethan yang penasaran dengan handphone yang dipegangnya, Fiore langsung menekan tombol beranda. Untung saja ia sudah mengirim pesan itu. “Om udah bangun? Aku lagi liat-liat aja,” sahut Fiore. Sekarang Ethan sudah duduk di samping Fiore. Pria itu menguap sesaat lalu ikut memandang layar pipih yang Fiore pegang. Fiore hanya menggulirkan layar asal. Ia tak tahu jika beranda media sosialnya menampilkan postingan yang dibuat oleh Reina. Jarinya berhenti di sana.“Keponakan yang merebut suami tantenya sendiri.”Dari judulnya saja Fiore merasa tersindir. Namun, ia merasa penasaran karena kolom komentarnya dikunci. “Aneh. Yang terakhir aku ingat dia sangat senang berbalas komentar,” ucap Fiore pelan. Fiore mengecek profil Reina, dan sekarang semua kolom
“Terima kasih, Fiore.” Ethan memberikan ucapan setulus yang ia bisa. “Kalau begitu … sekarang masalah om selesai, kan?” Fiore memasang wajah penuh harap. Ia sebenarnya tak ingin Ethan merasa tertekan terus-terusan, apalagi Fiore tahu jika Natasha mengancam Ethan. Beberapa kali Fiore mendengar jika perusahaan Ethan sedang dalam masalah. Namun, Ethan tetap tutup mulut dan memilih untuk tidak berkomentar banyak tentang hal itu. “Masih belum?” Fiore menilik wajah Ethan yang tetap murung. “Itu sudah cukup,” sahut Ethan. Pria itu mencoba menenangkan Fiore, tapi Fiore yakin ada masalah lebih besar yang sedang Ethan hadapi. “Tentang perusahaan Om, ya?” Ethan tidak menjawab. Pria itu hanya menggandeng Fiore menuju sofa. Mereka duduk di sana bersisian. Perlahan, Ethan menyandarkan kepalanya yang berat. “Aku bisa mengurusnya.” Suara dingin Ethan mengganggu Fiore. Ini seperti Ethan sedang menyembunyikan hal yang besar darinya. Fiore tahu jika ia sebaiknya tidak ikut campur. Terlebih karen
“Dibatalkan?!” Ethan berteriak gusar. Ini sudah pembatalan kerja sama yang entah keberapa. Ia sudah muak mendengar semua kabar itu. Semua karena Natasha. Harusnya sejak awal ia tidak mencoba untuk mensukseskan perusahaan lewat pernikahan. Meski Ethan tahu dengan menjalin hubungan politik lewat pernikahan akan membuat perusahaan stabil, tapi harga yang ia bayarkan tidak sebanding. “Batalkan saja semuanya!” Ethan berteriak gusar pada penelepon. Ia sudah muak mendengar semua ancaman itu. Lalu, kenapa? Akan selalu ada jalan. Ethan pastikan Prime Corp akan bertahan. Perusahaan ini berdiri bukan karena Natasha. Prime Corp sudah ada sejak lama. “Hubungi perusahaan lain. Cari perusahaan mana saja yang bersedia melakukan kerja sama dengan kita. Aku akan menaikkan persentase keuntungannya!” Ethan tidak akan tanggung-tanggung. Ia mempertaruhkan segalanya untuk kesempatan kali ini. Meski Ethan sendiri tidak tahu akan bagaimana akhirnya, tapi ia tahu satu hal. Ia tak berniat untuk kembali.
“Kania!”Fiore berdiri seketika. Ia langsung menarik Kania ke dalam pelukan. Fiore sudah hampir putus asa. Seluruh kota sudah ia kupas, tapi tak juga menemukan Kania. Namun di saat ia hampir menyerah, Kania malah muncul begitu saja di hadapannya. “Aku mencarimu kemana-mana!” Karena terlalu senang, Fiore sampai melompat sambil tertawa. Ia biarkan Kania kebingungan menatapnya. “Fiore?” Kania tergagap heran. “Iya, aku Fiore!” Fiore melepaskan pelukan, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Kita pernah kerja di The Noir sama-sama! Tapi kamu tiba-tiba berhenti! Aku mencarimu! Katanya kamu kerja di pabrik, tapi enggak ada. Aku cari di klub, di cafe, ternyata kamu malah kerja di restoran!”Secara tak terduga, Fiore malah menemukan Kania. Awalnya Fiore hanya terpaksa menuruti cerewetnya Roy untuk makan, tapi ternyata Kania adalah pelayan di restoran itu!“Memangnya ada apa? Kenapa cari aku?” Kania masih menatap Fiore tak mengerti. Fiore terlihat sangat bahagia saat melihat Kania. Beberapa oran







