author-banner
silvia siwi
silvia siwi
Author

Novels by silvia siwi

Kekasih Suamiku

Kekasih Suamiku

Masa-masa awal pernikahan, menjadi pengantin baru, harusnya menjadi momentum yang membahagiakan dan penuh madu. Tapi, tidak bagi hati Airin. Hari-hari awal rumah tangganya justru diliputi kekecewaan, amarah, dan pertikaian-pertikaian kecil yang selalu menyulutkan bara di pernikahannya yang baru berusia seumur jagung. Hadirnya Selena dalam hati suaminyalah yang membuat ia harus menikam hatinya bertubi-tubi setiap hari. Hubungan Selena dengan Bayyu, suaminya, terendus pasca ia menerima lamaran Bayyu sebagai calon suami. Hatinya gamang, ia tidak mungkin mundur sebab tanggal pernikahan telah ditentukan. Akhirnya, Airin memilih untuk tetap melanjutkan rencana pernikahannya dengan Bayyu, lelaki yang telah menjadi kekasihnya selama empat tahun itu. Segala daya dilakukan Airin untuk mempertahankan rumah tangganya dan mengusir Selena dari kehidupan dan hati Bayyu, termasuk mengupayakan untuk memiliki anak dari Bayyu lebih cepat, dan itu berhasil. Namun, kehadiran bayi lelaki mungil di tengah mereka tampaknya tidak cukup mampu membuat Bayyu berubah. Ia memang masih pulang pada pelukan Airin setiap harinya, masih bertanggung jawab terhadapnya sebagai suami, tapi separuh dari hatinya telah ia titipkan pada seorang wanita yang tidak ia rencanakan ia cintai sebelumnya, Selena. Tidak bermaksud menyembunyikan perasaannya pada istrinya, Bayyu justru mengunkap semua kejujurannya kepada istrinya, termasuk tentang perasaannya pada Selena, dan hal-hal kecil lain yang ia lakukan bersama teman kerjanya itu kepada istrinya. Kejujuran Bayyu itu semakin membuat Airin sakit hati. Ia berpikir untuk mengakhiri pernikahannya, namun tangisan bayi lelakinya menariknya untuk bertahan. Akankah Airin bertahan dengan sakit hati yang dideritanya setiap hari? Ataukah, ia memiliki jalan lain untuk mengusir Selena dari kehidupan pernikahannya? Simak kisah selengkapnya di novel Kekasih Suamiku.
Read
Chapter: Kemantapan Hati Airin
Beberapa bulan berlaluIntensitas Glenn Bagas bertemu Airin sedikit berkurang. Bukan karena rasa kecewanya. Itu bukan kali pertama ia mendapatkan penolakan Airin. Sudah biasa. Tapi, ia memang sedang disibukkan menyiapkan keberangkatannya ke Negeri Kincir Angin.Sementara itu, Airin sudah memulai aktivitas barunya menjadi dosen Sastra Inggris. Di tengah kesibukannya itu, batinnya masih terus berkonflik. Ada rasa yang hilang di hatinya. Juga rasa bersalah. Airin dilema sendiri menafsiran perasaannya. Beberapa waktu ketika ia benar-benar sendiri, barulah ia merasakan betapa kehadiran Glenn begitu berarti. Tapi, ia juga belum bisa untuk memulai hubungan yang baru. Masih dihantui rasa takut dengan kegagalannya yang dulu.Maka, demi memperoleh kemantapan hatinya untuk melangkah ke depan, ia melakukan salat istikharah. Meminta petunjuk kepada Allah untuk memilih jalan hidupnya.Ia tak ingin salah langkah lagi. Maka, kali ini, ia tak hanya melibatkan Allah, tapi memang sepenuhnya menyerahkan
Last Updated: 2022-01-21
Chapter: Tentang Tamu Spesial
Selena diam-diam menyelinap ke kamar mandi membawa sepucuk surat titipan dari Bayyu. Shinta yang telah membawakan untukknya. Tak sabar membaca isi tulisan tangan mantan kekasih yang masih disimpannya rapat dalam hati itu.Tentang Tamu Spesial'Surat ini aku tulis tepat sehari sebelum pernikahanmu. Hai, apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja dan semestinya memang baik-baik saja. 🙂Oh, ya, selamat atas pernikahamu. Maaf, aku tidak bisa datang. Padahal, dulu, saat aku menikah, kamu berjiwa besar untuk memenuhi undanganku. Tapi, aku sebaliknya.Jujur, aku belum sanggup. Maaf, ya. Semoga melalui surat ini sudah terwakilkan kehadiranku. Semoga kamu tak kecewa.Aku mau jujur dan berterima kasih karena kamu dulu mau datang ke pernikahanku. Aku yakin itu bukan hal yang mudah untukmu. Tapi, terima kasih dan minta maaf, jika ada hal yang kurang berkenan.
Last Updated: 2022-01-21
Chapter: Janu Radeva
Airin menghujani wajah tampan putranya dengan ciuman dan pelukan untuk pertama dan terakhir kalinya. Wajah putihnya tampak seperti bayi yang tengah tertidur pulas. Damai sekali. Sayang sekali, Airin belum sempat melihat putranya membuka mata atau mendengar tangisnya sekalipun.Bayi itu hanya mampu bertahan empat jam saja sejak ia dilahirkan. Memang masih memasuki 8 bulan, belum waktunya lahir. Terlebih, kondisi jantungnya melemah. Sempat masuk ruang NICU, tapi, nyatanya nyawanya tak bisa bertahan lebih lama. Airin saja belum sempat melihat wajahnya apalagi memeluk atau menyusuinya. Ia sudah harus kehilangan bahkan sebelum ia memiliki sepenuhnya. Itu yang sangat-sangat disesalkannya sebagai ibu.Air matanya sudah mulai surut, tapi kesedihan di wajahnya masih menggenang. Berulang kali ia berusaha menyadari kenyataan bahwa kehilangan di hadapannya adalah nyata, berulang kali pula ia harus membuka hatinya lapang-lapang. Ikhlas itu memang berat
Last Updated: 2022-01-20
Chapter: Sebuah Pertanda
"Pergilah. Sekeras apapun usahamu meminta maaf, itu akan sia-sia. Rasa sakitku belum kering. Mustahil aku bisa memaafkanmu sekarang. Pergilah dari hadapanku segera."Airin menolak permintaan maaf Selena. Bukan karena tak punya hati, sebab memang sudah tak ada lagi ruang di hatinya untuk memberi maaf. Baik untuk Selena ataupun Uttara Bayyu. Rasa sakit hati dan kecewanya benar-benar telah menutup pintu maafnya rapat-rapat.Tapi, bukan Selena jika mudah menyerah begitu saja. Terlebih, ketika ia menyadari kehadiran seseorang di balik pintu depan. Sedang mengamati percakapannya dan Airin. Selena buru-buru mengatur strategi untuk mencari muka. Berupaya memperbaiki nama baiknya.Selena segera bangkit dan mendekat ke arah Airin duduk. Menekuk kakinya di depan Airin. Berlutut meminta maaf. Airin terkejut melihat pemandangan tak biasa di depannya. Buru-buru ia berdiri dan menjauh dari Selena. Tapi, tangan Selena menahan Airin. Memaksanya berhenti sejenak."Ak
Last Updated: 2022-01-18
Chapter: Sebuah Permintaan Maaf
Pak Bram menugasi Bayyu untuk menggantikan dirinyameetingdengan perusahaan mitra. Ia juga memandatkan Selena mendampingi, sebab Tita yang seharusnya menjalankan itu sedang cuti.Tentu Bayyu tak bisa menolak. Semenjak mendapatkan teguran Pak Bram tempo hari, ia berusaha keras untuk memperbaiki kinerja dan citra dirinya. Khususnya di mata Pak Bram."Siapkan semua berkas untukmeetinghari ini, ya. 10 menit lagi kita berangkat. Aku tunggu di mobil," perintah Bayyu pada Selena melalui telepon. Ia sendiri sudah selesai menyiapkan bahan presentasinya nanti. Bergegaslah mengambil mobil.Sesaat setelah Bayyu berada di balik kemudi, Selena menyusul. Membuka pintu belakang dan duduk di belakang Bayyu. Bayyu melirik daricenter mirror."Aku bukan sopir yang mau mengantar majikan atau penumpangnya, lho, ya," sindir Bayyu."Oh, maaf." Selena langsung paham maksud Bayyu dan ber
Last Updated: 2021-12-31
Chapter: Musuh Terselubung Bayyu
Bayyu keluar dari ruangan Pak Bram dengan muka lesu. Ternyata, kejadian tempo hari ia mabuk dan menceracau di bar itu sampai ke telinga Pak Bram. Entah ulah siapa. Yang jelas, berkat kejadian itu, ia mendapatkan teguran keras."Saya dengar tidak hanya sekali ini Pak Bayyu seperti itu. Saya tahu itu sudah di luar jam kantor, tapi apa yang Anda lakukan itu sangat tidak terpuji. Bisa mencederai nama baik tempat Anda bekerja juga nantinya. Apalagi jika itu mempengaruhi kinerja Anda. Maka masa depan Anda di sini juga dipertaruhkan. Anda paham itu, bukan?""Iya, Pak. Saya mohon maaf.""Bukan hanya itu saja, Pak Bayyu. Kinerja Anda akhir-akhir ini juga tampak menurun. Tidak seperti biasanya. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada kehidupan pribadi Anda, tapi, saya harap, itu tidak menjadi alasan penurunan kinerja Anda. Begitu, ya, Pak Bayyu. Semoga bisa dimengerti."Kata-kata Pak Bram masih jelas terngiang-ngiang di kepalanya. Baru sekali ini ia mendapat t
Last Updated: 2021-12-15
Sketsa Hujan

Sketsa Hujan

Aksara menepati janjinya untuk menunggu selama 12 kali gajian. Ia memelihara rindunya seorang diri kepada Elang, sahabat yang telah ia bantu berdiri dan bangkit dari keterpurukan. Sementara nun jauh di tanah pengabdian, Elang telah menemukan hati yang baru. Melupakan janjinya. "Sebagai siapapun nanti, kamu adalah orang pertama yang akan aku temui." Itu adalah janji yang Elang ucap sebelum meninggalkan Aksara. Tapi, Elang lupa untuk memastikan, apakah saat ia pulang, Aksara masih di tempat yang sama untuk menunggunya.
Read
Chapter: Surat dari Aksara
Lalu-lalang orang di sekitarnya perlahan memudar menjadi siluet kabur. Suara pengumuman penerbangan, deru koper yang ditarik, dan tawa orang-orang yang bertemu kembali, semuanya mendadak senyap di telinga Elang. Dunia Elang kini mengerucut hanya pada selembar kertas dan goresan tangan yang sangat ia kenali. Goresan tangan Aksara. Masih di bangku kosong dan dingin yang ia duduki, Elang membaca surat itu perlahan. **** Untuk Elang, Orang yang aku tunggu 12 kali gajian lamanya. Saat kamu membaca ini, mungkin aku sudah menatap langit Paris yang dulu sering jadi bualan ringan kita. Tapi, percayalah, sejak itu, aku benar-benar menaruhnya menjadi mimpi dan doa untuk kita. Tapi, maaf kalau pada akhirnya aku harus menatap langit ini tanpamu. Aku yakin kamu juga sudah punya langit timur yang indah yang selalu kamu tatap setiap malam, yang membuatmu mudah melupakanku. Kamu selalu bilang bahwa kamu mencintai cakrawala, tapi kamu lupa bahwa cakrawala itu indah karena jarak. Begitu ka
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Awan yang Berpapasan
Bandung sedang berada di titik kelembapan tertinggi, seolah langit pun enggan melepas uap air yang menyesakkan dada. Di sebuah studio apartemen yang minimalis namun artistik, Aksara menatap sebuah amplop biru dengan logo emas lembaga kebudayaan Prancis. Cité Internationale des Arts, Paris. Nama itu bukan sekadar institusi; bagi Aksara, itu adalah sebuah sekoci penyelamat yang dikirim semesta tepat sebelum ia karam dalam penantian yang sia-sia. Aksara berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya untuk terakhir kali sebelum berangkat. Ia adalah definisi kecantikan yang "mahal"—bukan karena riasan, melainkan karena karakter yang terpancar. Wajahnya memiliki tulang pipi yang tegas dengan mata sayu yang selalu tampak menyimpan rahasia besar. Rambut hitamnya yang biasanya dibiarkan tergerai liar saat melukis, kini disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. A
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Hujan di Bukit Halo
Langkah Elang mendaki Bukit Halo terasa jauh lebih berat dari biasanya. Kali ini, bukan karena terjalnya medan atau kurangnya oksigen, melainkan karena bayangan sebuah lukisan yang seolah memburu di belakang punggungnya. Lukisan kursi bandara itu terus menghantui pelupuk matanya, membuat setiap tarikan napasnya terasa sesak.Sesampainya di puncak bukit yang sunyi, Elang menjatuhkan diri di atas batu besar yang sama tempat ia mencoba mengirim pesan berbulan-bulan lalu—pesan yang tak pernah sampai karena sinyal yang mati. Ia mengeluarkan ponselnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia ingin mengetik sesuatu, setidaknya ucapan terima kasih atas donasi buku yang luar biasa untuk warga desa, atau sekadar basa-basi untuk mencairkan es yang membeku di antara mereka. Namun, jemarinya membeku di atas layar. Bagaimana mungkin ia bisa berterima kasih pada seseorang yang baru saja ia tikam dengan pengkhianatan paling dingin?Alih-alih membuka ruang obrolan, Elang justru membuka aplikasi media sosial.
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Donasi Aksara
Bulan kesebelas di pesisir Timur dibuka dengan aroma debu semen dan kayu yang baru diserut. Proyek perpustakaan desa, yang sempat tersendat karena konflik internal tim, kini dipacu habis-habisan. Namun, di balik semangat pembangunan itu, suasana di barak pengabdian justru semakin pengap. Pemicu utamanya adalah sebuah percakapan telepon yang tertangkap oleh Hanin di suatu malam yang sangat sunyi. Hanin sedang mencari udara segar di balik rimbun pohon pisang ketika ia mendengar suara Ghea yang meninggi, disusul isakan yang berusaha ditekan. "Beny, dengar! Aku tidak bisa membohongi diriku lagi," suara Ghea terdengar tajam sekaligus gemetar. "Jangan pernah datang menjemputku ke dermaga bulan depan. Kita selesai. Ya, aku memutuskan ini secara sepihak. Aku sudah menemukan orang lain yang membuatku merasa lebih hidup daripada rencana pernikahan kaku yang kamu susun. Jangan hubungi aku lagi!" Klik. Ghea menutup telepon dengan napas tersengal, melempar status pertunangannya di Yogyakart
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Teguran Keras
Lampu minyak di teras barak sudah lama padam, menyisakan bau sumbu yang hangus dan keheningan yang mencekam. Hanin berdiri dalam bayang-bayang pohon kelapa, tangannya gemetar mengepal di sisi tubuh. Pemandangan di depannya—pagutan bibir antara Elang dan Ghea yang begitu intens—terasa seperti belati yang menusuk nuraninya. "Puas, Lang?" suara Hanin memecah sunyi, tajam dan dingin seperti es. Elang tersentak, melepaskan tautannya dengan Ghea. Napasnya masih menderu, matanya yang biasanya jernih kini tampak keruh oleh kabut gairah dan rasa bersalah yang bertarung di sana. Ghea, di sisi lain, justru terlihat lebih tenang. Ia merapikan anak rambutnya dengan jemari yang stabil, seolah tak ada beban moral yang ia pikul. "Hanin, ini bukan waktu yang tepat—" "Lalu kapan waktunya, Lang?" potong Hanin, melangkah keluar dari kegelapan. "Nanti saat kamu pulang ke Bandung dan mendapati Aksara masih menunggu dengan sejuta janji yang kamu tabur? Kamu tahu apa yang kamu lakukan malam ini?
Last Updated: 2021-06-01
Chapter: Lagu untuk Ghea
Bandung sedang berada di puncak musim penghujan, namun bagi Aksara, badai yang sesungguhnya terjadi di dalam keheningan studionya. Kesibukan menjelang pameran "Jejak yang Tertinggal" menjadi satu-satunya napas buatan yang membuatnya tetap tegak. Galeri seni Pak Danu malam itu dipenuhi aroma kopi mahal, wangi kayu pinus dari bingkai-bingkai baru, dan bisik-bisik apresiasi dari para kolektor. Tiga karya utama Aksara diletakkan di lorong transisi, sebuah posisi strategis yang memaksa setiap pengunjung berhenti sejenak. Lukisan bertajuk 'Sketsa Hujan dan Jejak Kehilangan' menjadi primadona. Di sana, Aksara menggambarkan kursi bandara dengan teknik chiaroscuro yang tajam—kontras antara cahaya lampu bandara yang dingin dan kegelapan di luar jendela yang dihantam hujan. Banyak pengunjung berdiri lama di depannya, beberapa tampak menyeka sudut mata, merasakan kesepian yang berteriak dari balik kanvas itu. "Kamu berhasil, Aksa. Kamu tidak hanya menggambar benda, kamu menggambar perasa
Last Updated: 2021-05-04
You may also like
Mendadak jadi Ibu
Mendadak jadi Ibu
Romansa · 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪 𝓜𝓮𝓻𝓪𝓱
378.1K views
HELLO HUSBAND {INDONESIA}
HELLO HUSBAND {INDONESIA}
Romansa · ANGELA HIKARU
376.0K views
Skandal Panas Sang CEO
Skandal Panas Sang CEO
Romansa · icher
372.4K views
KABAR PERNIKAHAN SUAMIKU
KABAR PERNIKAHAN SUAMIKU
Romansa · Reinee
371.1K views
Bukan Pernikahan Biasa
Bukan Pernikahan Biasa
Romansa · Lis Susanawati
370.9K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status