Share

4

Stella mengukir senyum. "Ah, aku tidak pernah kepikiran tentang ini sebelumnya," ungkapnya menanggapi perkataan Abu. "Um, apakah ada yang mengganggu pikiranmu? Apa kamu meragukan Somnium?"

Kini giliran Abu yang tersenyum. "Entahlah, aku hanya berpikir bahwa sebenarnya masih banyak hal yang tidak kita ketahui tentang Somnium."

Kemudian, terdengar helaan napas dari Stella. Gadis dengan setelan gaun putih selutut itu tidak ingin ambil pusing dan menanggapi Abu dengan melontarkan kata-kata yang mengisyaratkan untuk segera menyudahi pembicaraan yang dirasanya tidak begitu penting. Katanya, "Sudahlah, aku tidak ingin memikirkan hal itu. Lagi pula sekarang kita harus fokus pada misi, bukan?"

Lagi, Abu tersenyum. Entah kenapa dia merasa reaksi Stella lucu sekali. Memangnya dia tidak merasa perlu mewaspadai Somnium? Bukankah sosok Somnium masih sangat misterius? 

Akan tetapi, melihat bagaimana reaksi Stella maka mau tak mau Abu harus segera mengakhiri pembicaraan mereka tentang Somnium. Apalagi mengingat ada mimpi buruk yang harus mereka hancurkan. "Baiklah, ayo kita lanjutkan misi kali ini," balas Abu. "Tetapi sebelum itu jawab dulu pertanyaanku. Kamu sungguhan tidak melihat siapa pun tadi?"

Stella menggeleng kuat-kuat. "Serius, aku tidak melihat siapa pun."

"Um, jadi ceritanya begini. Tadi itu aku berada di dekat gerbang masuk desa ini. Dan dari kejauhan aku lihat kamu berdiri di dekat pohon beringin. Terus ya sudah, kuputuskan untuk masuk dan menghampirimu saja," sambung Stella menjelaskan. "Nah, pas sudah beberapa meter, eh kulihat kamu bertingkah aneh. Tidak ada siapa-siapa tetapi kamu tiba-tiba menyerang dengan mengeluarkan api dari tanganmu. Itu, jujur, aku takut sekali sampai tadi aku teriak. Kamu juga dengar, kan?"

Abu mendengarkan dengan saksama. Diikuti manik kembarnya yang memperhatikan Stella ketika menceritakan apa yang terjadi dilihat dari sudut pandangnya. Abu sendiri pun mengakui bahwa tadi dia juga sempat mendengar seseorang meneriakkan namanya. Serta dia mengetahui kalau Stella berkata jujur tentang dirinya yang ketakutan karena semua itu terpancar dari kedua matanya.

Setelah itu, Abu angkat bicara. "Oke, kita kesampingkan itu dulu. Nah, sekarang kamu bisa beri tahu aku film atau drama apa yang baru-baru ini kamu tonton? Karena apa yang terjadi di kehidupan nyata bisa terbawa sampai ke mimpi."

"Baru-baru ini aku nonton drama Korea judulnya Sweet Home."

"Dramanya tentang apa?"

"Sweet Home itu menceritakan tentang dunia yang tiba-tiba berubah menjadi mengerikan, karena di sana manusia dapat berubah menjadi monster yang disebabkan oleh hasrat dan ambisi besar dalam diri mereka," jelas Stella. "Jadi, lebih semacam film survival kalau menurutku karena orang-orang yang mendiami Green Home harus bertahan hidup dari invasi dan serangan para monster."

Selepas mendengar penjelasan dari Stella terkait drama yang baru-baru ini dia tonton, Abu tak bisa menghentikan dirinya untuk tersenyum kecut. "Um, ribet juga ya kalau kamu benar-benar memimpikan hal seperti itu," ungkapnya.

Alhasil, Stella berakhir menahan rasa malu. "Ahahaha, maaf ya," pintanya dengan suara yang kedengaran kaku dan canggung.

"Tidak apa-apa, jangan minta maaf," balas Abu.

"Tapi—"

"Tapi jujur ya, mimpimu ini tidak menunjukkan ciri-ciri seperti drama yang kamu tonton," potong Abu dengan kedua mata yang melihat-lihat sekeliling. "Jika warga di sini berubah menjadi monster, menurutmu kenapa dari tadi mereka tidak menampakkan diri? Kenapa mereka tidak menyerang?"

Stella menimpali dengan kikuk. "Mana ... aku, tahu?"

Mendapat reaksi demikian, Abu jadi terdiam sejenak karena tak habis pikir. Matanya pun mengerjap-ngerjap agar fokusnya kembali. Barulah setelah itu dirinya mencoba menghubungkan setiap informasi yang telah diperoleh. Dia berusaha untuk mendapatkan petunjuk meski itu hal kecil sekalipun.

Dari apa yang telah diketahui oleh Abu adalah bahwa desa ini tidak begitu besar dan cukup terpencil dengan keadaannya yang persis desa tak berpenghuni. Semua itu tampak dari rumah-rumah warganya yang kelihatan sepi dan seperti telah lama ditinggalkan karena kondisinya yang tidak terawat. 

Selanjutnya, suara misterius yang didengarnya beberapa saat lalu. Kalau diingat-ingat, suaranya itu terdengar seperti suara pria paruh baya yang dari nada bicaranya seolah-olah tidak suka dengan kehadiran Abu dan yang lainnya. Suara itu terdengar seperti sebuah kemarahan karena telah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.

Lama, berpikir keras. Abu kemudian menggaruk tengkuknya tiba-tiba. "Stella, mimpimu ini...."

Yang diajak bicara ragu-ragu membalas, "Iya?"

Sejemang, Abu mengerucutkan bibir. "Aku tidak bisa menemukan petunjuk apa-apa," jawabnya.

Stella lantas langsung bermuka sedih dan kentara merasa bersalah. "Maaf...," mohonnya.

Merasa tidak enak karena telah membuat Stella merasa bersalah, Abu hendak melontarkan sepatah kata yang sekiranya mampu untuk menghentikan gadis itu meminta maaf dan menyalahkan diri. Namun, belum sempat mengeluarkan suara, Abu dibuat kembali terpikirkan akan suara misterius tadi dan kali ini anehnya terhubung dengan fakta tentang lokasi Shota dan Elang yang berada di rumah dengan ciri bangunan Belanda.

Seketika kedua mata Abu membola. Dia lantas menatap Stella sambil berkata, "Kita harus segera menemui Shota dan Elang."

Tentu saja Stella kebingungan. Gadis hitam manis itu tidak mengerti kenapa tiba-tiba Abu mengajaknya untuk segera menemui Elang dan Shota. Sebab mereka berdua itu laki-laki dan pasti bisa menjaga diri.

"Tunggu, memangnya kenapa? Bukankah lebih baik kita mencari Alexa saja? Aku khawatir." Stella menuntut jawaban karena dia berpikir alih-alih menemui Shota dan Elang lebih baik mereka mencari Alexa yang sedari tadi tidak kedengaran suaranya sama sekali.

"Alexa?"

"Iya, Alexa."

"Um, menurutku itu tidak perlu."

"Ti-tidak perlu?" Dahi Stella berkerut. "Apa maksudmu tidak perlu? Kamu tidak khawatir kepada Alexa? Kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana?"

"Tidak, bukan begitu."

Kini, kedua alis milik Stela saling bertautan. "Lalu, apa maksudmu tidak perlu?"

"Alexa itu pemimpi pertama yang jauh lebih dulu meneriwa tawaran dari Somnium daripada kita. Sudah pasti dia juga lebih berpengalaman dan terlatih. Jadi, kupikir kita tidak perlu merasa takut akan terjadi sesuatu padanya. Dia bisa menjaga diri. Aku percaya itu," terang Abu.

Mendengar itu, Stella mendengkus. Dia merasa tidak terima dengan jawaban dari Abu. Namum, dia juga tidak bisa memungkiri bahwa apa yang dikatakan Abu itu benar adanya. Perihal Alexa yang jauh lebih dulu meneriwa tawaran dari Somnium dibanding mereka. Serta melihat bagaimana sikap Alexa selama ini, Stella justru berakhir semakin membenarkan ucapan Abu. Pasalnya Alexa bukanlah tipe gadis lemah yang bisanya merengek dan menyusahkan orang lain. Gadis campuran Indonesia-Inggris itu selalu tampil tangguh dan ceria serta dapat diandalkan.

Akibatnya, Stella berakhir memanyunkan bibir. Dibuat kecewa tetapi hanya bisa pasrah karena dia juga tidak mungkin mencari Alexa sendirian lantaran rasa takut masih menyelimutinya. Kendati demikian, Stella mengajukan permintaan lain sebagai gantinya. 

"Kalau begitu, kita temui Nana saja bagaimana? Soalnya tadi kalau tidak salah Leo bilang akan menghampiri Nana. Aduh, aku kan jadi—"

"Stella ... kamu meragukan Leo ya?" sela Abu.

Pertanyaan yang diajukan oleh Abu sekonyong-konyong membuat Stella tertegun. Gadis itu dibuat stagnan. Terdiam dengan bibir yang tiba-tiba menjadi kelu.

"Sekarang begini saja, aku akan tetap menemui Shota dan Elang. Selain itu, kamu yang putuskan sendiri, mau ikut atau tidak," ujar Abu memberi solusi.

Stella masih saja diam bersamaan dengan air mukanya yang tampak tidak enak hati, tetapi walau bagaimanapun tak dapat dipungkiri jikalau Stella dibuat begitu penasaran terkait alasan Abu yang bersikukuh ingin menemui Shota dan Elang.

"Um ... kenapa kamu ingin sekali menemui Shota dan Elang?" tanya Stella pada akhirnya meski ragu-ragu di awal.

"Aku punya firasat buruk tentang mereka berdua," jawab Abu dengan sorot mata serius.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status