Share

2

Somnium diam sejenak dan beberapa sekon berikutnya suaranya kembali mengudara. "Jadilah pemimpi. Lalu hancurkan semua mimpi burukmu dan di akhir kau akan melihat mimpi indahmu menjadi kenyataan. Serta ingatlah selalu bahwa kalian, tujuh pemimpi, adalah satu-kesatuan. Maka bekerja samalah dan saling mendukung untuk sama lain. Dengan demikian, kalian semua bisa menjadi pemenang.

Bukankah semua orang mengharapkan cahaya datang dan menerangi jalan hidupnya yang penuh dengan kegelapan? Jadi, kenapa kalian tidak ikut berjuang? Untuk itu, misi telah siap di depan mata. Maka bersiaplah dan hancurkan semua mimpi burukmu," ucapnya dengan lantang.

Dalam sekejap keadaan sekitar berubah sedemikian rupa. Aula dengan suasana malam hari kini berganti suasana pedesaan di kala siang hari. Para pemimpi yang tadinya berada dalam satu tempat pun ikut terlempar ke tempat yang berbeda-beda sesuai dengan peran masing-masing pada mimpi yang harus dihancurkan kali ini.

Kendati tidak saling berdekatan, mereka masih tetap bisa menjalin komunikasi laiknya sedang bertelepati. Bedanya, mereka bisa saling berbicara dari jarak jauh tetapi tidak disertai bisa membaca isi benak masing-masing. Pasalnya itu merupakan sesuatu yang privasi dan Somnium sendiri masih memberi batasan pada setiap pemimpi guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti saling menghancurkan satu sama lain.

Sementara itu, Abu menyapu pandang sekelilingnya. Melalui kedua obsidiannya, dia melihat rumah-rumah warga di desa yang terkesan begitu sepi, bahkan kelewat sepi hingga seperti tak berpenghuni. Selepas melihat-lihat, tungkainya dia langkahkan menuju pohon besar yang kemungkinan adalah beringin.

Abu memutuskan untuk bersembunyi di balik pohon sebab rasa was-was menghampirinya tanpa peringatan. Dengan ekor matanya, dia memperhatikan rumah milik warga diam-diam. Lalu berkata, "Mimpi buruk siapa yang harus kita hancurkan kali ini? Karena kalian tahu, ini terlihat persis desa mati. Siapa yang bermimpi tentang hal seperti ini?"

Vokal Somnium merambat ke telinga para pemimpi. "Apakah kalian lupa?" tanyanya menanggapi perkataan dari Abu. "Siapapun di antara kalian yang dari arah letak jantungnya berada muncul cahaya berwarna merah, itu berarti dia yang sedang bermimpi buruk."

"Siapa?" tanya Abu sebab jantungnya tidak mengeluarkan cahaya merah dan artinya bukan dirinya yang sedang bermimpi buruk.

Nana menyahut, "Ini bukan mimpiku."

"Bukan mimpiku," jawab Elang.

"Aku juga bukan." Shota menambahkan. "Karena kalian tahu sendiri, aku tidak akan memimpikan hal seperti ini."

"Sepertinya ... ini mimpiku," balas Stella sambil memandang ke arah jantungnya.

"Sudah kuduga. Mimpimu yang paling buruk!" Itu suara Leo.

"Hei!" Stella geram.

Abu cepat-cepat menanggapi menyadari situasi yang kemungkinan akan berakhir buruk. "Tidak apa-apa, Stella. Kupikir maksud Leo adalah mimpimu sulit dipecahkan karena kamu suka nonton film atau drama yang berbau-bau misteri. Iya, kan?"

Stella tersenyum malu. "Ah ... itu benar."

Abu menarik napas sebentar untuk kemudian kembali mengajukan pertanyaan. "Baiklah, sekarang bisa jelaskan di mana kalian semua berada? Nana dulu, kamu di mana?"

Nana memutar matanya, melihat-lihat sekitar. "Aku ... di Tempat Penitipan Anak?" Pasalnya ada banyak mainan dan perlengkapan untuk anak-anak di ruangan di mana dia berdiri sekarang, itulah alasan kenapa dirinya menjawab demikian.

"Sebentar, Na, umur kamu berapa?" Lagi-lagi keluar pertanyaan dari mulut Abu.

"Sembilan tahun, Kak."

"Oke, sekarang yang lain di mana?"

"Aku berada di rumah seseorang, tetapi tidak ada siapa pun di sini," ungkap Shota. "Um, rumahnya dibangun seperti bangunan khas orang Belanda. Itu saja, selebihnya kupikir tidak ada yang aneh."

"Kalau aku sepertinya berada di ...," ujar Elang menjeda. "Ah, sebentar! Tadi Shota mengatakan rumahnya seperti bagunan orang Belanda, kan? Shota apa kamu dengar aku? Sepertinya kita berada di rumah yang sama."

"Oh, benarkah?"

"Iya, ciri-cirinya persis seperti yang kamu sebutkan terutama interiornya," balas Elang. "Apa kamu di bawah? Biar aku hampiri."

"Oke, ini bagus. Kupikir aku sendirian tadi."

"Great!" Abu menimpali. "Nah, sekarang yang lain tolong cepat jelaskan keberadaan kalian, karena mimpi ini harus dihancurkan bukan?"

"Abu sepertinya aku melihatmu," ujar Stella.

Abu merasa sedikit terkejut karena dirinya sendiri tidak melihat keberadaan orang lain. "Oh, iyakah?"

Stella mengangguk sebagai tanggapan dan lekas berkata, "Aku akan menghampirimu. Jadi, kamu tetap di situ, oke?"

"Iya Stell. Nah, sekarang—"

Belum selesai Abu bicara, tiba-tiba Leo menyelang, "Aku akan menghampiri Nana."

"Eh?" kata Abu dan Nana bersamaan sebab keduanya yang paling dibuat kaget dengan pernyataan dari Abu.

Nana yang sedari tadi diam dan tidak terlalu berekspresi kini berakhir memasang wajah panik. Dia masih merasa takut kepada Leo. Menurutnya harus bersama dengan Leo dalam misi itu bukanlah ide yang bagus. Yang ada dia terus merasa gelisah alih-alih seperti Shota yang merasa senang mengetahui dirinya berada di tempat yang sama dengan Elang tadi.

Diam-diam Nana berkata di dalam hati. "Aduh, bagaimana ini?"

Terlepas dari itu semua, harus diakui wahwa di sini Abu berperan seperti seorang pemimpin. Bahkan layak disebut pemimpin yang baik, karena dirinya mampu memandu teman-temannya sebagai sesama pemimpi. Dia juga menyadari kalau ada di antara mereka yang sama sekali belum mengeluarkan suara.

Abu lantas melempar tanya, "Alexa, kenapa diam saja?"

Seperti berbicara dengan benda mati, tidak ada sahutan yang dia terima kecuali angin yang membelainya dengan aneh hingga membuatnya sedikit bergidik ngeri. Kemudian selang beberapa detik, dia mendengar seseorang berbicara tepat di dekat telinga kanannya.

"Apa yang kau lihat?" Begitu katanya.

Namun, sejujurnya, itu bukanlah suara Alexa ataupun Stella yang tadi sempat mengatakan akan menghampirinya. Jadi, wajar saja setelah mendengarnya Abu merasa terancam dan langsung melakukan pembelaan diri dengan menyerang menggunaan api yang dia keluarkan dari tangan kanannya ke arah sumber suara.

Bersamaaan dengan itu juga terdengar seseorang meneriakkan namanya. "Abu!" teriak Stella yang ternyata sekarang hanya berjarak lima meter darinya.

Dengan segera Stella memangkas jarak. "Apa yang terjadi?" tanyanya.

Napas Abu terengah-engah. Tatapan matanya terlihat tidak fokus karena masih belum bisa mencerna apa yang baru saja dia alami. "Tadi, ada orang yang mengajakku bicara, tetapi aku tidak melihat siapapun," ungkapnya. "Apa mungkin kamu melihatnya?"

"Tidak, aku tidak melihat siapapun," jawab Stella dengan suara agak bergetar dilengkapi dengan sorot mata yang mendadak memancarkan ketakutan. Sebab apa yang terjadi barusan itu sungguh aneh. Bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa kini dia benar-benar merasa gelisah.

Stella kemudian menengadahkan kedua tangannya. Tring! Dengan ajaib muncul dua botol air mineral. Dia pun menawari Abu, "Apa kamu mau?"

Abu terkekeh pelan akan situasi konyol yang sedang terjadi. Akan tetapi, dia tetap menerima air mineral tersebut karena walaupun semua ini hanyalah mimpi belaka, dia tetap merasa perlu untuk menyiram tenggorakannya yang terasa kering.

Selepas itu, Abu berinisiatif untuk kembali melakukan perbincangan. "Apa tidak pernah terlintas di pikiranmu?" tanyanya.

Merasa tidak jelas dan kurang mengerti, Stella balik bertanya, "Tentang apa?"

Abu tersenyum tipis. Pandangannya mengarah ke depan sembari berucap, "Tentang ... bahwa selain Lucid Dream, Somnium memiliki kriteria lain dalam memilih pemimpi."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status