Beranda / Romansa / Sopir Kesayangan Dokter Cantik / 3 Terperangkap Dalam Aroma Kehancuran

Share

3 Terperangkap Dalam Aroma Kehancuran

Penulis: Ryu Lee
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-05 15:52:22

"Mati aku. Cepat, sembunyi di dalam sana!" Desisan Sarah nyaris tak terdengar, suaranya habis ditelan kepanikan luar biasa.

Tanpa memberiku ruang untuk bertanya, kedua tangan mungil wanita itu mendarat kasar di dadaku. "Masuk ke sana! Cepat, sembunyi dalam lemari. Saya nggak mau image luntur hanya gara-gara dia ngira saya mau sama kamu!"

Tanpa memberiku ruang untuk mencerna perintahnya, kedua tangan mungil wanita itu mendarat kasar di dadaku. Ia mendorong tubuh besarku dengan sisa tenaga panik yang luar biasa kuat.

Aku terhuyung mundur ke belakang. Langkah kakiku terseret karpet tebal hingga akhirnya punggungku menabrak masuk ke dalam sebuah lemari pakaian raksasa yang berdiri kokoh di sudut kamar.

BRAK!

Sarah membanting pintu lemari itu tertutup, tepat pada milidetik yang sama saat suara kunci pintu kamar diputar paksa dari luar menggunakan kunci cadangan.

Tubuhku terhimpit kuat di antara puluhan deretan gaun sutra dan pakaian malam milik majikanku yang beraroma parfum mahal.

Aku terpaksa berdiri dengan posisi sangat kaku, melipat kedua tangan di depan dada agar pundakku tidak menyenggol gantungan kayu.

"Sar? Udah tidur kamu? Tumben banget dikunci dari dalam," suara langkah kaki sepatu hak tinggi terdengar memasuki kamar.

Aku memiringkan kepala perlahan, menempelkan mata kananku pada celah sempit berukuran beberapa milimeter di antara dua daun pintu lemari.

Dari celah itu, aku bisa melihat sosok Elena, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Sarah di rumah sakit. Wanita tegas itu berjalan masuk memeluk tumpukan berkas rekam medis, postur tubuhnya selalu tegap dan menantang.

"B-belum, El. Aku baru aja mau rebahan tadi," sahut Sarah dari arah ranjang yang tidak terjangkau pandanganku.

“Oh. Rebahan aja kok pakai kunci pintu. Jarang banget kamu kunci pintu malam-malam gini, apalagi 2 minggu terakhir, kita banyak panggilan darurat dari rumah sakit. Agak enah aja, sih, tapi yaa itu privasimu, kamar-kamarmu sendiri.”

"Ada urusan apa kamu ke kamarku malam-malam begini? Enggak lihat jam berapa sekarang?" tambah Sarah, mencoba menyuntikkan nada otoritas. Nada suara majikanku terdengar bergetar hebat menahan panik.

"Yaa, aku minta maaf sebelumnya datang jam segini. Barusan yang aku bilang, ada urusan mendadak. Berkas operasi VIP buat besok pagi ketinggalan di mobil, aku baru ingat pas cuci muka di bawah," jawab Elena dengan nada santai tanpa beban.

Wanita itu berjalan mendekati meja rias kayu jati yang letaknya persis di samping kiri lemari tempatku bersembunyi.

Body Sarah memang tidak sebagus Elena yang masih muda, tapi pesona Sarah, sungguh. Sungguh mematahkan semua ekspektasi pemuda. Di usia yang sudah menginjak angka 34, wajahnya masih secantik gadis belia berusi 22 tahun.

Bayangkan saja, majikan super cantik dengan wajah 22 tahun, memiliki body dan pengalaman seperti wanita matang berusia 34 tahun! Argh, apalagi ketika Sarah memainkan lehernya, lalu menyusupkan tangannya ke gaun tadi.

Sial, aku masih kepikiran itu.

Di dalam lemari, aku tidak bisa berhenti membayangkan betapa beruntungnya aku, andai Elena tidak masuk kamar. Aku yakin, 100%, majikanku ini akan memberiku sesuatu spesial, apalagi selama 8 bulan ini dia tidak pernah disentuh.

Pernah sekali, aku dengar Pak Udin bercerita. “Bu Sarah itu orangnya agresif banget, Ren, kamu ati-ati aja sama dia. Nanti kalau kamu dipanggil ke kamarnya, jangan pernah mau, kamu pasti dikunciin. Aku yang udah umur 40an aja, udah 3x hampir dimangsa dia. Untung aku inget anak-istri. Coba enggak, buseett, udah aku sikat itu!”

Namun, imajinasiku perlahan buyar ketika Elena mengatakan sesuatu.

Aku menahan napas sekuat tenaga saat Elena berdiri begitu dekat.

"Gila, malam ini hawanya gerah banget ya. Padahal di luar hujan, tapi AC di lorong bawah kayaknya mati total," keluh Elena sambil menghela napas panjang.

Elena mengusap tengkuk lehernya yang tampak mengkilap oleh keringat keletihan. Wajahnya yang kaku dengan tulang pipi tinggi itu justru terlihat semakin sensual di bawah lampu temaram.

Tanpa ragu dan sama sekali tidak menyadari ada mata yang sedang mengintip, Elena mulai membuka kancing kemeja kerjanya satu per satu. Gerakan tangannya luwes. Dari atas ke bawah, punggung putihnya mulai terekspos satu per satu.

Belahan kemeja sutra putihnya terbuka lebar, menampakkan bahu dan tulang selangka Elena yang mulus tanpa noda, 11-12 dengan milik Sarah.

Dan sialnya, aku berada 30 centi tepat di belakangnya, menatap punggung putih mulus itu.

Andai statusku bukan sopir dan aku bisa keluar dari persembunyian, tanganku pasti sudah meraihnya, merangkulnya, dan mengelusnya dengan telunjukku.

Argh, sialan!

Mataku melotot lebar, menolak berkedip, ketika kemeja kerja putih itu akhirnya merosot jatuh ke atas karpet tebal di bawah kakinya.

Kini, asisten pribadi majikanku itu hanya berdiri mengenakan pakaian dalam berenda warna hitam pekat yang membalut ketat lekuk tubuh sintalnya. Kontras warna hitam tersebut membuat kulit putih susunya terlihat bercahaya.

Aku bisa melihat jelas bagaimana bagian dadanya naik-turun seirama dengan napasnya yang berat.

Dari jarak 30 centi ini, aroma feromon alami Elena yang bercampur parfum musky menancap tajam dan agresif di hidungku. Kejantananku berdenyut sakit, mengeras seperti batu karang hingga menekan ritsleting celana seragamku dengan menyakitkan.

Udara sempit di dalam lemari ini mendadak terasa sepuluh kali lipat lebih panas membakar kulitku.

"El, mending kamu balik ke kamarmu di bawah sekarang. Aku udah capek banget mau tidur," usir Sarah dengan nada mendesak yang dipenuhi keputusasaan.

"Bentar aja, Sar. Kasur king-size kamu ini jauh lebih empuk daripada kasurku di bawah," keluh Elena dengan tawa malas.

Tanpa rasa canggung, Elena menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur Sarah.

Posisi berbaringnya tepat berada di garis pandang celah lemariku.

Wanita itu meregangkan otot tubuhnya, melengkungkan punggungnya sedemikian rupa ke atas kasur empuk. Gerakan itu membuat kedua bukit kembarnya yang terbungkus renda hitam terdorong menantang gravitasi, menguji sisa-sisa kewarasanku sebagai pria.

Bentukannya itu, ahh aduhai, aku tidak bisa membayangkan buah-buahan impor seperti milik Elena, apalagi wajahnya blasteran seperti ala-ala Rusia.

Gila, sungguh gila!

Kugigit bibir bawahku kuat-kuat agar suara erangan napasku tidak bocor keluar.

"El, jangan main-main. Besok kita ada jadwal operasi besar pagi-pagi!" bentak Sarah, suaranya meninggi nyaris histeris.

Alih-alih menurut, gerakan tubuh Elena di atas kasur mendadak terhenti total. Asisten cantik itu tiba-tiba bangkit duduk tegak. Keningnya berkerut dalam, menciptakan garis kecurigaan di wajah tegasnya.

Hingga akhirnya, arah pandangannya terkunci mati tepat pada pintu lemari tempatku mengurung diri.

"Sar... kamu ngerasa ada yang aneh nggak di kamar ini?" tanya Elena pelan, nadanya berubah drastis menjadi sangat dingin dan penuh selidik.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   9 Gairah Panas Di Mobil

    'Tidak salah lagi, Elena pasti tau semuanya. Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau Elena memberi tau suami dokter Sarah? Ahhhh, tamat sudah riwayatmu Reno,' batinku, merutuki kebodohanku sendiri.Niat yang tadinya mau hidup tenang, tiba-tiba saja di gagalkan oleh skandal memalukan ini.Tak lama kemudian, dokter Sarah pun tiba, tapi kali ini ia datang bersama dengan Maya. Ya ampun, ujian apa lagi ini."Elena, Maya bilang dokter Riska tidak bisa dihubungi, karena pasien juga merupakan pasien dari dokter Riska, kamu tolong jemput dia ke rumahnya. Saya dan Reno akan berangkat duluan ke rumah sakit," perintah dokter Sarah yang membuat Elena kembali menatapku dengan tatapan yang penuh arti. Aku tau apa yang ada di dalam pikirannya. Dia pasti mengira kalau aku akan memiliki kesempatan lagi bersama dokter Sarah."Tapi Sar, kenapa tidak Maya saja yang pergi? Aku takutnya nanti kamu keteteran," ucap Elena membuat kening dokter Sarah berkerut."Keteteran? Maksud kamu gimana

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   8 Sindiran Elena

    Ponsel di atas nakas itu kembali menjerit nyaring, merobek atmosfer panas yang baru saja kami bangun. Dokter Sarah tersentak, perlahan melepaskan lumatannya dari bibirku dengan napas yang masih tersengal-sengal. Sorot matanya yang tadi sayu penuh damba, dalam sekejap berubah menjadi dingin dan waspada saat melihat layar ponselnya. Permainan kami terhenti karena panggilan itu. "Ya, saya segera ke sana sekarang," ucapnya singkat, suaranya kembali otoriter seolah adegan panas tadi tidak pernah terjadi. Setelah panggilan penting itu berakhir, dokter Sarah kembali menatapku dengan tatapan rumit. "Maafkan aku Reno, aku ada pekerjaan mendesak. Permainan ini harus segera kita akhiri," ucapnya mencoba mengendalikan nafasnya yang masih memburu. Sial! Tanpa menunggu jawaban dariku, dokter Sarah bergegas turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan aku? Aku hanya bisa mematung di atas ranjang, mengatur napas yang masih memburu dan menahan denyut frustasi di bawah perutku. Se

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   7 Eksekusi Yang Lagi-Lagi Mendapatkan Gangguan

    Suara pintu utama yang tertutup rapat oleh Maya tadi masih menyisakan gema yang mencekam di telingaku. Keheningan yang menyusuk setelahnya justru terasa jauh lebih berat dan nebekan dari pada saat ada orang lain di kamar ini. Dokter Sarah tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan langkah cepat yang dipenuhi campuran antara marah yang tertahan dan gairah yang sudah meluap hingga ke ubun-ubun, dia berjalan menuju pintu utama kamar dan memutar kunci ganda. Klik.. Klik.. Suara kunci itu bagaikan pelatuk pistol yang di tarik tepat di depan wajahku. Dia berbalik, matanya yang tajam dan berkilat di bawah temaram lampu kamar menatap langsung ke arah tirai tempatku masih mematung dengan napas memburu. Tanpa kata-kata, dia menyambar kain tirai tebal itu dan menyibakkannya dengan satu sentakan kasar. Cahaya lampu kamar kini menerangi seluruh tubuhku yang berantakan, dengan kemeja seragam supir yang terbuka lebar dan kulit yang mengkilap oleh keringat. "Keluar dari sana Reno!" perintahnya. Suar

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   6 Godaan Maya

    Keheningan di dalam kamar mewah itu mendadak pecah oleh suara yang paling kami tidak harapkan. Sebuah ketukan teratur di pintu kayu yang kokoh, namun di telingaku, suaranya terdengar seperti dentuman godam yang menghantam dada.Tok.. Tok.. Tok.."Dokter Sarah? Ini saya, Maya," suara lembut namun tegas itu membelah kesunyian "Saya bawakan teh hangat untuk dokter dan bu Elena."Jantungku seolah merosot hingga ke dasar lambung. Di balik tirai yang sempit ini, cengkraman dokter Sarah di pundakku seketika mengeras. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat semakin menusuk kulit pundakku melalui kain kemeja yang aku kenakan. Tubuh dokter Sarah yang tadinya begitu menempel padaku, kini menjadi sekaku batu, seolah ia sedang memerintahkan seluruh anggota tubuhnya untuk berhenti bergerak dan mengeluarkan bunyi sekecil apa pun. Tanpa perlu di perintah, aku menahan napas sampai dadaku terasa perih dan panas. Keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipis ku, mengalir melewati pipi yang me

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   5 Hasrat Dibalik Tirai

    Duniaku seolah berhenti berputar saat pintu kamar mandi itu berderit terbuka dan Elena yang pandangannya langsung ke arahku dan Sarah. Aku yang tadi tersiksa dengan hasrat yang dikendalikan oleh dokter Sarah, kini ditambah lagi dengan kehadiran Elena yang tiba-tiba saja keluar dari kamar mandi. Rasanya aku mau hilang saja dari kamar ini dan kembali ke bagasi mobil untuk bersantai sembari membakar sebatang rokok murah ku. "Sar, handuk bersihnya dimana? Aku lupa membawanya tadi," tanya Elena masih mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia bertanya dengan santai, sama sekali tidak menyadari kalau ia hanya berjarak dua meter dengan supir yang tadi ia gunjing kan bersama dengan Sarah. Cengkraman tangan dokter Sarah di lenganku mengencang seketika. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat sedikit menekan kulitku, memberikan sinyal bahaya. Dengan gerakan yang sangat cepat, halus, dan nyaris tanpa suara, dokter Sarah menarik lenganku. Sebelum aku sempat memproses apa yang terjad

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   4 Kecurigaan Elena

    "Aneh? Aneh apanya?" sergah Sarah cepat, suaranya terdengar seperti orang tercekik.Elena turun dari ranjang dengan gerakan mengancam. Langkah kaki telanjangnya menginjak karpet tanpa suara mendekati lemari."Aroma udara di sekitar sini beda. Ada bau asing yang menyengat, entah yaa bau apa. Kayak bau-bau lumpur gitu. Bau hujan. Aku kurang paham. Intinya bau yang nggak banget ada di kamar kamu. Padahal, aku tau banget kamu orangnya ga suka ada bau lain selain parfum kamu sendiri."Elena mendongak sedikit di depan pintu lemariku, menghirup udara dengan hidung mancungnya. "Baunya kayak campuran keringat laki-laki kotor dan asap rokok kretek murahan. Kamu sendiri, kan, paling sensitif sama asap rokok. Masa kamu nggak nyium baunya?"Jantungku berhenti berdetak detik itu juga. Itu bau badanku dari garasi tadi sore."Jangan ngawur kamu, El! Itu paling sisa bau jaket suamiku di dalam lemari!" jerit Sarah dengan nada terlalu tinggi untuk menutupi kebohongannya.Elena sama sekali tidak menggubr

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status