Beranda / Romansa / Sopir Kesayangan Dokter Cantik / 2 Melewati Garis Kewarasan

Share

2 Melewati Garis Kewarasan

Penulis: Ryu Lee
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-05 11:52:57

Langkah kakiku yang mengenakan sepatu basah langsung berhenti di atas karpet tebal lorong samping.

Begitu pintu ku tutup perlahan, kegelapan absolut langsung menyergap pandanganku.

Hanya ada sedikit pantulan cahaya kilat dari jendela tinggi di ujung tangga yang sesekali memperlihatkan debu-debu halus melayang di udara.

Suara derap sepatu bot Udin terdengar melintas tepat di balik dinding tempatku menempelkan telinga.

"Kucing sialan, awas saja kalau ketemu besok," gumam Udin dari luar sana dengan nada kesal.

Detik berikutnya, suara langkah kaki satpam berbadan gempal itu perlahan menjauh.

Aku menghembuskan napas panjang yang sedari tadi menyumbat tenggorokanku. Tubuhku terasa lemas, menyender pasrah pada daun pintu kayu mahoni ini.

Tiba-tiba, bulu kuduk di belakang leherku berdiri serentak tanpa komando.

Insting masa laluku yang terasah tajam menjeritkan peringatan keras. Aku tidak sendirian di dalam kegelapan lorong sempit ini.

"Kamu punya nyali yang cukup besar untuk ukuran seorang supir rendahan." Suara itu muncul dari celah bayangan di depanku.

Aku menoleh cepat dengan sisa-sisa kewaspadaan. Di sana, hanya berjarak satu lengan pria dewasa dariku, Dokter Sarah sudah berdiri menanti layaknya seorang ratu yang menyambut tawanannya.

Menatap wujud aslinya dari jarak sedekat ini, tanpa terhalang kaca jendela berembun, benar-benar membuat napasku terputus di pangkal tenggorokan.

Gaun tidur sutra merah marun yang membalut tubuhnya itu jauh lebih tipis dan berbahaya dari yang kulihat dari luar tadi. Saking tipisnya, lekuk tubuhnya yang matang, yang selama ini selalu disembunyikan di balik seragam putih dokternya yang kaku, kini tercetak sempurna menantang mataku.

Sarah memajukan langkahnya pelan. Bukannya merasa terancam atau jijik melihat seorang pria bawahannya menyusup ke rumahnya, ia justru semakin memojokkanku.

Seketika, tangan halusnya melesat ke depan dan mencengkeram erat kerah kemeja seragam supirku yang basah. Ia menarik tubuh besarku dengan sisa tenaga hingga hidung kami nyaris bersentuhan.

"Maaf, Dok," lirihku dengan suara serak.

"Maaf untuk apa? Untuk pot yang kamu pecahkan, atau karena kamu ketahuan ngintipin saya mau muasin diri barusan?" bisiknya tajam, menyapu telingaku dengan embusan napas hangatnya.

"Saya... saya nggak sengaja lihat dari bawah, Dok. Tadi saya cuma mau ngecek keran air belakang," balasku memaksakan alasan yang sangat tidak masuk akal.

Sarah mendengus pelan, sebuah senyuman meremehkan terbit di bibir merahnya.

"Ngecek keran air sampai manjat tumpukan pot tinggi begitu? Kamu pikir saya bodoh, Reno?"

Tangan halusnya melepaskan kerah bajuku, namun beralih menelusuri kancing kemejaku dari atas ke bawah. Sentuhan ujung kukunya di dadaku memberikan sensasi geli yang menyiksa kewarasanku.

"Ampun, Dok. Saya cuma laki-laki normal. Lihat majikan secantik Dokter, insting saya kadang susah diajak kompromi," kataku jujur, menelan ludah kasar.

“Insting seperti apa? Bilang aja kamu mau sama saya? Apalagi kamu tahu, suami saya udah 8 bulan ini melayar. Kamu sengaja ngintip saya, biar kamu bisa fantasiin saya, gitu?”

“Dok, bu-bukan seperti itu…”

"Saya tahu kamu sering curi-curi pandang lewat kaca spion kalau lagi nyetir. Tatapan matamu itu selalu kurang ajar," lanjutnya pelan.

"Ikut saya ke atas sekarang. Dan jangan sampai sepatu basahmu itu bikin kotor karpet," perintahnya mutlak tanpa menoleh ke belakang.

Di dalam kepalaku, badai moral mengamuk brutal memperingatkan batas bahaya yang sedang kulanggar. Namun secara fisik, tubuhku sama sekali menolak diajak mundur.

Aliran darahku berdesir kencang setiap kali gaun merahnya tersingkap, memperlihatkan betis dan paha belakangnya saat ia melangkah naik. Arghh, itu mulus sekali. Itu bahkan jauh lebih mulus dari kembang desa yang selama ini dieluh-eluhkan seluruh warga di desaku.

Sialnya lagi, tiap dia berjalan ke atas, bagian belakangnya bergoyang seperti meminta untuk ditepuk.

Argh, betapa moralku diuji!

Kami akhirnya tiba di depan pintu kayu berukir yang merupakan kamar pribadinya di lantai dua.

Sarah memutar kenop pintu, lalu menarikku masuk secara paksa ke dalam ruangan luas yang diterangi cahaya lampu tidur kuning temaram.

Begitu kami masuk, ia langsung membanting pintu itu dan menguncinya dua kali dari dalam.

Kini, aku resmi terkurung berdua saja di dalam wilayah kekuasaan majikanku.

Sarah berbalik menatapku. Matanya yang bulat tampak sayu, persis seperti tatapan penuh gairah yang kulihat di kamar mandi tadi. Aroma parfum kelas atas bercampur aroma sabun melati, membuat kejantananku di balik celana semakin mengeras tanpa ampun.

Aku baru saja membuka mulut untuk menanyakan apa yang sebenarnya ia inginkan dari pelayan sepertiku. Namun, keheningan panas di antara kami mendadak pecah berkeping-keping.

Klek!

Klek!

Klek!

Gagang pintu kamar Sarah perlahan bergerak turun ke bawah. Seseorang sedang mencoba masuk, ketika pintu sudah dikunci.

Wajah Sarah mendadak berubah menjadi pucat pasi tanpa setetes darah pun. Matanya melotot horor menatap ke arah gagang pintu kuningan yang terus bergerak-gerak tidak sabar.

"Sar? Kamu di dalam? Kok pintunya dikunci sih?" Suara perempuan dewasa memanggil dengan nada heran dari balik pintu kayu tersebut.

Tubuhku membatu. Detik ini juga, hidupku sebagai manusia merdeka benar-benar berada di ujung tanduk.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   9 Gairah Panas Di Mobil

    'Tidak salah lagi, Elena pasti tau semuanya. Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau Elena memberi tau suami dokter Sarah? Ahhhh, tamat sudah riwayatmu Reno,' batinku, merutuki kebodohanku sendiri.Niat yang tadinya mau hidup tenang, tiba-tiba saja di gagalkan oleh skandal memalukan ini.Tak lama kemudian, dokter Sarah pun tiba, tapi kali ini ia datang bersama dengan Maya. Ya ampun, ujian apa lagi ini."Elena, Maya bilang dokter Riska tidak bisa dihubungi, karena pasien juga merupakan pasien dari dokter Riska, kamu tolong jemput dia ke rumahnya. Saya dan Reno akan berangkat duluan ke rumah sakit," perintah dokter Sarah yang membuat Elena kembali menatapku dengan tatapan yang penuh arti. Aku tau apa yang ada di dalam pikirannya. Dia pasti mengira kalau aku akan memiliki kesempatan lagi bersama dokter Sarah."Tapi Sar, kenapa tidak Maya saja yang pergi? Aku takutnya nanti kamu keteteran," ucap Elena membuat kening dokter Sarah berkerut."Keteteran? Maksud kamu gimana

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   8 Sindiran Elena

    Ponsel di atas nakas itu kembali menjerit nyaring, merobek atmosfer panas yang baru saja kami bangun. Dokter Sarah tersentak, perlahan melepaskan lumatannya dari bibirku dengan napas yang masih tersengal-sengal. Sorot matanya yang tadi sayu penuh damba, dalam sekejap berubah menjadi dingin dan waspada saat melihat layar ponselnya. Permainan kami terhenti karena panggilan itu. "Ya, saya segera ke sana sekarang," ucapnya singkat, suaranya kembali otoriter seolah adegan panas tadi tidak pernah terjadi. Setelah panggilan penting itu berakhir, dokter Sarah kembali menatapku dengan tatapan rumit. "Maafkan aku Reno, aku ada pekerjaan mendesak. Permainan ini harus segera kita akhiri," ucapnya mencoba mengendalikan nafasnya yang masih memburu. Sial! Tanpa menunggu jawaban dariku, dokter Sarah bergegas turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan aku? Aku hanya bisa mematung di atas ranjang, mengatur napas yang masih memburu dan menahan denyut frustasi di bawah perutku. Se

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   7 Eksekusi Yang Lagi-Lagi Mendapatkan Gangguan

    Suara pintu utama yang tertutup rapat oleh Maya tadi masih menyisakan gema yang mencekam di telingaku. Keheningan yang menyusuk setelahnya justru terasa jauh lebih berat dan nebekan dari pada saat ada orang lain di kamar ini. Dokter Sarah tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan langkah cepat yang dipenuhi campuran antara marah yang tertahan dan gairah yang sudah meluap hingga ke ubun-ubun, dia berjalan menuju pintu utama kamar dan memutar kunci ganda. Klik.. Klik.. Suara kunci itu bagaikan pelatuk pistol yang di tarik tepat di depan wajahku. Dia berbalik, matanya yang tajam dan berkilat di bawah temaram lampu kamar menatap langsung ke arah tirai tempatku masih mematung dengan napas memburu. Tanpa kata-kata, dia menyambar kain tirai tebal itu dan menyibakkannya dengan satu sentakan kasar. Cahaya lampu kamar kini menerangi seluruh tubuhku yang berantakan, dengan kemeja seragam supir yang terbuka lebar dan kulit yang mengkilap oleh keringat. "Keluar dari sana Reno!" perintahnya. Suar

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   6 Godaan Maya

    Keheningan di dalam kamar mewah itu mendadak pecah oleh suara yang paling kami tidak harapkan. Sebuah ketukan teratur di pintu kayu yang kokoh, namun di telingaku, suaranya terdengar seperti dentuman godam yang menghantam dada.Tok.. Tok.. Tok.."Dokter Sarah? Ini saya, Maya," suara lembut namun tegas itu membelah kesunyian "Saya bawakan teh hangat untuk dokter dan bu Elena."Jantungku seolah merosot hingga ke dasar lambung. Di balik tirai yang sempit ini, cengkraman dokter Sarah di pundakku seketika mengeras. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat semakin menusuk kulit pundakku melalui kain kemeja yang aku kenakan. Tubuh dokter Sarah yang tadinya begitu menempel padaku, kini menjadi sekaku batu, seolah ia sedang memerintahkan seluruh anggota tubuhnya untuk berhenti bergerak dan mengeluarkan bunyi sekecil apa pun. Tanpa perlu di perintah, aku menahan napas sampai dadaku terasa perih dan panas. Keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipis ku, mengalir melewati pipi yang me

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   5 Hasrat Dibalik Tirai

    Duniaku seolah berhenti berputar saat pintu kamar mandi itu berderit terbuka dan Elena yang pandangannya langsung ke arahku dan Sarah. Aku yang tadi tersiksa dengan hasrat yang dikendalikan oleh dokter Sarah, kini ditambah lagi dengan kehadiran Elena yang tiba-tiba saja keluar dari kamar mandi. Rasanya aku mau hilang saja dari kamar ini dan kembali ke bagasi mobil untuk bersantai sembari membakar sebatang rokok murah ku. "Sar, handuk bersihnya dimana? Aku lupa membawanya tadi," tanya Elena masih mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia bertanya dengan santai, sama sekali tidak menyadari kalau ia hanya berjarak dua meter dengan supir yang tadi ia gunjing kan bersama dengan Sarah. Cengkraman tangan dokter Sarah di lenganku mengencang seketika. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat sedikit menekan kulitku, memberikan sinyal bahaya. Dengan gerakan yang sangat cepat, halus, dan nyaris tanpa suara, dokter Sarah menarik lenganku. Sebelum aku sempat memproses apa yang terjad

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   4 Kecurigaan Elena

    "Aneh? Aneh apanya?" sergah Sarah cepat, suaranya terdengar seperti orang tercekik.Elena turun dari ranjang dengan gerakan mengancam. Langkah kaki telanjangnya menginjak karpet tanpa suara mendekati lemari."Aroma udara di sekitar sini beda. Ada bau asing yang menyengat, entah yaa bau apa. Kayak bau-bau lumpur gitu. Bau hujan. Aku kurang paham. Intinya bau yang nggak banget ada di kamar kamu. Padahal, aku tau banget kamu orangnya ga suka ada bau lain selain parfum kamu sendiri."Elena mendongak sedikit di depan pintu lemariku, menghirup udara dengan hidung mancungnya. "Baunya kayak campuran keringat laki-laki kotor dan asap rokok kretek murahan. Kamu sendiri, kan, paling sensitif sama asap rokok. Masa kamu nggak nyium baunya?"Jantungku berhenti berdetak detik itu juga. Itu bau badanku dari garasi tadi sore."Jangan ngawur kamu, El! Itu paling sisa bau jaket suamiku di dalam lemari!" jerit Sarah dengan nada terlalu tinggi untuk menutupi kebohongannya.Elena sama sekali tidak menggubr

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status