LOGINMalam di Scott City terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya.Setelah keluar dari Voss Dynamics, Nana tidak langsung pulang.Mobil yang seharusnya membawanya kembali ke rumah hanya bergerak beberapa blok sebelum akhirnya ia meminta sopir berhenti.Tidak ada alasan khusus.Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri.Ia hanya tidak ingin pulang sekarang.Tidak ingin melihat dokumen atau membahas pekerjaan.Tidak ingin mendengar nama Victoria Miller.Dan terutama, tidak ingin mendengar nama Adrian Dalton lagi malam ini.Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin sering nama itu muncul di kepalanya.Nana mengembuskan napas panjang sambil menatap keluar jendela.Lampu-lampu kota membentang di sepanjang tepi sungai yang membelah pusat Scott City. Jalur pejalan kaki di sana masih cukup ramai meski hari sudah larut.Beberapa orang berjalan santai, beberapa pasangan duduk di bangku-bangku yang menghadap air, sementara lampu jalan memantulkan cahaya ke permukaan sungai yang be
Jam pulang sudah lewat sejak satu jam yang lalu. Hampir seluruh ruangan sudah sepi.Namun jauh di bawah gedung yang dipenuhi kaca dan baja tersebut, sebuah ruangan besar tetap beroperasi seperti biasa.Nana dan Evan bergerak berjalan sepanjang koridor besi dengan agak tergesa.Beberapa pengawal penjaga yang menjaga di beberapa titik menekuk punggung sedikit lebih rendah ketika mereka melewatinya.Evan mengatakan kalau teman-temannya memiliki informasi penting sekarang, jadi mereka memanggilnya.Ruangan paling ujung dibuka pelan.Monitor-monitor menyala.Peta digital memenuhi dinding.Laporan dari berbagai negara terus berdatangan tanpa henti.Dan malam itu, suasana di sana jauh lebih ramai dibanding biasanya.“Nana ….” Seorang pria segera mendekati mereka begitu melihat.“Ada masalah?” Nana mengerutkan kening.“Tidak. Tapi … mungkin akan jadi masalah jika dibiarkan. Lihat ini!”Ia menyerahkan tablet tersebut, dan Evan mengambilnya lebih dulu.Beberapa foto keamanan muncul di layar.Vic
Perjalanan kembali menuju Griffin Guard terasa jauh lebih panjang dari biasanya.Adrian bahkan tidak menyalakan musik.Tangannya tetap berada di kemudi sementara pikirannya masih tertinggal beberapa blok dari sana.Di Voss Dynamics.Di ruang kerja Evan.Di hadapan Nana.Ia mengembuskan napas panjang lalu membelokkan mobil memasuki area parkir gedung Griffin Guard.Sore sudah mulai berganti malam. Lampu-lampu kota Scott City perlahan menyala satu per satu.Biasanya suasana seperti ini cukup membuat pikirannya tenang. Tapi hari ini tidak.Adrian mematikan mesin mobil lalu keluar tanpa terburu-buru.Beberapa pegawai yang masih bekerja menyapanya ketika ia memasuki lobi."Selamat malam, Pak Adrian.""Malam.""Pak."Adrian hanya mengangguk singkat sebelum berjalan menuju lift. Namun langkahnya terhenti ketika resepsionis memanggilnya."Pak Adrian?"Ia menoleh."Ada tamu yang menunggu Anda."Alis Adrian sedikit terangkat. "Siapa?"Resepsionis tampak ragu sejenak. "Victoria Miller."Kehening
Sementara itu, beberapa lantai di bawah mereka.Jauh di bawah gedung Voss Dynamics.Jauh di bawah kantor-kantor legal yang dipenuhi laporan keuangan, kontrak pemerintah, dan rapat perusahaan.Di balik beberapa lapis pintu keamanan.Di area yang bahkan tidak tercantum dalam denah bangunan.Suasana sedang sangat tidak sehat.Sangat. Tidak. Sehat.Beberapa orang berdiri mengelilingi layar pengawas.Tidak ada yang berbicara atau pun bergerak.Mereka hanya menatap monitor seperti sekelompok investor yang baru kehilangan seluruh tabungannya."...""...""..."Beberapa dari mereka bahkan mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Karena sudah lewat beberapa menit, dan mereka hanya menonton orang yang saling menunduk, pura-pura membaca berkas. Padahal itu jelas, tidak ada yang benar-benar fokus di antara mereka.Lalu kenapa tidak mulai membuka mulut dan bicara?Salah satu dari mereka berdecak kesal. “Astaga … cium saja! Atau berantem sekalian.”“Bicara, Nona! Bicara!” teriak seseorang dari m
Tatapan Adrian akhirnya terangkat dari dokumen. Matanya bertemu dengan mata Nana."Ya."Hanya itu.Satu kata yang pendek dan dingin.Dan cukup untuk membuat Nana ingin menghilang dari muka bumi.Dia sudah mengumpulkan keberanian selama lima menit hanya untuk bertanya sesuatu yang sangat tidak penting, dan hanya mendapat satu jawaban pendek?Nana langsung menunduk lagi."Oh."Hanya itu yang bisa ia katakan.‘Oh.’Hebat.Sungguh percakapan yang luar biasa.Di sisi lain meja, Adrian kembali menatap dokumen di depannya.Setidaknya secara teori begitu.Untuk pertama kalinya sejak mereka ditinggal berdia di ruangan, sudut bibir Adrian berubah. Tipis, nyaris tak terlihat.Apa gunanya mengingat hal seperti itu?Bukankah wanita itu sudah memiliki kehidupan baru sekarang?Rahangnya mengencang pelan.Sial. Ia tidak tahan lagi dengan suasana ini."Kalau kamu sudah selesai memperhatikan kopiku," katanya tiba-tiba sambil mendorong setumpuk dokumen ke arah Nana, "Bacalah itu."Nana langsung tersenta
Begitu pintu ruang kerjanya tertutup, Evan langsung mempercepat langkah.Bukan karena ada urusan penting, justru karena ada urusan yang jauh lebih menarik.Lift pribadi terbuka.Evan masuk ke dalamnya.Dan alih-alih menekan lantai bawah biasa, jarinya menekan tombol kecil di sudut panel.Lift bergerak turun.Lebih jauh, dan lebih jauh lagi. Sampai akhirnya berhenti di lantai yang bahkan tidak tercantum dalam sistem gedung.Saat pintu terbuka, koridor logam panjang menyambutnya.Tidak ada logo perusahaan.Tidak ada dekorasi mewah.Hanya pintu-pintu keamanan, kamera pengawas, dan beberapa pria bersenjata yang berjaga di titik-titik tertentu.Evan melewati mereka tanpa berhenti.Semua orang hanya menundukkan kepala singkat."Tuan Voss.""Tuan.""Tuan Voss."Evan mengangguk sekilas.Langkahnya semakin cepat.Sampai akhirnya ia mendorong salah satu pintu besar di ujung koridor.Brak!Beberapa orang yang sedang bekerja di dalam langsung menoleh."Astaga ….” Salah satu pria berambut pirang m







