แชร์

4. Memakai Jas Pak Bos

ผู้เขียน: Donat Mblondo
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-28 15:47:46

Kiara mengembuskan napas panjang. Akhirnya, ia bisa pulang dengan selamat.

Tangannya baru saja hendak meraih gagang pintu, seketika suara Reyhan terdengar dari sampingnya.

“Tunggu!”

Kiara menoleh.

Tatapan pria itu turun ke gaun yang dikenakannya, tertahan di bagian punggung gaun Kiara yang robek.

“Kau mau keluar dengan pakaian seperti itu?”

Kiara menunduk melihat dirinya sendiri, lalu mengangkat bahu.

“Tidak masalah,” katanya santai. “Saya hanya perlu berjalan beberapa langkah menuju lift.”

Mata Reyhan beralih melihat beberapa penghuni gedung baru saja masuk dari pintu utama. Seorang petugas keamanan berdiri tidak jauh dari sana. Ada pula beberapa orang yang sedang menunggu kendaraan di area depan.

Kemudian pria itu melepaskan jas hitam yang dikenakannya.

Kiara menatap gerakannya dengan bingung.

Reyhan lalu mengulurkan jas tersebut kepadanya.

“Pakai!”

“Ini? Saya benar-benar tidak perlu,” ujar Kiara menggeleng dengan mata berkedip. “Lagipula, hanya beberapa langkah.”

Reyhan tidak menjawab. Ia justru mendekat hingga jarak mereka menyempit.

Kiara spontan mundur setengah langkah, tetapi punggungnya sudah lebih dulu tertahan oleh sandaran kursi.

Tatapan Reyhan kembali turun ke bahunya yang terekspos.

“Beberapa langkah?” ulangnya pelan.

Kemudian ia mencondongkan tubuh sedikit. Wajahnya berhenti tidak jauh dari bahu Kiara yang terbuka. 

“Kalau begitu...” bisiknya rendah, “haruskah aku meninggalkan sedikit bekas di sana agar kau punya alasan untuk menutupinya?”

Mata Kiara langsung membesar.

Reyhan menatap reaksinya, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Pria sedingin itu ternyata bisa menikmati kegugupannya.

“Pakai jasnya!”

Reyhan menyampirkan jas itu ke bahu Kiara, lalu mundur satu langkah.

“Jangan membuatku mengulang perintah.”

Kiara memandangi pria itu dengan wajah memanas.

Bos macam apa yang mengancam bawahannya dengan cara seperti itu?

Menyebalkan… jantungnya malah berdebar tak karuan.

Kiara akhirnya menerima jas itu. Ia pun keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk apartemennya dengan langkah cepat.

Namun, baru beberapa meter berjalan, ia mulai merasakan tatapan orang-orang di sekitarnya.

Seorang pria yang sedang berdiri di dekat lobi bahkan sempat menoleh dua kali.

Dua wanita yang baru keluar dari lift juga berbisik pelan sambil melirik ke arahnya.

“Itu siapa?”

“Entahlah. Tapi lihat jasnya.”

“Jasnya kelihatan mahal sekali.”

Kiara mengernyit.

Ia menunduk, memperhatikan jas hitam yang menyelimuti tubuhnya. Barulah ia menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak diperhatikannya.

Di salah satu sudut kerah jas tersebut terdapat sebuah emblem kecil berbentuk huruf D yang dibuat dengan sangat elegan.

Kiara mengusap emblem itu dengan ujung jarinya.

“D?”

Ia tidak terlalu memikirkannya.

Baginya, itu hanya jas milik Reyhan.

Namun, ketika hendak melanjutkan langkah, suara bisikan kembali terdengar dari belakang.

“Lihat emblem di kerahnya.”

“Huruf D?”

“Iya. Kau tidak tahu?”

“Jangan-jangan…”

Kiara tanpa sadar memperlambat langkah. “Ada apa dengan huruf D itu?” bisiknya dalam hati. Ia menoleh sekilas.

Dua wanita yang tadi memperhatikannya kini tampak saling berbisik dengan wajah serius.

“Bukankah itu emblem Keluarga Dirgantara?”

“Serius?”

“Aku pernah melihatnya di sebuah acara bisnis. Setahuku, jas dengan emblem itu hanya dibuat khusus untuk keluarga mereka.”

“Kalau begitu, siapa wanita itu?”

“Wah wah… mungkinkah dia pacar Pak Reyhan?”

“Ssst, jangan menggosip orang itu. Kita bisa kena bogem.”

Kiara mengerutkan kening.

“Pacar Pak Reyhan?” Wajahnya seketika terasa panas. “Mereka pasti salah paham.”

Tentu saja salah paham. Mana mungkin orang-orang itu tahu kalau beberapa menit yang lalu dirinya bahkan hampir mati ketakutan di dalam mobil pria tersebut?

Kiara mengusap wajahnya sendiri, lalu menatap kembali jas hitam yang masih melekat di tubuhnya.

Tapi kenapa Reyhan harus memberiku jasnya?

Ia mencoba mencari alasan yang masuk akal.

Reyhan hanya tidak ingin bawahannya tampil berantakan. Itu saja.

Lagipula, pria itu jelas tidak mungkin punya maksud lain.

...kan?

Kiara segera menggelengkan kepala. Ia memilih tidak memedulikannya dan kembali mempercepat langkah.

Namun, semakin dekat ke pintu apartemen, semakin banyak tatapan yang terasa mengikutinya.

Kiara mulai merasa tidak nyaman.

“Kenapa semua orang melihatku seperti itu?”

Ia menundukkan kepala, dan mempercepat langkah hingga akhirnya tiba di depan unit apartemennya.

Kiara mengeluarkan kunci dari dalam tas.

Klik!

Pintu terbuka.

Langkah Kiara langsung terhenti.

Senyum tipis yang sempat muncul di wajahnya lenyap seketika.

Di ruang tamu apartemennya, dua orang berdiri menunggunya.

Julian dan Sisil.

Keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu dengan wajah tegang. Sepertinya mereka sudah menunggu cukup lama.

Mata Julian membesar begitu melihat Kiara berdiri di ambang pintu.

Sebuah ingatan tiba-tiba melintas di benak Kiara.

Tempat yang selama ini ia anggap sebagai hasil dari kerja kerasnya bertahun-tahun. Ia masih ingat bagaimana dulu ia menabung sedikit demi sedikit dari honor syuting, mengambil berbagai pekerjaan tambahan, bahkan rela hidup hemat demi bisa membeli tempat tinggal yang nyaman untuk dirinya sendiri.

Tapi apartemen ini ternyata dibeli menggunakan nama Julian.

Dulu, ia begitu percaya pada pria itu sampai tidak pernah merasa perlu mempertanyakan dokumen kepemilikannya.

Kiara mengepalkan tangan.

Sial.

Rasa kesal perlahan naik ke dada Kiara.

'Setelah ini, urusan apartemen juga harus kuselesaikan.'

Tatapan Kiara kembali jatuh pada Julian.

Pria itu masih terlihat terpaku, seolah tidak percaya bahwa wanita yang seharusnya sudah hancur tadi malam justru berdiri di hadapannya dengan selamat.

“Kau…”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   18.

    ​Kilat kamera menyambar brutal, tetapi Kiara menyadari satu hal yang ganjil. Tidak ada satu pun moncong lensa yang berani mengarah lurus ke wajah Reyhan di sebelahnya.Para wartawan itu tampak gemetar, sengaja memiringkan kamera hanya untuk menyorot wajah Kiara.​Nyali para pencari berita itu hancur berkeping-keping di bawah aura mematikan sang Presdir Starlight.Seorang jurnalis nekat melontarkan pertanyaan provokatif tadi dengan suara bergetar ketakutan.Rahang Reyhan langsung mengeras mendengar kelancangan tersebut.​Pria itu baru saja akan mengambil langkah maju untuk menghancurkan karier sang jurnalis. Namun, Kiara bertindak lebih cepat untuk menengahi.Jemarinya meremas lembut punggung tangan Reyhan, memberikan isyarat halus agar pria itu menahan diri.​Reyhan menoleh, menatap Kiara dengan kening berkerut.Alih-alih berlindung di balik punggung sang Presdir, Kiara justru mengangkat wajahnya. Tidak ada jejak kepanikan atau air mata kepalsuan di matanya.​Ia menatap puluhan kamera

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   17.

    "Siapa..." bisik Kiara dengan nada dingin menahan geram.​Terdengar hela napas berat dari seberang sana."Sisil Maharani. Dia sengaja memprovokasi beberapa aktris pendatang baru di ruang tunggu dan menyuruh asistennya membocorkan informasi ke forum gosip wartawan. Niatnya murni untuk menghancurkan citra Anda sebagai aktris jalur prestasi menjadi aktris jalur ranjang."​Kiara memejamkan mata. Nama itu tidak terlalu mengejutkannya, tetapi betapa rendahnya cara Sisil bermain benar-benar membuat Kiara muak. Hanya karena iri kalah audisi, perempuan itu memilih jalur fitnah.​Reyhan membuka pintu dari luar. Pria itu menatap Kiara yang masih menempelkan ponsel di telinga.​"Bima?" tebak Reyhan dengan suara beratnya, memecah keheningan.​Kiara mengangguk perlahan. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menyalakan mode loudspeker agar Reyhan bisa mendengar langsung.​"Pak Reyhan," suara Bima kembali terdengar begitu menyadari bosnya ada di sana. "Berita ini sudah mulai naik di beberapa porta

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   16. Desas-desus fitnah

    Reyhan terkekeh kecil. Tangannya di daun pintu kayu justru semakin erat.Tubuh tinggi pria itu kian merapat dari belakang, mengurung Kiara sepenuhnya.​"Banyak wartawan di luar?" ulang Reyhan lambat, menirukan nada panik Kiara.Ujung hidungnya menyapu halus garis leher Kiara. "Lalu kenapa kamu malah berlari masuk ke toilet pria? Mau mengintip?"Kiara yang panik berusaha keras mempertahankan martabatnya. Ia berbalik mendorong dada bidang Reyhan yang kokoh, lalu membalas dengan tatapan tajam.​"S-siapa yang mau mengintip?!" sergah Kiara berusaha keras menyembunyikan rona merah yang menjalar ke telinganya. "S-saya dikejar wartawan tadi!”Sudut bibir Reyhan terangkat, membentuk senyum miring yang penuh keangkuhan. Pria itu melangkah maju, membuat cengkraman tangan Kiara di dada bidangnya yang basah terasa semakin intim.​Pria itu menunduk lebih dalam, menyisakan jarak tipis di antara bibir mereka.‘Ngapain sih? Deket banget. Masa dia mau cium aku lagi?’​Darah Kiara seketika berdesir heba

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   15. Toilet pria

    "Akting dari mana?!" balas Tara berapi-api."Kameranya menyorot kalian dalam resolusi 4K, Kiara! Tidak ada ruang untuk alibi kamuflase. Para produser saling pandang dengan ngeri. Mereka mendadak sadar bahwa mereka baru saja memaki dan mengusir wanita yang bisa membuat seorang Reyhan Dirgantara menanggalkan akal sehatnya secara langsung."​Tara mencondongkan tubuhnya, menatap mata Kiara dengan senyum miring kepuasan."Sutradara arogan itu sekarang sedang berkeringat dingin di ruang sebelah, menyadari dia baru saja mencoba menendang permaisuri dari istananya sendiri. Posisi pemeran utama itu sekarang mutlak milikmu."​Kiara terdiam kaku. Ia menoleh perlahan menatap ambang pintu yang dibiarkan terbuka, ke arah lorong tempat Reyhan baru saja menghilang.​Batinnya berkecamuk hebat.Presdir gila itu menggunakan metode yang paling modus untuk membungkam para juri.Namun, efeknya benar-benar tak terbantahkan.Suka atau tidak, Reyhan baru saja meletakkan mahkota perlindungan di atas kepala Kia

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   14. Totalitas akting

    Napas Reyhan yang memburu terasa begitu hangat, menyapu permukaan bibir Kiara.Gadis itu memejamkan mata.‘Mungkin dia cuma akan berbisik sesuatu,’ pikirnya.​Namun, dugaannya meleset total.​Alih-alih menghindar, jari-jari kokoh Reyhan yang menangkup rahangnya justru memberikan sedikit tekanan, mendongakkan wajah gadis itu lebih tinggi.Detik berikutnya, Reyhan menghapus sisa jarak di antara mereka dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir Kiara.​Mata Kiara seketika terbelalak lebar.‘Gila! Dia beneran—.’Waktu seolah berhenti berdetak di ruang audisi yang hening itu.​Sentuhan Reyhan awalnya terasa menuntut, sejalan dengan emosi kelam karakter protagonis pria yang sedang ia perankan.Namun perlahan, ciuman itu berubah menjadi pagutan yang lembut yang memabukkan, seolah pria itu dengan sengaja menyalurkan hasrat tersembunyinya.Tubuh Kiara menegang kaku. Otaknya mendadak mati keping. Ia tidak bisa berpikir, tidak bisa meronta, dan tanpa sadar hanya bisa meremas lengan kemeja Reyh

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   13. Kejutan mematikan di ruang audisi

    Sutradara Haris yang baru saja mengamuk seketika pucat pasi. Matanya terbelalak menatap sosok yang baru saja melangkah masuk melewati ambang pintu.​Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di ruangan tersebut.​Seorang pria dengan setelan jas hitam bespoke melangkah masuk. Auranya begitu gelap, dingin, dan mendominasi, seolah menyedot seluruh udara di dalam ruangan.​"Sepertinya, ada yang lupa, siapa yang sebenarnya berkuasa di gedung ini,” ujar pria itu memecah keheningan.Kehadiran Reyhan Dirgantara di ruang audisi itu ibarat badai salju yang membekukan seisi ruangan dalam hitungan detik.Kelima juri yang duduk di balik meja panjang, termasuk Sutradara Haris yang tadinya mengamuk layaknya singa, seketika merinding berdiri dari kursi mereka.Wajah-wajah arogan itu kini tergantikan oleh pias ketakutan yang amat nyata.​Langkah panjang Reyhan melewati Kiara begitu saja, menyapu bahu gadis itu dengan aroma musk dan mint yang dingin.Pria itu terus berjalan menuju meja juri tanpa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status