共有

3. Ketegangan di dalam mobil

作者: Donat Mblondo
last update 公開日: 2026-06-28 15:31:32

​Napas Kiara terengah. Paru-parunya terasa seperti terbakar setelah berlari menuruni tangga darurat dan menghindari beberapa pria berjas hitam suruhan Julian yang berjaga di dekat lift.

​Dengan pandangan yang sedikit mengabur, matanya menangkap sosok mobil Maybach hitam legam yang mesinnya sudah menyala di sudut VIP.

Tanpa membuang waktu, ia membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam.

Klik!

Pintu terkunci otomatis.

​"Empat menit, lima puluh detik."

​Sebuah suara yang berat dan dingin menyambutnya. Kiara menoleh, mendapati Reyhan duduk bersandar di kursi kulit mewah mobil tersebut.

Kaca mobil sudah tertutup rapat, memberikan mereka privasi absolut di kursi belakang yang gelap.

​Kiara mengatur napasnya yang terengah-engah. Robekan gaun malamnya membuat belahan dadanya terekspos naik-turun dengan cepat.

Cahaya lampu jalan sesekali menyapu kaca mobil yang melaju, ia bisa melihat tatapan Reyhan tidak lagi sedingin sebelumnya.

Mata elang pria itu turun, menyapu leher jenjang Kiara, lalu berhenti sejenak di kulit dadanya sebelum kembali menatap matanya.

​"Kau lolos ujian," ucap Reyhan pelan.

Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka.

​Tangan besar Reyhan terulur, mencengkeram sandaran kursi tepat di samping kepala Kiara. Ia mengurung gadis itu dalam dominasinya.

​"Tapi …," bisik Reyhan, suaranya menggesek telinga Kiara hingga meremangkan bulu kuduknya. "Bekerja sama denganku sama saja dengan menjual jiwamu. Kau tidak bisa mundur, Nona Larasati."

​Kiara membalas tatapan membara itu tanpa berkedip, meski jantungnya berdebar keras. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Saya tidak punya pilihan. Kali ini, saya tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan karir saya."

​Sudut bibir Reyhan berkedut membentuk seringai tipis. "Ke mana kau ingin diantar?"

​Namun, sebelum Kiara menjawab, sisa-sisa tenaga yang memacu tubuhnya tiba-tiba menguap habis. Kelelahan yang luar biasa, digabungkan dengan trauma kematiannya yang mengerikan beberapa jam lalu, menghantamnya bagai badai.

Pandangan Kiara menggelap. Hal terakhir yang ia rasakan adalah tubuhnya yang limbung ke depan.

​Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui kaca mobil, menyilaukan kelopak mata Kiara.

​Gadis itu mengerang pelan, kesadarannya berangsur kembali. Namun, ada yang aneh. Tempatnya bersandar terasa sangat hangat, keras, dan berotot.

​Ketika Kiara membuka mata, napasnya tercekat. Ia menyadari posisinya saat ini sangat tidak senonoh.

Separuh tubuhnya menindih dada bidang Reyhan. Wajahnya terbenam di ceruk leher pria itu, menghirup aroma maskulinnya dalam-dalam.

Lebih parah lagi, belahan gaunnya tersingkap ke atas, membuat paha mulusnya bergesekan langsung dengan celana mahal yang dikenakan pria itu.

​Tubuh Kiara semakin menegang, saat menyadari telapak tangan besar Reyhan melingkar protektif di pinggangnya, dengan jari-jari panjang yang mendarat di paha. Sentuhan kulit bertemu kulit itu terasa sepanas bara api.

​Kiara bergerak sedikit untuk menarik diri, namun gerakan kecil pahanya justru memicu respons dari sang pria.

Reyhan, yang rupanya sudah setengah sadar, reflek ia mengencangkan pelukannya. Tangan besarnya mengusap pelan lekuk pinggang Kiara, sebuah sentuhan posesif yang begitu intim hingga membuat aliran darah Kiara berdesir turun ke perut bagian bawahnya.

​Mata Reyhan perlahan terbuka. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.

Waktu seolah berhenti berdetak di dalam mobil Maybach yang telah terparkir di basement apartemen Grand Sudirman Residence.

​Tatapan Reyhan yang biasanya dingin kini terlihat berat, gelap, dan sarat akan hasrat yang ditekan. Napas pria itu menyapu bibir Kiara yang sedikit terbuka. Matanya mengunci ke bibir ranum itu, seolah mempertimbangkan untuk meraupnya saat itu juga.

Hawa panas memenuhi kabin belakang mobil. ​Namun, secepat kilat ketegangan itu muncul, secepat itu pula topeng rasionalitas sang bos besar kembali terpasang.

​Reyhan menarik napas dalam, lalu melepaskan tangannya dari pinggang Kiara. Pria itu menegakkan tubuhnya, menyingkirkan Kiara dari pelukannya dengan gerakan yang nyaris kasar, lalu merapikan jasnya dengan wajah sedingin es.

​"Kau sudah bangun. Bagus," ucap Reyhan datar, suaranya sedikit lebih serak dari biasanya.

​Kiara buru-buru membenarkan gaunnya yang tersingkap, wajahnya merona menahan malu sekaligus sisa-sisa ketegangan yang membuat kakinya lemas. Sebelum salah satu dari mereka sempat memecah kecanggungan, ponsel Reyhan bergetar.

​Reyhan menekan tombol panggil di layar dasbor, menyambungkannya ke speaker mobil.

​"Tuan Reyhan," suara Bima, asistennya, terdengar tegas. "Laporan selesai. Semua informasi yang diberikan Nona Larasati seratus persen akurat. Haryo memang menggelapkan dana melalui perusahaan cangkang Keluarga Saputra, dan rekening Ivan Saputra di Swiss mencatat aliran dana yang persis seperti yang disebutkan."

​Mendengar itu, Kiara menghembuskan napas lega.

​"Kerja bagus, Bima. Bekukan semua akses Haryo," perintah Reyhan tanpa ekspresi, lalu mematikan sambungan.

​Pria itu berbalik menatap Kiara, sembari tangannya mengambil sebuah map tebal dari kursi di sebelahnya, lalu melemparkannya ke pangkuan Kiara.

​Kiara membuka map itu dan melebarkan matanya. Di dalamnya berisi riwayat hidupnya yang sangat detail, mulai dari latar belakang keluarganya, hubungannya dengan Julian, hingga riwayat kesehatannya. Semua dikumpulkan hanya dalam waktu satu malam.

​"Anda... menyelidiki saya?" protes Kiara, menatap pria itu tidak percaya.

Reyhan kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya. Tangannya terangkat, antara ibu jari dan jari telunjuk menjepit lembut dagu Kiara dan mendongakkan wajahnya agar tatapan mereka kembali bertemu.

Ujung jari pria itu bergeser sedikit, nyaris menyentuh sudut bibir Kiara. Hanya sepersekian detik. Namun sentuhan singkat itu cukup membuat napas gadis di hadapannya tertahan.

Tubuh Kiara refleks menegang, sementara detak jantungnya mendadak berpacu tanpa izin.

Apa-apaan pria ini?

Kiara berusaha mengabaikan sensasi hangat yang masih tertinggal di kulitnya. Ia tidak boleh membiarkan satu sentuhan sederhana mengacaukan pikirannya.

"Aku tidak pernah membuat kesepakatan dengan orang yang tidak kukenal. Kau tahu terlalu banyak rahasia kotor. Aku harus memastikan kau bukan pion dari musuh-musuhku yang lain."

Kiara menelan ludah.

Jadi, semua ini bukan sekadar penyelidikan.

Reyhan sedang memastikan apakah dirinya layak dipercaya... atau justru harus disingkirkan.

“Saya mengerti,” jawab Kiara akhirnya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun jantungnya belum juga kembali normal.

Reyhan melepaskan dagunya.

Anehnya, justru setelah sentuhan itu menghilang, Kiara malah merasa sedikit kecewa. Pikiran tersebut langsung ia tepis.

‘Tidak. Aku pasti sudah gila.’

Lelaki yang baru saja membuat jantung Kiara berantakan itu kembali duduk bersandar dengan ekspresi datar.

“Besok, datang ke kantor pusat Starlight Entertainment pukul sembilan pagi.”

Tatapannya kembali mengunci mata Kiara.

“Mulai sekarang... kau bekerja untukku.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   10. Batas yang mengabur

    Secepatnya Kiara menggelengkan kepala menyingkirkan pikiran mustahil itu. Ia menarik napas dalam dan berusaha menenangkan jantung.‘Tenanglah Kiara. Pria dingin dan menakutkan itu, mana mungkin naksir kamu.’Ting!​Pintu lift terbuka langsung menyatu dengan area penthouse di lantai teratas gedung Starlight.Kiara melangkah keluar dan seketika disambut oleh ruangan yang sangat luas dan mewah.Dominasi warna abu-abu gelap, lantai marmer hitam, serta dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan gemerlap kota malam hari.​Perhatian Kiara langsung tertuju pada sofa kulit panjang di tengah ruangan. Reyhan sudah berada di sana.Pria itu tampak jauh lebih santai dibanding tadi siang, jas mahalnya telah dilepas, menyisakan kemeja putih yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka, gulungan lengannya tersingkap hingga memperlihatkan jam tangan hitam yang elegan. Di tangannya, terdapat beberapa lembar kertas naskah Love After Midnight.“Maaf, Pak Presdir. Saya belum sempat mencuci jas yang A

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   9. Kebohongan yang elegan

    Setelah keluar dari gedung Starlight siang itu, Tara langsung menarik Kiara ke sebuah butik eksklusif untuk menyiapkan pakaian audisi besok.​"Kamu tidak boleh tampil biasa saja besok," tegas Tara sore itu sambil menyerahkan sebuah gaun elegan. "Audisi ini adalah medan perang pertamamu."​Kiara menghabiskan sisa sorenya untuk bersiap dan memutus seluruh akses kartu kredit yang selama ini diam-diam dikuras oleh Julian.Ketika langit mulai gelap, Kiara akhirnya bisa kembali ke apartemennya untuk mengemasi barang-barang penting.Saat sedang menutup ritsleting koper besarnya, terdengar ketukan di pintu depan.​Kiara pun membukanya, Bima sudah berdiri di ambang pintu bersama tiga pria berjas hitam bertubuh tegap.Tanpa banyak bicara, mereka mulai mengangkut koper-koper dan beberapa kardus berisi barang pribadi Kiara.​Namun, baru saja salah satu bodyguard mengangkat koper kedua Kiara ke luar pintu, sesosok pria melangkah terburu-buru dari koridor.​Wajah pria itu terlihat panik bercampur gu

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   8. Kontrak perlindungan aset

    Keheningan kembali mengambil alih ruangan itu. Reyhan masih memegang dagu Kiara, menunggu jawaban.​Kiara menelan ludah, memaksakan diri untuk tidak memalingkan wajah dari tatapan mengintimidasi tersebut.​"Informasi itu..." ujar Kiara akhirnya bersuara, nadanya dijaga agar tetap tenang. "Berasal dari sumber yang tidak bisa saya ungkap kepada Anda, Pak Presdir."​Mata Reyhan menyipit. Ibu jarinya berhenti mengusap rahang Kiara."Sumber yang tidak bisa diungkap?" ulang pria itu dengan nada rendah yang penuh selidik."Seorang aktris baru yang bahkan belum punya nama, memiliki sumber informasi sekelas itu? Kau pikir aku bodoh?" tegasnya.​Pria itu jelas curiga, rasa penasarannya justru semakin tergelitik oleh keberanian Kiara yang terus-menerus bermain teka-teki dengannya.​"Saya meminta Anda menjadi pemeran utama bukan karena iseng atau cari sensasi, Pak Presdir" jelas Kiara sungguh-sungguh."Proyek Love After Midnight bernilai delapan puluh miliar. Saya yakin seratus persen, proyek ini

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   7. Syarat gila proyek besar

    Kiara melangkah masuk ke ruangan.Reyhan duduk di balik meja besar dengan beberapa dokumen terbuka di hadapannya.“Duduk!”Kiara menurut, lalu menatap pria itu penuh tanda tanya.“Pak Reyhan, bukankah jadwal saya seharusnya datang besok pagi?”Reyhan mengangkat pandangan dari dokumen.“Ada proyek yang harus segera dimulai.”Kiara mengerutkan kening.“Lalu apa hubungannya dengan saya?”Reyhan mendorong sebuah map ke arahnya.Kiara mengambil map tersebut dan membukanya. Matanya langsung membeku. Judul proyek itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.STARLIGHT ENTERTAINMENTPROJECT: LOVE AFTER MIDNIGHTGenre: Romance — MelodramaFormat: 16 EpisodeBudget: Rp80 MiliarTarget: National PrimetimeStatus: Pre-ProductionGadis itu langsung terdiam beberapa saat. Ia sangat mengenal proyek itu.Di kehidupan sebelumnya, Love After Midnight adalah drama yang membuat pemeran utamanya melejit menjadi aktris papan atas. Bahkan rating finalnya menjadi salah satu yang tertinggi waktu itu.Tapi Kiara

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   6. Tamparan diam di lobi kantor

    Kiara menatap layar ponselnya selama beberapa detik.“Bos besar ini benar-benar suka mengubah jadwal sesuka hati,” gumamnya.Tara yang duduk di depannya mengangkat alis.“Bos?”Kiara mengangkat ponselnya dan menunjukkannya kepada Tara.“Ini.”Tara melihat layar ponsel itu dengan sedikit bingung. Namun, begitu membaca si pengirim menyuruh Kiara ke gedung Starlight, tatapan Tara membeku.“Starlight Entertainment?” gumamnya.Kiara mengangguk.Tara kembali membaca pesan itu, lalu menatap Kiara dengan ekspresi berbeda.Starlight Entertainment adalah agensi terbesar di negeri ini. Tidak sembarang artis bisa mendapatkan kesempatan untuk datang langsung ke gedung pusat mereka, apalagi tanpa melalui proses audisi biasa.“Kamu mendapat undangan langsung dari Bos Starlight?”“Um, itu…” Kiara menaruh kembali ponselnya ke dalam tas, ”hanya kesepakatan kecil.” Lalu ia mengalihkan pandang sembari tangannya mengelus leher.Mata Tara menyipit tajam. Tentu siapapun tahu bahwa Bos Starlight bukan seorang

  • Ssst, Tuan Presdir, Ada Wartawan Di Luar!   5. Merekrut sang manajer

    “Kak Kiara…” ujar Sisil, terdengar dibuat-buat khawatir. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu tadi malam?”Kiara mengangkat wajah.Ia sudah bisa menebak sandiwara macam apa yang akan mereka mainkan.“Aku baik-baik saja.”Julian segera melangkah maju. “Kiara, aku benar-benar khawatir padamu. Setelah mengetahui kau menghilang dari hotel, aku langsung mencarimu sepanjang malam.”Kiara hampir tertawa.Mencarinya?Pria itu bahkan mungkin sudah membayangkan bagaimana berita skandalnya akan menghancurkan hidupnya pagi ini.Namun, Kiara hanya menatapnya dengan mata tenang.“Benarkah?”“Tentu.” Julian mengangguk cepat. “Aku takut sesuatu terjadi padamu.”Julian Saputra dikenal publik sebagai sutradara muda berbakat. Wajah tampan, tutur kata lembut, dan senyum yang mampu membuat siapa pun percaya bahwa dirinya adalah pria paling tulus di dunia.Termasuk Kiara di kehidupan sebelumnya.Pria berusia 29 tahun ini sangat pandai merangkai kata. Ia tahu kapan harus menjadi kekasih yang perhatian, kapan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status