Share

67.

Author: Lil Seven
last update publish date: 2026-09-19 20:25:29

Brak!

Sylvia membanting pintu bilik toilet kampus dan memutar kuncinya kasar. Napasnya memburu, dadanya naik-turun di balik cardigan abu-abu. Dengan jemari gemetar, ia merogoh ponsel dari saku dan langsung membuka aplikasi kencan privat itu.

Vya: [Finn! Kamu harus balas sekarang juga! Kepalaku mau pecah!]

Vya: [Please, tolongin aku!]

Di lantai teratas gedung perkantoran megah di pusat kota, ponsel hitam di sudut meja kerja Maxwell bergetar keras. Maxwell yang sedang mendengarkan laporan manaj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Lil Seven
Maafff yaaa agak telat update nya huhu maaf sekaliii... Sebagai permintaan maaf aku up 5 bab yaaa, seee u ^^
goodnovel comment avatar
Irsa Fitriana
Thor mana update nya
goodnovel comment avatar
Farkhani Farkhani
lanjut thor penaran reaksi Silvya kalau tau Max adalah Finn
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   72.

    Maxwell langsung mendobrak pintu kamar mandi itu tanpa berpikir dua kali. Di lantai yang basah, Sylvia terduduk meringkuk memegangi pergelangan kaki kanannya yang sudah mulai memerah dan membengkak. Gadis itu menangis menahan nyeri yang menusuk, tubuh polosnya gemetar kedinginan tersiram sisa air. Melihat air mata dan cedera gadis itu, otak rasional Maxwell mendadak mati total. Ia sama sekali tidak sempat memikirkan handuk, baju, atau apa pun. Yang ada di kepalanya hanyalah membawa Sylvia keluar dari lantai dingin itu secepatnya. "Jangan banyak gerak!" bentak Maxwell dengan suara serak bercampur panik. Ia berlutut di lantai basah—mengabaikan celana kainnya yang langsung basah kuyup terkena air sabun—lalu dengan sigap menyusupkan satu lengan kekarnya ke bawah punggung dan satu lagi ke bawah lekukan paha Sylvia. Dengan satu hentakan mantap, Maxwell mengangkat tubuh mungil yang basah dan licin itu ke dalam dekapannya. "A-aww... pelan-pelan, Kak..." rintih Sylvia lirih. Seca

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   71.

    “Yakin seratus persen!” jawab Sylvia tanpa ragu. “Di foto profilnya, dia pasang foto dari samping belakang dan ada tato kecil di belakang lehernya. Tadi siang di kafe kampus, ada cowok yang tatonya persis kayak gitu! Kita bahkan udah tukeran kontak pribadi, dan dia manis banget. Jadi, bayangan mimpiku kemarin soal Kak Max udah nggak ada artinya lagi.” Maxwell tercekat. Otaknya langsung memutar memori saat ia membuat akun palsu dengan nama Tuan Finn beberapa waktu lalu. Demi menjaga kerahasiaan identitasnya dari Sylvia, Maxwell memang sengaja mengunggah foto acak dari arsip lama—foto siluet tubuhnya sendiri saat liburan di Bali beberapa tahun lalu, ketika seorang teman iseng melukis tato temporer di tengkuknya! Dan sekarang, gadis ceroboh dan polos ini mengira mahasiswa asing mana pun yang kebetulan punya tato serupa adalah dirinya?! Gadisnya... Sylvia-nya... berniat mendekati pria asing itu karena mengira pria itulah yang selama ini bertukar pesan panas dengannya?! Mata Maxwell

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   70.

    Detik berikutnya, Maxwell memiringkan ponselnya sedikit untuk membalas email kerja, lalu mengunci layar sebelum Sylvia sempat memastikan apa yang baru saja ia lihat.Sylvia langsung menarik kepalanya ke belakang dinding koridor, mendekap dadanya yang berdegup kencang seperti genderang perang.'Nggak... nggak mungkin!'Sylvia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, merutuki kebodohannya sendiri.Mata minusku pasti sudah parah banget! Mana mungkin Kak Max main aplikasi kencan esek-esek kayak gitu?! Dia itu manusia es batu, workaholic gila kerja yang bahkan alergi senyum sama cewek!Sylvia memijat pelipisnya yang berdenyut.Tadi itu pasti grafik presentasi saham atau iklan pop-up warna merah muda yang kebetulan lewat. Sylvia, kamu ini saking merasa bersalahnya sampai halusinasi akut! Masa iya Kak Max yang kaku itu adalah Tuan Finn yang barusan nyuruh kamu nyentuh diri sendiri di toilet?! Mustahil!Dengan langkah berjingkat dan rasa malu yang kian menumpuk akibat prasangka liarnya, Sylvia ber

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   69.

    Vya: [Finn?! Ihh, nakal! aku masih di toilet kampus!] Tuan Finn: [ Pintu bilikmu terkunci, tidak ada yang melihat. Masukkan tanganmu ke dalam celana sekarang. Raba bagianmu yang basah itu, dan bayangkan itu bukan jarimu... tapi jemari pria yang membuatmu bermimpi semalam.] Sylvia menahan napas. Perintah dingin Tuan Finn terdengar begitu mendominasi, meruntuhkan sisa-sisa akal sehatnya. Dengan tangan kiri yang gemetar hebat, Sylvia menurunkan resleting celananya sedikit. Jemarinya menyelinap ke balik kain pakaian dalamnya yang sudah basah dan hangat. Saat ujung jarinya menyentuh titik paling sensitif di sana, desahan pelan lolos dari bibirnya. Vya: [A-aku udah sentuh...] Vya:[ Finn, rasanya basah banget. Berdenyut-denyut , emm, parah.] Tuan Finn: [Nikmati, usap perlahan. Putar jarimu di titik itu, Vya. Bayangkan pria itu sedang menatap matamu sambil memilin putingmu dengan tangan yang lain. Apa yang tubuhmu rasakan sekarang?] Sylvia memejamkan mata rapat-rapat. Jarinya be

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   68.

    Vya: [Masa iya pas tidur aku nggak sadar nyubit diriku sendiri saking penginnya disentuh Kak Max?! Tapi mana mungkin cubitan bisa jadi lebam ungu kayak gitu?!] Maxwell tersenyum miring. Alasan konyol gadis itu benar-benar menggemaskan. Tuan Finn: [Cubitan tanganmu sendiri tidak akan pernah meninggalkan tanda ungu pekat seperti itu, Vya. Mungkin kamu hanya digigit serangga atau ada alergi kulit.] Vya: [Ihhh, aku yakin bukan serangga deh! Bentuknya oval dan jelas banget bekas bibir!] Tuan Finn: [Aku tidak percaya sebelum melihat buktinya. Kirimkan fotonya padaku. Biar aku yang menilai itu bekas cubitan, alergi, atau tanda lain.] Tuan Finn: [Kamu kan sudah sering mengirim foto yang jauh lebih terbuka padaku. Kenapa sekarang harus ragu?] Membaca balasan itu, Sylvia tersentak. Benar juga. Ia sudah sering mengirim foto pundak atau belahan dada berbalut singlet tipis hanya untuk menggoda kekakuan Tuan Finn. Kenapa sekarang ia harus bersikap sok suci? Sylvia segera menatap cermin

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   67.

    Brak!Sylvia membanting pintu bilik toilet kampus dan memutar kuncinya kasar. Napasnya memburu, dadanya naik-turun di balik cardigan abu-abu. Dengan jemari gemetar, ia merogoh ponsel dari saku dan langsung membuka aplikasi kencan privat itu. Vya: [Finn! Kamu harus balas sekarang juga! Kepalaku mau pecah!] Vya: [Please, tolongin aku!]Di lantai teratas gedung perkantoran megah di pusat kota, ponsel hitam di sudut meja kerja Maxwell bergetar keras. Maxwell yang sedang mendengarkan laporan manajer keuangannya langsung mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar bawahannya itu diam.Ia meraih ponsel rahasia itu, membuka pesan yang baru masuk, dan seringai tipis terbit di bibirnya.Tuan Finn: [Ada apa, Vya? Kenapa kamu heboh sekali di jam kuliah seperti ini?]Melihat balasan itu muncul dalam hitungan detik, Sylvia nyaris menjerit lega di dalam bilik toilet.Vya: [Semalam aku mimpi basah, Finn! Mimpi mesum yang bener-bener parah!]Vya: [Dan cowok di mimpiku itu... Kak Max! Teman kakakku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status