Compartir

95.

Autor: Lil Seven
last update Fecha de publicación: 2026-09-27 05:40:24

Dengan sangat hati-hati dan napas yang tertahan, jemari mungil Sylvia mulai meremas-remas lembut buah zakar pria itu. Ia memainkannya dengan gerakan memutar yang halus dan hati-hati, meniru ingatan samar dari adegan-adegan yang pernah ia baca di novel dewasa. Rasa ingin tahu yang terlarang telah menenggelamkan rasa malunya sejenak, membuat setiap sentuhan terasa mendebarkan dan sarat akan sensasi yang asing bagi tubuhnya.

Kombinasi hisapan basah di mulutnya yang hangat dan remasan lembut jemar
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (2)
goodnovel comment avatar
Irsa Tralala
terimakasih kak Thor bab yg amat uhuuuuy ..... lbh intntes lagi hehee
goodnovel comment avatar
Farkhani Farkhani
Alhamdulilah kak thor dah sehat,makasih dah up banyak kak thor
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   129.

    Friksi antara kain celana bahan santai Maxwell dengan tubuh bagian bawah Sylvia menghasilkan panas yang kian mendidih. Tekanan keras yang menumpu di area sensitifnya menghadirkan rasa ngilu yang cukup tajam, membuat Sylvia merintih tertahan. Sylvia meronta kecil, pinggulnya menggeliat tanpa kendali—setengah mencoba menghindar dari rasa sakit yang asing, setengah mencari jalan keluar dari desakan panas yang menghimpitnya—namun cengkeraman tangan Maxwell di pinggulnya bagai rantai baja yang mengunci gerakannya. "Kak... sakit... tolong..." rengek Sylvia dengan sudut mata yang mulai basah. Seluruh keberanian nakalnya tadi seketika lebur menjadi kepasrahan dan ketidakberdayaan mutlak. "Kak Max... pelan... jangan gantung aku kayak gini..." "Minta dengan benar, Sylvia," perintah Maxwell dengan suara bariton yang bergetar rendah di telinganya. Menyadari ketegangan dan getar takut pada tubuh gadis itu, sentuhannya di pinggul Sylvia sedikit melunak untuk memberi kenyamanan, namun tanganny

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   128.

    Perlahan, jemari lentik Sylvia terangkat dan mendarat di atas dada liat Maxwell. Kulit pria itu terasa begitu panas, seolah membakar langsung ke aliran darah Sylvia. Begitu sentuhan dingin jemarinya menyapu kulit tersebut, otot dada dan perut Maxwell seketika mengeras kaku. Sebuah desisan tajam lolos dari sela gigi pria itu, rahangnya terkatup begitu rapat hingga urat di pelipisnya berdenyut liar. Sylvia tidak berhenti. Mengikuti naluri yang menuntunnya, jemarinya perlahan meluncur turun menyusuri garis tengah perut Maxwell yang kencang bagai baja pahatan, berhenti tepat di batas celana panjang yang masih membungkus pinggang pria itu. Setiap gerakan lembut jemari Sylvia menghantarkan gelombang kejut yang membuat Maxwell mengepalkan tangannya di atas seprai hingga kain sutra itu berkerut kusut. Pria yang biasanya selalu berdiri dengan kendali mutlak dan kepalanya yang dingin kini berada di titik paling rapuh, menahan gejolak yang nyaris menghancurkan benteng pertahanannya. Tangan

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   127.

    "Kak Max... aku pengen jilat dan emut milikmu." Ucapan berani yang meluncur tanpa filter dari bibir Sylvia seketika membakar habis sisa kesabaran Maxwell. Rahang pria itu mengeras kaku. Urat-urat halus di lehernya menonjol tegang, dan untuk sepersekian detik, napasnya tercekat di tenggorokan. Mata elang Maxwell yang pekat menghunus lurus ke dalam manik mata Sylvia yang berkilat menantang, meski rona merah padam kini mulai merambat liar di kedua pipi gadis itu. "Sylvia..." bisik Maxwell dengan suara bariton yang luar biasa rendah, begitu parau hingga terasa menggetarkan rongga dada gadis di bawahnya. "Kamu benar-benar tidak takut bermain api denganku, hm?" Sylvia menelan ludah pelan. Keberaniannya sempat bergetar melihat tatapan sang predator yang begitu pekat, namun rasa ingin mendominasi dan memanjakan pria itu membuatnya enggan menarik kembali kata-katanya. "Aku nggak takut..." bisik Sylvia dengan suara bergetar halus, jemarinya perlahan menyusup ke tengkuk pria itu, menarik he

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   126.

    Di balik selimut sutra tebal yang memerangkap udara hangat, ketegangan di antara mereka seketika berubah menjadi bara api yang membakar perlahan.Maxwell tidak bergeser satu inci pun dari atas tubuh Sylvia. Bobot tubuh tegapnya menekan kasur di kedua sisi pinggang ramping gadis itu, mengurung Sylvia seutuhnya dalam sangkar otot liat dan wibawa mutlak. Kemeja putih Maxwell yang tadi basah kini sudah tanggal, menyisakan dada bidangnya yang telanjang dan berkilau halus oleh sisa peluh perjuangan semalam. Setiap kali pria itu menarik napas, otot-otot perutnya yang padat bergesekan langsung dengan kain gaun tidur sutra tipis yang membungkus tubuh Sylvia."Kak Max..." bisik Sylvia dengan suara bergetar, menatap lurus ke dalam manik mata elang yang menggelap pekat di atasnya."Masih mau mengujiku lagi, hm?" suara bariton Maxwell meluncur sangat rendah, begitu serak dan sarat akan getaran yang meremangkan bulu kuduk.Tanpa menunggu jawaban, satu tangan besar Maxwell bergerak ke atas. Jemari p

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   126.

    "Jangan bergerak," bisik Maxwell parau, suaranya teredam di helai rambut Sylvia. Pelukannya semakin mengencang, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, gadis ini akan lenyap dari genggamannya. "Biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja, Sylvia." Sylvia tersenyum tipis di dalam dekapan itu. Hatinya berdenyut hangat melihat sisi rapuh dari seorang pria yang selalu tampak tak terkalahkan di mata dunia. Gadis itu berjinjit sedikit, menempelkan bibirnya di rahang kokoh Maxwell, mengecupnya lembut berkali-kali seraya berbisik manis: "Aku di sini, Kak. Aku aman. Nggak ada yang menyakitiku..." Kecupan kecil itu bagai embun sejuk yang menyiram kobaran api di kepala Maxwell. Perlahan, Maxwell mengangkat wajahnya. Sorot mata elangnya yang tadi kelam kini berubah jernih, dipenuhi oleh kehangatan dan rasa cinta yang begitu pekat. Jemari besarnya yang hangat menangkup kedua pipi Sylvia, menuntun wajah mungil itu agar mendongak menatapnya. Ibu jari Maxwell membelai lembut bibir

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   125.

    Nama itu bagai percikan api di atas genangan bensin. Gerald. Hening yang menyusul di aula megah itu begitu pekat hingga suara tarikan napas tertahan dari Alex terdengar jelas. Tante Nindy masih tertawa terbahak-bahak di lantai marmer, wajahnya yang penuh air mata menyeringai buas, puas melihat punggung tegap Maxwell yang membeku kaku di ambang pintu. Nyonya Agatha menutup mulutnya dengan tangan gemetar. "Nindy... kamu... kamu sampai membebaskan bajingan itu?!" "Kenapa tidak?!" jerit Tante Nindy histeris. "Biar dia mengambil kembali apa yang memang miliknya! Biar Maxwell melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana gadis kesayangannya—" Drap! Drap! Drap! Maxwell membalikkan tubuhnya. Bukan kepanikan yang terpancar dari wajah pria itu, melainkan kegelapan purba yang begitu pekat dan dingin. Langkah kakinya mendekati Tante Nindy begitu tenang, namun aura membunuh yang meledak dari tubuhnya membuat udara di ruangan itu serasa lenyap terbakar. Maxwell berhenti tepat di depan Tan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status