Share

Part 13

Author: ATM Berjalan
last update Last Updated: 2025-12-29 10:37:30

Jarum jam di dinding ruang rapat utama Wijaya Tower seolah bergerak dalam gerak lambat yang menyiksa, namun setiap detiknya menghantam mental Aisyah. Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit.

Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu panas, sepanas lahar gunung berapi yang siap meletus.

"Mbak Aisyah, ini sudah keterlaluan," suara berat Pak Gunawan, salah satu investor utama untuk proyek properti di Bali, memecah keheningan yang tegang. Pria paruh baya itu mengetuk-ngetukkan jam tangan Rolex emasnya ke meja kaca dengan ritme yang mengintimidasi. "Jadwal rapat jam sembilan teng. Ini sudah hampir jam sepuluh. Waktu saya uang, Mbak. Kalau Pak Keinan tidak serius dengan proyek ini, bilang saja. Saya bisa tarik dana saya sekarang juga."

Aisyah berdiri di ujung meja, tangannya saling meremas di balik punggung, namun ia tetap tenang dan terkendali, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya di balik gamis kerja.

"Mohon maaf sekali lagi, Pak Gunawan dan Bapak-Bapak sekalian," u
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 17

    Mobil Alphard hitam itu melaju kencang meninggalkan gerbang megah kediaman keluarga Wijaya. Di balik kemudi, Keinan mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih. Keheningan di dalam kabin terasa begitu mencekam, lebih dingin daripada AC yang menyembur di angka terendah. Aisyah duduk di kursi penumpang depan, memeluk tasnya erat-erat. Tubuhnya masih gemetar sisa dari sarapan neraka tadi. Kata-kata Bryan di meja makan masih terngiang jelas, berputar-putar di kepalanya seperti rekaman rusak yang menyakitkan. "Mantan gue itu barang rusak... Jijik banget kan? Untung ketahuan sebelum akad..." Aisyah memejamkan mata di balik cadarnya. Air mata panas kembali meleleh. Dia ada di sana. Dia duduk tepat di depan Bryan. Dan pria itu dengan entengnya menceritakan aibnya sebagai lelucon pagi, tanpa tahu bahwa objek penderitaannya sedang mendengarkan setiap katanya. "Aisyah..." suara Keinan memecah keheningan. "Maaf." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulut Keinan. Dia merasa gag

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 16

    Sinar matahari pagi hari Minggu menerobos masuk melalui celah gorden sutra kamar tamu kediaman Wijaya. Cahaya keemasan itu jatuh tepat di wajah Keinan yang tertidur gelisah. Dia mengerjap, bangun dengan kepala yang sedikit pening akibat kurang tidur.Hal pertama yang dia lakukan adalah menoleh ke sofa di ujung ruangan. Kosong. Bantal dan selimut sudah terlipat rapi, seolah tidak pernah dipakai tidur.Keinan menyibakkan selimutnya dengan panik, matanya menyapu seluruh ruangan. Aisyah berdiri di dekat jendela, membelakanginya. Gadis itu sudah rapi dengan gamis berwarna mocca dan cadar senada. Dia sedang menatap kosong ke arah taman belakang rumah yang luas."Aisyah?" panggil Keinan dengan suara serak khas bangun tidur.Bahu Aisyah menegang, tapi dia tidak menoleh."Sudah jam tujuh, Tuan. Oma meminta kita turun sarapan jam tujuh lima belas," jawab Aisyah. Suaranya datar, tanpa emosi, tanpa nada. Seperti mesin penjawab otomatis.Keinan menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. Rasa

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 15

    Akhir pekan tiba. Sesuai ultimatum Oma Larasati, Keinan dan Aisyah harus menginap di kediaman utama keluarga Wijaya di Menteng. Ini adalah ujian sandiwara terbesar mereka.Di dalam mobil mewah yang melaju membelah kemacetan Sabtu sore, keheningan terasa begitu tebal. Aisyah duduk di kursi penumpang depan, memandang kosong ke luar jendela. Sejak insiden di kantor, saat Keinan cemburu buta pada arsitek bernama Rian. Aisyah membangun tembok es yang kokoh. Dia melayani Keinan dengan sempurna, tapi tanpa jiwa."Ingat, Aisyah," suara Keinan memecah kesunyian. "Di rumah Oma, kita adalah pasangan bahagia yang sedang dimabuk asmara. Jangan pasang wajah kaku seperti itu. Kalau Oma curiga, tamat riwayat kita.""Saya mengerti, Tuan. Saya akan bekerja profesional sesuai kontrak," jawab Aisyah datar tanpa menoleh.Keinan mencengkeram setir lebih erat. Kata "Tuan" dan "Kontrak" itu benar-benar mengganggunya.Mobil memasuki gerbang besi raksasa bercat hitam dengan ornamen emas. Rumah utama keluarga W

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 14

    Perjalanan menuju Restoran Seribu Rasa di kawasan Menteng terasa lebih panjang dan menyesakkan dari biasanya. Keinan duduk di kursi penumpang belakang Toyota Alphard hitam miliknya, melipat tangan di dada dengan aura mendung. Sementara itu, Aisyah memilih duduk di depan, di samping Pak Jono, sopir kantor, menciptakan jarak fisik yang tegas di antara mereka.Kaca pemisah kabin memang tidak dinaikkan, namun Keinan bisa merasakan tembok tebal yang dibangun istrinya. Sepanjang jalan, Aisyah tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Dia justru asyik mengobrol ringan dengan Pak Jono."Lewat Cikini saja, Pak. Jam segini biasanya macetnya lebih terurai daripada Thamrin," saran Aisyah dengan suara lembut."Siap, Mbak Aisyah. Wah, Mbak Aisyah hafal jalan tikus Jakarta juga ya," puji Pak Jono sambil memutar kemudi."Dulu waktu kuliah saya sering naik ojek online, Pak. Jadi hafal rute-rute kecil buat menghindari macet," jawab Aisyah diiringi tawa kecil yang renyah.Keinan termenung menatap punggung

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 13

    Jarum jam di dinding ruang rapat utama Wijaya Tower seolah bergerak dalam gerak lambat yang menyiksa, namun setiap detiknya menghantam mental Aisyah. Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit.Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu panas, sepanas lahar gunung berapi yang siap meletus."Mbak Aisyah, ini sudah keterlaluan," suara berat Pak Gunawan, salah satu investor utama untuk proyek properti di Bali, memecah keheningan yang tegang. Pria paruh baya itu mengetuk-ngetukkan jam tangan Rolex emasnya ke meja kaca dengan ritme yang mengintimidasi. "Jadwal rapat jam sembilan teng. Ini sudah hampir jam sepuluh. Waktu saya uang, Mbak. Kalau Pak Keinan tidak serius dengan proyek ini, bilang saja. Saya bisa tarik dana saya sekarang juga."Aisyah berdiri di ujung meja, tangannya saling meremas di balik punggung, namun ia tetap tenang dan terkendali, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya di balik gamis kerja."Mohon maaf sekali lagi, Pak Gunawan dan Bapak-Bapak sekalian," u

  • Status Janda Untuk Istriku   Part 12

    uasana di ruangan Direktur Utama lantai 30 Wijaya Tower terasa jauh lebih dingin daripada suhu AC sentral yang disetel di angka 18 derajat. Sejak insiden di apartemen tadi pagi, ciuman panas di depan pintu dan penghinaan halus Agnes. Aisyah dan Keinan belum saling bicara satu patah kata pun selain urusan pekerjaan.Aisyah bekerja seperti robot. Menyortir berkas, menyiapkan bahan rapat, dan menyeduh kopi sore untuk bosnya. Dia sengaja menyibukkan diri agar otaknya tidak memutar ulang adegan menyakitkan di ruang tamu tadi pagi.Pukul lima sore, ketika jam kantor resmi berakhir, Keinan menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tegas. Dia memutar kursi kebesarannya menghadap Aisyah yang sedang merapikan meja di sudut ruangan."Aisyah, berhenti sebentar. Ada yang harus saya perjelas soal kejadian tadi pagi," suara bariton Keinan memecah keheningan.Aisyah meletakkan stapler yang dipegangnya, lalu berdiri dan menunduk sopan. "Ya, Pak?"Keinan menatap gadis itu lekat-lekat. Gamis hitam, cadar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status