LOGINIt was just a one-night mistake, and their lives changed forever. Could love blossom in a way that you never expected?
View More“Jika aku tahu membunuhmu semudah ini, akan aku lakukan dari dulu!”
Wulan Suryani, wanita setengah baya itu tergeletak tak berdaya di tengah jembatan besar. Darah terus merembes dari kepalanya, membuat bau amis menusuk semakin tajam di tengah genangan air hujan.
Namun, meskipun kesadaran Wulan nyaris hilang, ia tentu masih bisa mengenali wajah gadis itu dengan sangat baik. Ia adalah Reina, kekasih Raka, anak kedua Wulan.
Wulan sama sekali tak menyangka ini semua akan terjadi padanya. Ia kira, kecelakaan beberapa detik lalu adalah murni kecelakaan biasa yang menimpanya. Namun, ternyata semua ini telah direncanakan oleh Sarah.
“Buang mayatnya ke sungai,” perintah Reina pada dua orang suruhannya, setelah itu ia memberi satu tas berisi uang. “Ambil ini dan pergi dari sini. Jangan pernah lagi muncul di hadapanku.”
“Tolong …. Jangan lakukan itu …” rintih Wulan berusaha menggapai tangan Sarah.
Namun, Reina langsung menangkisnya. Ia menunduk dan menatap Wulan dengan seringai. “Setelah ini, aku bisa bebas menguasai harta keluarga kalian!”
"Bagaimana bisa kau melakukan ini, apa salahku?" Pertanyaan sia-sia yang miris sekali tidak ada yang menjawab selain suara deras hujan.
Mata wanita itu mendelik dengan mata terbuka, sakit yang tidak mampu dilukiskan dengan kata saat bagian dada wanita tua diinjak si sopir.
Terdengar suara retak tulang bersamaan muntahan darah kental kembali. Tubuhnya tidak lagi mampu menahan beban fisik yang remuk. Wulan benar-benar sudah tidak kuat lagi bertahan.
"Aku tidak pernah dihormati anak-anakku, entah sejak kapan kasih sayang mereka berubah? Mereka berbuat jahat padaku tanpa belas kasih, dan sekarang nyawaku melayang di tangan orang yang sungguh tidak terduga. Kau sangat kejam, Tuhan!"
Rasa sakit mulai menjalar keseluruh tubuh, nafasnya mulai putus putus. Air mata semakin deras siring hujan yang lebat bertemu angin kencang. Alam menemani saat-saat terakhir Wulan yang menutup mata untuk selamanya.
"Aku tidak rela jika harus mati seperti ini!"
Benar, hidup kadang memang tidak adil, bahkan beberapa waktu sebelum Wulan meninggal dunia. Tidak ada kenangan manis bersama anak-anaknya.
Saat terakhir Wulan teringat ketidakadilan dan sikap buruk yang dilakukan putra-putri Wulan.
Siang hari sebelum kecelakaan mengenaskan terjadi.
"Ma, cepat berikan aku uang 50 juta untuk membeli tas," ujar Zevran, putra sulung Wulan, sambil menggandeng Sarah, kekasihnya.
"Zevran Suryani, sudah mama katakan bahwa semenjak ayahmu meninggal keuangan kita sedang menurun," ujar Wulan sambil menyesap teh yang berada di genggamannya.
Zevran menatap ibunya dengan kesal. Tanpa pikir panjang ia menepis teh yang yang berada di tangan Wulan yang membuat teh itu terjatuh.
"Tidak usah berpura pura, ayah sudah memberikanmu semua hak perusahaan! Cepat berikan kepadaku!" tegas Zevran.
Wulan merasa sesak di dadanya saat mendengar hal itu, amarah yang tak tertahankan bercampur dengan rasa sakit yang sudah lama terkubur.
Anak-anak yang ia besarkan, yang dulu ia harapkan menjadi kebanggaan hidupnya, kini malah berubah menjadi sosok yang hanya peduli pada uang dan kenikmatan sementara.
Setiap kata yang keluar dari mulut mereka seperti sayatan yang tajam, menghancurkan harapan-harapan yang dulu ia pupuk dengan penuh cinta.
Wulan menatap Zevran yang masih terus menggandeng kekasihnya, lalu beralih ke Raka yang berdiri tak jauh dari kakaknya.
"Kenapa kalian hanya peduli dengan uang? Apa kalian tidak ingat bagaimana susahnya kami membesarkan kalian?"
Wulan berkata dengan suara yang bergetar, menahan air mata yang hampir tumpah. Emosinya benar-benar tak bisa tertahan lagi.
"Aku tidak pernah meminta kalian untuk menjadi seperti ini, tapi kalian sendiri yang memilih jalan ini. Kalian hanya memanfaatkan aku! Kalian hanya peduli pada diri kalian sendiri!"
Zevran dan Raka saling bertukar pandang, seolah tak terpengaruh dengan amarah dan kesedihan Wulan.
Zevran menatap ibunya dengan jijik, sementara Raka hanya menatapnya dengan tatapan kosong, seolah merasa tidak ada yang salah dengan permintaan mereka.
"Tapi kita butuh uang itu, Bu!" Zevran menjawab dengan nada mengejek. “Zaman sekarang semua butuh uang!”
Wulan merasa tubuhnya mulai gemetar. Setiap kata yang keluar dari mulut mereka terasa seperti cambukan, merobek hatinya.
"Jadi, inikah anak-anak yang aku besarkan?" pikirnya, rasa sakit dan kekecewaan meresap ke dalam setiap pori tubuhnya. "Inikah hasil dari semua pengorbanan yang aku lakukan?"
Ia menatap kedua putranya lalu berkata dengan penuh kekecewaan. "Sejak kalian mengenal perempuan, rasanya semua berubah. Bahkan, aku tidak tahu kapan kalian berhenti menganggapku sebagai ibu."
Wulan menatap kedua putranya dengan tatapan kecewa, ia ingin sekali menangis tetapi coba ia tahan. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu seolah semua rasa cinta dan kasih sayangnya hanya hal rendah bagi kedua putranya itu.
Wulan segera menarik nafas mencoba menguatkan dirinya lalu berkata, "Aku ada urusan keluar kota, untuk sekarang kalian pulanglah ke rumah kalian terlebih dahulu."
Wulan menundukkan kepala, air mata tidak henti berderai.
Sudah beberapa tahun terakhir anak-anaknya memang memaksa tinggal terpisah, meninggalkan Wulan menempati apartemen masing-masing dengan alasan privasi tidak menginginkan sang ibu turut campur kehidupan mereka. Dan seperti biasa mereka hanya datang ke rumah Wulan saat meminta uang.
Raka dan Zevran yang melihat sang ibu mengusirnya hanya menatap dengan tatapan kesal. Lalu membalikkan badannya dan pergi menuju ke arah luar rumah menyisakan Wulan sendiri.
Wulan hanya bisa menahan sesak di dada melihat tingkah dan perbuatan anak yang disayang, tega menyakiti bahkan sangat boros.
Entah sejak kapan anak-anaknya berubah, Wulan mulai meraba-raba, dan semakin yakin jika semua itu bermula ketika anak-anaknya mengenal perempuan.
"Bukan aku tidak mau membagi warisan atau uang, aku hanya berusaha memikirkan untuk masa depan mereka. Membelikan beberapa aset daripada memberikan mereka uang yang akan habis dalam satu waktu," pikirnya.
Dalam kekacauan pikiran, Wulan mendapati telepon bisnis. Ia buru buru mengangkat telepon yang cukup penting itu.
Bisnis peninggalan suami harus tetap berjalan demi menopang kehidupan dan gaya hedon anak-anaknya, ditengah hujan deras Wulan keluar dari rumahnya.
"Urusan bisnis yang sangat mendesak tidak bisa ditunda. Jika gagal menemui klien kali ini, mereka akan mencabut saham yang sudah diinvestasikan," ujarnya lalu bergegas menuju ke arah mobil.
Pada akhirnya, perjalanan tersebut menjadi sebuah petaka yang merenggut nyawa. Sebuah truk muatan berat melaju kencang dari arah berlawanan dan menabrak mobil Wulan hingga terpelanting.
Tubuh wanita itu terpental keluar terseret di jalan beraspal beberapa meter. Diambang kematian, Wulan justru mendapati hal tidak terduga, wanita itu membawa kebencian teramat sangat.
Sebuah cahaya menerangi indra penglihatan, Wulan yang terganggu pun membuka mata dengan perlahan. Tidak ada rasa sakit remuk, Wulan masih tampak kebingungan menggerayangi seluruh tubuh yang tidak lagi sakit.
"Aku sudah mati? Apa Tuhan sedang memperlihatkan kehidupan untuk terakhir kali sebelum aku dilempar ke surga?”
"OHHH, ZAYN..." I moaned his name in pleasure. He licked my nipples. He gently massaged my left breast while he's sucking the other. "Fuck, honey!" He cursed in between sucking and licking my breasts. Mas pinag-igihan pa niya ang ginagawa sa magkabila kong d****b ko. While he's busy sucking my breasts, his one hand is busy touching me down there. My core is soaking wet. He caressed my folds, slowly and passionately. He is good in multi-tasking and giving me pleasure. Sobra-sobrang init na ang nararamdaman ko. Pakiramdam ko ay sasabog na ang buong sistema ko sa sobrang sarap na nararamdaman at init. "Aahh... Zayn." Sinabunutan ko na siya habang napapaliyad ako sa sarap ng ginagawa niya. Tuluyan na niya hinubad ang suot kong underwear. Mas napapaliyad ako at sinasalubong ang kanyang ginagawa. Halos mapasigaw ako when he thrusts his two fingers inside me. "Zayn..." Humigpit ang hawak ko sa kanyang buhok. Naririnig ko ang
ZAYN5 Years Later DAHAN-DAHAN akong yumuko saka lumuhod at inilagay ang mga bulaklak na dala ko sa puntod niya. As I looked at her tombstone, I gently touched it with my fingertips and smiled bitterly. The pain is still there and will not disappear, but I am becoming accustomed to it. It's been five years since the incident happened. "Daddy!" tawag sa akin ni Zayrene. Tumayo ako pagkalapit ng anak ko. I hugged her and kissed Zayrene on her forehead. "And daya mo Daddy, you left us." I know she's pouting her lips. I'm still hugging her kaya hindi ko nakikita ang kanyang mukha. "I'm sorry, honey. I want to be alone with her first." Humiwalay siya sa pagkakayakap sa 'kin at tiningala ako. "It's been five years, Dad," saad niya, sabay kaming napatingin muli sa puntod niya. Yes. At sa mahabang panahon na iyon, walang araw ko siyang hindi naiisip at ang mga what if's sa isipan ko. I'm still blaming myself for what happened. What if hindi ko hinayaan na puntahan ako noon ni Andri sa
XANDRIA7 Months Later...GALING ako sa OB ko ngayo. Tinawagan ko si Zayn na pupuntahan ko siya sa opisina niya. Tulad nang nakagawian ko noon kapag umaalis ako, dumadaan ako sa opisina niya. Ayaw nga niya pumayag na puntahan ko pa siya dahil nag-aalala siya sa 'kin. Masyado kasing OA itong asawa ko. Simula ng nabuntis ulit ako, todo asikaso talaga sa 'kin ni Zayn. Mas naghigpit pa siya sa 'kin sa pagpapabantay ng mga bodyguards. Ayaw na niya ulit kasing mangyari ang nangyari noon.Though, sinabi ko naman sa kanya na wala na siyang dapat ipag-aalala dahil nakakulong na si Johnson matagal na. Wala na rin naman kaming naging balita pa kay Tita Barbara. Marahil ay sumunod na kay Celine or nanahimik na lang. We don't have any idea. At wala na rin akong pakialam, as long as wala siyang ibang gagawin sa pamilya ko. Naging tahimik naman ang lahat. Bumalik na sa dati."Hon, dapat hinaya
XANDRIAMASAYANG-MASAYA ako dahil finally, nagkaayos na sina Zayn at daddy Alfonso. Napatawad na rin ng asawa ko ang daddy niya. Maging si Tita Barbara ay pareho na namin napatawad kahit hindi pa ito humihingi sa 'min ng tawad. Wala ng lugar sa puso namin ang galit sa mga taong nakasakit at nakagawa ng masama sa 'min dahil punong-puno kami ng pagmamahal para isa't isa. Ang nasa itaas na ang bahala sa kanilang ginawa, basta kami, masaya na kami ng asawa ko.Si Celine ay nabalitaan ko na lang na umalis ng bansa. Iyon na pala ang huling pagkikita namin no'ng pinuntahan niya ako sa bahay namin. Naaawa ako sa kanya. Siya ang naipit sa sitwasyon ng mga magulang nila noon at siya ang higit na nasaktan. Pero tulad nga ng sinabi sa 'kin ni Amanda, kaming dalawa ni Zayn ang nakatadhana para sa isa't isa. Dahil pwede naman na nagkabalikan si Zayn at Celine noong umalis ako pero hindi nangyari. Zayn waited for me. Doon daw niya narealized kung gaano niya ako kamahal
XANDRIANAGTAAS baba ang dibdib ko sa galit pagkakita kay Tita Barbara. Kabababa ko lang sa sasakyan at nasa parking lot kami
"BAKIT mo napatawad si Dad, Mom? Kahit ilang beses ka niyang nasaktan noon, hindi mo pa rin siya iniwan." Zayn asked her Mother. Pinuntahan ni Clara ang kanyang anak dahil galit ito sa kanyang ama.Hin
"Zayrene," tawag ni Zayn sa anak namin. It's almost a whisper. Kung hindi ko lang siya katabi, ay halos hindi na iyon maririnig. Nagkatitigan silang mag-ama bago ko binatawan ang anak ko, to give way for Zayn to hug our daughter. "Daddy..." Zayrene cried calling her father. H
XANDRIA"WHERE have you been?" Galit na tanong sa 'kin ni Zayn pagkauwi ko galing sa mall.












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ratings
reviewsMore