LOGIN“Jatah aku, Sayang!”Karin tidak bisa menahan tawa saat mendengar kalimat suaminya yang menggantung.Suara Arlan mendadak berubah agak serak dengan tatapan mata yang mendalam, memberikan sinyal yang sangat jelas mengenai apa yang diinginkannya malam ini.Mengingat kejadian beberapa bulan lalu selama masa persiapan ujian, Karin mendadak merasa bersalah sekaligus ingin tertawa kencang.Saat itu, setiap kali Arlan mulai memberikan kode-kode romantis atau mencoba memijat bahunya dengan maksud "terselubung", Karin selalu menepisnya dengan kejam sembari menunjuk tumpukan buku kedokteran setebal bantal.Alhasil, Arlan harus pasrah menerima nasib tragis, berjalan gontai ke kamar mandi dengan wajah frustasi, ditemani suara gemericik air shower dingin sebagai pelipur lara tengah malam.“Oh, jadi ini ceritanya mau menagih hutang yang menumpuk?” goda Karin, sengaja menaikkan satu alisnya sambil menahan tawa yang hampir meledak melihat telinga Arlan yang mulai memerah.“Bukan lagi menagih, Sayang,
“Deg-degan banget,” gumam Karin sebelum masuk ujiannya.Ujian akhir koas atau yang biasa dikenal sebagai UKMPPD (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) adalah puncak dari segala siksaan batin mahasiswa kedokteran.Ujian ini terdiri dari dua bagian yang sama-sama mengerikan, ujian teori berbasis komputer (CBT) dan ujian praktik klinik yang disebut OSCE (Objective Structured Clinical Examination).Dalam OSCE, Karin harus menghadapi belasan stasiun (pos) berturut-turut.Di setiap stasiun, ia hanya diberi waktu sekitar 10–15 menit untuk menghadapi pasien simulan (aktor yang pura-pura sakit), melakukan wawancara medis, memeriksa fisik, menentukan diagnosis, hingga melakukan tindakan medis darurat seperti menjahit luka atau memasang infus semuanya dilakukan di bawah tatapan tajam dan dingin dari dokter penguji yang mencatat setiap gerak-gerik dan helaan napasnya.Salah sedikit atau waktu habis sebelum selesai berbicara, buyarlah sudah!Pintu ruang ujian itu akhirnya terbuka.“Aa
“Aku gak masalah kalau kamu punya kekasih lain, Dokter. Tapi bukan berarti itu Laura!”Suara Silvi sedikit meninggi, memecah kesunyian rumah minimalis mewah di kawasan Jakarta Selatan itu.Napasnya memburu, menatap Diego dengan mata yang mulai berkaca-kaca setelah nekat mendatangi rumah pribadi dokter ginekologi itu tengah malam.Ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Diego yang mendadak dingin dan mengabaikan ratusan pesannya seharian ini.Diego, yang berdiri bersandar di meja konter dapur dengan kaus santai, hanya menatap Silvi dengan pandangan datar.Kejutan di wajahnya saat membuka pintu tadi kini telah berganti dengan ekspresi jengah yang kentara.“Dokter, aku minta maaf….” bisik Silvi lagi, melangkah mendekat dengan gurat penyesalan yang mendalam setelah melihat respons dingin pria itu.“Aku akui aku salah. Aku mendatangi Laura tadi pagi karena aku cemburu. A-aku selalu merasa tidak tenang jika itu menyangkut Laura, karena wajahnya selalu mengingatkanku pada Karin.”Silvi menund
“Kau sangat cantik, Laura!” Untuk pertama kali Moreno memujinya.Moreno mengulurkan tangannya, mengelus lembut rambut Laura dengan gerakan posesif yang lembut, menikmati kepatuhan semu wanita itu.Namun, kepuasan atas egonya yang terpenuhi rupanya memicu gairah yang tak tertahankan di dalam diri Moreno.Cengkramannya di rambut Laura mendadak mengeras, menarik kepala wanita itu sedikit ke belakang.Tanpa memberikan waktu bagi Laura untuk menghindar, Moreno menundukkan wajahnya dan mengecup bibir Laura dengan rakus.“Eumph, lepaskan aku Moreno!”Ciuman yang menuntut, panas dan sarat akan dominasi yang mutlak, mengabaikan fakta bahwa wanita di bawah kungkungannya ini masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.Laura memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkram erat selimut rumah sakit hingga buku-buku jarinya memutih.Rasa muak dan jijik yang luar biasa bergejolak hebat di dalam dadanya, namun ia memutus seluruh energinya untuk melawan, membiarkan tubuhnya sekaku patung es agar Mor
“Lepaskan aku, Moreno! Bawa aku pulang ke Jakarta ... aku gak mau ada di tempat terkutuk ini!”Suara Laura parau, gemetar menahan amarah sekaligus keputusasaan yang luar biasa.Ia terbaring di atas ranjang sebuah kamar perawatan khusus pemegang saham di salah satu rumah sakit swasta paling mewah di Singapura, Moreno!Kamar itu begitu luas, lebih mirip suite hotel bintang lima dengan dinding kaca raksasa yang menyajikan panorama megah gedung-gedung pencakar langit Singapura di bawah langit malam.Namun bagi Laura, kemewahan ini tak lebih dari sangkar emas yang mencekik lehernya.Di kota ini, ia benar-benar terisolasi. Orang tuanya telah menyerahkan seluruh keputusan pengobatan dan penjagaannya secara mutlak kepada Moreno.Wajar saja, rumah sakit ini sebagian besar sahamnya dimiliki oleh perusahaan raksasa milik Moreno.Pria itu adalah penguasa tunggal atas nasibnya saat ini.Moreno yang sedang berdiri di dekat jendela kaca besar, perlahan membalikkan tubuhnya.Jas mahalnya sudah bergan
Karin dengan cepat menempelkan ponselnya ke telinga, mengabaikan tatapan beberapa perawat yang berjaga di nurse station.Jemarinya bergetar hebat saat mendengar nada mesin operator yang monoton di seberang sana."Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan....""Shit!" Karin mengumpat tertahan, menurunkan ponselnya dengan kasar.Ia mengepalkan tangannya, dirayapi rasa bersalah dan kekesalan yang luar biasa membakar dada.Nomor Laura mati total.Kemungkinan besar wanita itu sedang berada di dalam pesawat medis menuju Singapura, terisolasi dari dunia luar.“Harusnya aku sudah menduga, aku malah santai mendengar curhatan Laura. Sialan!”Karin merutuki dirinya sendiri.Seharusnya ia tahu! Seharusnya ia bisa membaca kelicikan Moreno lebih cepat!Pria biadab itu tidak akan pernah membiarkan korbannya memiliki celah untuk lolos dan memindahkan Laura ke luar negeri adalah cara paling instan untuk memutus radar semua orang.Tanpa membuang waktu lagi, Karin langsung me
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







