Mag-log in“Ta-tapi, Dok?”
Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga. “Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu ada perdebatan saat dia meminta hal yang wajar. Ia bukan meminta Karin telanjang di depannya. Ah, sudahlah! Karin menggerutu dalam hati. Perlahan ia membuka snelli miliknya. Mereka hanya berdua dan tidak ada orang yang melihat. Karin yakin Arlan tidak mungkin melakukan apa pun dengannya. Dia tidak suka wanita, gumam Karin dalam hati setelah melepaskan jasnya dan duduk tepat di depan Arlan. Pria itu bahkan tidak melihatnya dan kembali melanjutkan membaca laporan. Di dalam ruangan Arlan hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak bersahutan dengan petir di luar. Sebentar lagi hujan deras. Udara semakin dingin, ditambah ruangan Arlan yang memang diatur rendah. Apa Arlan sengaja membuatnya membeku? “Oke, sudah kau lepaskan?” tanya Arlan, akhirnya menatap Karin kembali. Arlan terdiam dan menelan salivanya dengan berat. Rahangnya tiba-tiba mengeras dengan tatapan tajam. Gadis—atau lebih pantas disebut wanita dewasa di depannya ini—tampak berbeda. Seksi! Itu yang ada dalam pikiran Arlan. Rambut bergelombangnya diikat setengah dengan anak rambut menutupi kening, bibir mungilnya memikat, dan wajahnya sangat cantik. Ditambah lagi kulitnya yang halus dan putih. Karin juga wangi sekali. Arlan tidak lupa kejadian di ruangan dr. Mikael tadi; tidak ada batas di antara mereka, hembusan napas yang hangat, dan mata bulat yang memikat. Jelas kalau Karin sangat menggoda. Mata Arlan turun ke lengan Karin yang tampak menahan dingin, tapi Arlan enggan meminta Karin menggunakan snelli-nya kembali. “Kenapa kau bisa masuk kedokteran kalau kau punya fobia itu?” tanya Arlan dengan tegas. Karin menunduk semakin gelisah. Ia tidak bisa menceritakan fobianya pada semua orang, apalagi dia tidak terlalu kenal dengan Arlan. “Tanteku dosen di kampusku, Dok.” Akhirnya Karin jujur. Ia dibantu masuk kedokteran dan bukan lulus secara murni. Karin tidak mungkin menjawab sebaliknya karena tantenya sudah mengultimatum hal itu. “Bukannya kau tahu kalau seorang dokter harus menyentuh pasiennya?” Arlan tersenyum meremehkan. Seharusnya Karin mengambil jurusan lain, bukan memaksakan diri menjadi dokter. Karin membisu. Cita-citanya dokter, orang tuanya juga ingin dia jadi dokter. Tidak ada yang mau penyakit aneh ini. Trauma itu yang membuat Karin menjadi aneh, menjadi monster. Tiba-tiba Karin ingin menangis. Ia tampak begitu cengeng di depan Arlan padahal biasanya ia sangat tegar. Mata Karin mulai merah. Arlan bisa melihatnya dengan jelas, tetapi pria itu tidak terlihat ingin mengasihani Karin. “Kadang aku berpikir kalau aku bisa melakukannya,” jawab Karin tertunduk lesu. “Haphephobia, tapi tadi bukannya….” Kata-kata itu menggantung. Karin tahu maksud Arlan. Tadi mereka berpelukan, hampir tidak ada batas. Arlan menyentuh kedua lengan Karin. Gadis itu terdiam sambil menatap Arlan dengan lekat. “Kau sedang membodohiku?” bisik Arlan di telinga Karin. Sentuhan Arlan memang tidak membuatnya panik. Karin pun heran. Karin yakin kalau dia tidak segila itu. Mana mungkin ada orang yang tidak bisa bersentuhan dan takut menyentuh orang lain seperti dirinya? Karin tahu lama-lama dia akan terbiasa dan penyakitnya sembuh sendiri. Seperti sekarang contohnya, antara dia dan Arlan. “Oke kalau begitu, kita coba di ruangan ini!” Arlan berdiri dan mengajak Karin belajar dari instrumen medis di dalam ruangannya. Karin ikut berdiri. Arlan berada tepat di belakangnya. Entah sengaja atau tidak, tubuh pria itu benar-benar menempel di punggungnya. “Gunakan sarung tanganmu,” bisik Arlan menatap wajah cantik Karin. Karin patuh mengikutinya. “Seperti ini!” Arlan terlebih dulu mempraktikkannya tanpa menjauh dari tubuh Karin. Posisi itu memaksa Karin sedikit menunduk sehingga belahan dadanya yang menonjol terlihat. Arlan tidak melewatkan pemandangan indah itu. Arlan memasukkan kedua jarinya ke dalam anatomi reproduksi wanita dari instrumen medis tersebut. Karin diam membisu. Pikirannya melayang. Ia harus menyentuh itu! “Kau lihat ke mana? Lihat instrumennya! Kenapa kau melihatku?” Karin salah tingkah dan kembali memperhatikan jari Arlan, tapi ia mulai merasa tidak nyaman. “Hoek!” Perut Karin bergejolak hebat. Ia berlari mendekati wastafel di ruangan Arlan. Arlan menghentikan gerakannya dan mendekati gadis itu. Apa mungkin Karin pernah mengalami sesuatu yang kelam sehingga melihat hal seperti ini saja ia merasa takut dan menjijikkan? “Kau tahu harus melakukan ini, Karin. Kalau tidak, kau tidak akan lulus stase ini.” Arlan bicara dari belakang saat Karin mengusap bibirnya yang lembap dengan tisu. “Aku akan mencobanya, Dok.” Karin menarik napas dalam, kembali menggunakan sarung tangan lateksnya, lalu mendekati instrumen medis itu. Tangannya kembali gemetar, tubuhnya berkeringat, dan kakinya menjadi lemas. Arlan mengamati reaksi Karin layaknya seorang ilmuwan yang mempelajari spesimen, menyadari seberapa parah trauma fisik yang dialami gadis itu. “Dokter, hiks! A-aku... aku tidak bisa.” Suara Karin serak menahan tangis. Tangisannya menjadi-jadi. Karin terpuruk. Di depan teman-temannya ia selalu berusaha menutupi ketakutan luar biasa ini, ternyata ia memang tidak mampu. Karin takut ia tidak akan lulus. “Coba masukkan tanganmu, Karin! Kau tidak mungkin menolaknya terus.” Arlan menarik tangan gadis itu dan memaksa Karin melakukannya. Karin melengos sambil memasukkan jarinya, lalu detik selanjutnya kepanikannya meledak. Ia menggigil hebat. “Tidak bisa, Dokter. Karin tidak bisa.” Arlan menarik napas dalam-dalam sambil berkacak pinggang. “Kau bisa, atau aku akan mencontohkan caranya padamu? Kau tidak ingin jadi kelinci percobaanku, kan?” tanya Arlan licik. Pria itu jelas lebih menikmati menyentuh yang asli daripada instrumen medis ini. “Lakukan lagi!” Karin mencobanya sekali lagi, lalu terperosok ke lantai sambil menutup wajah seolah ingin berteriak. Arlan dapat melihat dengan jelas masalahnya. “Di stase lain saat kau menyentuh pasien kecelakaan, kau juga seperti ini?” tanya Arlan. Karin tidak bisa menjawab. Ia pernah menangani pasien dan bersentuhan, tapi tidak terlalu dalam seperti di stase ini. “Kau punya trauma dalam hal ini?” Arlan lanjut memburu dengan pertanyaan yang sulit dijawab. Karin tidak ingin mengingat masa lalu kelam yang menyakitkan itu. “Iya, Dokter,” jawab Karin lembut. Sialnya, Karin sangat memikat saat ini. Arlan ingin sekali mencumbu bibirnya yang gemetar. Karin sangat menggoda dalam keadaan seperti itu. Brengsek! umpat Arlan diam-diam, berusaha mengontrol tubuhnya. Arlan mendekat dan menyentuh lengan gadis itu. Ia memaksa Karin menerima sentuhannya meskipun napas Karin mulai memburu panik. “Kau bisa sembuh, Karin. Kau tidak panik saat aku menyentuhmu.” Arlan menarik pinggang Karin untuk mendekatinya. "Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku, sampai kita bertemu di sesi berikutnya,” bisik Arlan serak. Arlan menatap lekat mata Karin. Bibir mereka hampir bersentuhan. Napas Karin terasa hangat di kulit wajah Arlan. Karin tidak menyadari kalau keberadaannya di klinik ini membuat Arlan bergairah layaknya laki-laki dewasa normal. Pelan-pelan Arlan melepaskan tangannya dari pinggang Karin dan membiarkan gadis itu duduk. Karin seperti kehilangan energi; wajahnya pucat dan berkeringat hebat padahal mereka tidak melakukan apa pun. Cih! Padahal aku tidak menodainya, gerutu Arlan dalam hati. “Kau berkeringat,” ucap Arlan sambil membantu Karin mengusap keringat di leher sampai dadanya. Ini kesukaan Arlan sebenarnya. Gilanya lagi, Karin sama sekali tidak menolak seolah ia pun penasaran dengan batas toleransi sentuhan yang bisa diterimanya. “Minumlah!” Arlan mengambilkan air mineral di atas meja. “Sudah rileks?” Arlan menyentuh pipi Karin dengan sangat lembut, tatapannya bergairah. “Sudah tidak apa-apa, Dokter,” jawab Karin. “Kau bisa ke ruanganku kapan pun. Kita bisa belajar setiap hari. Aku tidak masalah,” ucap Arlan setengah meremehkan. Padahal ia justru lebih senang menyentuh Karin. Rasa penasaran sudah memenuhi kepalanya. “Masih lemas?” tanya Arlan penuh perhatian. Arlan tidak melakukan hal berlebihan atau mencium wanita ini, tetapi Karin sampai lemas seolah mereka baru saja olahraga malam yang hebat di ranjang. Entah kenapa pikiran Arlan jadi nakal. Mungkinkah Karin mampu di ranjang dengan penyakit anehnya itu? Sudah pasti dia menggairahkan, ucap Arlan dalam hati sambil memandangi Karin dari atas sampai bawah. Wanita ini bukannya tadi memakai rok mini? Kenapa Karin malah menggantinya. “Aku boleh keluar sekarang, Dok?” tanya Karin. Arlan mengangguk dan membantu Karin mengenakan snelli-nya kembali. “Silakan!” Karin tidak menolak perhatian lebih itu. Bukannya dia tidak suka wanita? tanyanya dalam hati. Tapi tatapan Arlan padanya bukan seperti konsulen kepada koasnya. Dia seperti ingin menciumku tadi.Arlan tahu kalau dia pasti akan ditentang karena mempertahankan Karin tapi Arlan tidak bisa hidup tanpa Karin, ia sudah ketergantungan dan semakin dalam terjebak dalam hubungan ini. Percintaan mereka bukan semakin hari semakin menjauh justru semakin dekat dan tak berjarak. Bagaimana cara Arlan mengatasinya lagi, satu-satunya cara hanya bertemu untuk melepaskan birahinya. “Papa peringatkan untuk terakhir kali, jauhi Karin!” Hanya itu yang Arlan ingat sampai saat ini, Arlan melamun di depan wastafel, menatap wajahnya yang tampan, tubuhnya yang atletis. Kalau saja Arlan mau, begitu banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkan perhatiannya tetapi Arlan malah memilih Karin. Arlan bukan tidak laku tetapi ia sulit mendapatkan kecocokan dan bersama dengan Karin, ia menemukan dunianya. Dunia tanpa kepura-puraan. “Gak bisa Pa, sungguh! Aku gila kalau jauh darinya, satu hari saja aku tidak melihatnya, aku langsung kacau. Aku bahkan langsung menyusul Karin ke Bali tanpa memikirkan pasien
Arlan pulang ke rumahnya tapi ia terkejut saat melihat ada Papanya duduk di ruang tamu dengan mata yang menahan emosi. “Kamu masih mendekati Karin?” tanya Billy saat Arlan masuk ke rumah mewahnya. Arlan pikir mungkin Papanya tidak tahu kalau ia membeli aset baru, ternyata yang Arlan pikirkan salah. Entah darimana Billy tahu keberadaan rumah barunya ini. Padahal ia membeli rumah ini untuk menghindar dari Billy yang selalu memantau aktivitasnya dengan Karin. “Aku mencintainya,” jawab Arlan dengan tegas. “ARLAN!” teriak Billy sambil melempar gelas ke arah Arlan. Arlan menghindar dengan cepat. Ia sudah tidak mau lagi bersembunyi, kalau Karin ingin ia diam, Arlan tidak akan mengikutinya karena yang Arlan inginkan, hubungan yang normal. “Kenapa Pa? Umurku sudah tidak mudah lagi dan aku nyaman dengan Karin. Aku merasa dia jodohku dan aku tidak mau menikah dengan wanita lain kecuali Karin.” Arlan menantang Papanya, ia bersikap sombong sekali setelah menjadi orang yang sukses. Ia dokter
“Dokter?” Mata Karin berbinar saat melihat mobil sport dr. Arlan mendekatinya, ternyata Arlan sudah mengikuti mereka dari tadi. “Masuklah Sayang!” Karin masuk tanpa banyak berpikir, ia langsung memeluk tubuh kekar Arlan, begitu senangnya bertemu dengan kekasih yang dirindukannya sedari tadi. “Kenapa ditinggal di jalan?” tanya Arlan bingung. Dion ini memang kejam sekali dengan adiknya, kalau saja Arlan tidak lihat, mungkin Karin akan sendirian di cafe seperti orang bodoh. “Gak tau, Silvi di mobil Kak Dion,” ucap Karin sambil menunjuk mobil Dion yang sudah jauh. “Kamu mau kita ikuti mobilnya?” Mungkin saja Dion sudah tahu masalah Silvi dan Rion makanya Dion marah dan ingin membuat perhitungan dengan Silvi. “Ayo, dok. Aku takut Silvi kenapa-kenapa.” Arlan mengikutinya dari jauh, mereka melihat Silvi dan Dion masuk ke club, mereka juga ikut masuk dan melihat dari jauh. Tidak ada yang aneh, hanya berdansa seperti biasa, Dion malah hanya duduk sambil menikmati hiburan. Ia tidak men
“Aku udah di rumah Sil.” Karin mengangkat telepon Silvi, ia sebenarnya masih tidak nyaman dengan Silvi, masih kecewa tapi semua ini bukan salah Silvi. Rasanya Silvi juga korban dari godaan Papi Rion. “Kamu lagi dimana? Kamu gak pulang ke apartemen?” tanya Silvi dengan wajahnya yang memelas. “Lagi sama Kak Dion, mau ke Club, temenin dia aja, kamu mau ikut?” “Maaauuuuu, aku kesana sekarang.” “Oke.” Daripada ia sendiri, lebih baik ajak Silvi saja. Silvi janji ia tidak akan peduli lagi dengan Papi Rion. Karin akan memberikan kesempatan itu untuk Silvi. Di dunia ini Silvi boleh bersama dengan siapapun yang ia suka asal jangan Papinya meskipun Papi Rion sangat tergila-gila dengan permainan ranjang Silvi. “Temen kamu?” tanya Dion. “Hemm.” “Oh, itu ada temen, kamu gak ada niat kenalin ke aku?” “Kakak mau kenalan?” tanya Karin. “Cantik?” “Hemm cantik.” “Boleh deh,” jawab Dion malas. Ia bukan tertarik ingin pacaran tapi seperti yang Karin pikirkan, ia memang punya kebutuhan biologi
Karin disambut dengan pelukan saat ia sampai di rumahnya, Mami nya menangis dan Papi Rion membelai rambutnya. “Jangan kabur lagi, Sayang. Mami gak pernah mempermasalahkan Karin itu darah daging Mami sendiri atau tidak,” ucap Mami Kaina sambil menangis.Untungnya Arlan tidak mendengar, entah mungkin Arlan juga sudah tahu, Karin tidak mengerti. Karin juga tidak ingin membahas, biarlah Arlan sendiri nanti yang bertanya padanya. “Karin cuma liburan aja Mi, sudah lama pengen banget liburan, belajar terus selama ini, jadi bosan,” jawab Karin dengan matanya yang berbinar. Keluarganya sangat mencintainya, itu tidak dibuat-buat, kelihatan sekali kalau Karin memang diharapkan ada di rumah ini meskipun tidak disayang.“Liburannya gimana, Sayang? Kamu senang? Ada yang mengganggumu? Katanya dengan Om Arlan, dia baik?” Begitu banyak sekali pertanyaan dari Papinya, tapi Karin malah malas menjawabnya. “Asik,” jawab Karin sambil melengos ke arah lain, Papi Rion membelai pipi Karin dan tersenyum l
Sampai di Jakarta, tangan Karin ditarik paksa menuju mobil Keluarga Wijaya yang sudah menunggu di depan, satu tangannya yang lain sibuk mendorong koper Karin. Dion sudah melihat isinya, tidak layak! Hanya lingerie dan dress mini ketat, setelah itu make up dan sepatu juga underwear yang seksi-seksi. Karin bukan mau kabur tapi mau menggoda pria. Mungkin saja di Bali ia sudah janjian dengan pria mesum dan mereka bercinta di sana. Atau pria itu dr. Arlan karena Dion melihat Karin berduaan saja dengan pakaian yang tidak pantas, bisa jadi! “Om, mobil gak cukup untuk Om, naik taxi saja,” ucap Dion dengan sinis. Arlan begitu sabar menghadapi anak sulung Rion, kalau saja tidak ada Karin di depannya, Arlan ingin sekali menonjok wajah Dion sampai babak belur. Dion kasar sekali, tangan Karin sampai merah ditarik paksa seperti itu dan Karin hanya pasrah bahkan saat Arlan ingin menolongnya, Karin menggeleng dan melarangnya dengan cepat. Karin tau sifat Dion, semakin banyak yang menolongnya,
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







