首頁 / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

分享

Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

last update publish date: 2026-04-08 17:11:22

“Ta-tapi, Dok?”

Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.

“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu ada perdebatan saat dia meminta hal yang wajar. Ia bukan meminta Karin telanjang di depannya.

Ah, sudahlah! Karin menggerutu dalam hati. Perlahan ia membuka snelli miliknya. Mereka hanya berdua dan tidak ada orang yang melihat. Karin yakin Arlan tidak mungkin melakukan apa pun dengannya.

Dia tidak suka wanita, gumam Karin dalam hati setelah melepaskan jasnya dan duduk tepat di depan Arlan. Pria itu bahkan tidak melihatnya dan kembali melanjutkan membaca laporan.

Di dalam ruangan Arlan hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak bersahutan dengan petir di luar. Sebentar lagi hujan deras. Udara semakin dingin, ditambah ruangan Arlan yang memang diatur rendah. Apa Arlan sengaja membuatnya membeku?

“Oke, sudah kau lepaskan?” tanya Arlan, akhirnya menatap Karin kembali.

Arlan terdiam dan menelan salivanya dengan berat. Rahangnya tiba-tiba mengeras dengan tatapan tajam. Gadis—atau lebih pantas disebut wanita dewasa di depannya ini—tampak berbeda.

Seksi!

Itu yang ada dalam pikiran Arlan. Rambut bergelombangnya diikat setengah dengan anak rambut menutupi kening, bibir mungilnya memikat, dan wajahnya sangat cantik.

Ditambah lagi kulitnya yang halus dan putih. Karin juga wangi sekali. Arlan tidak lupa kejadian di ruangan dr. Mikael tadi; tidak ada batas di antara mereka, hembusan napas yang hangat, dan mata bulat yang memikat. Jelas kalau Karin sangat menggoda. Mata Arlan turun ke lengan Karin yang tampak menahan dingin, tapi Arlan enggan meminta Karin menggunakan snelli-nya kembali.

“Kenapa kau bisa masuk kedokteran kalau kau punya fobia itu?” tanya Arlan dengan tegas.

Karin menunduk semakin gelisah. Ia tidak bisa menceritakan fobianya pada semua orang, apalagi dia tidak terlalu kenal dengan Arlan.

“Tanteku dosen di kampusku, Dok.” Akhirnya Karin jujur. Ia dibantu masuk kedokteran dan bukan lulus secara murni. Karin tidak mungkin menjawab sebaliknya karena tantenya sudah mengultimatum hal itu.

“Bukannya kau tahu kalau seorang dokter harus menyentuh pasiennya?” Arlan tersenyum meremehkan. Seharusnya Karin mengambil jurusan lain, bukan memaksakan diri menjadi dokter.

Karin membisu. Cita-citanya dokter, orang tuanya juga ingin dia jadi dokter. Tidak ada yang mau penyakit aneh ini. Trauma itu yang membuat Karin menjadi aneh, menjadi monster.

Tiba-tiba Karin ingin menangis. Ia tampak begitu cengeng di depan Arlan padahal biasanya ia sangat tegar. Mata Karin mulai merah. Arlan bisa melihatnya dengan jelas, tetapi pria itu tidak terlihat ingin mengasihani Karin.

“Kadang aku berpikir kalau aku bisa melakukannya,” jawab Karin tertunduk lesu.

“Haphephobia, tapi tadi bukannya….” Kata-kata itu menggantung. Karin tahu maksud Arlan. Tadi mereka berpelukan, hampir tidak ada batas.

Arlan menyentuh kedua lengan Karin. Gadis itu terdiam sambil menatap Arlan dengan lekat.

“Kau sedang membodohiku?” bisik Arlan di telinga Karin.

Sentuhan Arlan memang tidak membuatnya panik. Karin pun heran. Karin yakin kalau dia tidak segila itu. Mana mungkin ada orang yang tidak bisa bersentuhan dan takut menyentuh orang lain seperti dirinya? Karin tahu lama-lama dia akan terbiasa dan penyakitnya sembuh sendiri. Seperti sekarang contohnya, antara dia dan Arlan.

“Oke kalau begitu, kita coba di ruangan ini!” Arlan berdiri dan mengajak Karin belajar dari instrumen medis di dalam ruangannya.

Karin ikut berdiri. Arlan berada tepat di belakangnya. Entah sengaja atau tidak, tubuh pria itu benar-benar menempel di punggungnya.

“Gunakan sarung tanganmu,” bisik Arlan menatap wajah cantik Karin. Karin patuh mengikutinya.

“Seperti ini!”

Arlan terlebih dulu mempraktikkannya tanpa menjauh dari tubuh Karin. Posisi itu memaksa Karin sedikit menunduk sehingga belahan dadanya yang menonjol terlihat. Arlan tidak melewatkan pemandangan indah itu. Arlan memasukkan kedua jarinya ke dalam anatomi reproduksi wanita dari instrumen medis tersebut. Karin diam membisu. Pikirannya melayang. Ia harus menyentuh itu!

“Kau lihat ke mana? Lihat instrumennya! Kenapa kau melihatku?”

Karin salah tingkah dan kembali memperhatikan jari Arlan, tapi ia mulai merasa tidak nyaman.

“Hoek!”

Perut Karin bergejolak hebat. Ia berlari mendekati wastafel di ruangan Arlan. Arlan menghentikan gerakannya dan mendekati gadis itu. Apa mungkin Karin pernah mengalami sesuatu yang kelam sehingga melihat hal seperti ini saja ia merasa takut dan menjijikkan?

“Kau tahu harus melakukan ini, Karin. Kalau tidak, kau tidak akan lulus stase ini.” Arlan bicara dari belakang saat Karin mengusap bibirnya yang lembap dengan tisu.

“Aku akan mencobanya, Dok.”

Karin menarik napas dalam, kembali menggunakan sarung tangan lateksnya, lalu mendekati instrumen medis itu. Tangannya kembali gemetar, tubuhnya berkeringat, dan kakinya menjadi lemas. Arlan mengamati reaksi Karin layaknya seorang ilmuwan yang mempelajari spesimen, menyadari seberapa parah trauma fisik yang dialami gadis itu.

“Dokter, hiks! A-aku... aku tidak bisa.” Suara Karin serak menahan tangis.

Tangisannya menjadi-jadi. Karin terpuruk. Di depan teman-temannya ia selalu berusaha menutupi ketakutan luar biasa ini, ternyata ia memang tidak mampu. Karin takut ia tidak akan lulus.

“Coba masukkan tanganmu, Karin! Kau tidak mungkin menolaknya terus.”

Arlan menarik tangan gadis itu dan memaksa Karin melakukannya. Karin melengos sambil memasukkan jarinya, lalu detik selanjutnya kepanikannya meledak. Ia menggigil hebat.

“Tidak bisa, Dokter. Karin tidak bisa.”

Arlan menarik napas dalam-dalam sambil berkacak pinggang. “Kau bisa, atau aku akan mencontohkan caranya padamu? Kau tidak ingin jadi kelinci percobaanku, kan?” tanya Arlan licik. Pria itu jelas lebih menikmati menyentuh yang asli daripada instrumen medis ini. “Lakukan lagi!”

Karin mencobanya sekali lagi, lalu terperosok ke lantai sambil menutup wajah seolah ingin berteriak. Arlan dapat melihat dengan jelas masalahnya.

“Di stase lain saat kau menyentuh pasien kecelakaan, kau juga seperti ini?” tanya Arlan.

Karin tidak bisa menjawab. Ia pernah menangani pasien dan bersentuhan, tapi tidak terlalu dalam seperti di stase ini.

“Kau punya trauma dalam hal ini?” Arlan lanjut memburu dengan pertanyaan yang sulit dijawab. Karin tidak ingin mengingat masa lalu kelam yang menyakitkan itu.

“Iya, Dokter,” jawab Karin lembut.

Sialnya, Karin sangat memikat saat ini. Arlan ingin sekali mencumbu bibirnya yang gemetar. Karin sangat menggoda dalam keadaan seperti itu.

Brengsek! umpat Arlan diam-diam, berusaha mengontrol tubuhnya.

Arlan mendekat dan menyentuh lengan gadis itu. Ia memaksa Karin menerima sentuhannya meskipun napas Karin mulai memburu panik.

“Kau bisa sembuh, Karin. Kau tidak panik saat aku menyentuhmu.” Arlan menarik pinggang Karin untuk mendekatinya.

"Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku, sampai kita bertemu di sesi berikutnya,” bisik Arlan serak.

Arlan menatap lekat mata Karin. Bibir mereka hampir bersentuhan. Napas Karin terasa hangat di kulit wajah Arlan. Karin tidak menyadari kalau keberadaannya di klinik ini membuat Arlan bergairah layaknya laki-laki dewasa normal.

Pelan-pelan Arlan melepaskan tangannya dari pinggang Karin dan membiarkan gadis itu duduk. Karin seperti kehilangan energi; wajahnya pucat dan berkeringat hebat padahal mereka tidak melakukan apa pun.

Cih! Padahal aku tidak menodainya, gerutu Arlan dalam hati.

“Kau berkeringat,” ucap Arlan sambil membantu Karin mengusap keringat di leher sampai dadanya. Ini kesukaan Arlan sebenarnya. Gilanya lagi, Karin sama sekali tidak menolak seolah ia pun penasaran dengan batas toleransi sentuhan yang bisa diterimanya.

“Minumlah!” Arlan mengambilkan air mineral di atas meja. “Sudah rileks?” Arlan menyentuh pipi Karin dengan sangat lembut, tatapannya bergairah.

“Sudah tidak apa-apa, Dokter,” jawab Karin.

“Kau bisa ke ruanganku kapan pun. Kita bisa belajar setiap hari. Aku tidak masalah,” ucap Arlan setengah meremehkan. Padahal ia justru lebih senang menyentuh Karin. Rasa penasaran sudah memenuhi kepalanya.

“Masih lemas?” tanya Arlan penuh perhatian.

Arlan tidak melakukan hal berlebihan atau mencium wanita ini, tetapi Karin sampai lemas seolah mereka baru saja olahraga malam yang hebat di ranjang. Entah kenapa pikiran Arlan jadi nakal. Mungkinkah Karin mampu di ranjang dengan penyakit anehnya itu?

Sudah pasti dia menggairahkan, ucap Arlan dalam hati sambil memandangi Karin dari atas sampai bawah. Wanita ini bukannya tadi memakai rok mini? Kenapa Karin malah menggantinya.

“Aku boleh keluar sekarang, Dok?” tanya Karin.

Arlan mengangguk dan membantu Karin mengenakan snelli-nya kembali. “Silakan!”

Karin tidak menolak perhatian lebih itu. Bukannya dia tidak suka wanita? tanyanya dalam hati. Tapi tatapan Arlan padanya bukan seperti konsulen kepada koasnya.

Dia seperti ingin menciumku tadi.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 286 Tidak Akan Pernah Lolos

    Bibir Karin bergetar, ia akhirnya beranikan diri menghubungi Papi Rion. Telepon tersambung. “Halo Sayang. Kenapa menghubungi Papi? Ingin uang jajan?” Hanya itu saja, Karin tidak butuh uang. “Pi, ada yang menerorku, mereka bilang dr. Arlan itu bukan Om ku. Apa benar?” tanya Karin ragu-ragu sambil menatap Arlan yang menunggu dalam diam. “Hahahah, siapa yang bergosip itu Sayang. Arlan itu Paman mu, aku dan Arlan hanya beda ibu saja tapi anak Kakekmu semua.” Karin menutup matanya dan tangannya mengepal. Apalagi? Arlan mau seperti apalagi. Keluarganya semua mengatakan kalau Arlan adalah Pamannya. Pria brengsek ini demi bisa menikah dengannya, melakukan semua cara bahkan membuat test DNA palsu. “Makasih Papi.” “Sayang, kenapa? Kau memikirkan Om kamu sendiri? Kau suka dengannya? Tentu tidak boleh Sayang, dia Om kamu. Oke!” “Hahahah, mana mungkin Papi. Jangan aneh-aneh.” Karin menelan salivanya dan matanya tajam ke arah Arlan. Arlan mengusap wajahnya dan menggeleng. Sialan! Tidak

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 285 Pernikahan Yang Rumit

    Ponsel Arlan rasanya ingin meledak, baru saja ia mau melanjutkan permainannya dengan Karin, Papanya selalu menghubungi tidak berhenti, seperti takut sekali Karin dibawa kabur olehnya. Kalau bukan karena penyakit jantung Papanya, Arlan pasti akan melawan. Ia mencintai Karin dan Karin pun mencintainya. Meskipun dunia tidak ingin mereka bersama kalau mereka berdua keras ingin bersatu. Apa ada yang bisa melarang mereka berdua? “Halo, Pa?” Arlan menjauh dari tubuh Karin yang penuh keringat saat ini. Ia mencari tempat yang sepi agar nyaman bicara dengan Papanya. Oh, ayolah.Seharusnya setelah tahu ia bercinta dengan Karin, seharusnya Papanya merestui hubungan mereka, bukan malah membuat ia dan Karin semakin menjauh.“Kau bawa Karin kemana Arlan?” tanya Billy dengan tegas. Jantungnya sakit sekali saat ini, Arlan keras kepala dan tidak menurut. Diam-diam mereka masih bersama. “Aku gak ngerti Pa, aku di rumah, aku gak tau Karin di mana, aku sudah pulangkan dia ke apartemen, dia tinggal de

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 284 Basahi Milikku

    “Kau bersama Karin, Arlan?” Sudah Arlan duga, setelah Renata menghubungi Papa nya, sudah pasti Papanya akan marah karena Arlan bersama dengan Karin, berduaan saja dan ini sudah malam. “Ya,” jawab Arlan. Arlan meminta Karin untuk diam dan tidak bersuara. “Pulangkan Karin!” Arlan tidak mau, ia sudah berjanji dengan Karin malam ini mereka ingin bersama. Tidak ada yang salah dengan hubungan mereka, mereka bahkan tidak sedarah.“Halo Kek, Karin di jalan dengan dr. Arlan, ini sudah mau pulang. Kakek kenapa marah-marah? Om Arlan jagain Karin kok,” jawab Karin dengan begitu santai padahal Kakek Billy sudah tahu kelakuan mereka berdua. “Pulanglah Sayang atau kau ingin Kakek menghubungi Xavier untuk menjemputmu?” Karin melihat wajah Arlan yang kesal. Kenapa harus panggil pria itu? Karin sakit saat ini dan yang diperlukan Karin itu seorang dokter yang mengerti tubuhnya.“Oke Karin pulang sekarang,” jawab Karin bohong. Karin hanya tidak ingin masalah ini panjang. Toh, Kakek Billy juga tida

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 283 Tenggelam Lebih Dalam

    Tidak ada CCTV di dalam rumah Renata, Renata hanya menggunakan CCTV untuk bagian luar rumahnya. Pembantunya juga sudah keluar untuk izin pulang tadi, sedangkan di rumah ini Renata tinggal bersama anaknya. Arlan tidak melihat pengasuh anaknya dan bayi itu. “Ahhh, dokter!” Karin panik, ia melihat ke arah kamar Renata, Karin takut Renata melihat kalau Arlan membawanya duduk di pangkuannya sekarang. “Wanita itu sengaja mandi lama supaya aku menginap, aku sudah tidak tahan melihat tubuhmu Sayang,” bisik Arlan sambil mengusap pinggul Karin dan mencengkramnya dengan kuat. “Ahhh sakit, kau mau apa, dok?” tanya Karin panik. Arlan menyingkap dress mini Karin ke atas, menutup paha Karin dengan jas dokternya dan mendorong dalaman renda hitam itu sampai ke lantai. “Dia mandi, dia tidak akan melihat apa yang kita lakukan.” Karin merasa ada benda yang begitu keras menahan bagian bawahnya, menggesek pelan menyentuh area sensitifnya yang sudah basah. Arlan memposisikan miliknya yang sudah mengera

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 282 Tidak Tahan Lagi

    Land Rover Range Rover 3.0 LWB SV terparkir bebas di cafe tempat Karin nongkrong, katanya tadi sudah dekat, ternyata Karin yang lebih dulu sampai, ia juga sudah menghabiskan secangkir kopi pahit tapi Arlan dan Renata belum juga sampai. Wajah Karin mendadak masam saat melihat kedua orang itu berjalan ke arahnya dan yang membuat Karin muak adalah tangan Renata yang tidak henti bergelayut di lengan kekar Arlan. “Sorry, Karin. Tadi aku minta temenin Arlan untuk membeli kue, anakku suka sekali kue strawberry itu,” ucap Renata dengan senyumnya yang begitu lebar. Seakan puas sekali membuat Karin menunggu lama. “Gak apa dok,” jawab Karin berusaha sesantai mungkin tetapi tidak bisa karena wajahnya tidak bisa menipu, ia benar-benar kesal. “Kita langsung saja?” tanya Arlan sambil melepaskan tangan Renata. Arlan tidak suka melihat tatapan Karin yang jengah. “Hemm.” Karin berjalan di belakang sedangkan Renata terus mengekori Arlan. Sampai di mobil, Arlan membukakan pintu untuk Karin di belaka

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 281 Kunjungan Dadakan

    “Buat apa aku nanya itu? Apa Mami gak curiga?” tanya Karin sambil melirik ke Silvi, Silvi yang membawa mobilnya dan mengantarnya pulang ke rumah. “Makanya, aku juga lagi mikir itu,” jawab Silvi. Karin berpikir keras, ia juga bingung memberikan alasan yang tepat. Apa ia samakan saja seperti saat ia bertanya pada Kakek Billy.Namun, semua itu seharusnya sudah jelas untuk Karin. “Udahlah tanya biasa aja, jangan kelihatan banget kalau kamu pulang cuma mau menanyakan itu saja,” jawab Silvi. Karin mengangguk. Setelah sampai ke rumahnya, Karin langsung turun tapi Silvi tidak, ia tidak mau mampir, takut ketemu dengan Papi Rion, lebih takut lagi kalau Papi Rion memanfaatkan tubuhnya. Silvi tidak mau dijadikan budak ranjang oleh Papi Rion. Seperti biasa, rumah sepi. Tidak ada penghuni, mungkin Mami Kaina juga belum pulang. Saat Karin menuju kamar Maminya, tidak ada tanda-tanda ada orang tuanya. “Bik, Mami ada atau Papi?” tanya Karin saat melihat ada pembantunya di dapur. “Nyonya pergi de

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status