LOGINSuara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu.
Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian seperti ini adalah sebuah kesalahan. Karin menelan ludah. Ia melepaskan kenop pintu, berbalik, dan setengah berlari menyusuri lorong menuju ruang ganti koas. "Ahhh, tidakkk! Aku harus ganti atau aku mati malam ini." Karin bicara sambil berlari dengan napas yang terengah-engah. Tiba di depan loker, napas Karin memburu. Jari-jarinya bergerak cepat menarik ritsleting rok mini itu dan membiarkannya luruh ke lantai. "Sialan," gerutu Karin. "Dia pasti marah karena aku kabur." Karin meraih rok kain selutut dari dalam loker dan memakainya. Arlan jelas akan mempermasalahkan keterlambatannya, tetapi itu lebih baik daripada pria itu mendapat celah baru untuk menghakiminya. “Gak jadi ke ruangan dr. Arlan?” tanya Silvi yang ternyata belum berjaga dan masih sibuk dengan ponselnya, Silvi pasti sedang telponan dengan Dokter dari rumah sakit sebelah dan bersembunyi di ruang istirahat koas. “Belum… tadi aku pakai rok mini. Seharian ini aku di rumah Tanteku, ada pesta anaknya. Dari sana aku langsung jaga, malas ganti. Biasanya juga oke aja, belum pernah ada yang tegur,” jawab Karin dengan napas memburu dan malu-malu sambil melipat bibirnya. “Terus, kenapa sekarang gantinya? dr. Arlan yang minta?” tanya Silvi. Karin hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya dan Silvi melirik Karin dengan menarik sebelah alisnya ke atas seolah bingung dengan sahabatnya ini. “Rin, klinik Konsulen itu, kalau cuma berdua aja, itu ngeri banget loh. Kamu gak takut dr. Arlan minta yang macem-macem sama kamu?” Semua koas juga tahu kalau Klinik pribadi Konsulen di malam hari itu zona merah. Karin melirik cepat wajah Silvi dan tertawa. “Gak mungkin Sil, ini dr. Arlan bukan dr. Mikael. Semua orang juga tau kalau dr. Arlan gak tertarik dengan cewek. Dia dingin dan gak ada perasaan,” jawab Karin setelah selesai menutup lokernya tapi Karin sebenarnya juga meragukan itu. "Yaudah terserah kamu, yang penting udah aku ingatin," jawab Silvi dengan wajah kesalnya. "Iya makasih deh, Sayang. Udah ah aku buru-buru." Karin berlari lagi dengan cepat menuju klinik pribadi dr. Arlan yang memang tidak jauh dari ruang istirahat mereka. Karin tahu kalau dia harus kembali sebelum dr. Arlan emosi padanya. Karin bisa pastikan, setelah ini Arlan pasti akan marah dengan suaranya yang menggelegar. Jangan lupakan, Karin sudah terlambat lima belas menit dari jadwal pertemuan mereka. Mengingat dr. Arlan adalah Dokter yang paling disiplin, entah apa yang akan Karin dapatkan setelah ini. Pasti caci dan makian. “Permisi, Dok!” Karin menarik napasnya dalam sambil melirik Arlan, Arlan sibuk melihat laporan di atas mejanya. Arlan tidak bergeming bahkan terlihat begitu tidak suka saat Karin mendekatinya dan berdiri di depannya. Cukup lama dia menghilang setelah mengetuk pintu, mana mungkin Arlan tidak penasaran kemana dia pergi. Kok, dia gak nanya-nanya, gumam Karin dalam hatinya. Karin menutup matanya, meremas tangannya yang dingin dan mengontrol debaran jantungnya supaya kembali seperti semula. Ruangan Arlan lebih horor dari ruangan konsulen yang lain. Padahal ruangan Arlan sangat rapi, bersih dan wangi. “Ah, harum banget,” gumam Karin dalam hati. Karin melirik Arlan dan menatap keseluruhan wajah tampan Dokter itu. Di dalam ruangan, Arlan seperti laki-laki modern dengan kemeja yang digulung, rambut hitam yang lebat, hidung mancung dan bibir tipis yang menggoda. Karin jadi ingat bagaimana panasnya dr. Mikael bercinta dengan koas itu dan kedekatan mereka sebelumnya. “Ngapain aku mikirin dr. Arlan seperti ini.” Karin menggeleng dan menggigit bibir bawahnya dalam. “Dokter, tadi saya ke toilet,” ucap Karin setelah lima menit tanpa suara. Karin pikir dia harus menjelaskan sesuatu karena Arlan juga pasti ingin tahu. “Oh!” Arlan mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli Karin mau duduk atau berdiri. Karin menelan salivanya dan semakin canggung, ruangan yang dingin malah terasa panas. “Boleh saya duduk, Dok?” tanya Karin pelan. Karin tahu kalau dia tidak sopan tetapi dia sudah sepuluh menit berdiri tanpa kejelasan dan hanya menatap kesibukan Arlan. Arlan dengan tawanya yang mengejek seketika menatap Karin sambil melipat tangannya di dada. Koas yang ada di hadapannya ini, terkenal dengan kecantikannya tetapi sombong dan tidak ramah. Sudah banyak Konsulen yang terpikat pada pesona Karin yang sulit sekali untuk di dekati. Seolah-olah Karin punya batas yang memang tidak boleh diganggu oleh siapapun. Wajahnya yang terkenal jutek membuat Konsulen juga takut bermain kata nakal dengannya. “Tidak boleh!” Arlan serius mengatakan itu sambil berdiri ke arah pintu ruangannya. Klik! Arlan mengunci pintu ruangannya, memastikan tirai di ruangannya tertutup rapat. Saat Arlan berbalik dan menatap lekat wajahnya, tubuh Karin menegang. Begitu pria itu mengambil satu langkah mendekat, insting bertahannya menyala. Karin gemetar. Napasnya mulai memburu, bersiap menyambut serangan panik yang biasa meremas dadanya. Ia memundurkan langkah, merapatkan punggung ke lemari file. Arlan mengernyitkan keningnya melihat tingkah Karin yang seolah begitu takut melihatnya. “Kau tau kesalahanmu?” tanya Arlan dengan tegas tetapi dengan suara yang tidak melengking. Hanya pertanyaan biasa cuma terdengar menakutkan. “Tau, dok.” Karin berhenti di lemari file dr. Arlan. Dia sudah tidak bisa mundur lagi meskipun Arlan begitu dekat dengannya. Karin ingin berteriak rasanya, dia merasa sangat sesak, tidak bisa bernapas dan takut. Bukan hanya takut tapi gelisah, gelisah yang tidak pernah Karin mengerti. Seharusnya saat dia masuk kedokteran, Karin jujur dengan penyakitnya tetapi kalau dia jujur, bukannya dia tidak akan lulus. “Kau belum pernah melakukan itu sebelumnya?” tanya Arlan dengan santai dan tangan yang dilipat. Arlan mengintimidasi Karin sedekat ini. Arlan bahkan bisa melihat butiran keringat yang jatuh di pelipisnya. Karin terlihat seksi di depannya dengan tampilan seperti itu. “Su-sudah pernah, dok.” Karin berbohong, dia tidak pernah melakukan pemeriksaan bimanual. Karin selalu melewatkannya dan mencari cara agar dia hanya melihat saja tanpa harus menyentuh. “Lalu, kenapa tidak kau lakukan? Kau jijik? Takut?” Arlan meremehkan. Seorang Dokter tidak boleh jijik apalagi takut. Ini adalah bagian dari tugas dan profesional kerja. “Ti-tidak,” jawab Karin terbata-bata. Karin bukan gagap tapi Arlan begitu dekat dengannya bahkan hangat napas Arlan saja bisa dirasakan oleh Karin. “Ada masalah denganmu?” tanya Arlan sambil memperhatikan Karin. Karin tidak sanggup menatapnya. Keringatnya sudah tidak normal, tangannya juga gemetar. “Karin? Aku sedang bertanya denganmu. Ada yang salah?” Arlan menyentuh kening Karin dan Karin terkejut bahkan terperosok ke lantai. “Aku menakutimu?” tanya Arlan bingung. Karin seperti memiliki gangguan. Arlan bisa melihatnya kalau ini penyakit. Dia seperti terkena serangan panik yang luar biasa hebatnya. Persis sama saat Karin ingin menyentuh wanita di ruangan gawat darurat tadi. “Maaf dok,” ucap Karin berdiri dan mengambil tisu di meja Arlan lalu mengusap keringatnya. “Kau sakit?” tanya Arlan. “Dokter, aku mau lulus. Tolong aku!” Akhirnya Karin beranikan diri mengatakan itu pada Arlan. Dia sakit, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan lagi. Setidaknya salah satu Konsulen dan termasuk orang yang akan memberikan nilai padanya tahu tentang traumanya ini. Arlan mengambil air mineral dan dia berikan pada Karin. “Duduk dan bicarakan padaku permasalahanmu!” Karin menurut dengan patuh. Dia duduk dengan wajah yang cemas sambil menatap Arlan dengan lembut. Sikap juteknya luntur saat ini karena Karin tahu dia membutuhkan sandaran yang bisa menolongnya saat ini. “Dokter, aku Haphephobia.” Arlan terkejut luar biasa saat mendengarnya dan tebakan Arlan benar-benar, Karin memiliki keanehan. Saat tangan Karin gemetar, Arlan menyentuhnya dengan lembut. Karin bingung dengan semua ini. Sentuhan Arlan, tidak membuatnya panik justru menenangkan. "Lepaskan snelli mu. Mulai malam ini, di ruangan ini, tidak ada koas dan konsulen“Ngebut, Sayang! Ngebuuut! Anggap aja kamu lagi balapan di sirkuit F1!” teriakKarin heboh dari kursi penumpang, tangannya gemetaran menahan kaca rias di sun visor mobil seraya mencoba mengaplikasikan lipstik yang berulang kali mencong karena guncangan jalan.“Aduh, ya ampun.”Arlan fokus menatap jalanan, sesekali melirik spion dan menginjak pedal gas lebih dalam, meliuk-liuk di antara kemacetan kota dengan gesit.“Ini sudah kecepatan maksimal di jalur kota, Sayang. Kalau lebih cepat lagi, kita bukan sampai di tempat presentasi, tapi di kantor polisi,” sahut Arlan tenang namun tetap memacu mobilnya dengan cekatan.Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt!Ponsel di pangkuan Karin tidak berhenti bergetar.Layarnya terus menyala menampilkan rentetan pesan masuk dari Silvi.Karin melirik layar itu dengan frustasi.“Karin, kamu di mana sih? Tiga urutan lagi nama kamu dipanggil!”Padahal musuhan! Tapi, Karin tetap menja
“Mau lagi?” Arlan berbisik di ceruk leher Karin. Ciuman pembuktian di ruang makan yang semula diniatkan Karin hanya untuk meredam cemburu Arlan, justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.Sentuhan lembut itu menyulut kembali api gairah yang sempat padam semalam.Arlan, yang dasarnya sudah terlanjur posesif dan begitu tergila-gila dengan tubuh Karin, langsung kehilangan kendali akal sehatnya.Rencana awal mereka yang seharusnya pergi ke rumah sakit pagi ini menguap begitu saja ke udara.Arlan memutus ciuman sejenak hanya untuk meraup napas, menatap Karin dengan tatapan gelap penuh damba.“Rumah sakitnya kita tunda siang nanti,” bisik Arlan rendah, suaranya serak dan sarat akan gairah yang kembali tersulut.Sebelum Karin sempat memprotes atau mengingatkan jadwal mereka, Arlan sudah menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Karin. Membungkam mulut Karin dengan cumbuannya.Ia mengangkat tubuh istrinya ya
Setelah selesai berpakaian, Karin melangkah ke ruang makan dengan langkah yang masih sedikit tertatih karena sisa pegal semalam. “Hemm, enak banget.” Puji Karin dengan tulus. Di atas meja sudah tersaji nasi goreng spesial lengkap dengan telur mata sapi dan potongan ayam, semuanya disiapkan oleh pembantu setia mereka. Karin memang sama sekali tidak bisa memasak bahkan untuk sekedar merebus telur, tipe istri manja yang beruntung karena Arlan tidak pernah mempermasalahkan hal itu sedikit pun bagi Arlan, kenyamanan Karin adalah yang utama. Arlan duduk di hadapannya sambil menyesap kopi hitam, menatap sang istri dengan senyuman tipis yang sarat akan sisa kemesraan pagi ini. Karin menyuap sesendok nasi goreng, lalu menatap Arlan dengan ekspresi serius yang mendadak dibuat-buat, seperti seorang anak kecil yang ingin mengadukan sebuah rahasia besar. “Sayang,” panggil Karin, menaruh sendoknya dan mencondongkan tubuh ke depan. “Aku mau buat pengakuan dosa.” Arlan menaikkan satu alisnya,
“Eugh!”Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang tampak seperti kapal pecah setelah badai semalam.Karin perlahan membuka matanya, mengerang pelan saat merasakan seluruh persendiannya protes. Tubuhnya terasa remuk dan ada rasa pegal yang tertinggal di area pinggangnya.Di sampingnya, Arlan masih tertidur lelap dengan posisi miring, menampilkan punggung tegapnya yang dipenuhi beberapa bekas cakaran tipis, ulah Karin sendiri saat kehilangan kendali semalam.Karin menarik selimut tebal sampai ke dagu, menatap wajah suaminya yang tampak begitu tenang saat tidur. Sisa-sisa kejadian semalam mendadak berputar di otaknya, membuat pipinya langsung memanas.Sambil memegangi pinggangnya yang encok, Karin membatin dalam hati, bersumpah tidak akan pernah lagi mengejek 'aset' suaminya itu kecil.Arlan benar-benar tidak memberi ampun. Pria yang biasanya lempeng dan kaku itu berubah menjadi monster yang luar biasa perkasa di ranjang, membuat Karin yang tadinya te
“Lepasin, Sayang! Hahaha!”Karin memekik di antara tawa renyahnya, kedua kakinya menjuntai pasrah saat tubuhnya mendadak melayang, digotong persis seperti sekarung beras di atas bahu kokoh suaminya.Arlan mendengus, melangkah lebar meninggalkan area toilet tempat istrinya itu sempat barikade diri.Plak!Sebuah tepukan gemas mendarat di bokong Karin sebagai hukuman.“Aduh! Sakit, Sayang!” protes Karin, walau sama sekali tidak terdengar kesakitan. Ia justru semakin tertawa puas di dalam gendongan, memegangi perutnya yang mulai kaku karena terlalu banyak terbahak.“Lagian kamu makin hari makin jahil, ya. Mau kabur dari rumah tapi sembunyinya di kamar tamu. Itu namanya pindah tidur, Sayang, bukan minggat,” gerutu Arlan sambil menurunkan istrinya dengan hati-hati ke atas ranjang.Karin langsung berguling, menatap wajah Arlan yang mencoba pasang tampang datar, meski telinganya sudah memerah.“Ya lagian kamunya lempeng terus kayak jalan tol! Aku kan butuh hiburan malam-malam gini.”Arlan ber
Arlan melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi senyap.Keningnya berkerut!Sebagai sesama dokter, ia tahu persis jadwal Karin. Malam ini istrinya tidak ada jadwal jaga koas, tidak ada panggilan darurat di rumah sakit dan tidak ada pesan izin keluar rumah.“Sayang?” panggil Arlan, meletakkan kunci mobilnya di meja depan.Nihil.Rumah itu terasa seperti rumah hantu, bersih, rapi, tapi tak berpenghuni. padahal Arlan sudah bela-belain mengosongkan jadwal dengan pasiennya malam ini hanya demi memeluk istri kecilnya itu dan mengajaknya makan malam romantis.Dengan langkah cepat, ia menuju kamar utama.Harapannya untuk melihat Karin sedang rebahan di ranjang langsung pupus saat matanya menangkap secarik kertas di atas nakas.Arlan berjalan mendekat, mengambil kertas itu dan membacanya.“Arlan, aku pergi. Burung kamu kecil.”Arlan melongo.Ia membaca tulisan tangan Karin yang berantakan khas dokter itu sampai tiga kali.Detik berikutnya, ia langsung memeriksa lemari pakaian. Kosong melompong
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







