Home / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 3 Pelajaran Menyentuh

Share

Bab 3 Pelajaran Menyentuh

last update publish date: 2026-04-08 17:00:47

Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu.

Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian seperti ini adalah sebuah kesalahan.

Karin menelan ludah. Ia melepaskan kenop pintu, berbalik, dan setengah berlari menyusuri lorong menuju ruang ganti koas.

"Ahhh, tidakkk! Aku harus ganti atau aku mati malam ini." Karin bicara sambil berlari dengan napas yang terengah-engah.

Tiba di depan loker, napas Karin memburu. Jari-jarinya bergerak cepat menarik ritsleting rok mini itu dan membiarkannya luruh ke lantai.

"Sialan," gerutu Karin. "Dia pasti marah karena aku kabur."

Karin meraih rok kain selutut dari dalam loker dan memakainya. Arlan jelas akan mempermasalahkan keterlambatannya, tetapi itu lebih baik daripada pria itu mendapat celah baru untuk menghakiminya.

“Gak jadi ke ruangan dr. Arlan?” tanya Silvi yang ternyata belum berjaga dan masih sibuk dengan ponselnya, Silvi pasti sedang telponan dengan Dokter dari rumah sakit sebelah dan bersembunyi di ruang istirahat koas.

“Belum… tadi aku pakai rok mini. Seharian ini aku di rumah Tanteku, ada pesta anaknya. Dari sana aku langsung jaga, malas ganti. Biasanya juga oke aja, belum pernah ada yang tegur,” jawab Karin dengan napas memburu dan malu-malu sambil melipat bibirnya.

“Terus, kenapa sekarang gantinya? dr. Arlan yang minta?” tanya Silvi.

Karin hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya dan Silvi melirik Karin dengan menarik sebelah alisnya ke atas seolah bingung dengan sahabatnya ini.

“Rin, klinik Konsulen itu, kalau cuma berdua aja, itu ngeri banget loh. Kamu gak takut dr. Arlan minta yang macem-macem sama kamu?”

Semua koas juga tahu kalau Klinik pribadi Konsulen di malam hari itu zona merah.

Karin melirik cepat wajah Silvi dan tertawa.

“Gak mungkin Sil, ini dr. Arlan bukan dr. Mikael. Semua orang juga tau kalau dr. Arlan gak tertarik dengan cewek. Dia dingin dan gak ada perasaan,” jawab Karin setelah selesai menutup lokernya tapi Karin sebenarnya juga meragukan itu.

"Yaudah terserah kamu, yang penting udah aku ingatin," jawab Silvi dengan wajah kesalnya.

"Iya makasih deh, Sayang. Udah ah aku buru-buru." Karin berlari lagi dengan cepat menuju klinik pribadi dr. Arlan yang memang tidak jauh dari ruang istirahat mereka.

Karin tahu kalau dia harus kembali sebelum dr. Arlan emosi padanya. Karin bisa pastikan, setelah ini Arlan pasti akan marah dengan suaranya yang menggelegar.

Jangan lupakan, Karin sudah terlambat lima belas menit dari jadwal pertemuan mereka. Mengingat dr. Arlan adalah Dokter yang paling disiplin, entah apa yang akan Karin dapatkan setelah ini. Pasti caci dan makian.

“Permisi, Dok!”

Karin menarik napasnya dalam sambil melirik Arlan, Arlan sibuk melihat laporan di atas mejanya. Arlan tidak bergeming bahkan terlihat begitu tidak suka saat Karin mendekatinya dan berdiri di depannya.

Cukup lama dia menghilang setelah mengetuk pintu, mana mungkin Arlan tidak penasaran kemana dia pergi.

Kok, dia gak nanya-nanya, gumam Karin dalam hatinya.

Karin menutup matanya, meremas tangannya yang dingin dan mengontrol debaran jantungnya supaya kembali seperti semula.

Ruangan Arlan lebih horor dari ruangan konsulen yang lain. Padahal ruangan Arlan sangat rapi, bersih dan wangi.

“Ah, harum banget,” gumam Karin dalam hati. Karin melirik Arlan dan menatap keseluruhan wajah tampan Dokter itu. Di dalam ruangan, Arlan seperti laki-laki modern dengan kemeja yang digulung, rambut hitam yang lebat, hidung mancung dan bibir tipis yang menggoda. Karin jadi ingat bagaimana panasnya dr. Mikael bercinta dengan koas itu dan kedekatan mereka sebelumnya.

“Ngapain aku mikirin dr. Arlan seperti ini.” Karin menggeleng dan menggigit bibir bawahnya dalam.

“Dokter, tadi saya ke toilet,” ucap Karin setelah lima menit tanpa suara. Karin pikir dia harus menjelaskan sesuatu karena Arlan juga pasti ingin tahu.

“Oh!”

Arlan mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli Karin mau duduk atau berdiri.

Karin menelan salivanya dan semakin canggung, ruangan yang dingin malah terasa panas.

“Boleh saya duduk, Dok?” tanya Karin pelan. Karin tahu kalau dia tidak sopan tetapi dia sudah sepuluh menit berdiri tanpa kejelasan dan hanya menatap kesibukan Arlan.

Arlan dengan tawanya yang mengejek seketika menatap Karin sambil melipat tangannya di dada.

Koas yang ada di hadapannya ini, terkenal dengan kecantikannya tetapi sombong dan tidak ramah. Sudah banyak Konsulen yang terpikat pada pesona Karin yang sulit sekali untuk di dekati. Seolah-olah Karin punya batas yang memang tidak boleh diganggu oleh siapapun.

Wajahnya yang terkenal jutek membuat Konsulen juga takut bermain kata nakal dengannya.

“Tidak boleh!” Arlan serius mengatakan itu sambil berdiri ke arah pintu ruangannya.

Klik!

Arlan mengunci pintu ruangannya, memastikan tirai di ruangannya tertutup rapat.

Saat Arlan berbalik dan menatap lekat wajahnya, tubuh Karin menegang. Begitu pria itu mengambil satu langkah mendekat, insting bertahannya menyala. Karin gemetar.

Napasnya mulai memburu, bersiap menyambut serangan panik yang biasa meremas dadanya. Ia memundurkan langkah, merapatkan punggung ke lemari file.

Arlan mengernyitkan keningnya melihat tingkah Karin yang seolah begitu takut melihatnya.

“Kau tau kesalahanmu?” tanya Arlan dengan tegas tetapi dengan suara yang tidak melengking. Hanya pertanyaan biasa cuma terdengar menakutkan.

“Tau, dok.” Karin berhenti di lemari file dr. Arlan. Dia sudah tidak bisa mundur lagi meskipun Arlan begitu dekat dengannya.

Karin ingin berteriak rasanya, dia merasa sangat sesak, tidak bisa bernapas dan takut. Bukan hanya takut tapi gelisah, gelisah yang tidak pernah Karin mengerti.

Seharusnya saat dia masuk kedokteran, Karin jujur dengan penyakitnya tetapi kalau dia jujur, bukannya dia tidak akan lulus.

“Kau belum pernah melakukan itu sebelumnya?” tanya Arlan dengan santai dan tangan yang dilipat. Arlan mengintimidasi Karin sedekat ini. Arlan bahkan bisa melihat butiran keringat yang jatuh di pelipisnya.

Karin terlihat seksi di depannya dengan tampilan seperti itu.

“Su-sudah pernah, dok.”

Karin berbohong, dia tidak pernah melakukan pemeriksaan bimanual. Karin selalu melewatkannya dan mencari cara agar dia hanya melihat saja tanpa harus menyentuh.

“Lalu, kenapa tidak kau lakukan? Kau jijik? Takut?” Arlan meremehkan. Seorang Dokter tidak boleh jijik apalagi takut. Ini adalah bagian dari tugas dan profesional kerja.

“Ti-tidak,” jawab Karin terbata-bata. Karin bukan gagap tapi Arlan begitu dekat dengannya bahkan hangat napas Arlan saja bisa dirasakan oleh Karin.

“Ada masalah denganmu?” tanya Arlan sambil memperhatikan Karin. Karin tidak sanggup menatapnya. Keringatnya sudah tidak normal, tangannya juga gemetar.

“Karin? Aku sedang bertanya denganmu. Ada yang salah?” Arlan menyentuh kening Karin dan Karin terkejut bahkan terperosok ke lantai.

“Aku menakutimu?” tanya Arlan bingung. Karin seperti memiliki gangguan. Arlan bisa melihatnya kalau ini penyakit. Dia seperti terkena serangan panik yang luar biasa hebatnya.

Persis sama saat Karin ingin menyentuh wanita di ruangan gawat darurat tadi.

“Maaf dok,” ucap Karin berdiri dan mengambil tisu di meja Arlan lalu mengusap keringatnya.

“Kau sakit?” tanya Arlan.

“Dokter, aku mau lulus. Tolong aku!” Akhirnya Karin beranikan diri mengatakan itu pada Arlan.

Dia sakit, dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan lagi. Setidaknya salah satu Konsulen dan termasuk orang yang akan memberikan nilai padanya tahu tentang traumanya ini.

Arlan mengambil air mineral dan dia berikan pada Karin.

“Duduk dan bicarakan padaku permasalahanmu!” Karin menurut dengan patuh. Dia duduk dengan wajah yang cemas sambil menatap Arlan dengan lembut. Sikap juteknya luntur saat ini karena Karin tahu dia membutuhkan sandaran yang bisa menolongnya saat ini.

“Dokter, aku Haphephobia.”

Arlan terkejut luar biasa saat mendengarnya dan tebakan Arlan benar-benar, Karin memiliki keanehan.

Saat tangan Karin gemetar, Arlan menyentuhnya dengan lembut. Karin bingung dengan semua ini. Sentuhan Arlan, tidak membuatnya panik justru menenangkan.

"Lepaskan snelli mu. Mulai malam ini, di ruangan ini, tidak ada koas dan konsulen

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 689 Modus

    Tok... Tok…Karin mengetuk pintu UKS dari luar dengan ketukan yang cukup keras.“Sialan!” umpat Silvi di dalam hati.Jantungnya hampir saja melompat keluar dari dada.Baru juga mau mulai menikmati puncaknya, ketukan itu merusak segalanya.Karin benar-benar tidak mengerti situasi kalau dirinya sedang melancarkan modus tingkat dewa dengan Pak Guru tampan ini.“Dokter Silvi, kita nungguin kamu aja nih. Sudah waktunya pulang!” teriak Karin dari balik pintu lorong sekolah.Silvi mendesah kecewa dalam hati.“Hiks! Padahal tinggal sedikit lagi terapi kesehatan palsu ini berhasil.” lirih Silvi dalam hati.“Okey, Dok! Tunggu sebentar!” sahut Silvi dengan nada suara yang dibuat senormal mungkin.Dengan gerakan kilat dan panik, Silvi bergegas merapikan dirinya sendiri. Ia kemudian membantu Revan memakaikan kembali celana pendek dan celana panjang olahraganya.Tangannya bergerak super cepat, takut jika ada orang lain yang mendadak mendobrak masuk lalu melihat tingkah mereka dan akhirnya berujung

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 688 Jangan Ditahan, Ya!

    “Ayo masuk, Pak Guru!”Ternyata, Pak Guru olahraga yang baru Silvi ketahui namanya adalah Revan ini benar-benar mengira ia akan mendapatkan suntikan medis sungguhan di dalam UKS.Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan bernuansa putih itu, Silvi langsung berbalik.Dengan gerakan cepat dan senyap, ia menutup pintu rapat-rapat lalu memutar kunci dari dalam.Sebagai wanita yang sudah sangat berpengalaman dalam urusan seperti ini, Silvi sengaja menguncinya agar tidak ada guru atau murid lain yang tiba-tiba datang mengacaukan suasananya.Revan yang berdiri di dekat ranjang periksa tentu tidak menyadari siasat licik di balik senyuman manis sang dokter.“Kenapa pintunya dikunci, Bu Dokter?”tanya Revan dengan raut wajah yang mulai panik. Rasa gugup terlihat jelas dari caranya meremas jemarinya sendiri.Silvi berbalik, melangkah mendekat dengan senyuman yang teramat lembut dan menenangkan.“Supaya gak ada orang lain yang masuk, Pak Guru. Nah, sekarang Pak Guru buka celananya dulu ya, saya mau

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 687 Mau Disuntik Juga?

    “Hari ini pasti capek banget,” ucap Karin melihat betapa banyak pekerjaan yang harus ia lakukan.Pagi itu di Puskesmas, suasana tampak sibuk. Karin dan Silvi sedang merapikan peralatan medis ke dalam tas jinjing.Hari ini mereka menjadwalkan pemeriksaan kesehatan rutin untuk anak-anak di salah satu Sekolah Dasar setempat.Sejak tadi bersiap, Karin memperhatikan ada yang berbeda dari sahabatnya. Silvi terus saja menyenandungkan lagu dengan binar mata yang cerah.“Kamu kok senyum-senyum aja dari tadi? Kayak mau ketemu gebetan aja,” tebak Karin sambil memasukkan botol alkohol ke dalam kotak.Silvi terkekeh renyah.Sahabatnya itu memang selalu tahu apa yang sedang bergejolak di isi hatinya.Hubungan Silvi dengan Aldy kini sudah berubah. Sejak istri sah Aldy tahu perselingkuhan mereka, Aldy hanya bisa datang menemuinya seminggu sekali.Kondisi ini justru memberi Silvi napas baru. Ia merasa bebas untuk berkenalan dengan pria manapun sekarang, asalkan Aldy tidak mengetahuinya.Ditambah lagi,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 686 Bisa Cek Area Intimku

    “Apa yang membuatmu datang ke kantorku?” tanya Arlan langsung. Suaranya terdengar dingin dan penuh selidik.Arlan tahu pasti, Moreno punya tujuan tersendiri di balik manuver gilanya ini. Pria itu tidak akan membuang-buang uang jutaan dolar hanya untuk investasi biasa.Moreno hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai.“Apa aku tidak boleh datang ke sini? Bukankah kau lihat sendiri aku punya lima belas persen saham? Sudah tentu aku punya hak atas satu ruangan di rumah sakit ini, bukan?”Arlan mengepalkan tangan di bawah meja. Apa yang Moreno katakan itu memang benar.Secara hukum korporasi, dengan kepemilikan saham sebesar itu, ia berhak mendapatkan fasilitas ruangan khusus.Tapi, untuk apa semua itu jika Moreno sendiri tidak bekerja sebagai praktisi medis atau staf manajemen di sini?“Aku hanya ingin tahu bagaimana rumah sakit ini berjalan,” tambah Moreno, melirik berkas di depannya dengan tatapan meremehkan.Arlan menatap Moreno dengan pandangan sinis

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 685 Terpaksa!

    Setelah menyemprotkan parfum baru ke seluruh tubuhnya, Arlan merasa sangat percaya diri. Ia yakin wewangian premium yang ramah ibu hamil ini tidak akan membuat Karin mual lagi.“Pasti setelah ini kamu peluk dan cium aku.”Malam itu, dengan langkah tegap dan dada membusung, Arlan mulai beraksi. Ia sengaja berjalan petantang-petenteng mondar-mandir di lorong depan kamar Karin.Kebetulan, pintu kamar istrinya sedang terbuka lebar. Arlan sengaja memperlambat langkahnya, berharap Karin melihat ketampanannya dan langsung berlari memeluknya karena rindu.Namun, yang terjadi justru di luar ekspektasi.Begitu aroma parfum itu tertiup angin dan masuk ke kamarnya, wajah Karin langsung memucat karena takut.Rasa mual yang teramat sangat mendadak menyengat ulu hatinya. Karin tidak sanggup menahan gejolak di perutnya.Tanpa sempat menyapa suaminya, ia langsung berbalik dan lari terbirit-birit menuju wastafel di dalam kamar.Huekk!Mendengar suara itu, Arlan tertegun di ambang pintu. Karena Karin ta

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 684 Ada Yang Lebih Eksklusif?

    Malam ini, sekat yang memisahkan mereka bukan lagi sekadar jarak satu meter di atas kasur, melainkan dinding beton yang tebal.Setelah pulang dari rumah sakit, Arlan terpaksa mengalah dan pindah ke kamar tamu yang berada tepat di seberang kamar utama mereka.Dari balik pintu yang sengaja dibuka sedikit, Arlan hanya bisa menatap bayangan Karin yang sedang bersiap untuk tidur.“Sayang, aku kangen kamu,” bisik Arlan lirih dari ambang pintunya sendiri. Suaranya terdengar menyedihkan, menggantung di lorong sepi yang memisahkan kamar mereka.“Apa kita harus beda kamar seperti ini?”Karin berjalan mendekati pintunya, memandang Arlan dari kejauhan dengan tatapan bersalah.Hatinya perih melihat suaminya seperti anak ayam yang kehilangan induk. Ia juga tersiksa.Namun, setiap kali Arlan melangkah mendekat ke kamarnya, indra penciuman Karin langsung bereaksi.Rasa mual itu langsung naik ke dada, siap memaksanya muntah hebat hingga lemas.“Sabar ya, Sayang. Aku juga kangen banget sama kamu,” sahu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 1 Sentuhan Pertama

    “Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 7 Godaan Kecil

    “Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 6 Rasanya Enak

    Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status