LOGINTiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun.
“Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,” bisik Arlan tegas, tapi itu seperti perintah yang tidak bisa ditolak oleh Karin. Karin menarik napas dalam, menelan salivanya dan dengan dua jarinya pelan-pelan masuk ke inti dalam wanita itu tapi Karin malah berkeringat hebat dan menggelengkan kepalanya. “Dok,” bisik Karin dengan suara serak dan menatap sayu mata Arlan. dr. Arlan langsung mengambil alih prosedur dengan cepat dan presisi, menenangkan pasien dalam hitungan detik. “Ngak berguna,” gumam Arlan sambil melirik Karin yang mematung disampingnya, setelah menyelesaikan pemeriksaan dan membuat pendarahan pasien terkendali. Saat mencuci tangan, tanpa meninggikan suara sedikit pun, Arlan masih menatap tajam tangan koasnya yang masih bergetar di udara. "Kau menyentuh pasien seolah tubuh mereka adalah sesuatu yang menjijikkan. Tangan pengecut itu tidak punya tempat di departemen saya.” Arlan berbicara dengan tegas di depan Karin, Karin hanya menunduk karena tahu ia salah dan malam ini, tidak! Bukan hanya malam ini, ia akan menjadi gosip di rumah sakit karena tidak bisa mengambil tindakan terhadap pasien gawat darurat. Sedangkan ia harus memiliki nilai yang bagus untuk lulus. “Kau tidak mungkin lulus di bagian saya!” Saat ruangan tinggal mereka berdua, Arlan mencoret dengan pulpen merah lembar evaluasi Karin, menyudutkannya ke meja periksa logam, dan memberikan satu-satunya jalan keluar. “Dokter, tolong! A-aku bukan gak mau ta-tapi ….” “Tapi apa?” Karin tidak bisa melanjutkan kata-katanya, matanya merah dan wajah cantiknya memucat. Dia harus lulus, Karin sudah terlanjur memilih kedokteran dan ia harus memastikan menjadi seorang Dokter dan tamat tepat waktu. “Itu hanya hal sepele Karin, saya tidak memintamu untuk membantu persalinan atau lebih dari itu, hanya pemeriksaan bimanual dan itupun kau tidak mampu.” Arlan menatapnya tanpa rasa iba sedikitpun, bahkan Karin yang biasanya tegar, malam ini tiba-tiba meneteskan air matanya. “Kau cantik tapi tidak ada otak, kau tidak mengerti atau kau belum belajar semua itu?” tanya Arlan. Mendengar itu, Karin tidak terima, “Maksud Dokter, saya bodoh, gitu?” Karin mengepalkan tangan. Ia tidak seperti itu, ia sudah berusaha semaksimal mungkin dan Arlan tidak tahu kalau penyakitnya kambuh lagi. Arlan terdiam. Ia seperti mencerna kembali kata-kata yang sebelumnya ia lontarkan. "Datang ke klinik pribadiku jam sembilan malam ini untuk belajar 'menyentuh' anatomi dengan benar, atau kemasi barangmu dari rumah sakit ini besok pagi.” Arlan menatap lekat mata Karin, wanita ini masih gemetaran dan sesaat setelah itu, Arlan meninggalkan Karin sendirian dengan pikiran yang masih melayang. “Ke ruangannya?” Apa yang akan dilakukan dr. Arlan padanya, sudah tentu tidak mungkin hal negatif karena Dokter itu sangat terkenal tidak peduli dengan koas-koas di rumah sakit itu, tidak ada yang mendapatkan nilai terbaik saat menghadapi dr. Arlan. Tapi, ia dan Arlan pernah terlibat sesuatu rahasia yang menegangkan. Bukan tidak mungkin juga Arlan melakukan hal yang tidak pantas dengannya. “Apa dia akan membuatku keluar dari rumah sakit ini?” tanya Karin dalam hati. Karin diam sambil menulis laporan dan pikirannya tidak tenang, matanya terus tertuju ke arah jam tangannya. Sambil berpikir keras, Karin melewati koridor rumah sakit hingga sampai ke ruang istirahat. “Hei, melamun aja.” Silvi menyapanya tiba-tiba. Sahabat Karin dan juga Koas di rumah sakit yang sama. “Kenapa? Tadi aku dengar dari perawat yang jaga, dr. Arlan marah sama kamu?” tanya Silvi dan Karin mengangguk pasrah. “Ada gak ya yang nggak lulus di stase ini, Sil?” tanya Karin. “Banyak banget,” jawab Silvi. Karin semakin takut. Kali ini tamat riwayatnya. “Mau ke mana?” tanya Silvi. Karin tiba-tiba saja ingin meninggalkannya sendirian sedangkan malam ini banyak pasien yang datang. “Ke ruangan dr. Arlan sebentar. Tadi dia minta aku datang ke sana,” jawab Karin. “Rin, hati-hati loh.” Sebelum sempat keluar dari ruangan, Silvi menarik tangan Karin. “Aku tau Sil, gak mungkin. Dia itu bukan kayak dr. Mikael,” jawab Karin. Meskipun dr. Mikael sudah terkenal mesum tapi Silvi juga tidak tahu, apa yang dihadapi Karin dan Arlan sebelumnya. Karin belum menceritakan masalah ini dengan sahabatnya itu. Silvi menggelengkan kepala dan tidak percaya, untuk apa Arlan memanggil Karin berduaan ke ruangannya dan malam lagi. "dr. Arlan juga pria dewasa dan belum ada yang memastikan kalau dia gak suka cewek, Rin." Benar juga! "Udahlah tenang aja, aku ke sana dulu, takut telat, aku takut dia marah." Karin melepaskan tangan Silvi dan berlari menuju ruangan klinik pribadi Arlan. Arlan sudah tidak lagi menerima pasien di jam ini. Begitu sampai di depan pintu, Karin merapikan dulu pakaiannya. Karin tahu kalau ia berantakan sekali. "Astaga, Karin kemana otakmu, Rokmu itu ...." Karin mengutuk dirinya sendiri. Karin menelan salivanya, menutup matanya pelan sebelum mengetuk pintu klinik pribadi dokter dingin itu. “Semoga aja dr. Arlan maafin aku,” ucap Karin sambil mengusap dadanya. Kenapa juga ia begitu seksi malam ini, padahal sudah ada peraturan tidak boleh menggunakan rok di atas lutut. “Apa aku ganti rok dulu?” Karin melihat jam, sudah tidak sempat lagi. Ia harus pergi atau Ia akan menyesal seumur hidup. Tok! Tok! Karin mengetuk pintu Arlan setelah ia rapi dan kembali segar. Tidak ada yang bisa menolak pesona Karin, setidaknya Karin memiliki wajah yang cantik di antara semua koas bahkan dokter di rumah sakit ini. “Masuklah!”Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bertanya basa-basi. “Dokter tinggal dengan siapa di apartemen?” Akhirnya karena bosan, Karin memberanikan diri bertanya. Arlan hanya tertawa kecil dan tetap fokus mengemudi sambil menggosok lembut bibirnya. Rasanya itu pertanyaan normal, ucap Karin dalam hati. “Kamu tinggal dengan siapa?” Arlan bertanya balik pertanyaan yang sama. Sebanyak itu kosa kata di dunia ini, Arlan memilih pertanyaan yang membuat Karin kesal. Arlan melihat Karin menyandarkan lembut kepalanya ke punggung kursi, tatapannya sayu dengan senyum yang meremehkan. Keluarga? Karin merasa punya keluarga yang aneh. Keluarga yang membuatnya trauma sampai saat ini dan keluarga yang tidak pernah memahami dirinya. “Sama
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di depannya sedang berdiskusi dengan residen senior yang lain, sedangkan Karin sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.“Karin?” panggil dr. Dimas, tetapi Karin tidak menanggapinya.“Karin?” Dua kali dr. Dimas memanggilnya, bahkan sampai harus melangkah mendekati gadis itu.“Oh, iya, Dokter. Sorry.” Karin menggigit kuat bibir bawahnya.“Kau kenapa?” tanya dr. Dimas dengan sangat lembut. Pria itu memang selalu menaruh perhatian lebih padanya.“Tidak apa-apa, Dokter. Cuma ngantuk saja,” jawab Karin dengan senyum simpul.“Semalam katanya kau bermasalah dengan dr. Arlan?” tanya Dimas hati-hati sambil memindai Karin dari atas sampai bawah.Dimas tahu Arlan tidak menyukai Karin hingga me
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu ada perdebatan saat dia meminta hal yang wajar. Ia bukan meminta Karin telanjang di depannya.Ah, sudahlah! Karin menggerutu dalam hati. Perlahan ia membuka snelli miliknya. Mereka hanya berdua dan tidak ada orang yang melihat. Karin yakin Arlan tidak mungkin melakukan apa pun dengannya.Dia tidak suka wanita, gumam Karin dalam hati setelah melepaskan jasnya dan duduk tepat di depan Arlan. Pria itu bahkan tidak melihatnya dan kembali melanjutkan membaca laporan.Di dalam ruangan Arlan hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak bersahutan dengan petir di luar. Sebentar lagi hujan deras. Udara semakin dingin, ditambah ruangan Arlan yang memang diatur rendah. Apa Arlan sengaja membuatnya memb
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian seperti ini adalah sebuah kesalahan. Karin menelan ludah. Ia melepaskan kenop pintu, berbalik, dan setengah berlari menyusuri lorong menuju ruang ganti koas."Ahhh, tidakkk! Aku harus ganti atau aku mati malam ini." Karin bicara sambil berlari dengan napas yang terengah-engah. Tiba di depan loker, napas Karin memburu. Jari-jarinya bergerak cepat menarik ritsleting rok mini itu dan membiarkannya luruh ke lantai. "Sialan," gerutu Karin. "Dia pasti marah karena aku kabur." Karin meraih rok kain selutut dari dalam loker dan memakainya. Arlan jelas akan mempermasalahkan keterlambatannya, tetapi itu lebih baik daripada pria itu mendapat celah baru untuk menghakiminya. “Gak jadi ke ruangan dr. A
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,” bisik Arlan tegas, tapi itu seperti perintah yang tidak bisa ditolak oleh Karin. Karin menarik napas dalam, menelan salivanya dan dengan dua jarinya pelan-pelan masuk ke inti dalam wanita itu tapi Karin malah berkeringat hebat dan menggelengkan kepalanya. “Dok,” bisik Karin dengan suara serak dan menatap sayu mata Arlan. dr. Arlan langsung mengambil alih prosedur dengan cepat dan presisi, menenangkan pasien dalam hitungan detik. “Ngak berguna,” gumam Arlan sambil melirik Karin yang mematung disampingnya, setelah menyelesaikan pemeriksaan dan membuat pendarahan pasien terkendali. Saat mencuci tangan, tanpa meninggikan suara sedikit pun, Arlan masih menatap tajam tangan koasnya yang mas
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar, seorang pria tampan dan tegap tiba-tiba menarik pinggang Karin. Tangan pria itu membekap mulut Karin dan tubuhnya menekan tubuhnya. Mereka berhimpitan dan berpelukan. “Shhhhhttt jangan lari!” bisik Arlan, nama pria itu. Sontak saja Karin makin gelagapan, pria yang menahannya itu adalah Arlan Pradipta. Tepatnya, dr. Arlan Pradipta, Sp.OG-KFER,M.Kes. Ia terkenal dingin, selalu menyulitkan koas dan terkenal dengan kesempurnaannya. Dan, tentu saja, semua orang tahu betapa mengerikan jika berada satu ruangan bersamanya. Apalagi… dalam pelukannya! “Aku sudah tidak sabar memilikimu!” Kata-kata sang dokter senior itu segera membuat Karin sadar kembali. “I–itu, dr. Mikael…” Dokter senior it







