LOGIN“Ah, akhirnya sampai!” Pinggang Karin rasanya kaku sekali.Karin mendesah lega begitu melangkah masuk ke dalam kamar hotel mewah di Paris yang sudah dipesan Arlan sejak jauh-jauh hari.Begitu pintu kamar tertutup rapat, Karin langsung menjatuhkan tas tangan dan kacamata hitamnya ke atas meja, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur berukuran king size yang tampak begitu empuk dan mengundang.“Nyaman banget, hmmm enak.”Perjalanan panjang melintasi benua dari Jakarta, transit di Doha, hingga akhirnya mendarat di Bandara Charles de Gaulle Paris benar-benar menguras tenaganya.Meskipun terbang dengan fasilitas kelas bisnis yang serba nyaman, tubuh Karin tidak bisa berbohong. Efek kurang tidur dari sisa-sisa ujian koas ditambah duduk belasan jam di pesawat membuat fisiknya protes.Karin berguling terlentang, menatap langit-langit kamar dengan posisi tangan merentang.“Aku capek Sayang, pinggangku seakan mau rontok. Sayang pijat ... rasanya tulang belakangku kayak habis digeser paksa,” k
“Aku gak mungkin bisa marah sama kamu, Sayang. Kamu tau itu.”Arlan tidak melepaskan genggaman tangan Karin, namun ia juga tidak langsung tersenyum.Ia menatap lurus ke dalam bola mata istrinya dengan tatapan yang begitu dalam, intens dan menuntut. Ada kilat ketegasan yang jarang ia tunjukkan sebelumnya.Selama berapa bulan ini, Arlan sudah cukup banyak mengalah. Ia mengalah pada jadwal jaga malam Karin yang tidak manusiawi.Ia mengalah saat makan malam romantis mereka batal karena ada pasien darurat. Ia mengalah menahan gairah dan ego sebagai suami demi kelulusan ujian istrinya.Bahkan, ia rela ikut pusing mendengar drama kehidupan orang-orang di sekitar Karin.Please! Kali ini saja….Namun untuk sebulan kedepan, batas kesabaran Arlan sudah mencapai puncaknya. Kali ini, ia tidak mau mengalah lagi pada apapun, termasuk pada bayang-bayang Laura.Arlan menarik tangan Karin sedikit lebih dekat, membuat posisi duduk mereka kini saling berhadapan di ruang kursi kelas bisnis yang luas dan p
“Ayo, Sayang!” Repot sekali Arlan menggandeng super modelnya. Barang bawaan mereka banyak sekali.“Emm sabar Sayang, ya ampun sepatu aku….” Teriak Karin histeris. Hampir saja sepatu modenya terlepas dari kaki cantiknya karena ditarik paksa oleh Arlan.Proses check-in di konter Bandara Internasional Soekarno Hatta berjalan sangat mulus.Sesuai janjinya, Arlan memesan tiket kelas bisnis menuju Paris. Fasilitas jalur cepat membuat mereka tidak perlu mengantri lama tapi tetap saja hampir terlambat.Namun, ketenangan yang baru saja mereka rengguk mendadak runtuh dalam hitungan detik tepat setelah mereka memegang boarding pass.“Kayak Laura,” gumam Karin dalam hati.Saat berjalan melewati pembatas kaca menuju eskalator atas, mata Karin tidak sengaja melirik ke arah bawah, tepat ke area pintu kedatangan internasional. Jantung Karin rasanya seperti berhenti berdetak.Di sana, di antara kerumunan orang yang baru mendarat, berdiri sosok wanita yang sangat familiar dengan wajah yang persis sama
“Gak cukup kalau mau aku bawa semua, Sayang!”Keesokan paginya, kamar tidur yang biasanya rapi kini berubah total menjadi medan perang koper dan tumpukan baju.Pakaian musim dingin, paspor, kamera, hingga deretan skincare berserakan di atas kasur.Di tengah kegaduhan packing itu, Karin tiba-tiba terdiam di pinggir kasur, memandangi koper besarnya yang baru terisi setengah. Matanya mendadak berkaca-kaca.“Huhuhu, Rasanya mau menangis.”Setelah berbulan-bulan penantian, setelah air mata yang habis dikuras untuk stasiun OSCE, akhirnya momen honeymoon ini benar-benar ada di depan mata.Liburan ini bukan sekadar pelarian dari penatnya rumah sakit, melainkan sebuah pelarian yang sangat mereka butuhkan dari rentetan drama melelahkan yang mengepung rumah tangga mereka belakangan ini.Anehnya, badai itu sama sekali bukan karena masalah di antara Karin dan Arlan, melainkan keributan dari masalah orang lain.Karin menghela napas berat saat memikirkan Laura, kembaran identiknya.Laura menghilang
“Jatah aku, Sayang!”Karin tidak bisa menahan tawa saat mendengar kalimat suaminya yang menggantung.Suara Arlan mendadak berubah agak serak dengan tatapan mata yang mendalam, memberikan sinyal yang sangat jelas mengenai apa yang diinginkannya malam ini.Mengingat kejadian beberapa bulan lalu selama masa persiapan ujian, Karin mendadak merasa bersalah sekaligus ingin tertawa kencang.Saat itu, setiap kali Arlan mulai memberikan kode-kode romantis atau mencoba memijat bahunya dengan maksud "terselubung", Karin selalu menepisnya dengan kejam sembari menunjuk tumpukan buku kedokteran setebal bantal.Alhasil, Arlan harus pasrah menerima nasib tragis, berjalan gontai ke kamar mandi dengan wajah frustasi, ditemani suara gemericik air shower dingin sebagai pelipur lara tengah malam.“Oh, jadi ini ceritanya mau menagih hutang yang menumpuk?” goda Karin, sengaja menaikkan satu alisnya sambil menahan tawa yang hampir meledak melihat telinga Arlan yang mulai memerah.“Bukan lagi menagih, Sayang,
“Deg-degan banget,” gumam Karin sebelum masuk ujiannya.Ujian akhir koas atau yang biasa dikenal sebagai UKMPPD (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter) adalah puncak dari segala siksaan batin mahasiswa kedokteran.Ujian ini terdiri dari dua bagian yang sama-sama mengerikan, ujian teori berbasis komputer (CBT) dan ujian praktik klinik yang disebut OSCE (Objective Structured Clinical Examination).Dalam OSCE, Karin harus menghadapi belasan stasiun (pos) berturut-turut.Di setiap stasiun, ia hanya diberi waktu sekitar 10–15 menit untuk menghadapi pasien simulan (aktor yang pura-pura sakit), melakukan wawancara medis, memeriksa fisik, menentukan diagnosis, hingga melakukan tindakan medis darurat seperti menjahit luka atau memasang infus semuanya dilakukan di bawah tatapan tajam dan dingin dari dokter penguji yang mencatat setiap gerak-gerik dan helaan napasnya.Salah sedikit atau waktu habis sebelum selesai berbicara, buyarlah sudah!Pintu ruang ujian itu akhirnya terbuka.“Aa
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se







