로그인Jam dinding di lorong belakang berdetak tepat pukul tujuh ketika ketukan pelan terdengar di pintu kamarku.
"Mbakyu Sekar... sarapan sudah siap." Suara Bu Siti, ART yang sudah belasan tahun bekerja di rumah Djayadi terdengar hati-hati. Selalu ada nada kasihan yang terselip setiap kali ia memanggilku. "Iya, Bu. Saya segera keluar," jawabku, berusaha memoles suaraku agar terdengar segar, meski tenggorokanku terasa kering. Aku bangkit perlahan dari ranjang sempit yang berderit. Tubuhku masih terasa remuk, seolah setiap otot menolak bekerja sama. Aku menarik kaos turtleneck lengan panjang berwarna hitam; kainnya tebal, menutup rapat leher hingga pergelangan tangan. Aku memilih celana kain berwarna krem yang longgar. Rapi dan aman. Semua kemerahan dan bekas cengkeraman Shaka kini tersembunyi sempurna. Rambutku kuikat rendah. Riasan tipis kupoles sekadarnya, cukup untuk menyamarkan wajah pucat dan mata yang kurang tidur. Di cermin buram itu, pantulanku tampak seperti Sekar yang mereka kenal: patuh, tenang, dan tidak menuntut apa pun. Aku berjalan menuju ruang makan dengan langkah yang sengaja kuatur agar tidak terlihat pincang. Aroma kopi mahal dan roti panggang memenuhi udara, sangat kontras dengan bau pengap kamar belakang yang baru saja kutinggalkan. Di meja makan, Papa sedang membaca koran digital di tabletnya, sementara Rena duduk anggun, menyesap teh melati seolah ia adalah ratu sejagat. Kursi Nadira kosong. Ah, aku jadi penasaran bagaimana reaksinya saat malam pertamanya hanya dihabiskan seorang diri. "Selamat pagi, Pa, Ma," sapaku hangat, topeng rutinitas yang selalu kukenakan. Bu Siti menuangkan teh ke cangkirku. Aroma jahe dan melati naik perlahan, sedikit menenangkan sarafku yang tegang. "Tumben sekali kamu pakai baju tertutup begitu, Sekar? Di dalam rumah sendiri pun pakai turtleneck?" Rena bertanya dengan nada manis yang mengandung racun. "Apa AC di kamar belakang terlalu dingin? Kalau iya, bilang pada ART, mungkin mereka punya selimut bekas yang bisa kamu pakai." Aku tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak pernah mencapai mata. "Hanya ingin tampil lebih rapi hari ini, Ma. Terima kasih atas perhatiannya." Papa berdehem, meletakkan tabletnya. "Ngomong-ngomong soal kesibukan, bagaimana kabar toko bunga peninggalan Bundamu? Papa dengar kamu sering pulang telat karena urusan di sana." Kalau saja Papa tahu bahwa semalam aku tidak bisa pulang karena menantu kesayanganmu mengurungku di kamar hotel, batinku pahit. "Lancar, Pa. Ada beberapa pesanan untuk rangkaian bunga dan dekorasi kafe minggu ini," jawabku setelah menelan suapan pertama yang terasa hambar. Rena tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dibuat untuk merendahkan. "Aduh, Mas... kenapa sih masih membiarkan Sekar mengurus toko kecil itu? Sayang tenaganya. Hanya toko bunga di sudut jalan, hasilnya pun tidak cukup untuk membeli satu tas branded milik Nadira. Lebih baik Sekar bantu-bantu di kantor kamu saja, jadi asisten atau apa gitu, daripada menghabiskan waktu di tempat berdebu dan tidak menghasilkan." Aku mengepalkan tangan di bawah meja, merasakan denyut nyeri di bahuku, jejak gigi Shaka yang seolah ikut memprotes penghinaan itu. "Toko itu cukup untuk menghidupiku tanpa harus meminta pada Papa, Ma," jawabku setenang mungkin. "Menghidupi?" Rena mencibir. "Kalau bukan karena kemurahan hati Papamu yang mengizinkanmu tinggal di sini, uang dari bunga-bunga layu itu tidak akan cukup untuk membayar tagihan listrik rumah ini sebulan. Harusnya kamu bersyukur Nadira sudah menikah. Setidaknya sekarang kamu bisa lebih fokus membantu urusan rumah tangga." "Uang bukan segalanya bagi saya, Ma," suaraku tetap terkontrol. "Toko itu adalah satu-satunya warisan Bunda. Lagipula, saya lebih suka membangun sesuatu dari nol daripada hanya menikmati hasil keringat orang lain." Wajah Rena sedikit berubah mendengar sindiranku, tapi ia segera menguasai diri. "Ya, ya... idealisme anak muda," Rena melambaikan tangan dengan malas. "Tapi ingat posisimu, Sekar. Jangan sampai hobimu itu mempermalukan nama keluarga Djayadi. Orang-orang bisa berpikir kami tidak sanggup membiayaimu sampai kamu harus berjualan bunga seperti itu." "Sudahlah, Rena," potong Papa, meski ia tidak benar-benar membelaku. "Kalau Sekar mau mengurusnya, biarkan saja. Asalkan dia tahu batasannya." Batasan. Kata itu lagi. Pikiranku melayang ke kejadian beberapa jam lalu. Di kamar sebelah tempat Nadira tidur sendirian, suaminya justru sedang menghancurkan segala bentuk batasan di atas tubuhku. Jika Rena tahu bahwa pria yang baru saja ia bangga-banggakan sebagai menantu mahalnya telah berlutut di hadapanku semalam, memohon untuk memiliki setiap jengkal kulitku, apakah dia masih bisa duduk seangkuh itu? "Sekar." Aku mengangkat wajah. Papa menatapku dengan sorot yang sulit kuterjemahkan, antara lelah dan ingin cepat selesai dengan urusan ini. "Iya, Pa." "Mahesa sepertinya tertarik padamu." Kalimat Papa membuat Rena meletakkan cangkir tehnya dengan denting keras. "Mahesa? Maksudnya Mahesa Dinata, Mas?" Papa mengangguk. "Apa yang dia lihat dari perempuan ini?" Rena memandangku remeh. "Padahal Nadira jauh lebih baik. Sayangnya Nadira baru saja menikah. Kalau saja Mahesa pulang ke Indonesia lebih cepat, pasti Nadira yang akan bersanding dengannya. Ah, sayang sekali." Papa mengabaikan gerutuan istrinya. Ia justru mencondongkan tubuh ke arahku, seolah-olah aku baru saja berubah dari anak yang membebani menjadi aset yang menjanjikan. "Dia memintamu menemaninya makan nanti malam, katanya sebagai kompensasi atas jasnya yang terkena sirup kemarin." Papa menatap pakaianku dengan dahi berkerut. "Gunakan pakaian Nadira yang paling bagus. Jangan memalukan." "Mas!" Rena protes. "Kenapa harus pakai baju Nadira?" "Mau bagaimana lagi? Apa kamu mau aku membelikannya gaun mahal hanya untuk makan malam yang entah akan menguntungkan atau merugikan kita?" Papa balik bertanya dengan nada dingin. Aku diam mendengarkan mereka beradu argumen. Hal seperti ini bukanlah hal baru. Sejak sepuluh tahun lalu, mereka selalu berdebat jika Papa harus mengeluarkan uang untukku. Aku tetap menunduk, membiarkan percakapan itu mengalir di atasku seperti hujan yang sudah terlalu sering jatuh. Pakaian Nadira yang sudah tidak ia gunakan lagi akan jatuh ke tanganku. Sama seperti kebaya abu-abu kemarin. Pakaian yang semalam dilepas tergesa oleh suaminya, bukan dari tubuh Nadira, melainkan dari tubuhku. "Aku mengerti, Pa," kataku akhirnya. Suaraku datar. Patuh. "Jam berapa?" "Pukul delapan. Restoran La Vetra," jawab Papa cepat, seolah takut aku berubah pikiran. "Jangan terlambat. Mahesa itu orang penting. Dia baru saja mengambil alih Dinata Group sepenuhnya. Dia pria yang sangat berpengaruh. Kalau dia benar-benar serius, ini bisa jadi peluang besar untuk keluarga kita." Aku terdiam. Nama Mahesa Dinata bukan nama sembarangan. Dia dikenal sebagai tangan besi, dingin, efisien, dan hampir tidak tersentuh gosip. "Tapi Mas," sela Rena, suaranya naik satu oktav. "Mahesa itu levelnya berbeda. Mana mungkin dia mau dengan Sekar yang... yah, kamu tahu sendiri. Paling-paling dia hanya penasaran sesaat. Jangan sampai kita malu kalau nanti dia sadar Sekar tidak ada apa-apanya dibanding Nadira." Aku merapatkan jemariku di bawah meja. Rasa perih di leherku seolah berdenyut mengikuti detak jantungku yang kencang. Bukan karena senang, tapi karena takut. Satu pria posesif seperti Shaka sudah cukup menghancurkan hidupku. Sekarang, Papa ingin melempar aku ke pria lain demi peluang keluarga?Hari-hariku berikutnya aku lalui dalam kebahagiaan. Bumi adalah sumber kebahagiaanku saat ini. Hingga tidak terasa aku dan Bumi sudah diperbolehkan pulang. "Mas, katanya ada rapat sama investor hari ini?" Aku memandang Shaka yang sedang memerintahkan asistennya untuk membawa koper berisi perlengkapan bayi dan bajuku selama di rumah sakit. "Sudah aku undur." Shaka mengambil Bima dari pangkuanku. "Mas, aku dan Bumi bisa pulang sendiri." "No," Shaka menggeleng. "Kalian jauh lebih penting daripada investor." Aku tertawa kecil sambil mengikuti Shaka keluar ruangan. Tangannya yang bebas menggenggam tanganku. "Kamu mau tinggal di apartemen atau di rumah, Sekar?" tanya Shaka. "Terserah, Mas." "Kita tinggal di rumah aja, ya." "Apa nggak jauh dari kantor, Mas?" Shaka menggeleng, "Aku sudah mengajukan cuti selama tiga bulan." Aku tertawa lagi, "Kasihan asistenmu, Mas." "Biar," Shaka ikut tertawa. "Itu sudah tugas mereka kok." Genggaman tanganku semakin erat, "Kalau Papa dan Mama bag
Tanganku terkapar layu di atas sprei yang masih basah oleh peluh. Otot-otot di seluruh tubuhku rasanya lepas dari sendinya, meninggalkan rasa ngilu yang berdenyut dari pinggang hingga ke ujung kaki. Napasku mulai teratur, tidak lagi memburu seperti saat memburu oksigen di tengah pacuan rasa sakit sejam yang lalu. Di sebelah ranjang, Shaka masih berlutut. Tinggi badannya yang biasa membuat orang lain merasa kerdil kini terpangkas, membuatnya sejajar dengan kasur tempatku terbaring. Bayi kami tidur pulas di dalam sanggaan dua telapak tangannya yang lebar. Selimut kuning berpola beruang itu terangkat naik turun secara ritmis mengikuti tarikan napas halus si kecil. Jemari mungil bayi itu masih mengunci ujung kancing kemeja Shaka. Kain putih kemeja itu sudah melar ditarik oleh kekuatan kecil yang baru berusia hitungan menit. Shaka sama sekali tidak berusaha melepaskannya. Ia membiarkan benang kemejanya tegang, seolah pergerakan sekecil apa pun akan mematahkan momen langka yang sedang berp
Satu bulan berlalu.Suara mesin detak jantung berbunyi konstan di dalam ruangan beraroma antiseptik yang tajam. Tirai putih di samping tempat tidurku sesekali berkibar pelan terkena hembusan pendingin udara.Aku berbaring pasrah di atas ranjang. Rambutku lepek menempel di dahi dan pelipis. Napasku masih terengah-engah, dada turun naik mengikuti rasa lelah yang luar biasa. Sprei di bawah tubuhku yang kuremas sepanjang beberapa jam terakhir kini kusut bergelombang.Di sisi kanan ranjang, Shaka berdiri. Kemeja putih yang ia kenakan sejak pagi tadi sudah berkerut parah, dua kancing atasnya terbuka, dan lengan bajunya tergulung tidak rapi di atas siku. Keringat mengering di leher dan dahinya. Ibu jarinya yang kasar masih terikat erat pada genggaman jemariku—bahkan bekas garis memar kemerahan akibat cengkeramanku saat puncak kontraksi tadi masih berjejak jelas di punggung tangannya."Owekkk... owekkk..."Suara tangisan melengking yang pecah di sudut ruangan memotong sunyi. Seorang perawat b
Malam itu, Shaka pulang tepat waktu. Jam dinding baru menunjuk angka tujuh ketika suara kunci pintu berputar.Aku yang sedang berdiri di dekat jendela apartemen berbalik. Shaka masuk membawa dua kantong kertas berisi buah-buahan segar dan makanan hangat. Kemeja kerjanya masih rapi, meski dasinya sudah dilonggarkan. Tidak ada raut panik, tidak ada kesan pria yang baru kehilangan arah. Perusahaan rintisan yang ia bangun sendiri selama beberapa tahun terakhir memang berjalan stabil, cukup untuk menopang kehidupan kami tanpa perlu menyentuh satu sen pun uang keluarga Adhitama. Fasilitasnya boleh dicabut, tapi Shaka bukan pria tanpa persiapan.Ia meletakkan kantong kertas di meja dapur, lalu berjalan mendekatiku. Tangan hangatnya langsung mendarat di perutku yang membuncit keras, menyapa si kecil yang merespons dengan satu tendangan halus."Dia aktif malam ini," gumam Shaka. Senyum tipis terukir di bibirnya, tapi matanya menyimpankan lelah yang berbeda."Mas baru bertemu Papa?" tanyaku pel
Mobil Shaka berjalan pelan meninggalkan gerbang tinggi berornamen tembaga yang tertutup rapat. Bunyi mesin mobil yang halus menjadi satu-satunya suara di dalam kabin, membelah jalanan komplek perumahan yang sepi.Shaka tidak melepaskan genggaman tangannya. Ibu jarinya terus mengusap punggung tanganku yang masih terasa dingin. Matanya fokus menatap jalan di depan, namun rahangnya mengeras, memperlihatkan garis otot yang menegang di sepanjang pipinya."Kita tidak akan kembali ke sana lagi," bisik Shaka. Suaranya serak, memecah keheningan di antara kami.Aku hanya diam, menatap keluar jendela. Pepohonan besar di tepi jalan melintas cepat, berganti menjadi barisan toko dan gedung bertingkat. Di dalam perutku, ada gerakan kecil yang halus. Aku meletakkan tangan kiriku di atas perut, menekan kain gaun yang terlipat."Kamu lapar?" tanya Shaka tanpa menoleh.Aku menggeleng pelan. Tenggorokanku terasa kering dan penuh, seolah kata-kata Achazia masih tertahan di sana, menyumbat jalurnya udara.
Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika mobil Shaka berhenti di depan gerbang tinggi berornamen ukiran tembaga. Rumah keluarga besar Adhitama berdiri kokoh, memancarkan kemewahan yang menekan dada. Aku meremas kain gaun hamilku yang longgar, merasakan dingin memanjat dari telapak kaki hingga ke persendian.Shaka meraih jemariku yang membeku, menggenggamnya erat sebelum keluar dan membukakan pintu. "Ada aku. Kamu cuma perlu berada di sampingku," bisiknya di dekat telingaku.Pintu kayu jati berukir dibukakan oleh seorang pelayan berseragam rapi. Di ruang tamu berlantai marmer, dua orang paruh baya sudah duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua. Ayah Shaka— Achazia Adhitama sedang membaca koran dengan kacamata minus bertengger di ujung hidung. Di sebelahnya, Ibu Shaka— Berliana sedang memutar-mutar cangkir porselen di tangannya."Papa, Mama," panggil Shaka, suaranya tenang namun mengunci perhatian.Achazia menurunkan korannya perlahan. Lembaran kertas tebal itu berkresek halus sebel







