Compartir

Bab 4

Autor: Silver Swan
last update Fecha de publicación: 2026-07-01 08:00:43

Jam dinding di lorong belakang berdetak tepat pukul tujuh ketika ketukan pelan terdengar di pintu kamarku.

"Mbakyu Sekar... sarapan sudah siap."

Suara Bu Siti, ART yang sudah belasan tahun bekerja di rumah Djayadi terdengar hati-hati. Selalu ada nada kasihan yang terselip setiap kali ia memanggilku.

"Iya, Bu. Saya segera keluar," jawabku, berusaha memoles suaraku agar terdengar segar, meski tenggorokanku terasa kering.

Aku bangkit perlahan dari ranjang sempit yang berderit. Tubuhku masih terasa remuk, seolah setiap otot menolak bekerja sama. Aku menarik kaos turtleneck lengan panjang berwarna hitam; kainnya tebal, menutup rapat leher hingga pergelangan tangan. Aku memilih celana kain berwarna krem yang longgar. Rapi dan aman. Semua kemerahan dan bekas cengkeraman Shaka kini tersembunyi sempurna.

Rambutku kuikat rendah. Riasan tipis kupoles sekadarnya, cukup untuk menyamarkan wajah pucat dan mata yang kurang tidur. Di cermin buram itu, pantulanku tampak seperti Sekar yang mereka kenal: patuh, tenang, dan tidak menuntut apa pun.

Aku berjalan menuju ruang makan dengan langkah yang sengaja kuatur agar tidak terlihat pincang. Aroma kopi mahal dan roti panggang memenuhi udara, sangat kontras dengan bau pengap kamar belakang yang baru saja kutinggalkan.

Di meja makan, Papa sedang membaca koran digital di tabletnya, sementara Rena duduk anggun, menyesap teh melati seolah ia adalah ratu sejagat. Kursi Nadira kosong.

Ah, aku jadi penasaran bagaimana reaksinya saat malam pertamanya hanya dihabiskan seorang diri.

"Selamat pagi, Pa, Ma," sapaku hangat, topeng rutinitas yang selalu kukenakan.

Bu Siti menuangkan teh ke cangkirku. Aroma jahe dan melati naik perlahan, sedikit menenangkan sarafku yang tegang.

"Tumben sekali kamu pakai baju tertutup begitu, Sekar? Di dalam rumah sendiri pun pakai turtleneck?" Rena bertanya dengan nada manis yang mengandung racun. "Apa AC di kamar belakang terlalu dingin? Kalau iya, bilang pada ART, mungkin mereka punya selimut bekas yang bisa kamu pakai."

Aku tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak pernah mencapai mata. "Hanya ingin tampil lebih rapi hari ini, Ma. Terima kasih atas perhatiannya."

Papa berdehem, meletakkan tabletnya. "Ngomong-ngomong soal kesibukan, bagaimana kabar toko bunga peninggalan Bundamu? Papa dengar kamu sering pulang telat karena urusan di sana."

Kalau saja Papa tahu bahwa semalam aku tidak bisa pulang karena menantu kesayanganmu mengurungku di kamar hotel, batinku pahit.

"Lancar, Pa. Ada beberapa pesanan untuk rangkaian bunga dan dekorasi kafe minggu ini," jawabku setelah menelan suapan pertama yang terasa hambar.

Rena tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dibuat untuk merendahkan. "Aduh, Mas... kenapa sih masih membiarkan Sekar mengurus toko kecil itu? Sayang tenaganya. Hanya toko bunga di sudut jalan, hasilnya pun tidak cukup untuk membeli satu tas branded milik Nadira. Lebih baik Sekar bantu-bantu di kantor kamu saja, jadi asisten atau apa gitu, daripada menghabiskan waktu di tempat berdebu dan tidak menghasilkan."

Aku mengepalkan tangan di bawah meja, merasakan denyut nyeri di bahuku, jejak gigi Shaka yang seolah ikut memprotes penghinaan itu.

"Toko itu cukup untuk menghidupiku tanpa harus meminta pada Papa, Ma," jawabku setenang mungkin.

"Menghidupi?" Rena mencibir. "Kalau bukan karena kemurahan hati Papamu yang mengizinkanmu tinggal di sini, uang dari bunga-bunga layu itu tidak akan cukup untuk membayar tagihan listrik rumah ini sebulan. Harusnya kamu bersyukur Nadira sudah menikah. Setidaknya sekarang kamu bisa lebih fokus membantu urusan rumah tangga."

"Uang bukan segalanya bagi saya, Ma," suaraku tetap terkontrol. "Toko itu adalah satu-satunya warisan Bunda. Lagipula, saya lebih suka membangun sesuatu dari nol daripada hanya menikmati hasil keringat orang lain."

Wajah Rena sedikit berubah mendengar sindiranku, tapi ia segera menguasai diri.

"Ya, ya... idealisme anak muda," Rena melambaikan tangan dengan malas. "Tapi ingat posisimu, Sekar. Jangan sampai hobimu itu mempermalukan nama keluarga Djayadi. Orang-orang bisa berpikir kami tidak sanggup membiayaimu sampai kamu harus berjualan bunga seperti itu."

"Sudahlah, Rena," potong Papa, meski ia tidak benar-benar membelaku. "Kalau Sekar mau mengurusnya, biarkan saja. Asalkan dia tahu batasannya."

Batasan. Kata itu lagi.

Pikiranku melayang ke kejadian beberapa jam lalu. Di kamar sebelah tempat Nadira tidur sendirian, suaminya justru sedang menghancurkan segala bentuk batasan di atas tubuhku. Jika Rena tahu bahwa pria yang baru saja ia bangga-banggakan sebagai menantu mahalnya telah berlutut di hadapanku semalam, memohon untuk memiliki setiap jengkal kulitku, apakah dia masih bisa duduk seangkuh itu?

"Sekar."

Aku mengangkat wajah. Papa menatapku dengan sorot yang sulit kuterjemahkan, antara lelah dan ingin cepat selesai dengan urusan ini.

"Iya, Pa."

"Mahesa sepertinya tertarik padamu."

Kalimat Papa membuat Rena meletakkan cangkir tehnya dengan denting keras. "Mahesa? Maksudnya Mahesa Dinata, Mas?"

Papa mengangguk.

"Apa yang dia lihat dari perempuan ini?" Rena memandangku remeh. "Padahal Nadira jauh lebih baik. Sayangnya Nadira baru saja menikah. Kalau saja Mahesa pulang ke Indonesia lebih cepat, pasti Nadira yang akan bersanding dengannya. Ah, sayang sekali."

Papa mengabaikan gerutuan istrinya. Ia justru mencondongkan tubuh ke arahku, seolah-olah aku baru saja berubah dari anak yang membebani menjadi aset yang menjanjikan.

"Dia memintamu menemaninya makan nanti malam, katanya sebagai kompensasi atas jasnya yang terkena sirup kemarin." Papa menatap pakaianku dengan dahi berkerut. "Gunakan pakaian Nadira yang paling bagus. Jangan memalukan."

"Mas!" Rena protes. "Kenapa harus pakai baju Nadira?"

"Mau bagaimana lagi? Apa kamu mau aku membelikannya gaun mahal hanya untuk makan malam yang entah akan menguntungkan atau merugikan kita?" Papa balik bertanya dengan nada dingin.

Aku diam mendengarkan mereka beradu argumen. Hal seperti ini bukanlah hal baru. Sejak sepuluh tahun lalu, mereka selalu berdebat jika Papa harus mengeluarkan uang untukku. Aku tetap menunduk, membiarkan percakapan itu mengalir di atasku seperti hujan yang sudah terlalu sering jatuh.

Pakaian Nadira yang sudah tidak ia gunakan lagi akan jatuh ke tanganku. Sama seperti kebaya abu-abu kemarin. Pakaian yang semalam dilepas tergesa oleh suaminya, bukan dari tubuh Nadira, melainkan dari tubuhku.

"Aku mengerti, Pa," kataku akhirnya. Suaraku datar. Patuh. "Jam berapa?"

"Pukul delapan. Restoran La Vetra," jawab Papa cepat, seolah takut aku berubah pikiran. "Jangan terlambat. Mahesa itu orang penting. Dia baru saja mengambil alih Dinata Group sepenuhnya. Dia pria yang sangat berpengaruh. Kalau dia benar-benar serius, ini bisa jadi peluang besar untuk keluarga kita."

Aku terdiam. Nama Mahesa Dinata bukan nama sembarangan. Dia dikenal sebagai tangan besi, dingin, efisien, dan hampir tidak tersentuh gosip.

"Tapi Mas," sela Rena, suaranya naik satu oktav. "Mahesa itu levelnya berbeda. Mana mungkin dia mau dengan Sekar yang... yah, kamu tahu sendiri. Paling-paling dia hanya penasaran sesaat. Jangan sampai kita malu kalau nanti dia sadar Sekar tidak ada apa-apanya dibanding Nadira."

Aku merapatkan jemariku di bawah meja. Rasa perih di leherku seolah berdenyut mengikuti detak jantungku yang kencang. Bukan karena senang, tapi karena takut.

Satu pria posesif seperti Shaka sudah cukup menghancurkan hidupku. Sekarang, Papa ingin melempar aku ke pria lain demi peluang keluarga?

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 22

    "Kamu baru saja menyalakan api yang nggak bisa kamu padamkan sendiri, Sekar," bisik Shaka rendah. Suaranya serak, dalam, dan mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh saraf pusatku.Tanpa menunggu jawabanku, Shaka menyusupkan lengannya di bawah lututku dan mengangkat tubuhku dalam satu gerakan mantap. Aku memekik pelan, refleks mengalungkan lengan ke lehernya. Kain sutra merah marun yang kukenakan tersingkap, memperlihatkan kakiku yang bersentuhan langsung dengan kemeja mahalnya yang kaku.Ia membawaku menaiki tangga marmer menuju lantai atas, melewati lorong sunyi yang hanya diisi oleh suara detak jantung kami yang kian berpacu. Kami tiba di depan pintu ganda yang megah, yang terbuka perlahan menyingkap kamar tidur utama yang luas dengan pencahayaan temaram yang dramatis.Shaka menurunkanku di sisi tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra hitam. Ia tidak langsung menyentuhku. Ia berdiri di sana, menanggalkan kemeja dan jam tangannya dengan gerakan perlahan

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 21

    Setelah ketegangan yang menyesakkan di butik, aku akhirnya menyerah. Dengan sisa tenaga yang ada, kukenakan gaun merah marun itu. Kain sutranya terasa dingin dan licin, memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna seolah-olah ia memang diciptakan hanya untukku. Shaka menatapku sesaat tanpa kata—sebuah tatapan tajam yang sanggup membuat bulu kudukku berdiri—sebelum ia menyelesaikan pembayaran dan membimbingku kembali ke mobil.Namun, kami tidak menuju pesta atau acara formal mana pun. Mobil terus melaju menjauhi kebisingan pusat kota, menembus kawasan perbukitan yang sunyi dan rimbun oleh pepohonan besar.Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang itu terbuka secara otomatis, sebuah hunian modern-kontemporer dengan dominasi kaca dan batu alam berdiri megah di balik keremangan malam."Turun," ucap Shaka singkat.Aku melangkah keluar, bunyi tumit sepatuku beradu dengan lantai marmer teras yang mengkilap. Pintu utama terbuka bahkan sebelum Shaka menye

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 20

    Keheningan di dalam toko bunga itu terasa mencekik saat Maya berdiri membeku. Shaka tidak segera melepaskanku, ia justru memutar tubuhnya perlahan, masih dengan satu tangan yang posesif melingkar di pinggangku. Ia menatap Maya dengan tatapan dingin yang seolah mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya."Keluar," perintah Shaka singkat. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.Maya tergagap, wajahnya memucat hebat. "Ma-maaf, Mbak Sekar. Saya... saya permisi." Ia meletakkan bungkusan makanan itu di atas kursi terdekat dan praktis berlari keluar. Denting lonceng pintu yang ditinggalkannya terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasiku, namun aku tidak lagi peduli pada apa pun.Udara di dalam toko kini terasa lebih berat, dipenuhi aroma mawar yang tajam dan ketegangan yang kian memuncak meski Maya telah menghilang. Shaka tidak beranjak. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu celah pun

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 19

    Sentuhan sepatu Shaka di kakiku terasa seperti api yang merambat di bawah permukaan air. Aku berusaha keras agar tanganku tidak gemetar saat meletakkan cangkir teh kembali ke tatakannya. Di hadapanku, Nadira sedang sibuk bercerita tentang rencana bulan madu kedua mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sedang melakukan tindakan provokatif di bawah meja makan keluarga."Mahesa itu bibit unggul, Sekar," Papa melanjutkan, suaranya terdengar penuh otoritas di tengah denting sendok dan garpu. "Papa rasa kalau keluarga Dinata tahu kalian pernah menghabiskan malam bersama, mereka akan langsung meresmikan hubungan kalian."Ujung sepatu Shaka bergerak pelan, menekan batas kesabaranku dengan isyarat yang hanya kupahami seorang diri."Papa, aku rasa...""Apa?! Kak Sekar sudah tidur dengan Mahesa?" Nadira berseru, suaranya meninggi antara terkejut dan tidak percaya."Wajar saja bagi orang dewasa di zaman sekarang, Dira. Lagipula, Mahesa itu pemuda yang sangat bertanggung jawab. Dia sud

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 18

    Aku menyeret koper perak itu menyusuri koridor lantai dua. Beratnya seolah mewakili beban rahasia yang kupikul, namun langkahku tetap kupaksa tenang, nyaris tak bersuara di atas karpet tebal. Aku menghela napas panjang di depan pintu kamar Nadira, menatap koper di tanganku sejenak sebelum mengetuk pintu kayu mahoni yang berat.Tok. Tok. Tok."Masuk," suara Shaka terdengar dari dalam.Aku membuka pintu perlahan. Aroma pengharum ruangan yang terlalu manis memenuhi ruangan. Shaka berdiri membelakangiku di dekat jendela besar. Ia mengenakan bathrobe putih longgar yang memperlihatkan tengkuk kokohnya."Aku menaruh kopernya di sini, Mas," bisikku sembari meletakkan koper itu di dekat sofa.Mendengar derit roda koper, ia berbalik. Matanya yang tadi sedingin es kini menggelap, memancarkan rasa lapar yang selama ini ia tekan rapat di depan istrinya."Berani sekali kamu pergi dengan Mahesa saat aku nggak ada, Sekar," desisnya tepat di depan wajahku. Napasnya beraroma mint, berbaur dengan aura

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 17

    Setelah selesai makan, Mahesa tidak langsung mengajakku pulang. Ia menarik tanganku, menuntunku melewati riuh rendah kerumunan menuju deretan stan permainan pasar malam.Ia berhenti di depan stan Lempar Gelang. Hadiah utamanya adalah sebuah boneka beruang besar yang warnanya sudah agak kusam oleh debu jalanan. Namun, Mahesa menatapnya seolah boneka itu adalah trofi paling bergengsi di dunia."Aku akan memenangkan beruang itu untukmu," katanya penuh tekad."Esa, jangan konyol. Kamu bisa beli seribu boneka yang jauh lebih mewah di mal," bisikku, mencoba menarik lengannya agar kami segera pergi."Ssst," potongnya jenaka sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada penjual. "Lihat dan pelajari, Sekar."Namun, realita ternyata tidak semanis film romantis. Mahesa, dengan segala kecerdasannya di dunia bisnis, ternyata sangat payah dalam urusan membidik botol kaca dengan gelang plastik. Sepuluh lemparan pertama meleset jauh. Lima lemparan berikutnya memantul liar ke segala arah.Aku tertawa

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status