Partager

Bab 22

Auteur: Silver Swan
last update Date de publication: 2026-07-19 19:39:38

"Kamu baru saja menyalakan api yang nggak bisa kamu padamkan sendiri, Sekar," bisik Shaka rendah. Suaranya serak, dalam, dan mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh saraf pusatku.

Tanpa menunggu jawabanku, Shaka menyusupkan lengannya di bawah lututku dan mengangkat tubuhku dalam satu gerakan mantap. Aku memekik pelan, refleks mengalungkan lengan ke lehernya. Kain sutra merah marun yang kukenakan tersingkap, memperlihatkan kakiku yang bersentuhan langsung dengan kemeja mahalnya yang ka
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 24

    Satu minggu ini bukan lagi tentang hidupku, melainkan tentang bagaimana aku dibentuk ulang menjadi komoditas yang layak dipamerkan. Keluarga Dinata tidak hanya membeli perusahaan Papa, mereka membeli setiap detik waktuku, privasiku, bahkan hakku untuk sekadar menarik napas lega.Setiap pagi dimulai dengan ketukan pintu dari tim stylist kiriman Pak Bramantyo. Ruang tamu rumahku berubah menjadi bengkel transformasi. Aku berdiri berjam-jam di atas podium kecil, dikelilingi oleh desainer ternama yang menyematkan jarum pentul pada gaun sutra seharga satu unit apartemen yang melekat di tubuhku."Jangan terlalu banyak makan karbohidrat minggu ini, Nona Sekar. Garis pinggang ini harus tetap presisi," ucap mereka tanpa dosa. Mereka tidak melihatku sebagai manusia, melainkan manekin hidup yang harus tampil sempurna di depan kamera.Aku dipaksa menjalani berbagai prosedur estetika. Aroma bahan kimia dan masker emas memenuhi indra penciumanku. Kulitku dipoles hingga mengilap, seolah-olah lapisan

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 23

    Siang itu, matahari Jakarta tengah mencapai puncaknya. Namun, hawa dingin yang berembus dari sistem pendingin sentral di Dinata Global resources-perusahaan raksasa di bidang eksplorasi pertambangan dan energi terbarukan-sanggup membekukan sisa-sisa kegelisahanku.Gedung ini adalah manifestasi kekuasaan. Lantai marmernya yang mengilat memantulkan bayangan langkah kakiku yang berderap pelan menuju lantai teratas. Di sinilah Pak Bramantyo, sang patriark keluarga Dinata, mengendalikan imperium bisnisnya dengan tangan besi."Nona Sekar? Silakan masuk, Bapak sudah menunggu," ucap sekretaris pribadinya. Nadanya formal, namun terselip rasa hormat yang kaku.Aku mengembuskan napas panjang sembari merapikan blazer, lalu melangkah masuk. Ruangan kerja Pak Bramantyo begitu luas dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang membingkai lanskap hutan beton Jakarta. Di balik meja jati yang kokoh, seorang pria paruh baya berambut perak duduk dengan aura otoritas yang pekat, tampak khusyuk membaca se

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 22

    "Kamu baru saja menyalakan api yang nggak bisa kamu padamkan sendiri, Sekar," bisik Shaka rendah. Suaranya serak, dalam, dan mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh saraf pusatku.Tanpa menunggu jawabanku, Shaka menyusupkan lengannya di bawah lututku dan mengangkat tubuhku dalam satu gerakan mantap. Aku memekik pelan, refleks mengalungkan lengan ke lehernya. Kain sutra merah marun yang kukenakan tersingkap, memperlihatkan kakiku yang bersentuhan langsung dengan kemeja mahalnya yang kaku.Ia membawaku menaiki tangga marmer menuju lantai atas, melewati lorong sunyi yang hanya diisi oleh suara detak jantung kami yang kian berpacu. Kami tiba di depan pintu ganda yang megah, yang terbuka perlahan menyingkap kamar tidur utama yang luas dengan pencahayaan temaram yang dramatis.Shaka menurunkanku di sisi tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra hitam. Ia tidak langsung menyentuhku. Ia berdiri di sana, menanggalkan kemeja dan jam tangannya dengan gerakan perlahan

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 21

    Setelah ketegangan yang menyesakkan di butik, aku akhirnya menyerah. Dengan sisa tenaga yang ada, kukenakan gaun merah marun itu. Kain sutranya terasa dingin dan licin, memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna seolah-olah ia memang diciptakan hanya untukku. Shaka menatapku sesaat tanpa kata—sebuah tatapan tajam yang sanggup membuat bulu kudukku berdiri—sebelum ia menyelesaikan pembayaran dan membimbingku kembali ke mobil.Namun, kami tidak menuju pesta atau acara formal mana pun. Mobil terus melaju menjauhi kebisingan pusat kota, menembus kawasan perbukitan yang sunyi dan rimbun oleh pepohonan besar.Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang itu terbuka secara otomatis, sebuah hunian modern-kontemporer dengan dominasi kaca dan batu alam berdiri megah di balik keremangan malam."Turun," ucap Shaka singkat.Aku melangkah keluar, bunyi tumit sepatuku beradu dengan lantai marmer teras yang mengkilap. Pintu utama terbuka bahkan sebelum Shaka menye

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 20

    Keheningan di dalam toko bunga itu terasa mencekik saat Maya berdiri membeku. Shaka tidak segera melepaskanku, ia justru memutar tubuhnya perlahan, masih dengan satu tangan yang posesif melingkar di pinggangku. Ia menatap Maya dengan tatapan dingin yang seolah mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya."Keluar," perintah Shaka singkat. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.Maya tergagap, wajahnya memucat hebat. "Ma-maaf, Mbak Sekar. Saya... saya permisi." Ia meletakkan bungkusan makanan itu di atas kursi terdekat dan praktis berlari keluar. Denting lonceng pintu yang ditinggalkannya terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasiku, namun aku tidak lagi peduli pada apa pun.Udara di dalam toko kini terasa lebih berat, dipenuhi aroma mawar yang tajam dan ketegangan yang kian memuncak meski Maya telah menghilang. Shaka tidak beranjak. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu celah pun

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 19

    Sentuhan sepatu Shaka di kakiku terasa seperti api yang merambat di bawah permukaan air. Aku berusaha keras agar tanganku tidak gemetar saat meletakkan cangkir teh kembali ke tatakannya. Di hadapanku, Nadira sedang sibuk bercerita tentang rencana bulan madu kedua mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sedang melakukan tindakan provokatif di bawah meja makan keluarga."Mahesa itu bibit unggul, Sekar," Papa melanjutkan, suaranya terdengar penuh otoritas di tengah denting sendok dan garpu. "Papa rasa kalau keluarga Dinata tahu kalian pernah menghabiskan malam bersama, mereka akan langsung meresmikan hubungan kalian."Ujung sepatu Shaka bergerak pelan, menekan batas kesabaranku dengan isyarat yang hanya kupahami seorang diri."Papa, aku rasa...""Apa?! Kak Sekar sudah tidur dengan Mahesa?" Nadira berseru, suaranya meninggi antara terkejut dan tidak percaya."Wajar saja bagi orang dewasa di zaman sekarang, Dira. Lagipula, Mahesa itu pemuda yang sangat bertanggung jawab. Dia sud

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status