Share

Bab 3

Author: Silver Swan
last update publish date: 2026-07-01 07:59:57

Lampu-lampu Grand Serenity mungkin sudah meredup, tetapi ketegangan di lantai luxury suite ini justru mencapai titik didih.

Shaka tidak membiarkanku pulang. Ia melakukan langkah gila dengan menyewa kamar tepat di samping Presidential Suite, tempat ia dan Nadira seharusnya menghabiskan malam pengantin mereka. Sebuah tindakan beresiko dan sepenuhnya tipikal seorang Arshaka Adhitama yang tak terbiasa dibantah.

"Shaka, ini gila! Nadira hanya berjarak satu dinding dari sini," bisikku parau saat ia menyentakku masuk dan mengunci pintu rapat-rapat.

Shaka tidak peduli. Ia melempar jasnya ke lantai, menyisakan kemeja putih yang kini kusut masai. Matanya berkilat murka-atau mungkin gairah yang terdistorsi cemburu buta.

"Shaka, kamu sudah sah menjadi suami adikku! Jaga batasanmu!"

"Batasan?" Shaka tertawa getir, suara yang terdengar sangat berbahaya di kesunyian malam. "Setelah apa yang kita lakukan semalam? Jangan bicara soal batasan padaku saat kamu masih membawa aromaku di kulitmu, Sekar."

Ia merunduk, membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup dalam-dalam seolah aku adalah candu. Aku mencoba mendorongnya, namun tenaganya jauh lebih kuat. Cemburu telah mengubah Shaka yang biasanya tenang menjadi sosok predator yang haus pengakuan.

"Aku nggak suka ada pria lain menyentuhmu. Mahesa... bajingan itu menatapmu seolah kamu adalah miliknya. Aku benci itu!"

Ia menerjang bibirku dengan ciuman yang menghancurkan. Tanpa pembukaan, tanpa kelembutan. Tangannya merayap turun, meremas pinggulku dengan tekanan yang kupastikan akan meninggalkan jejak keunguan besok pagi. Aku mengerang kecil, mencoba mempertahankan sisa kewarasan, namun wangi maskulin yang khas itu meruntuhkan pertahananku seketika.

Shaka menarik kebaya abu-abu yang kukenakan hingga beberapa kancingnya terpelanting di atas karpet tebal hotel. Ia membalikkan tubuhku, menekan dadaku ke arah jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip Jakarta.

"Lihat ke luar, Sekar," bisiknya di tengkukku, sementara tangannya menjelajahi area sensitif dengan penguasaan penuh. "Dunia mengira aku sedang bersama adikmu. Tapi hanya kamu yang tahu di mana aku sebenarnya. Hanya kamu yang bisa merasakan betapa kerasnya aku menginginkanmu."

Sentuhannya membakar kulitku. Shaka seolah ingin menghapus jejak tatapan Mahesa dengan cara yang paling primitif. Saat ia menyatukan tubuh kami, aku terpaksa menggigit bibir bawah hingga berdarah agar teriakan nikmatku tidak menembus dinding kamar. Tubuhku masih terasa sensitif setelah kejadian malam sebelumnya, saat ia pertama kali mengambil mahkotaku dan kini ia melakukannya dengan intensitas yang berlipat ganda.

Gairah itu meledak bak badai. Di kamar sebelah, mungkin Nadira sedang menunggu. Namun di sini, suaminya sedang memuja setiap inci tubuhku dengan penuh nafsu. Shaka memegang kendali sepenuhnya, menuntut setiap desahan dan air mataku sebagai bukti kepemilikannya.

"Sebut namaku," tuntutnya dengan napas memburu. "Katakan siapa yang memilikimu, Sekar."

"Shaka... Arshaka..." aku merintih, kuku-kukuku mencengkeram bahu kokohnya.

Ia bergerak lebih dalam, lebih cepat, seolah ingin memastikan tidak akan ada ruang bagi pria lain di pikiranku. Setiap hentakannya adalah penegasan kekuasaan. Keringat kami bercucuran, menyatu dalam pergumulan panas yang mengabaikan moralitas dan ikatan keluarga.

"Aku akan mengisimu setiap malam sampai benihku tumbuh di sini," ucapnya serak, tangannya mengusap perutku dengan gerakan posesif yang mengerikan.

Malam itu, Shaka tidak berhenti sekali pun. Ia menghabiskan seluruh energinya untuk memastikan bahwa saat fajar menyingsing, akulah yang pertama dan terakhir ia lihat sebelum ia harus kembali mengenakan topeng sebagai suami sempurna Nadira.

***

Cahaya biru pucat fajar mulai mengintip dari balik tirai, memberikan rona dingin pada kekacauan yang kami ciptakan. Kamar ini berbau keringat, sisa parfum yang menguap, dan aroma dosa yang pekat.

Aku terbangun dengan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tulang. Setiap gerakan adalah pengingat betapa brutalnya Shaka memperlakukanku semalam. Tangannya masih melingkar protektif di pinggangku. Ia tampak begitu tenang saat tidur, berbeda jauh dari sosok pria posesif beberapa jam lalu. Di jari manisnya, sebuah lingkaran emas melingkar dengan angkuh. Cincin kawinnya dengan Nadira.

Aku bangkit dengan kaki gemetar. Di atas karpet, aku menemukan kebayaku yang malang. Beberapa kancingnya sudah tak bersisa karena tarikan paksa Shaka. Aku terpaksa memungut jas hitam Shaka untuk menutupi tubuhku yang penuh tanda kemerahan, lalu mencari sisa pakaianku yang terserak.

Setiap gerakan terasa berat. Ada rasa perih yang tertinggal di paha bagian dalam. Sambil menahan air mata yang mendesak, aku memakai kembali kebayaku yang tidak bisa lagi dikancingi sempurna.

Sebelum melangkah ke pintu, aku menoleh sekali lagi ke arah tempat tidur.

"Maafin aku, Nadira," bisikku lirih. Sebuah permintaan maaf yang aku tahu hanyalah omong kosong munafik.

Aku menyelinap keluar. Lorong hotel Grand Serenity masih sunyi. Aku berjalan cepat menuju lift, menundukkan kepala sedalam mungkin, merasa seolah setiap kamera CCTV sedang menelanjangi rahasiaku.

Di dalam taksi yang membawaku menembus remang subuh, aku menyandarkan kepala di jendela yang dingin. Tubuhku lelah, tapi pikiranku sangat jernih. Aku pulang dengan membawa rahasia besar, membawa benih pria yang seharusnya menjadi saudara iparku, dan sebuah rencana yang mulai bergulir.

Taksi berhenti tepat di depan gerbang kediaman Djayadi. Aku turun dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat pincang. Rasa perih di pangkal paha adalah pengingat konstan tentang betapa laparnya Shaka semalam.

Aku masuk melalui pintu samping, tempat para ART dan pegawai keluar masuk. Kemudian langsung menuju kamarku yang terletak di bagian belakang rumah besar itu.

Ya, sejak Nadira masuk ke rumahku, kamarku di lantai dua menjadi miliknya. Sebenarnya masih ada beberapa kamar lain di lantai dua. Rumah Djayadi tidak kehabisan kamar untuk tamu atau penghuninya. Tetapi Rena, Sang Nyonya Rumah Baru, memutuskan aku layak tinggal di kamar belakang. Kamar yang diperuntukkan untuk para ART. Aku tidak marah, justru aku sangat bersyukur karena aku bebas keluar masuk kediaman Djayadi tanpa takut menimbulkan kecurigaan.

Kamar belakang itu sunyi, hanya diisi aroma kayu tua dan cairan pembersih lantai. Jendela kecilnya menghadap taman, tempat para ART biasa menjemur pakaian. Tidak ada kemewahan di sini, hanya ranjang single dengan sprei polos, lemari besi yang engselnya berdecit, dan meja kecil dengan cermin buram. Namun justru di sinilah aku merasa paling aman.

Aku menutup pintu perlahan, lalu menyandarkan punggung ke sana. Napasku tertahan beberapa detik, seolah tubuhku baru sekarang berani mengakui betapa lelahnya aku. Tanganku gemetar saat meraih meja dan duduk. Bayangan wajah Shaka yang tenang, dingin, dan penuh kepemilikan berkelebat, lalu berganti dengan wajah Nadira yang selalu tampak riang.

Lihat saja Rena, aku akan menghancurkan kebahagiaan putrimu satu-satunya!

Dengan tubuh ngilu, aku memaksa kakiku melangkah menuju cermin besar di samping lemari. Aku melepas kebaya rusak itu. Tubuhku penuh dengan karya seni Shaka. Tanda keunguan di selangka, bekas gigitan di bahu, dan bekas cengkeraman di pinggul. Aku menyentuh salah satu bercak merah di dadaku dengan ujung jari.

Sebuah senyum tipis yang dingin dan penuh kemenangan terukir di bibirku.

"Kamu terlalu mudah ditebak, Shaka," bisikku pada pantulan diriku sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 20

    Keheningan di dalam toko bunga itu terasa mencekik saat Maya berdiri membeku. Shaka tidak segera melepaskanku, ia justru memutar tubuhnya perlahan, masih dengan satu tangan yang posesif melingkar di pinggangku. Ia menatap Maya dengan tatapan dingin yang seolah mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya."Keluar," perintah Shaka singkat. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.Maya tergagap, wajahnya memucat hebat. "Ma-maaf, Mbak Sekar. Saya... saya permisi." Ia meletakkan bungkusan makanan itu di atas kursi terdekat dan praktis berlari keluar. Denting lonceng pintu yang ditinggalkannya terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasiku, namun aku tidak lagi peduli pada apa pun.Udara di dalam toko kini terasa lebih berat, dipenuhi aroma mawar yang tajam dan ketegangan yang kian memuncak meski Maya telah menghilang. Shaka tidak beranjak. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu celah pun

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 19

    Sentuhan sepatu Shaka di kakiku terasa seperti api yang merambat di bawah permukaan air. Aku berusaha keras agar tanganku tidak gemetar saat meletakkan cangkir teh kembali ke tatakannya. Di hadapanku, Nadira sedang sibuk bercerita tentang rencana bulan madu kedua mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sedang melakukan tindakan provokatif di bawah meja makan keluarga."Mahesa itu bibit unggul, Sekar," Papa melanjutkan, suaranya terdengar penuh otoritas di tengah denting sendok dan garpu. "Papa rasa kalau keluarga Dinata tahu kalian pernah menghabiskan malam bersama, mereka akan langsung meresmikan hubungan kalian."Ujung sepatu Shaka bergerak pelan, menekan batas kesabaranku dengan isyarat yang hanya kupahami seorang diri."Papa, aku rasa...""Apa?! Kak Sekar sudah tidur dengan Mahesa?" Nadira berseru, suaranya meninggi antara terkejut dan tidak percaya."Wajar saja bagi orang dewasa di zaman sekarang, Dira. Lagipula, Mahesa itu pemuda yang sangat bertanggung jawab. Dia sud

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 18

    Aku menyeret koper perak itu menyusuri koridor lantai dua. Beratnya seolah mewakili beban rahasia yang kupikul, namun langkahku tetap kupaksa tenang, nyaris tak bersuara di atas karpet tebal. Aku menghela napas panjang di depan pintu kamar Nadira, menatap koper di tanganku sejenak sebelum mengetuk pintu kayu mahoni yang berat.Tok. Tok. Tok."Masuk," suara Shaka terdengar dari dalam.Aku membuka pintu perlahan. Aroma pengharum ruangan yang terlalu manis memenuhi ruangan. Shaka berdiri membelakangiku di dekat jendela besar. Ia mengenakan bathrobe putih longgar yang memperlihatkan tengkuk kokohnya."Aku menaruh kopernya di sini, Mas," bisikku sembari meletakkan koper itu di dekat sofa.Mendengar derit roda koper, ia berbalik. Matanya yang tadi sedingin es kini menggelap, memancarkan rasa lapar yang selama ini ia tekan rapat di depan istrinya."Berani sekali kamu pergi dengan Mahesa saat aku nggak ada, Sekar," desisnya tepat di depan wajahku. Napasnya beraroma mint, berbaur dengan aura

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 17

    Setelah selesai makan, Mahesa tidak langsung mengajakku pulang. Ia menarik tanganku, menuntunku melewati riuh rendah kerumunan menuju deretan stan permainan pasar malam.Ia berhenti di depan stan Lempar Gelang. Hadiah utamanya adalah sebuah boneka beruang besar yang warnanya sudah agak kusam oleh debu jalanan. Namun, Mahesa menatapnya seolah boneka itu adalah trofi paling bergengsi di dunia."Aku akan memenangkan beruang itu untukmu," katanya penuh tekad."Esa, jangan konyol. Kamu bisa beli seribu boneka yang jauh lebih mewah di mal," bisikku, mencoba menarik lengannya agar kami segera pergi."Ssst," potongnya jenaka sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada penjual. "Lihat dan pelajari, Sekar."Namun, realita ternyata tidak semanis film romantis. Mahesa, dengan segala kecerdasannya di dunia bisnis, ternyata sangat payah dalam urusan membidik botol kaca dengan gelang plastik. Sepuluh lemparan pertama meleset jauh. Lima lemparan berikutnya memantul liar ke segala arah.Aku tertawa

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 16

    Mahesa terdiam cukup lama, membiarkan kalimatku menggantung di udara bersama aroma kamboja yang luruh. Ia menoleh perlahan, menatap tanganku yang masih bersandar di pundaknya. Ada keheningan yang menyesakkan, namun anehnya terasa menenangkan di saat yang bersamaan.“Kamu orang kedua yang mengatakan itu, Sekar,” bisiknya parau. “Biasanya orang hanya bilang aku harus bersyukur atas harta ini, atau mengingatkanku untuk tidak mempermalukan nama besar Dinata.”Ia meraih jemariku, menggenggamnya dengan hangat seolah tak ingin melepaskan satu-satunya jangkar yang ia miliki saat ini. "Terima kasih."Orang kedua? Lalu siapa orang pertama yang mengatakannya?Jujur aku penasaran, namun aku tahu itu bukan kapasitas ku untuk mencampuri urusan pribadi Mahesa.Kami menghabiskan waktu beberapa jam di sana. Mahesa menceritakan masa kecilnya yang sepi di rumah bak istana, sementara aku mendengarkan dengan saksama. Di depan nisan itu, topeng kami berdua tanggal. Kami bukan lagi Sekar Djayadi yang haus d

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 15

    Hari-hariku selanjutnya berlalu dalam kedamaian semu di toko bunga. Papa masih sering menanyakan Mahesa dengan nada antusias, sementara Rena—untuk sementara waktu—tidak lagi berani menggangguku. Namun, ada satu hal yang terus mengusik ketenanganku: sudah beberapa hari ini Shaka tidak menelepon.Ada apa dengannya? Biasanya, dia tidak pernah lupa menghubungiku, sekadar bertanya apa yang sedang aku lakukan hampir setiap jamnya.Apa dia benar-benar begitu menikmati bulan madunya dengan Nadira hingga melupakanku sepenuhnya?Tunggu!Sekar, apa yang baru saja kamu pikirkan?! Kamu merindukannya? Kamu cemburu pada Nadira? Kamu sudah gila rupanya!"Mbak Sekar, masih pagi kok sudah melamun?" Suara Maya, pegawaiku, tiba-tiba muncul di balik buket mawar pesanan pelanggan.Aku tersentak, hampir saja menjatuhkan gunting dahan di tanganku. Dengan gugup, aku memaksakan senyum tipis untuk menutupi kekacauan di benakku."Eh, Maya. Enggak kok, cuma lagi mikirin stok krisan yang mulai menipis," alihku asa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status