로그인Lampu-lampu Grand Serenity mungkin sudah meredup, tetapi ketegangan di lantai luxury suite ini justru mencapai titik didih.
Shaka tidak membiarkanku pulang. Ia melakukan langkah gila dengan menyewa kamar tepat di samping Presidential Suite, tempat ia dan Nadira seharusnya menghabiskan malam pengantin mereka. Sebuah tindakan beresiko dan sepenuhnya tipikal seorang Arshaka Adhitama yang tak terbiasa dibantah. "Shaka, ini gila! Nadira hanya berjarak satu dinding dari sini," bisikku parau saat ia menyentakku masuk dan mengunci pintu rapat-rapat. Shaka tidak peduli. Ia melempar jasnya ke lantai, menyisakan kemeja putih yang kini kusut masai. Matanya berkilat murka-atau mungkin gairah yang terdistorsi cemburu buta. "Shaka, kamu sudah sah menjadi suami adikku! Jaga batasanmu!" "Batasan?" Shaka tertawa getir, suara yang terdengar sangat berbahaya di kesunyian malam. "Setelah apa yang kita lakukan semalam? Jangan bicara soal batasan padaku saat kamu masih membawa aromaku di kulitmu, Sekar." Ia merunduk, membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup dalam-dalam seolah aku adalah candu. Aku mencoba mendorongnya, namun tenaganya jauh lebih kuat. Cemburu telah mengubah Shaka yang biasanya tenang menjadi sosok predator yang haus pengakuan. "Aku nggak suka ada pria lain menyentuhmu. Mahesa... bajingan itu menatapmu seolah kamu adalah miliknya. Aku benci itu!" Ia menerjang bibirku dengan ciuman yang menghancurkan. Tanpa pembukaan, tanpa kelembutan. Tangannya merayap turun, meremas pinggulku dengan tekanan yang kupastikan akan meninggalkan jejak keunguan besok pagi. Aku mengerang kecil, mencoba mempertahankan sisa kewarasan, namun wangi maskulin yang khas itu meruntuhkan pertahananku seketika. Shaka menarik kebaya abu-abu yang kukenakan hingga beberapa kancingnya terpelanting di atas karpet tebal hotel. Ia membalikkan tubuhku, menekan dadaku ke arah jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip Jakarta. "Lihat ke luar, Sekar," bisiknya di tengkukku, sementara tangannya menjelajahi area sensitif dengan penguasaan penuh. "Dunia mengira aku sedang bersama adikmu. Tapi hanya kamu yang tahu di mana aku sebenarnya. Hanya kamu yang bisa merasakan betapa kerasnya aku menginginkanmu." Sentuhannya membakar kulitku. Shaka seolah ingin menghapus jejak tatapan Mahesa dengan cara yang paling primitif. Saat ia menyatukan tubuh kami, aku terpaksa menggigit bibir bawah hingga berdarah agar teriakan nikmatku tidak menembus dinding kamar. Tubuhku masih terasa sensitif setelah kejadian malam sebelumnya, saat ia pertama kali mengambil mahkotaku dan kini ia melakukannya dengan intensitas yang berlipat ganda. Gairah itu meledak bak badai. Di kamar sebelah, mungkin Nadira sedang menunggu. Namun di sini, suaminya sedang memuja setiap inci tubuhku dengan penuh nafsu. Shaka memegang kendali sepenuhnya, menuntut setiap desahan dan air mataku sebagai bukti kepemilikannya. "Sebut namaku," tuntutnya dengan napas memburu. "Katakan siapa yang memilikimu, Sekar." "Shaka... Arshaka..." aku merintih, kuku-kukuku mencengkeram bahu kokohnya. Ia bergerak lebih dalam, lebih cepat, seolah ingin memastikan tidak akan ada ruang bagi pria lain di pikiranku. Setiap hentakannya adalah penegasan kekuasaan. Keringat kami bercucuran, menyatu dalam pergumulan panas yang mengabaikan moralitas dan ikatan keluarga. "Aku akan mengisimu setiap malam sampai benihku tumbuh di sini," ucapnya serak, tangannya mengusap perutku dengan gerakan posesif yang mengerikan. Malam itu, Shaka tidak berhenti sekali pun. Ia menghabiskan seluruh energinya untuk memastikan bahwa saat fajar menyingsing, akulah yang pertama dan terakhir ia lihat sebelum ia harus kembali mengenakan topeng sebagai suami sempurna Nadira. *** Cahaya biru pucat fajar mulai mengintip dari balik tirai, memberikan rona dingin pada kekacauan yang kami ciptakan. Kamar ini berbau keringat, sisa parfum yang menguap, dan aroma dosa yang pekat. Aku terbangun dengan rasa nyeri yang menjalar di sekujur tulang. Setiap gerakan adalah pengingat betapa brutalnya Shaka memperlakukanku semalam. Tangannya masih melingkar protektif di pinggangku. Ia tampak begitu tenang saat tidur, berbeda jauh dari sosok pria posesif beberapa jam lalu. Di jari manisnya, sebuah lingkaran emas melingkar dengan angkuh. Cincin kawinnya dengan Nadira. Aku bangkit dengan kaki gemetar. Di atas karpet, aku menemukan kebayaku yang malang. Beberapa kancingnya sudah tak bersisa karena tarikan paksa Shaka. Aku terpaksa memungut jas hitam Shaka untuk menutupi tubuhku yang penuh tanda kemerahan, lalu mencari sisa pakaianku yang terserak. Setiap gerakan terasa berat. Ada rasa perih yang tertinggal di paha bagian dalam. Sambil menahan air mata yang mendesak, aku memakai kembali kebayaku yang tidak bisa lagi dikancingi sempurna. Sebelum melangkah ke pintu, aku menoleh sekali lagi ke arah tempat tidur. "Maafin aku, Nadira," bisikku lirih. Sebuah permintaan maaf yang aku tahu hanyalah omong kosong munafik. Aku menyelinap keluar. Lorong hotel Grand Serenity masih sunyi. Aku berjalan cepat menuju lift, menundukkan kepala sedalam mungkin, merasa seolah setiap kamera CCTV sedang menelanjangi rahasiaku. Di dalam taksi yang membawaku menembus remang subuh, aku menyandarkan kepala di jendela yang dingin. Tubuhku lelah, tapi pikiranku sangat jernih. Aku pulang dengan membawa rahasia besar, membawa benih pria yang seharusnya menjadi saudara iparku, dan sebuah rencana yang mulai bergulir. Taksi berhenti tepat di depan gerbang kediaman Djayadi. Aku turun dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat pincang. Rasa perih di pangkal paha adalah pengingat konstan tentang betapa laparnya Shaka semalam. Aku masuk melalui pintu samping, tempat para ART dan pegawai keluar masuk. Kemudian langsung menuju kamarku yang terletak di bagian belakang rumah besar itu. Ya, sejak Nadira masuk ke rumahku, kamarku di lantai dua menjadi miliknya. Sebenarnya masih ada beberapa kamar lain di lantai dua. Rumah Djayadi tidak kehabisan kamar untuk tamu atau penghuninya. Tetapi Rena, Sang Nyonya Rumah Baru, memutuskan aku layak tinggal di kamar belakang. Kamar yang diperuntukkan untuk para ART. Aku tidak marah, justru aku sangat bersyukur karena aku bebas keluar masuk kediaman Djayadi tanpa takut menimbulkan kecurigaan. Kamar belakang itu sunyi, hanya diisi aroma kayu tua dan cairan pembersih lantai. Jendela kecilnya menghadap taman, tempat para ART biasa menjemur pakaian. Tidak ada kemewahan di sini, hanya ranjang single dengan sprei polos, lemari besi yang engselnya berdecit, dan meja kecil dengan cermin buram. Namun justru di sinilah aku merasa paling aman. Aku menutup pintu perlahan, lalu menyandarkan punggung ke sana. Napasku tertahan beberapa detik, seolah tubuhku baru sekarang berani mengakui betapa lelahnya aku. Tanganku gemetar saat meraih meja dan duduk. Bayangan wajah Shaka yang tenang, dingin, dan penuh kepemilikan berkelebat, lalu berganti dengan wajah Nadira yang selalu tampak riang. Lihat saja Rena, aku akan menghancurkan kebahagiaan putrimu satu-satunya! Dengan tubuh ngilu, aku memaksa kakiku melangkah menuju cermin besar di samping lemari. Aku melepas kebaya rusak itu. Tubuhku penuh dengan karya seni Shaka. Tanda keunguan di selangka, bekas gigitan di bahu, dan bekas cengkeraman di pinggul. Aku menyentuh salah satu bercak merah di dadaku dengan ujung jari. Sebuah senyum tipis yang dingin dan penuh kemenangan terukir di bibirku. "Kamu terlalu mudah ditebak, Shaka," bisikku pada pantulan diriku sendiri.Hari-hariku berikutnya aku lalui dalam kebahagiaan. Bumi adalah sumber kebahagiaanku saat ini. Hingga tidak terasa aku dan Bumi sudah diperbolehkan pulang. "Mas, katanya ada rapat sama investor hari ini?" Aku memandang Shaka yang sedang memerintahkan asistennya untuk membawa koper berisi perlengkapan bayi dan bajuku selama di rumah sakit. "Sudah aku undur." Shaka mengambil Bima dari pangkuanku. "Mas, aku dan Bumi bisa pulang sendiri." "No," Shaka menggeleng. "Kalian jauh lebih penting daripada investor." Aku tertawa kecil sambil mengikuti Shaka keluar ruangan. Tangannya yang bebas menggenggam tanganku. "Kamu mau tinggal di apartemen atau di rumah, Sekar?" tanya Shaka. "Terserah, Mas." "Kita tinggal di rumah aja, ya." "Apa nggak jauh dari kantor, Mas?" Shaka menggeleng, "Aku sudah mengajukan cuti selama tiga bulan." Aku tertawa lagi, "Kasihan asistenmu, Mas." "Biar," Shaka ikut tertawa. "Itu sudah tugas mereka kok." Genggaman tanganku semakin erat, "Kalau Papa dan Mama bag
Tanganku terkapar layu di atas sprei yang masih basah oleh peluh. Otot-otot di seluruh tubuhku rasanya lepas dari sendinya, meninggalkan rasa ngilu yang berdenyut dari pinggang hingga ke ujung kaki. Napasku mulai teratur, tidak lagi memburu seperti saat memburu oksigen di tengah pacuan rasa sakit sejam yang lalu. Di sebelah ranjang, Shaka masih berlutut. Tinggi badannya yang biasa membuat orang lain merasa kerdil kini terpangkas, membuatnya sejajar dengan kasur tempatku terbaring. Bayi kami tidur pulas di dalam sanggaan dua telapak tangannya yang lebar. Selimut kuning berpola beruang itu terangkat naik turun secara ritmis mengikuti tarikan napas halus si kecil. Jemari mungil bayi itu masih mengunci ujung kancing kemeja Shaka. Kain putih kemeja itu sudah melar ditarik oleh kekuatan kecil yang baru berusia hitungan menit. Shaka sama sekali tidak berusaha melepaskannya. Ia membiarkan benang kemejanya tegang, seolah pergerakan sekecil apa pun akan mematahkan momen langka yang sedang berp
Satu bulan berlalu.Suara mesin detak jantung berbunyi konstan di dalam ruangan beraroma antiseptik yang tajam. Tirai putih di samping tempat tidurku sesekali berkibar pelan terkena hembusan pendingin udara.Aku berbaring pasrah di atas ranjang. Rambutku lepek menempel di dahi dan pelipis. Napasku masih terengah-engah, dada turun naik mengikuti rasa lelah yang luar biasa. Sprei di bawah tubuhku yang kuremas sepanjang beberapa jam terakhir kini kusut bergelombang.Di sisi kanan ranjang, Shaka berdiri. Kemeja putih yang ia kenakan sejak pagi tadi sudah berkerut parah, dua kancing atasnya terbuka, dan lengan bajunya tergulung tidak rapi di atas siku. Keringat mengering di leher dan dahinya. Ibu jarinya yang kasar masih terikat erat pada genggaman jemariku—bahkan bekas garis memar kemerahan akibat cengkeramanku saat puncak kontraksi tadi masih berjejak jelas di punggung tangannya."Owekkk... owekkk..."Suara tangisan melengking yang pecah di sudut ruangan memotong sunyi. Seorang perawat b
Malam itu, Shaka pulang tepat waktu. Jam dinding baru menunjuk angka tujuh ketika suara kunci pintu berputar.Aku yang sedang berdiri di dekat jendela apartemen berbalik. Shaka masuk membawa dua kantong kertas berisi buah-buahan segar dan makanan hangat. Kemeja kerjanya masih rapi, meski dasinya sudah dilonggarkan. Tidak ada raut panik, tidak ada kesan pria yang baru kehilangan arah. Perusahaan rintisan yang ia bangun sendiri selama beberapa tahun terakhir memang berjalan stabil, cukup untuk menopang kehidupan kami tanpa perlu menyentuh satu sen pun uang keluarga Adhitama. Fasilitasnya boleh dicabut, tapi Shaka bukan pria tanpa persiapan.Ia meletakkan kantong kertas di meja dapur, lalu berjalan mendekatiku. Tangan hangatnya langsung mendarat di perutku yang membuncit keras, menyapa si kecil yang merespons dengan satu tendangan halus."Dia aktif malam ini," gumam Shaka. Senyum tipis terukir di bibirnya, tapi matanya menyimpankan lelah yang berbeda."Mas baru bertemu Papa?" tanyaku pel
Mobil Shaka berjalan pelan meninggalkan gerbang tinggi berornamen tembaga yang tertutup rapat. Bunyi mesin mobil yang halus menjadi satu-satunya suara di dalam kabin, membelah jalanan komplek perumahan yang sepi.Shaka tidak melepaskan genggaman tangannya. Ibu jarinya terus mengusap punggung tanganku yang masih terasa dingin. Matanya fokus menatap jalan di depan, namun rahangnya mengeras, memperlihatkan garis otot yang menegang di sepanjang pipinya."Kita tidak akan kembali ke sana lagi," bisik Shaka. Suaranya serak, memecah keheningan di antara kami.Aku hanya diam, menatap keluar jendela. Pepohonan besar di tepi jalan melintas cepat, berganti menjadi barisan toko dan gedung bertingkat. Di dalam perutku, ada gerakan kecil yang halus. Aku meletakkan tangan kiriku di atas perut, menekan kain gaun yang terlipat."Kamu lapar?" tanya Shaka tanpa menoleh.Aku menggeleng pelan. Tenggorokanku terasa kering dan penuh, seolah kata-kata Achazia masih tertahan di sana, menyumbat jalurnya udara.
Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika mobil Shaka berhenti di depan gerbang tinggi berornamen ukiran tembaga. Rumah keluarga besar Adhitama berdiri kokoh, memancarkan kemewahan yang menekan dada. Aku meremas kain gaun hamilku yang longgar, merasakan dingin memanjat dari telapak kaki hingga ke persendian.Shaka meraih jemariku yang membeku, menggenggamnya erat sebelum keluar dan membukakan pintu. "Ada aku. Kamu cuma perlu berada di sampingku," bisiknya di dekat telingaku.Pintu kayu jati berukir dibukakan oleh seorang pelayan berseragam rapi. Di ruang tamu berlantai marmer, dua orang paruh baya sudah duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua. Ayah Shaka— Achazia Adhitama sedang membaca koran dengan kacamata minus bertengger di ujung hidung. Di sebelahnya, Ibu Shaka— Berliana sedang memutar-mutar cangkir porselen di tangannya."Papa, Mama," panggil Shaka, suaranya tenang namun mengunci perhatian.Achazia menurunkan korannya perlahan. Lembaran kertas tebal itu berkresek halus sebel







