แชร์

Bab 13. Make Over

ผู้เขียน: dwi23end
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-14 20:23:19

Clarissa mendorong Mahesa masuk ke sebuah bangunan megah dan estetik yang merupakan klinik sekaligus salon kecantikan.

Seorang petugas perempuan berseragam langsung menyapa Clarissa dengan ramah.

“Apa yang bisa saya bantu Nona Clarissa. Lama Anda tidak berkunjung.”

“Ya, aku belum sempat Norma. Sekarang aku ingin perawatan seperti biasanya. Aku juga ingin kamu rombak dia,” kata Clarissa sambil melirik Mahesa yang terlihat sangat tidak nyaman.

“Tentu saja. Apakah dia kekasih Anda Nona? Baru ka
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 18. Sarapan

    Sinar matahari masuk melalui jendela besar, menyinari ruang makan keluarga Sudjana. Meja kayu jati berukuran besar sudah dipenuhi hidangan khas pagi hari. Di ujung meja, Pak Jatmiko sedang membaca koran fisik, sementara istrinya, Larasati, sibuk mengoleskan selai pada roti untuk sang suami. Mirella dan suaminya, Bertrand, duduk berdampingan di sebelah kiri. Mirella sibuk mengaduk serealnya, sedangkan Bertrand menikmati sandwich-nya.Suasana begitu hening. Tidak ada yang bersuara.Langkah kaki yang mendekat memecah fokus semua orang. Clarissa dan Mahesa memasuki ruangan sambil bergandengan tangan, wajah keduanya tampak begitu bahagia.“Selamat pagi, semuanya,” sapa Mahesa seraya mengangguk dan menggeser kursi untuk Clarissa tanpa melepaskan genggaman tangannya.Pak Jatmiko tak bereaksi. Larasati hanya mencebik. Mirella menghentikan gerakannya, terpana sejenak melihat kemesraan kakak tirinya, sedangkan Bertrand memilih kembali melahap sandwich-nya.“Pagi, Pa, Ma,” seru Clarissa sembari d

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 17. Harus Lebih Mesra

    Clarissa membuka pintu. Seorang asisten rumah tangga mengantarkan teh panas dan juga cemilan. “Terima kasih Bi Misa.” Clarissa menerimanya dan tidak membiarkan Bi Misa masuk seperti biasanya. Mata Bi Misa menangkap adanya seseorang pria dari pintu yang terbuka sedikit itu.“Kumpulkan semua pegawai. Aku ingin mengenalkan pada kalian suamiku,” perintah Clarissa.“Baik, Nona,” ujar Bi Misa sedikit membungkuk dan kemudian pergi ke dapur.Clarissa membawa teh hangat dan juga cemilan itu dan meletakkannya di meja sofa. Mahesa menyandarkan punggungnya di sofa, melirik cangkir tunggal itu sambil melempar senyum tipis. “Tidak adakah jatah minuman hangat untuk suamimu ini?” “Maaf, Mahesa kamu akan mendapatkannya tiap pagi berikutnya. Bi Misa belum tahu kalau mulai tadi malam kamu tidur di kamarku. Cobalah cemilannya, kalau kau suka,” tawar Clarissa meraih cangkirnya dan meminumnya sedikit.Mahesa meraih kue kering dan memakannya. Rasanya manis dan lembut di lidah.Mahesa mengetukkan jarinya

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 16. Malam Pertama

    Bab 16. Malam Pertama“Jangan takut, Ca. Kita, kan nikah bohongan. Apa kita tidur di kamar berbeda?” tanya Mahesa tersenyum kecil.Clarissa menghela napas lega. “Tidak perlu,” serunya. Kenapa ia terbawa serius? “Ok, aku terserah saja,” jawab Mahesa kini memutar musik lembut. Entah kenapa Clarissa enggan berbicara lagi. Mahesa memilih diam juga. Hanya alunan musik yang mengisi kebisuan mereka. Clarissa mulai memikirkan kehidupannya nanti yang akan berbagi dengan pria yang kini sibuk menyetir itu.Mobil mereka pun terus meluncur menembus malam memasuki kawasan elit yang sepi. Seorang satpam rumah keluarga Sudjana membuka pintu gerbang dengan remote. Mahesa mengangguk menyapa satpam itu yang masih merasa asing dengan wajah Mahesa. Mobil pun memasuki pelataran dan masuk ke garasi. Mahesa sempat melihat beberapa mobil mewah berjajar mengisi garasi besar itu.Mahesa mematikan mesin mobil dan mereka pun turun. Tanpa suara mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah lewat pintu garasi.

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 15. Rumah Pak Edo

    Mendengar pertanyaan Mahesa, Clarissa tidak langsung menjawab. Matanya tetap fokus menatap jalanan di depan. “Kamu pasti berpikir aku tetap menerima posisi direktur utama hanya karena ambisiku. Termasuk alasan aku menikah kontrak denganmu. Keluargaku menuduhku demikian dan kebanyakan orang akan berprasangka begitu. Terserah. Aku tidak perlu menjelaskan apa pun pada orang yang memang meragukan dedikasiku,” ujar Clarissa tersenyum sinis. Mahesa tidak menduga reaksi Clarissa akan sedingin itu. “Aku baru beberapa minggu mengenalmu. Mungkin aku perlu waktu untuk tidak menanyakan pertanyaan itu kepadamu,” tukas Mahesa, memilih untuk tidak memanjangkan topik yang sensitif tersebut. Clarissa hanya menyunggingkan senyum tipis tanpa menoleh. "Bagus kalau kamu paham," sahutnya singkat. Tak berapa lama, Clarissa menepi di pinggir jalan tak jauh dari lokasi tempat ia menurunkan Mandy tadi. Dari balik kaca mobil, terlihat Mandy sudah berdiri menunggu sambil memegang karangan bunga dan dua kan

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 14. Tak Cukup Hanya Ukuran XL

    Clarissa melangkah kembali ke dalam ruang kerjanya. Di sana, Mandy sudah berdiri menyambutnya seperti biasa. "Mandy, tolong pesankan hadiah untuk Pak Edo. Kamu pasti tahu apa yang menjadi kesukaannya. Aku ingin beliau bisa menikmati masa pensiunnya dengan tenang dan gembira," seru Clarissa seraya mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Ia menyalakan laptop dan mulai meneliti barisan laporan hari ini. "Baik, Nona. Apakah Nona ingin menyerahkannya secara langsung atau melalui pihak HRD perusahaan?" tanya Mandy memastikan. "Aku ingin berkunjung ke rumah Pak Edo bersamamu saat pulang kerja nanti. Tolong konfirmasikan padanya bahwa aku akan datang," ujar Clarissa tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Binar bahagia memancar dari wajah Mandy. "Terima kasih banyak, Nona, atas kemurahan hati Anda. Paman dan Bibi pasti akan sangat senang menyambut kedatangan Nona. Apakah ada hal lain yang perlu saya kerjakan?" "Tidak ada. Kamu boleh kembali bekerja." Setelah memastikan langkah kak

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 13. Make Over

    Clarissa mendorong Mahesa masuk ke sebuah bangunan megah dan estetik yang merupakan klinik sekaligus salon kecantikan. Seorang petugas perempuan berseragam langsung menyapa Clarissa dengan ramah.“Apa yang bisa saya bantu Nona Clarissa. Lama Anda tidak berkunjung.” “Ya, aku belum sempat Norma. Sekarang aku ingin perawatan seperti biasanya. Aku juga ingin kamu rombak dia,” kata Clarissa sambil melirik Mahesa yang terlihat sangat tidak nyaman. “Tentu saja. Apakah dia kekasih Anda Nona? Baru kali ini Anda membawa seorang pria. Maaf, kalau saya kurang sopan,” ujat Norma memandang Mahesa dari atas ke bawah. Mahesa mengalihkan pandangannya jengah. Seorang pegawai perempuan yang lainnya juga muncul dan menatapnya dengan seksama. Ia layaknya barang saja. “Dia adalah suamiku untuk setahun ini. Tiap bulan dia akan berkunjung kemari,” tukas Clarissa tersenyum pada Mahesa. Mahesa hanya mengelus dada sambil memutar bola matanya. Pegawai yang bernama Norma langsung senyum tipis mendengar kata s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status