author-banner
dwi23end
dwi23end
Author

Novels by dwi23end

Bukan Sekedar Istri Pengganti

Bukan Sekedar Istri Pengganti

Ambar ingin bercerai dengan suaminya. Ia pikir dengan berpisah ia akan bebas dan kembali berbahagia. Ia juga ingin mempermudah keinginan suaminya untuk bisa kembali bersama wanita idamannya. Namun entah kenapa kata-kata cerainya ditolak mentah-mentah oleh Sandy sang suami. Keesokan harinya ia hampir mengalami percobaan pembunuhan. Pelakunya mengatakan kalau suaminyalah dalang semuanya. Setega itukah suaminya? Ia juga difitnah. Seseorang menyebarkan foto dirinya tidur bersama dengan pria dan kemudian viral di dunia maya. Belum cukup sampai di situ suatu kejutan muncul ketika ia akan membalas dendam pada suaminya. Akankah Ambar bisa membalas dendam dan membersihkan namanya? Apakah benar suaminya adalah pelaku semuanya? cover by bookcover
Read
Chapter: bab 24
Makan malam pun berlangsung santai dan penuh perbincangan seru. Sandy dan ayahnya hanya sesekali terlibat. Para perempuan lagi bersemangat membicarakan brand kosmetik baru mereka. Baru kali ini perusahaan Sudiro terjun ke bisnis kosmetik. Tiba-tiba Sandy merasa sangat pusing. Pandangannya memburam. Mungkin dia memang masih belum fit benar. Ia masih sering diserang rasa mual aneh itu. Ia melihat Rosemala mendekatinya dan ia tak mampu lagi mengingat dengan benar. Tubuhnya terasa gerah dan panas. Sandy mengernyitkan dahinya. Matanya tak ingin terbuka karena silaunya matahari dari jendela kamar. Ingatannya mulai berputar samar-samar. Semalam ia tengah makan malam dan kemudian ia sempoyongan ke kamar dengan Rosemala yang memapahnya. Beberapa scene membuatnya merasa bukan dirinya. Ia melihat Rosemala yang mulai menggodanya. Kemudian ia jatuh dan tenggelam dalam renjana birahi yang berasal dari rasa panas di tubuhnya. Ia tersentak bangun begitu sadar sepenuhnya apa yang telah diperbuatn
Last Updated: 2024-11-21
Chapter: Bab 23
Ada banayak harapan di mata Kemuning saat Ambar ada dalam pelukannya. "Ambar, aku lihat rumah tanggamu dengan Sandy tidak berlangsung baik-baik saja. Yang menculikmu dulu itu memang bukan suamimu, tapi aku tahu ada yang menginginkan dirimu celaka. Aku tak tahu yang terbaik untukmu. Aku ingin tahu apa yang akan kamu rencanakan? Apa kau serius ingin bercerai dengan Sandy?" tanya Kemuning tatkala mereka saling melepaskan diri dan kembali duduk. "Aku ingin bercerai dengan Sandy dan memulai hidupku sendiri, ibu," jawab Ambar singkat. Sungguh ia merasa enggan menceritakan masalah rumah tangganya pada ibunya yang baru saja dekat dengannya. "Aku tak tahu apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tanggamu. Menikah dengan orang kaya ternyata juga tak menjamin semuanya. Aku hanya ingin menawarkan padamu sebuah pekerjaan. Kalau kau bersedia, kau bisa bekerja di perusahaan kosmetik MaryGold. Kebetulan aku punya teman di sana," tawar Kemuning berharap Ambar akan bisa segera move -on dari masalah ru
Last Updated: 2024-11-14
Chapter: Bab 22
"Jangan menyebut Rosemala lagi. Mari kita fokus dengan pernikahan kita. Hentikanlah permainan ini. Mari kita bersikap lebih dewasa," seru Sandy berbisik di telinga Ambar. Ambar sedikit merinding. Sandy dengan cepat mengambil kesempatan untuk segera menciumnya. Buru-buru ia menjauhkan tubuhnya dari Sandy. "Tidak lagi Sandy," sentak Ambar waspada. tak boleh ia terpedaya lagi oleh bujuk rayu pria itu. Bayangan betapa mesranya Sandy saat memberikan kalung berlian itu pada Rosemala membuat hatinya perih. "Mengapa?" tanya Sandy kembali mendekat. Kali ini ia berhasil memagut leher jenjang Ambar. Ambar langsung tersengat. Sentuhan Sandy sulit untuk ditolak. "Please Sandy," rintih Ambar memberontak dalam pelukan Sandy yang kian erat. Otaknya mulai berkabut ketika Sandy kembali memciumnya dengan penuh sinar gairah. Tidak ketika ia sudah membulatkan tekad untuk berpisah. Ia harus segera pindah kalau tidak maka selamanya ia akan terjebak dalam hubungan menyakitkan tanpa akhir."Awc!" pekik Sa
Last Updated: 2024-11-09
Chapter: Bab 21
"Sudah berapa tahun berlalu, sejak terakhir kali Kemuning datang untuk mengambilmu," seru Nenek dengan tatapan menerawang. Ambar tak bisa berkata-kata. Nama ibunya selalu membuatnya sesak. Ada keinginan untuk dekat dengannya, ada juga keinginan untuk membencinya. "Nenek sudah tua. Kamu juga jauh lebih dewasa sekarang. Saatnya menyerahkan semua keputusan padamu Mbar. Maafkan nenek, selama ini yang terlalu mengekangmu dan banyak memberimu larangan," ucap neneknya dengan tangan membelai lembut rambut Ambar. "Nenek jangan berkata begitu," tukas Ambar seraya memeluk neneknya dengan haru. "Temui ibumu. Perbaiki hubungan kalian," ucap nenek tersenyum. Ambar mengangguk dengan penuh kelegaan. Kini tidak ada lagi yag membuatnya ragu untuk bertemu dengan ibunya. Ia akan menghadapi ibunya apapun yang terjadi.Terakhir kali ia bertemu ibunya, tatkala pemakamam ayahnya. Ayahnynya meninggal saat Ambar berusia 10 tahun. Ayahnya ditemukan mati karena minum minuman keras oplosan. Dari dulu ayahnya
Last Updated: 2024-11-01
Chapter: Bab 20
Malam itu Ambar menunggui Sandy menginap di klinik. Sandy ingin malam ini hubungannya dengan Ambar bisa mengalami kemajuan. "Mbar tolong, aku kedinginan. Naikkan selimutku," ucap Sandy pura-pura menggigil kedinginan. Ambar kini tak bisa membedakan apakah Sandy hanya pura-pura atau memang kedinginan. Dengan enggan ia segera membenah selimut Sandy. "Mbar apa kau tak penasaran, kenapa aku mual terus?" tanya Sandy melhat Ambar yang begitu cuek. "Dokter sudah mengatakan kau hanya salah makan," kata Ambar tak bisa menebak jawaban lain. Ia kembali fokus pada ponselnya "Kau tahu apa kata dokter pribadiku?" tanya Sandy lagi menatap Ambar. "Tentu saja aku tak tahu." Ambar berusaha tak peduli "Mbar, apa kau hamil?" tanya Sandy. Ambar langsung sedikit terkejut. Darimana Sandy tahu kalau dia hamil? Mungkinkah rumah sakit tempatnya kemarin di rawat, bisa membocorkan informasi seorang pasien. "Memang kenapa kalau aku hamil?" tanya Ambar bertanya balik. Ia masih tak ingin kehamilannya diket
Last Updated: 2024-10-27
Chapter: Bab 19. Sakit
Ambar melihat Sandy memejamkan matanya di ranjang. Ia tak yakin Sandy benar-benar sakit."Minumlah, air oralit ini," ujarnya meletakkkan segelas campuran gula dan garam di meja samping ranjang. Sandy tak menyahut. Ia mencoba mengamati Sandy lebih dekat. Wajah pria itu tampak pucat dan bibirnya kelihatan kering. Ia memutuskan untuk mengguncang bahunya pelan. Ada kekhawatiran di hatinya, jangan-jangan suaminya itu pingsan."Sandy," serunya. Pria itu sama sekali tak bereaksi."Jangan bersandiwara," ujarnya sedikit panik. Nenek yang sejak tadi memerhatikan dari ambang pintu, kemudian masuk."Apa yang terjadi pada suamimu. Sejak datang kemari tampaknya sudah kurang sehat," kata Nenek kini meletakkan tangannya di dahi Sandy."Suhu tubuhnya sangat dingin.""Dia baik-baik saja Nek," sahutnya mencoba menghibur diri."Apa kalian bertengkar?" tanya Nenek menatapnya. Ia tak ingin menjawab."Nek aku sakit," ucap Sandy tiba-tiba, yang lebih mirip rengekan. Mata pria itu sedikit terbuka. Ambar langs
Last Updated: 2024-10-22
Suami Bayaran, Suami Tersayang

Suami Bayaran, Suami Tersayang

Wasiat mengejutkan sang kakek melempar Clarissa ke tengah pusaran konflik keluarga yang memanas. Demi mewujudkan amanah kakek, ia dituntut memenuhi satu syarat mutlak: menikah. Enggan membiarkan kebebasannya direnggut, Clarissa memilih jalan pintas. Pilihan jatuh pada Mahesa—pria yang ia jadikan sekadar syarat di atas kertas. Tanpa ekspektasi, tanpa melibatkan hati. Surat nikah ditandatangani. Kontrak berlaku. Clarissa tidak bisa mundur lagi. Namun, bagaimana saat Mahesa mulai melangkah terlalu jauh dan masuk semakin dalam ke hidupnya? Bisakah Clarissa bertahan saat egonya perlahan retak dan batasan di antara mereka kian kabur? Kontrak bisa usai, tapi benang kusut di antara mereka baru saja dimulai. Apakah Mahesa benar-benar tulus? Ataukah Clarissa telah menyerahkan dirinya pada pria yang akan menusuknya dari belakang?
Read
Chapter: Bab 31. Jalan-Jalan
Pak Jatmiko merasakan dadanya sesak. Rasa sakit hati karena dilompati oleh anaknya sendiri membakar harga dirinya. Namun, jemarinya di dalam saku jas menyentuh pinggiran surat wasiat rahasia ayahnya. Surat yang mengingatkan betapa bobroknya cara mengelola divisi selama ini hingga hampir membuat perusahaan kolaps—hal yang hanya diketahui oleh sang Kakek.​Pak Jatmiko perlahan berdiri. Matanya menyapu semua orang di ruangan. Sekilas pada Mahesa yang duduk diam mengamati lalu menatap Clarissa yang menanti keputusannya tanpa rasa takut.​"Jatmiko, pilih dirimu sendiri!" seru Paman Darko.​Pak Jatmiko menghela napas panjang. Dahinya berkeringat. Larasati memijat lengannya dengan perasaan was-was. ​"Saya... sebagai Kepala Divisi Operasional dan pemilik 10 persen saham..." suara Pak Jatmiko bergetar, lalu berhenti sejenak. "Memberikan seluruh 10% suara saya... untuk mendukung Clarissa sebagai Direktur Utama.""Mas Jatmiko!!" seru Larasati menghentikan pijatannya. Matanya langsung berkaca-ka
Last Updated: 2026-09-06
Chapter: Bab 30. Panik
Clarissa meletakkan ponselnya seperti menyesal. Kenapa ia harus menelpon Mahesa. Harusnya ia bisa mengatasi kecemasannya sendiri. Ia tidak boleh terlihat rapuh. Ia melangkah pelan dan duduk di sofa. Ia mulai mengatur napasnya secara perlahan dan mulai melakukan meditasi singkat. Perlahan irama jantungnya yang tadi sempat berdetak lebh cepat kini mulai stabil. Mahesa muncul di ambang pintu yang terbuka. Langkahnya tergesa dan tatapannya terlihat was-was. Ia langsung menghampiri Clarissa begitu ia melihatnya. "Ica, ada apa? Sepertinya ada yang tejadi. Kamu tadi menyuruhku segera pulang. Nada bicaramu terdengar tidak seperti biasanya," kata Mahesa dengan mata mengamati Clarissa secara keseluruhan dan kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan seolah mencari sesuatu yang berbahaya. Perasaan Clarissa yang tadinya sudah tenang melihat Mahesa yang berdiri menatapnya dengan cemas membuat hatinya nyaris runtuh. Air matanya yang tadinya sempat terhenti mendadak ingin menyembul keluar.
Last Updated: 2026-09-04
Chapter: Bab 29. Jarak
“Iya, kamu menceritakan tentang kepergian Bi Sarti. Maaf kalau aku kurang peka. Aku turut berduka cita,” seru Clarissa tulus. “Terima kasih. Lain kali kamu tidak perlu juga bersimpati. Ini adalah kehidupan pribadiku. Aku tidak tahu sejauh mana kamu pernah menyelidiki latar belakangku dan kehidupan pribadiku. Selanjutnya hubungan kita sebatas nikah kontrak. Aku punya privasi dan kamu sudah tahu itu.” Mahesa menatap Clarissa dingin dan berlalu begitu saja dari hadapan Clarissa. Clarissa tertegun sejenak. Perubahan sikap Mahesa begitu terlihat. Hilang sudah kesan suami hangat tadi malam dalam sandiwara mereka. Yang tinggal kini hanyalah dua orang asing yang terpaksa ada dalam satu tempat hanya karena selembar surat perjanjian. Clarissa perlahan berbalik dan masuk ke kamar menyusul Mahesa.“Ayo kita sarapan,” ajak Mahesa tanpa menoleh. Di hadapannya sudah ada menu makan pagi dari hotel. Clarissa hanya mengangguk. Ia pun duduk berhadapan dengan Mahesa. Mereka menikmati sarapan nyaris ta
Last Updated: 2026-09-03
Chapter: Bab 28. Mabuk
“Clarissa jangan kau tampar aku. Aku terpaksa melakukannya,” ujar Mahesa dengan tatapan waspada. “Tentu saja kalau aku ingin menamparmu tentu tidak di sini,” sahut Clarissa ketus. Mahesa tersenyum. “Aku sudah melakukan yang terbaik. Bukannya mendapat tambahan gaji malah akan dapat tamparan. Sudahlah Clarissa. Relakan saja. Ayo kita makan malam bersama para tamu,” ajak Mahesa. Clarissa hanya mendengus. Bagaimana ia bisa ikhlas. Ia hanya mengenal ciuman dahi dan juga tempel bibir. Ini pria sudah mengenalkannya ciuman yang lebih dalam dalam situasi seperti in lagi. Clarissa mulai berpikiran kalau Mahesa mulai memanfaatkan situasi. Makan malam berlangsung penuh kemeriahan. Suara denting piring dan alat makan bercampur dengan obrolan penuh keakraban sekaligus sindiran khas kelas atas.Musik mulai menghentak lebih keras ketika hidangan makan malam telah diangkat. Makanan penutup disajikan. Para tamu kembali asyik mengobrol. Mahesa kini mengobrol dengan salah satu komisaris Sudjana Grup.
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: Bab 27. Ciuman di tengah Resepsi
Clarissa tertegun dengan apa yang Mahesa keluarkan dari tas punggungnya. Pria itu mengeluarkan sepasang cincin. Ia sedikit ragu apakah bisa menikah kontrak memakai cincin. Tentu saja dalam pernikahan normal semua juga memakai cincin. Mungkin Mahesa hanya ingin totalitas dalam sandiwaranya. “Kita perlu ini. Untuk sandiwara kita,” ucap Mahesa memberikan isyarat agar Clarissa mengulurkan tangannya. Clarissa masih terdiam berpikir. Mahesa langsung meraih tangannya.“Mungkin cincin ini teramat sederhana buatmu, tapi setidaknya aku masih ingat betapa pentingnya cincin ini di mata para tamu nanti.” Mahesa pun memakaikan cincin itu di jari manis Clarissa. Dan ia juga memakaikan satunya untuk dirinya sendiri. Clarissa menatap cincin sederhana berwarna silver yang kini melingkar cantik di jari manisnya. Dingin, namun terasa begitu berat oleh beban sandiwara yang harus ia jalani."Nah, ayo kita pergi sekarang," ujar Mahesa seraya meraih jemari Clarissa, menyatukannya dalam satu genggaman yang
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: Bab 26. Dia Terlambat
“Apa yang terjadi semalam sampai kamu mendadak pergi setelah bertelepon?”“Bukankah kau sudah menjawabnya sendiri tadi pada ibu tirimu kalau kerabatku ada yang masuk IGD?” Mahesa membalikkan pertanyaan Clarissa.Clarissa mencebik. “Aku hanya ingin mendengar kamu sendiri yang mengatakannya. Bagaimana kalau saat kamu tiba-tiba pergi gitu aja, aku masih membutuhkanmu?”Mahesa kini menatap Clarissa serius. “Bukankah di dalam perjanjian pernikahan, kamu tidak boleh melibatkan keluargaku dan harus menjaga privasiku?”Clarissa pun segera bangkit. “Kamu di sini tidak punya keluarga. Lantas siapa perempuan bernama Linea itu? Ah, sudahlah. Aku mau tidur saja.”Mata Mahesa melebar mendengar ucapan Clarissa. “Kau menyelidikiku?”“Kamu pikir aku akan langsung menikahimu tanpa tahu latar belakangmu?” ujar Clarissa seraya membaringkan tubuh dan menarik selimutnya.Mahesa menahan napas. Harusnya ia sudah menduganya. Cukup sekali telpon, apa yang tidak buat Clarissa untuk mendapatkan informasi yang ia
Last Updated: 2026-08-31
Mencintai Kakak Sahabatku

Mencintai Kakak Sahabatku

Ganis jatuh cinta pada Ramon. Sosok pria dewasa yang merupakan kakak dari Marco sahabat baiknya. Ramon sendiri telah bertunangan. Ganis merasa akan sulit baginya mendapatkan cinta Ramon. Namun suatu kejadian tragis membuat Ganis mengalami hal yang tak terbayangkan bersama Ramon. Akankah Ramon akan jatuh cinta pada Ganis? Akankah Ganis mendapatkan kisah cinta bak dongeng bersama Ramon? "Ganis adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kesalahan yang mengantarkanku pada cinta sejati yang tak pernah kupercaya" ( Ramon ) "Ada banyak pilihan untuk jatuh cinta. Dan cintaku jatuh pada pria yang layak jadi pamanku. Kejahatan yang dilakukannya padaku tak membuat Cintaku karam. Malah makin besar. Ternyata cintaku setulus ini. Aku tak menyukai cinta yang seperti ini. Aku ingin cinta yang realistis cover by pixabay and canva
Read
Chapter: Bab 120
Seperti kilatan mimpi upacara pernikahan berlangsung singkat dan mengundang haru. Pestanya di halaman panti, tamunya semua anak panti dan juga penduduk sekitarnya. Bagi Ganis ini sudah lebih dari cukup. Ia sempat mengira Ramon akan memberikannya pesta bak miliarder di ballroom hotel dengan tamu ribuan mengingat status Ramon. Alih-alih pria itu memberinya pesta yang intimate dan membuatnya meneteskan air mata. Tak ada pendeta yang ada Ramon mengundang petugas catatan sipil untuk memberikan surat nikah untuk ditandatangani. Mungkin Ramon ingin menghormatinya karena dirinya secara identitas juga beragama islam. Tak sampai di situ karena di negara ini tak diizinkan ada pernikahan beda agama Ramon mengganti agamanya menjadi islam di atas kertas.Ganis tahu semua mata yang hadir mendoakan kebahagiaan mereka begitu tulus. Bu Panca berulang kali mengusap matanya dengan sapu tangan. Beberapa pegawai panti ikut terharu. Lain halnya para anak. Mereka menyanyikan lagu wedding penuh semangat denga
Last Updated: 2024-06-25
Chapter: Bab 119
Setelah perjalanan yang lumayan membosankan terbang dari Barcelona ke Indonesia pagi itu Ganis sampai kembali di tanah air. Ia menghembuskan nafas dalam sambil menyeret kopernya menuju peron bandara. Kali ini ia akan benar-benar pulang. Setelah sekian lama merantau ke luar negeri.Ia tersenyum tatkala ia tak melihat seorang pun menjemputnya. Biasanya bibi Sunnah dan juga Givani yang akan menyambutnya. Ia tak tahu harus bersyukur atau tidak. Ternyata Ramon tak menjemputnya dan juga Givani. Mereka juga tak menghubunginya. Belum selesai rasa keheranannya tiba tiba seorang pria berbadan tegap menghampirinya"Anda harus ikut kami.Anda Ganis, bukan?" "Ya benar. Anda siapa kok saya harus menuruti anda?" tanya Ganis sama sekali tak bergeming dari posisinya."Saya suruhan pak Ramon," ucap pria itu membungkuk hormat dan meraih koper Ganis. Ganis mendesah pelan dan mengikuti kemana pria itu.Ganis tak banyak bertanya meskipun pria itu membawanya ke daerah yang sama sekali tak dikenalnya. Mungk
Last Updated: 2024-06-22
Chapter: Bab 118
Terdengar suara panggilan dari pengeras suara. Mereka harus segera naik pesawat. "Kita bisa menundanya besok," kata Ramon masih menggenggam tangan Ganis. Givani tersenyum jahil pada Ganis."Tak perlu Ayah. Salah sendiri kakak tiba-tiba mau ikut," serunya membuat Ganis tak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi Givani. "Ok. Aku bisa menyusul kalian besok. Aku juga harus membereskan pekerjaanku sekalian aku ingin ziarah ke makam bi Sunnah. Jadi sekarang berangkatlah anak centil," ucap Ganis gemas. "Ku tunggu Nis," ucap Ramon seolah begitu berat melepaskan tangan Ganis."Ayah, jangan lebay ah," decak Givani berjalan lebih dahulu. Mereka pun berciuman sebentar dan melambaikan tangan. Ramon segera di dorong oleh perawat dan Raffi.Hari itu setelah Ganis pamit pada rekan kerja dan atasannya ia mengunjungi makan bibi Sunnah dengan ditemani Shawn dan juga bibi Merry."Aku ingin memindahkan makamnya ke Indonesia sebenarnya," kata Ganis ketika mereka dalam perjalanan pulang."Kalau kau
Last Updated: 2024-06-06
Chapter: Bab 117
Ramon menatap muram cincin berlian di tangannya. Detik demi detik berlalu. "Ramon," suara Ganis akhirnya terdengar. Ramon melihat wajah Ganis yang tampak ragu. "Bagaimana Nis?" tanya pria itu kini semangatnya mulai mengendur. "Cincinnya sangat bagus dan aku senang kakak melamarku. Tapi untuk menikah aku butuh waktu lagi. Kau tahu pekerjaanku," seru Ganis tercekat. Hatinya kini sedang bergulat hebat. "Tak apa. Aku akan menunggu. 7 tahun masih ditambah lagi beberapa tahun juga tak apa. Asal pada akhirnya kau bersamaku. Tapi apakah Givani bisa menunggu dan memahaminya," ujar Ramon perlahan meraih tangan Ganis yang menggenggam erat sisi kemejanya. Ganis tak punya kekuatan untuk menarik tangannya dan menolak saat Ramon mengecup punggung tangannya dan menatapnya dalam. Dalam sekejap mata cincin berlian itu kini sudah melingkar indah di jarinya. Air mata Ganis luruh. Ramon segara menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. "Kau milikku. Dari dulu Nis," bisik Ramon di telinga Ga
Last Updated: 2024-06-01
Chapter: Bab 16
Ganis merasa cepat atau lambat memang ia harus segera memutuskan. "Aku akan pikirkan. Aku akan segera mandi. Waktunya untuk bekerja," seru Ganis kemudian dengan cepat mengancingkan baju Ramon. Ramon hanya mengangguk tak mau terlalu menekan Ganis. Saat Ganis selesai membersihkan diri rupanya Givani, Shawn dan juga bibi Merry sudah datang termasuk juga asisten Ramon. "Kak kata Ayah besok aku akan pulang. Aku juga harus sekolah. Kakak ikut kan? Sekarang sudah tidak ada lagi ibu," tukas Givani dengan wajah sedihnya. Ganis menjadi tak enak."Kakak tidak bisa untuk langsung berhenti bekerja sayang. Beri kakak waktu " seru Ganis sambil mengelus rambut putrinya. Ramon memandang Givani"Vani jangan desak ibumu," seru Ramon tegas. Givani pun mundur dan kembali ke dekat Ramon. Ia pun terdiam dan tak banyak bicara lagi. Suasana hangat menjadi sedikit tegang."Ayo kita sarapan di kantin. Biar Shawn membawa Ramon ke toilet dulu," kata bibi Merrymengajak Ganis dan juga Givani. Setelah sarapan
Last Updated: 2024-05-26
Chapter: Bab 115
Ciuman itu berlangsung pelan dan intens. Pikiran Ganis kosong Telapak tangan Ramon mengelus pinggang dan punggungnya pelan. Ganis tak bisa menutupi perasaannya lagi. Senikmat ini bersama dengan orang benar-benar dicintai. Saat keduanya tengah tenggelam saling menghisap dan melumat, sebuah suara langsung menghentikan mereka. "Astaga! Apa kalian sudah tak bisa menahannya sama sekali Pintu ini terbuka. Bagaimana kalau ada perawat masuk," seru Shawn yang harus kembali untuk mengambil tasnya yang tertinggal. Keduanya perlahan saling menjauhkan diri. Rasanya Ganis ingin menghilang saja saking malunya. Seperti perempuan tak berhati saja. "Kau kembali," ucap Ganis dengan risih. Ramon sendiri tampak santai dengan menyentuh bibirnya dengan jemarinya. Shawn menahan perasaannya untuk tidak menonjok kakaknya itu. "Ada yang ketinggalan. Nis apa kau sudah makan?" tawar Shawn yang sengaja mengajaknya karena ingin berbicara dengannya. "Belum. Ayo pergi makan," ajak Ganis buru-buru bera
Last Updated: 2024-05-17
You May Also Like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status