author-banner
dwi23end
dwi23end
Author

Romans de dwi23end

Suami Bayaran, Suami Tersayang

Suami Bayaran, Suami Tersayang

Wasiat mengejutkan sang kakek melempar Clarissa ke tengah pusaran konflik keluarga yang memanas. Demi mewujudkan amanah kakek, ia dituntut memenuhi satu syarat mutlak: menikah. Enggan membiarkan kebebasannya direnggut, Clarissa memilih jalan pintas. Pilihan jatuh pada Mahesa—pria yang ia jadikan sekadar syarat di atas kertas. Tanpa ekspektasi, tanpa melibatkan hati. Surat nikah ditandatangani. Kontrak berlaku. Clarissa tidak bisa mundur lagi. Namun, bagaimana saat Mahesa mulai melangkah terlalu jauh dan masuk semakin dalam ke hidupnya? Bisakah Clarissa bertahan saat egonya perlahan retak dan batasan di antara mereka kian kabur? Kontrak bisa usai, tapi benang kusut di antara mereka baru saja dimulai. Apakah Mahesa benar-benar tulus? Ataukah Clarissa telah menyerahkan dirinya pada pria yang akan menusuknya dari belakang?
Lire
Chapter: Bab 48
“Besok aku akan mengumumkan keputusanku mengenai kantor cabang yang bermasalah itu,” kata Clarissa dengan mata bersinar. Mahesa langsung penasaran dengan kebijakan Clarissa untuk mengatasinya. “Boleh aku tahu apa yang akan kamu lakukan?” "Aku akan menutup total kedua perusahaan cabang,” jawab Clarissa mantap. Mata Mahesa langsung melebar. Ia tidak menyangka istri kontraknya itu sungguh berani dan juga sangat tegas. “Ini kantor cabangnya sudah lama berdiri Ca?” seru Mahesa masih tidak percaya. Clarissa tersenyum. “Memangnya kenapa? Ibarat kanker, daripada menyebar dan terus merugikan, lebih baik kita potong saja. Aku akan menjual pabrik berikut tanahnya untuk aku putar kembali dengan membeli mesin baru dan yang lainnya.” “Lantas bagaimana dengan para pegawainya?” tanya Mahesa lagi sedikit keberatan. Clarissa mendesah pelan. Inilah yang selalu membuatnya ragu dari awal. Namun ia harus memilih. “Mereka akan aku beri pesangon secukupnya. Tentu saja bagi buruh rendah dan ka
Dernière mise à jour: 2026-10-05
Chapter: Bab 47.
Mahesa segera meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Clarissa sempat membaca nama pemanggil. Itu dari Refi, sahabat Mahesa.Mahesa menggeser ponselnya ke arah Clarissa. Clarissa sedikit terkejut menyadari Mahesa ingin dia muncul dalam panggilan video itu. Refi dan adiknya, Linea, langsung tersenyum lebar begitu sambungan video terhubung. Namun, ekspresi gembira di wajah mereka seketika berubah menjadi terkejut saat pandangan mereka jatuh pada lengan kanan Mahesa yang tersangga kain gendongan."Kak Mahesa! Ya ampun, tangan Kakak kenapa itu?!" seru Linea panik dengan nada suara khasnya yang renyah dan manja.Belum sempat Mahesa menjawab, gadis itu sudah memajukan wajahnya ke layar, mengabaikan raut heran kakaknya. "Kak Mahesa kapan mau main ke rumah lagi? Kapan pulang? Nanti Linea masakin sup ikan mayung kesukaan Kakak deh! Pokoknya Kak Mahesa harus ke sini!"Refi menyenggol lengan adiknya pelan, melemparkan tatapan peringatan karena menyadari keberadaan Clarissa yang duduk di sampi
Dernière mise à jour: 2026-09-30
Chapter: Bab 46.
Di bibir.Clarissa selalu mengingatkan dirinya bahwa hubungan mereka hanyalah transaksional—sebuah nikah kontrak yang dirancang dengan batasan-batasan yang telah mereka sepakati bersama. Sekarang kenyataannya adalah dia kehilangan kendali karena alkohol dan ia telah melanggar batas.Ia menarik napas panjang, menata hatinya kembali. Namun, rona merah yang merambat naik dari leher hingga ke telinganya tidak bisa ia sembunyikan."Mahesa..." suara Clarissa akhirnya keluar. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Mahesa, menatap lurus ke arah hamparan lembah hijau di luar gazebo. "Aku... aku minta maaf."Mahesa tidak menyela, ia tetap menatap Clarissa dengan tenang, menunggu wanita di hadapannya melanjutkan kalimatnya."Malam itu aku nggak sadar," lanjut Clarissa. " Aku harap kamu bisa melupakannya dan tidak menganggapnya sebagai hal yang punya arti lebih."Clarissa kembali menatap Mahesa, kali ini dengan tatapan matanya yang tajam dan tegas. Ia mulai bisa menguasai diri lagi.Senyum tipis
Dernière mise à jour: 2026-09-29
Chapter: Bab 45.
"Penyelewengan di cabang B dan C itu bukan sekadar mark up biasa," ujar Mahesa pelan, merendahkan suaranya begitu mereka melangkah menuju halaman samping rumah. "Laporan keuangan tahunan yang selalu tipis itu ternyata hasil dari rekayasa sistematis. Mereka memotong anggaran perawatan, memelihara karyawan fiktif, sampai bekerja sama dengan vendor abal-abal."Clarissa mengangguk memberi kesempatan Mahesa untuk melanjutkan."Sistemnya sudah mengakar cukup lama. Kalau tidak dipotong dari atas, mereka akan terus merasa aman karena menganggap kantor pusat tidak akan memeriksa sampai ke detail operasional bawah."Clarissa memandang lurus ke depan, matanya memancarkan tekad. "Justru karena itu aku butuh bukti yang kamu dapatkan. Kita tidak bisa cuma berdasar dugaan kalau mau memecat—""Nona Clarissa! Pak Mahesa!"Suara sapaan yang ramah memotong pembicaraan mereka. Pak Khamad, tukang kebun berdiri dari posisinya di balik deretan rak kayu. Wajahnya yang berkerut langsung berseri begitu melihat
Dernière mise à jour: 2026-09-28
Chapter: Bab 44.
Pagi itu kamar mereka terasa berbeda.Clarissa bangun lebih awal hampir berbarengan dengan Mahesa. "Biar aku yag kerjakan semuanya," ujarnya ketika Mahesa turun dari sofabednya."Lantas aku ngapain?" tanya Mahesa sedikit bingung."Duduk saja di sofa. Terserah mau ngapain. Nanti jam 7 dr. Cipta akan datang memeriksa tanganmu. Apakah tadi malam masih terasa sakit?"Mahesa menggeleng."Aku tidur nyenyak semalam. Mungkin akibat obat yang kamu berikan.""Syukurlah kalau begitu," kata Clarissa. Dengan rambut diikat seadanya, ia menyibak tirai, melipat selimut di atas ranjangnya, sofa bed Mahesa, dan mulai merapikan meja yang semalam berantakan oleh kotak P3K dan sisa makan malam.Mahesa duduk tenang sambil menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Sesekali ia memperhatikan kesibukan Clarissa. Hatinya menghangat membayangkan bila wanita itu benar-benar seperti perempuan lain. Menjadi istri yang sebenarnya untuknya. Lamunan Mahesa buyar ketika sebuah ketukan terdengar dari pintu. Ia melihat ke
Dernière mise à jour: 2026-09-26
Chapter: Bab 43.
Clarissa menatap Mahesa dengan sorot mata haru. “Terima kasih.” Mahesa mengamati pipi Clarissa yang tampak memerah. "Pasti tamparan tadi sakit sekali. Perlu dikompres?" “Tidak apa-apa. Tanganmu sendiri kenapa?” tanyanya menatap perban yang membalut pergelangan tangan Mahesa. “Hanya cedera kecil,” sahut Mahesa seraya mengusap pergelangan tangannya. Ia mencoba mengangkat tangan ke atas meja, tetapi kernyitan kesakitan di wajahnya tak bisa disembunyikan—jelas akibat menahan tangan ibu tiri Clarissa tadi. “Pasti sakit sekali, kan? Sudah kamu periksakan ke dokter?" tanya Clarissa ikut berjengit. Ia segera mengambil kotak P3K. “Tidak usah, Clarissa,” cegah Mahesa. Namun, Clarissa sudah lebih dulu menyentuh perban itu dan mengamatinya dengan saksama. "Aku periksa sebentar. Besok pagi aku panggilkan Dokter Cipta ke mari," kata Clarissa seraya membuka balutan perban di tangan Mahesa dengan pelan dan hati-hati. "Katakan kalau sakit." Mahesa hanya berdehem pasrah. Benar saja, tindakan
Dernière mise à jour: 2026-09-25
Mencintai Kakak Sahabatku

Mencintai Kakak Sahabatku

Ganis jatuh cinta pada Ramon. Sosok pria dewasa yang merupakan kakak dari Marco sahabat baiknya. Ramon sendiri telah bertunangan. Ganis merasa akan sulit baginya mendapatkan cinta Ramon. Namun suatu kejadian tragis membuat Ganis mengalami hal yang tak terbayangkan bersama Ramon. Akankah Ramon akan jatuh cinta pada Ganis? Akankah Ganis mendapatkan kisah cinta bak dongeng bersama Ramon? "Ganis adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kesalahan yang mengantarkanku pada cinta sejati yang tak pernah kupercaya" ( Ramon ) "Ada banyak pilihan untuk jatuh cinta. Dan cintaku jatuh pada pria yang layak jadi pamanku. Kejahatan yang dilakukannya padaku tak membuat Cintaku karam. Malah makin besar. Ternyata cintaku setulus ini. Aku tak menyukai cinta yang seperti ini. Aku ingin cinta yang realistis cover by pixabay and canva
Lire
Chapter: Bab 120
Seperti kilatan mimpi upacara pernikahan berlangsung singkat dan mengundang haru. Pestanya di halaman panti, tamunya semua anak panti dan juga penduduk sekitarnya. Bagi Ganis ini sudah lebih dari cukup. Ia sempat mengira Ramon akan memberikannya pesta bak miliarder di ballroom hotel dengan tamu ribuan mengingat status Ramon. Alih-alih pria itu memberinya pesta yang intimate dan membuatnya meneteskan air mata. Tak ada pendeta yang ada Ramon mengundang petugas catatan sipil untuk memberikan surat nikah untuk ditandatangani. Mungkin Ramon ingin menghormatinya karena dirinya secara identitas juga beragama islam. Tak sampai di situ karena di negara ini tak diizinkan ada pernikahan beda agama Ramon mengganti agamanya menjadi islam di atas kertas.Ganis tahu semua mata yang hadir mendoakan kebahagiaan mereka begitu tulus. Bu Panca berulang kali mengusap matanya dengan sapu tangan. Beberapa pegawai panti ikut terharu. Lain halnya para anak. Mereka menyanyikan lagu wedding penuh semangat denga
Dernière mise à jour: 2024-06-25
Chapter: Bab 119
Setelah perjalanan yang lumayan membosankan terbang dari Barcelona ke Indonesia pagi itu Ganis sampai kembali di tanah air. Ia menghembuskan nafas dalam sambil menyeret kopernya menuju peron bandara. Kali ini ia akan benar-benar pulang. Setelah sekian lama merantau ke luar negeri.Ia tersenyum tatkala ia tak melihat seorang pun menjemputnya. Biasanya bibi Sunnah dan juga Givani yang akan menyambutnya. Ia tak tahu harus bersyukur atau tidak. Ternyata Ramon tak menjemputnya dan juga Givani. Mereka juga tak menghubunginya. Belum selesai rasa keheranannya tiba tiba seorang pria berbadan tegap menghampirinya"Anda harus ikut kami.Anda Ganis, bukan?" "Ya benar. Anda siapa kok saya harus menuruti anda?" tanya Ganis sama sekali tak bergeming dari posisinya."Saya suruhan pak Ramon," ucap pria itu membungkuk hormat dan meraih koper Ganis. Ganis mendesah pelan dan mengikuti kemana pria itu.Ganis tak banyak bertanya meskipun pria itu membawanya ke daerah yang sama sekali tak dikenalnya. Mungk
Dernière mise à jour: 2024-06-22
Chapter: Bab 118
Terdengar suara panggilan dari pengeras suara. Mereka harus segera naik pesawat. "Kita bisa menundanya besok," kata Ramon masih menggenggam tangan Ganis. Givani tersenyum jahil pada Ganis."Tak perlu Ayah. Salah sendiri kakak tiba-tiba mau ikut," serunya membuat Ganis tak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi Givani. "Ok. Aku bisa menyusul kalian besok. Aku juga harus membereskan pekerjaanku sekalian aku ingin ziarah ke makam bi Sunnah. Jadi sekarang berangkatlah anak centil," ucap Ganis gemas. "Ku tunggu Nis," ucap Ramon seolah begitu berat melepaskan tangan Ganis."Ayah, jangan lebay ah," decak Givani berjalan lebih dahulu. Mereka pun berciuman sebentar dan melambaikan tangan. Ramon segera di dorong oleh perawat dan Raffi.Hari itu setelah Ganis pamit pada rekan kerja dan atasannya ia mengunjungi makan bibi Sunnah dengan ditemani Shawn dan juga bibi Merry."Aku ingin memindahkan makamnya ke Indonesia sebenarnya," kata Ganis ketika mereka dalam perjalanan pulang."Kalau kau
Dernière mise à jour: 2024-06-06
Chapter: Bab 117
Ramon menatap muram cincin berlian di tangannya. Detik demi detik berlalu. "Ramon," suara Ganis akhirnya terdengar. Ramon melihat wajah Ganis yang tampak ragu. "Bagaimana Nis?" tanya pria itu kini semangatnya mulai mengendur. "Cincinnya sangat bagus dan aku senang kakak melamarku. Tapi untuk menikah aku butuh waktu lagi. Kau tahu pekerjaanku," seru Ganis tercekat. Hatinya kini sedang bergulat hebat. "Tak apa. Aku akan menunggu. 7 tahun masih ditambah lagi beberapa tahun juga tak apa. Asal pada akhirnya kau bersamaku. Tapi apakah Givani bisa menunggu dan memahaminya," ujar Ramon perlahan meraih tangan Ganis yang menggenggam erat sisi kemejanya. Ganis tak punya kekuatan untuk menarik tangannya dan menolak saat Ramon mengecup punggung tangannya dan menatapnya dalam. Dalam sekejap mata cincin berlian itu kini sudah melingkar indah di jarinya. Air mata Ganis luruh. Ramon segara menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. "Kau milikku. Dari dulu Nis," bisik Ramon di telinga Ga
Dernière mise à jour: 2024-06-01
Chapter: Bab 16
Ganis merasa cepat atau lambat memang ia harus segera memutuskan. "Aku akan pikirkan. Aku akan segera mandi. Waktunya untuk bekerja," seru Ganis kemudian dengan cepat mengancingkan baju Ramon. Ramon hanya mengangguk tak mau terlalu menekan Ganis. Saat Ganis selesai membersihkan diri rupanya Givani, Shawn dan juga bibi Merry sudah datang termasuk juga asisten Ramon. "Kak kata Ayah besok aku akan pulang. Aku juga harus sekolah. Kakak ikut kan? Sekarang sudah tidak ada lagi ibu," tukas Givani dengan wajah sedihnya. Ganis menjadi tak enak."Kakak tidak bisa untuk langsung berhenti bekerja sayang. Beri kakak waktu " seru Ganis sambil mengelus rambut putrinya. Ramon memandang Givani"Vani jangan desak ibumu," seru Ramon tegas. Givani pun mundur dan kembali ke dekat Ramon. Ia pun terdiam dan tak banyak bicara lagi. Suasana hangat menjadi sedikit tegang."Ayo kita sarapan di kantin. Biar Shawn membawa Ramon ke toilet dulu," kata bibi Merrymengajak Ganis dan juga Givani. Setelah sarapan
Dernière mise à jour: 2024-05-26
Chapter: Bab 115
Ciuman itu berlangsung pelan dan intens. Pikiran Ganis kosong Telapak tangan Ramon mengelus pinggang dan punggungnya pelan. Ganis tak bisa menutupi perasaannya lagi. Senikmat ini bersama dengan orang benar-benar dicintai. Saat keduanya tengah tenggelam saling menghisap dan melumat, sebuah suara langsung menghentikan mereka. "Astaga! Apa kalian sudah tak bisa menahannya sama sekali Pintu ini terbuka. Bagaimana kalau ada perawat masuk," seru Shawn yang harus kembali untuk mengambil tasnya yang tertinggal. Keduanya perlahan saling menjauhkan diri. Rasanya Ganis ingin menghilang saja saking malunya. Seperti perempuan tak berhati saja. "Kau kembali," ucap Ganis dengan risih. Ramon sendiri tampak santai dengan menyentuh bibirnya dengan jemarinya. Shawn menahan perasaannya untuk tidak menonjok kakaknya itu. "Ada yang ketinggalan. Nis apa kau sudah makan?" tawar Shawn yang sengaja mengajaknya karena ingin berbicara dengannya. "Belum. Ayo pergi makan," ajak Ganis buru-buru bera
Dernière mise à jour: 2024-05-17
Bukan Sekedar Istri Pengganti

Bukan Sekedar Istri Pengganti

Ambar ingin bercerai dengan suaminya. Ia pikir dengan berpisah ia akan bebas dan kembali berbahagia. Ia juga ingin mempermudah keinginan suaminya untuk bisa kembali bersama wanita idamannya. Namun entah kenapa kata-kata cerainya ditolak mentah-mentah oleh Sandy sang suami. Keesokan harinya ia hampir mengalami percobaan pembunuhan. Pelakunya mengatakan kalau suaminyalah dalang semuanya. Setega itukah suaminya? Ia juga difitnah. Seseorang menyebarkan foto dirinya tidur bersama dengan pria dan kemudian viral di dunia maya. Belum cukup sampai di situ suatu kejutan muncul ketika ia akan membalas dendam pada suaminya. Akankah Ambar bisa membalas dendam dan membersihkan namanya? Apakah benar suaminya adalah pelaku semuanya? cover by bookcover
Lire
Chapter: bab 24
Makan malam pun berlangsung santai dan penuh perbincangan seru. Sandy dan ayahnya hanya sesekali terlibat. Para perempuan lagi bersemangat membicarakan brand kosmetik baru mereka. Baru kali ini perusahaan Sudiro terjun ke bisnis kosmetik. Tiba-tiba Sandy merasa sangat pusing. Pandangannya memburam. Mungkin dia memang masih belum fit benar. Ia masih sering diserang rasa mual aneh itu. Ia melihat Rosemala mendekatinya dan ia tak mampu lagi mengingat dengan benar. Tubuhnya terasa gerah dan panas. Sandy mengernyitkan dahinya. Matanya tak ingin terbuka karena silaunya matahari dari jendela kamar. Ingatannya mulai berputar samar-samar. Semalam ia tengah makan malam dan kemudian ia sempoyongan ke kamar dengan Rosemala yang memapahnya. Beberapa scene membuatnya merasa bukan dirinya. Ia melihat Rosemala yang mulai menggodanya. Kemudian ia jatuh dan tenggelam dalam renjana birahi yang berasal dari rasa panas di tubuhnya. Ia tersentak bangun begitu sadar sepenuhnya apa yang telah diperbuatn
Dernière mise à jour: 2024-11-21
Chapter: Bab 23
Ada banayak harapan di mata Kemuning saat Ambar ada dalam pelukannya. "Ambar, aku lihat rumah tanggamu dengan Sandy tidak berlangsung baik-baik saja. Yang menculikmu dulu itu memang bukan suamimu, tapi aku tahu ada yang menginginkan dirimu celaka. Aku tak tahu yang terbaik untukmu. Aku ingin tahu apa yang akan kamu rencanakan? Apa kau serius ingin bercerai dengan Sandy?" tanya Kemuning tatkala mereka saling melepaskan diri dan kembali duduk. "Aku ingin bercerai dengan Sandy dan memulai hidupku sendiri, ibu," jawab Ambar singkat. Sungguh ia merasa enggan menceritakan masalah rumah tangganya pada ibunya yang baru saja dekat dengannya. "Aku tak tahu apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tanggamu. Menikah dengan orang kaya ternyata juga tak menjamin semuanya. Aku hanya ingin menawarkan padamu sebuah pekerjaan. Kalau kau bersedia, kau bisa bekerja di perusahaan kosmetik MaryGold. Kebetulan aku punya teman di sana," tawar Kemuning berharap Ambar akan bisa segera move -on dari masalah ru
Dernière mise à jour: 2024-11-14
Chapter: Bab 22
"Jangan menyebut Rosemala lagi. Mari kita fokus dengan pernikahan kita. Hentikanlah permainan ini. Mari kita bersikap lebih dewasa," seru Sandy berbisik di telinga Ambar. Ambar sedikit merinding. Sandy dengan cepat mengambil kesempatan untuk segera menciumnya. Buru-buru ia menjauhkan tubuhnya dari Sandy. "Tidak lagi Sandy," sentak Ambar waspada. tak boleh ia terpedaya lagi oleh bujuk rayu pria itu. Bayangan betapa mesranya Sandy saat memberikan kalung berlian itu pada Rosemala membuat hatinya perih. "Mengapa?" tanya Sandy kembali mendekat. Kali ini ia berhasil memagut leher jenjang Ambar. Ambar langsung tersengat. Sentuhan Sandy sulit untuk ditolak. "Please Sandy," rintih Ambar memberontak dalam pelukan Sandy yang kian erat. Otaknya mulai berkabut ketika Sandy kembali memciumnya dengan penuh sinar gairah. Tidak ketika ia sudah membulatkan tekad untuk berpisah. Ia harus segera pindah kalau tidak maka selamanya ia akan terjebak dalam hubungan menyakitkan tanpa akhir."Awc!" pekik Sa
Dernière mise à jour: 2024-11-09
Chapter: Bab 21
"Sudah berapa tahun berlalu, sejak terakhir kali Kemuning datang untuk mengambilmu," seru Nenek dengan tatapan menerawang. Ambar tak bisa berkata-kata. Nama ibunya selalu membuatnya sesak. Ada keinginan untuk dekat dengannya, ada juga keinginan untuk membencinya. "Nenek sudah tua. Kamu juga jauh lebih dewasa sekarang. Saatnya menyerahkan semua keputusan padamu Mbar. Maafkan nenek, selama ini yang terlalu mengekangmu dan banyak memberimu larangan," ucap neneknya dengan tangan membelai lembut rambut Ambar. "Nenek jangan berkata begitu," tukas Ambar seraya memeluk neneknya dengan haru. "Temui ibumu. Perbaiki hubungan kalian," ucap nenek tersenyum. Ambar mengangguk dengan penuh kelegaan. Kini tidak ada lagi yag membuatnya ragu untuk bertemu dengan ibunya. Ia akan menghadapi ibunya apapun yang terjadi.Terakhir kali ia bertemu ibunya, tatkala pemakamam ayahnya. Ayahnynya meninggal saat Ambar berusia 10 tahun. Ayahnya ditemukan mati karena minum minuman keras oplosan. Dari dulu ayahnya
Dernière mise à jour: 2024-11-01
Chapter: Bab 20
Malam itu Ambar menunggui Sandy menginap di klinik. Sandy ingin malam ini hubungannya dengan Ambar bisa mengalami kemajuan. "Mbar tolong, aku kedinginan. Naikkan selimutku," ucap Sandy pura-pura menggigil kedinginan. Ambar kini tak bisa membedakan apakah Sandy hanya pura-pura atau memang kedinginan. Dengan enggan ia segera membenah selimut Sandy. "Mbar apa kau tak penasaran, kenapa aku mual terus?" tanya Sandy melhat Ambar yang begitu cuek. "Dokter sudah mengatakan kau hanya salah makan," kata Ambar tak bisa menebak jawaban lain. Ia kembali fokus pada ponselnya "Kau tahu apa kata dokter pribadiku?" tanya Sandy lagi menatap Ambar. "Tentu saja aku tak tahu." Ambar berusaha tak peduli "Mbar, apa kau hamil?" tanya Sandy. Ambar langsung sedikit terkejut. Darimana Sandy tahu kalau dia hamil? Mungkinkah rumah sakit tempatnya kemarin di rawat, bisa membocorkan informasi seorang pasien. "Memang kenapa kalau aku hamil?" tanya Ambar bertanya balik. Ia masih tak ingin kehamilannya diket
Dernière mise à jour: 2024-10-27
Chapter: Bab 19. Sakit
Ambar melihat Sandy memejamkan matanya di ranjang. Ia tak yakin Sandy benar-benar sakit."Minumlah, air oralit ini," ujarnya meletakkkan segelas campuran gula dan garam di meja samping ranjang. Sandy tak menyahut. Ia mencoba mengamati Sandy lebih dekat. Wajah pria itu tampak pucat dan bibirnya kelihatan kering. Ia memutuskan untuk mengguncang bahunya pelan. Ada kekhawatiran di hatinya, jangan-jangan suaminya itu pingsan."Sandy," serunya. Pria itu sama sekali tak bereaksi."Jangan bersandiwara," ujarnya sedikit panik. Nenek yang sejak tadi memerhatikan dari ambang pintu, kemudian masuk."Apa yang terjadi pada suamimu. Sejak datang kemari tampaknya sudah kurang sehat," kata Nenek kini meletakkan tangannya di dahi Sandy."Suhu tubuhnya sangat dingin.""Dia baik-baik saja Nek," sahutnya mencoba menghibur diri."Apa kalian bertengkar?" tanya Nenek menatapnya. Ia tak ingin menjawab."Nek aku sakit," ucap Sandy tiba-tiba, yang lebih mirip rengekan. Mata pria itu sedikit terbuka. Ambar langs
Dernière mise à jour: 2024-10-22
Vous vous intéresseriez aussi à
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status