LOGINBagi Nadira, ini adalah masalah yang sangat besar.Namun, di mata Zafran, ternyata itu hanyalah kesalahan kecil yang tidak berdampak apa-apa, sesuatu yang bisa dibiarkan begitu saja.Nadira menatapnya lama sekali, sampai matanya terasa perih dan lelah, tetapi tetap tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Yang ada hanyalah kekecewaan.Saat Rivaldi hendak mengatakan sesuatu, Aurelia menahannya.Aurelia pun tersenyum samar. Bukan benar-benar tersenyum, lalu berkata, "Kalau Ayah sudah berkata seperti itu, apa lagi yang bisa kami katakan."Percuma berbicara lebih banyak.Sejak awal dia sudah tahu, mustahil mengharapkan Zafran memberi penjelasan apa pun.Untungnya, sejak semula dia juga tidak sepenuhnya menggantungkan harapan pada ayahnya ini.Helsa mengira kali ini akan sama saja seperti setiap sebelumnya. Tiga kakak beradik Keluarga Wirantara sudah tak bisa berbuat apa-apa padanya. Dia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara kepada Zafran, "Oh, ya, Ayah, aku boleh pergi ke acara
Namun, detik berikutnya, sebuah tamparan langsung mendarat di wajah Rivaldi!Di pipinya yang bersih dan tampan, tampak bekas merah yang jelas.Rivaldi mengernyit sedikit karena pukulan itu, ujung lidahnya menjilat darah yang merembes di sudut bibir, lalu dia menatap datar pria paruh baya di hadapannya.Dibanding melihat ayahnya sendiri, rasanya seperti sedang menatap seorang asing.Aurelia tertegun. Detik berikutnya, dia langsung menarik lengan Rivaldi. Saat melihat luka di wajahnya, mata Aurelia yang biasanya dingin itu sedikit bergetar. Dia menoleh ke arah Zafran dan memperingatkan dengan suara tegas, "Kakek bahkan tidak pernah memukul Rivaldi!"Sejak kecil, siapa di antara mereka yang tidak pernah menerima hukuman dari Tuan Haryo?Namun, meski sang kakek sering menganggap Rivaldi terlalu bandel, selain Winona, orang yang paling dia sayangi justru adalah Rivaldi."Sejak kapan kamu belajar memakai kakekmu untuk menekanku?"Zafran langsung naik pitam. "Kamu tidak dengar omongan kasar y
Pada hari-hari biasa, meskipun berkat dukungan Tuan Haryo hampir semua urusan besar dan kecil Keluarga Wirantara ditentukan oleh Aurelia. Dia tak pernah secara terang-terangan membantah keputusan Zafran.Dia selalu bisa dibilang sebagai putri yang berbakti.Ucapan hari ini dapat dikatakan sebagai pertama kalinya dia menjatuhkan wibawa Zafran.Diperlakukan seperti ini berturut-turut oleh anak-anaknya, Zafran merasa sedikit kehilangan muka. Sambil menerima perekam suara, dia berkata tegas, "Apakah di Kota Panaraya ada semacam kutukan, sampai kalian bertiga menjadi seperti ini?"Mendengar itu, Nadira tampak makin dingin. "Lebih baik kamu dengar dulu rekamannya."Zafran bukan kali pertama membela Helsa, tetapi kali ini, Nadira sudah kehilangan kesabarannya.Dia hanya ingin secepatnya membawa pulang putrinya yang telah menderita di luar rumah.Wajah Zafran sedikit mereda, akhirnya dia tidak lagi berkata apa-apa dan mulai mendengarkan rekaman.Rekaman ini berisi kronologi yang Aurelia dapatk
Seluruh ruang tamu seketika menjadi sunyi senyap, sampai suara jarum jatuh pun terdengar.Semua anggota Keluarga Wirantara melihat di mata satu sama lain rasa lega seolah beban terangkat, kegembiraan karena menemukan kembali yang hilang.Serta rasa perih di hati.Meskipun mereka sudah menduga bahwa Shanaya sangat mungkin adalah Winona, mereka tetap tak bisa menyingkirkan kekhawatiran akan kemungkinan kecil itu.Bagaimana kalau ternyata salah lagi?Untungnya kali ini tidak salah.Dan semua harapan yang dipendam selama bertahun-tahun akhirnya terwujud pada saat ini.Winona bukan hanya masih hidup, tetapi juga tumbuh menjadi gadis yang begitu penurut, anggun, mandiri, dan luar biasa.Rasa perih di hati pun tak sedikit, sama kuatnya dengan perasaan-perasaan lainnya.Nadira tak kuasa menahan air mata.Rivaldi langsung berdiri dengan gelisah. "Aku akan mencari Shanaya sekarang juga!"Mana mungkin dia bisa duduk diam."Duduk."Aurelia menarik napas dalam-dalam, menekan kegembiraan yang meluap
Setelah turun ke bawah, Shanaya dan Lucien baru saja selesai sarapan ketika mereka menerima telepon dari pihak institut penelitian yang memberi tahu bahwa laporan analisis komposisi sudah keluar.Shanaya buru-buru melirik laporan di emailnya. Ekspresi yang sempat agak mengendur langsung mengeras, lalu dia bersama Lucien segera meluncur ke rumah sakit.Baru setelah naik ke mobil, Lucien bertanya, "Masalahnya serius?""Ya."Shanaya sedikit mengangguk. "Sama seperti yang dikatakan dokter kemarin."Racun ini jika penawarnya digunakan dengan sedikit saja kesalahan justru akan menyebabkan racun lain yang belum bereaksi menyebar dengan cepat.Setelah tiba di rumah sakit, mereka berdua berjalan bersama hingga ke depan pintu ruang rawat. Saat hendak masuk, Lucien berhenti sejenak dan berkata, "Kamu masuk dulu, aku mau mengangkat telepon.""Baik."Shanaya tidak berpikir panjang dan langsung masuk ke ruang rawat.Lucien berjalan ke ujung lorong, mengeluarkan ponselnya. Wajahnya dingin dan tegas.
Rivaldi tak mampu membantah. Kakak beradik bertiga itu kembali menanyakan kondisi Shanaya kepada Nadira, barulah mereka merasa lega.Elvano menanyakan jamuan makan besok malam, "Apakah Shanaya akan datang?""Sepertinya tidak,"Aurelia menggelengkan kepala.Rencana awalnya adalah memanfaatkan kehadiran para tokoh penting dari berbagai kalangan besok malam untuk benar-benar memutuskan hubungan dengan Helsa, sekaligus mengumumkan identitas Shanaya.Namun, sekarang Melani berada dalam kondisi genting seperti ini, Shanaya kemungkinan besar tidak punya niat untuk menghadiri jamuan malam itu.Malam ini Nadira pergi ke Arsanta Residence, dia juga tidak membicarakan hal tersebut dengan Shanaya.Agar Shanaya tidak merasa serba salah.Kecuali jika, sebelum jamuan malam dimulai, mereka bisa mendapatkan penawarnya dan mengirimkannya ke rumah sakit.–Di sisi lain, Herman juga dibuat kebingungan oleh hal ini dan tak henti-hentinya memikirkannya.Hal apa yang bisa lebih penting daripada bertemu dan m







