LOGINSementara itu, Reynald juga terus memperhatikan arah opini publik setelah pernyataannya dirilis.[Aku sudah menduganya. Putri sulung Keluarga Wirantara dan Pak Reynald terlihat begitu serasi. Mana mungkin mereka benar-benar bercerai?][Pak Reynald sampai turun tangan langsung untuk memberikan klarifikasi. Terlihat jelas bahwa cintanya kepada Nona Aurelia begitu tulus dan mendalam.][Benar. Semoga Nona Aurelia bisa menghargainya! Jangan mentang-mentang punya kedudukan tinggi, lalu ....]Reynald menggulirkan tetikusnya, sementara senyum tipis di sudut bibirnya tak kunjung menghilang.Tok, tok.Alan membuka pintu dan masuk. "Pak Reynald, pernyataan itu memberikan hasil yang cukup baik. Opini publik di internet berkembang sesuai perkiraan kita. Dalam waktu dekat, sepertinya Nyonya tidak akan leluasa mengungkit masalah perceraian lagi. Selain itu, perusahaan yang kemarin lusa menyatakan akan menangguhkan kerja sama baru saja mengirimkan kontrak untuk ditandatangani."Reynald meletakkan cang
Sementara itu, di Kota Panaraya.Jarang sekali Aurelia tidak masuk kerja pada hari kerja. Hari itu, dia menemani Nadira bermain catur di ruang tamu.Matahari perlahan terbenam di balik jendela besar. Jika kemarin tidak muncul berita itu, suasana di sana pasti terasa begitu damai dan tenteram.Dia memegang sebuah bidak hitam dan baru hendak meletakkannya ketika ponsel yang diletakkan di samping tiba-tiba berbunyi.Begitu melihat pesan itu berasal dari Neira, barulah dia mengambil ponselnya.[Nona Aurelia, Pak Reynald sudah mengeluarkan pernyataan. Apa Anda ingin memberikan tanggapan?]Setelah itu, Neira meneruskan sebuah berita kepadanya. Aurelia pun membukanya.Dalam video tersebut, pria itu duduk di ruang konferensi dengan mengenakan setelan jas rapi. Sikapnya tampak serius dan tulus, sementara nada bicaranya terdengar begitu tepat dan meyakinkan."Mengenai informasi tidak benar yang beredar di internet, melalui kesempatan ini aku ingin memberikan tanggapan resmi.""Hubunganku dan ist
Wajah Arabella sekilas tampak panik. Caleb tidak memberinya waktu untuk menyusun alasan. Dia kembali maju selangkah. Meski wajahnya tanpa ekspresi, aura mengintimidasinya terasa begitu kuat."Nabila yang kau suap itu membantumu mendapatkan foto-foto itu, lalu kamu sebarkan di internet."Arabella mengalihkan pandangan dan menjawab dengan nada gugup, "Aku .... Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.""Tidak mengerti?"Tatapan Caleb tertuju pada wajahnya. Suaranya terdengar dingin dan berat. "Kalau begitu, akan kujelaskan. Pertama, kamu menyuap Nabila untuk mengawasi setiap gerak-gerikku, lalu menyuruhnya memotret pertemuanku dengan Kakak. Sekarang, kamu juga menghubungi media untuk membocorkan berita itu. Setelah melakukan semua ini, kamu masih mengaku tidak mengerti?""Aku tidak melakukannya!"Arabella tiba-tiba meninggikan suaranya, seolah sudah terdesak. "Bukan aku yang menyebarkan foto-foto itu!""Lalu, dari mana foto-foto itu tersebar?" Caleb menatapnya tajam bak pisau.Napas Ar
Aurelia sedikit menundukkan pandangan. Ujung jarinya sempat terhenti di atas layar sebelum akhirnya mengetik sebaris pesan.[Ini tidak ada hubungannya denganmu. Jangan terlalu dipikirkan, istirahatlah lebih awal.]Setelah menekan tombol kirim, dia membalik ponselnya dan meletakkannya di atas meja.Dia tidak menanyakan bagaimana foto-foto dari Grup Maheswari bisa tersebar, juga tidak bertanya bagaimana Caleb berencana menanganinya.Dia duduk dalam diam selama beberapa saat, lalu bangkit, mematikan lampu ruang kerja, dan kembali ke kamar untuk beristirahat.…Saat menerima pesan darinya, Caleb tanpa sadar mencengkeram ponselnya erat-erat.Aurelia tidak menanyainya, tidak menyalahkannya, bahkan tidak mengajukan pertanyaan apa pun.Namun, kepercayaan itu justru membuat api kemarahan yang terpendam di dada Caleb berkobar semakin hebat.Ya.Masalah ini tampaknya memang tidak terlepas dari campur tangan Reynald.Namun, bagaimana Reynald bisa menyusupkan orangnya ke Grup Maheswari?Foto itu di
Pertanyaan itu begitu terang-terangan hingga suasana seolah membeku.Reynald sedikit menyipitkan mata. "Kamu mencurigaiku?""Anggap saja begitu."Caleb menyunggingkan senyum tipis dan mengakuinya tanpa ragu."Memang benar aku ingin menahannya, tapi aku tidak serendah itu sampai menggunakan cara licik seperti ini."Suara Reynald terdengar sedikit lelah, dalam kadar yang pas. "Kamu terlalu tinggi memandangku.""Benarkah?"Caleb melangkah setengah langkah ke depan dan menatapnya tajam. "Kalau bukan kamu, dari mana asal foto-foto itu? Hanya orang yang cukup dekat dengannya dan mengetahui jadwalnya yang bisa memiliki foto-foto tersebut. Katakan padaku, selain kamu, siapa lagi yang mungkin memilikinya?"Senyum di wajah Reynald perlahan memudar.Dia terdiam selama beberapa detik, seolah terpojok oleh pertanyaan Caleb. Malas mempertahankan keharmonisan semu di antara mereka, dia mencibir dingin. "Bukankah kamu juga bisa memilikinya? Foto saat kamu merangkulnya diambil di Grup Maheswari! Caleb,
Caleb menundukkan pandangan. "Mengerti.""Berdirilah," ujar Tuan Abimana datar.Caleb menyembunyikan cibiran dingin di matanya, lalu berdiri.Lututnya terasa kaku karena terlalu lama berlutut, tetapi dia tidak menunjukkan sedikit pun keanehan dan hanya berdiri diam di samping.Akhirnya, Tuan Abimana mengalihkan pandangannya kepada Reynald."Reynald.""Kakek.""Apa yang akan kamu lakukan mengenai masalah ini?"Reynald mengatupkan bibir sejenak, lalu menjawab dengan nada lembut dan santun, "Aku akan segera mengeluarkan pernyataan klarifikasi agar rumor ini tidak berdampak pada Aurelia. Mengenai perceraian kami, untuk sementara, sebaiknya jangan terburu-buru."Tuan Abimana menatapnya dengan sorot menyelidik, seolah sedang menilai seberapa banyak kebenaran dan kebohongan dalam ucapannya.Beberapa saat kemudian, dia mengangguk perlahan."Setidaknya kali ini kamu tidak sepenuhnya kehilangan akal sehat."Dia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, nada suaranya terdengar lebih termenung. "Meski







