Share

Karma

Penulis: NawankWulan
last update Tanggal publikasi: 2025-07-07 22:46:16

"Ngapain bapak datang ke sini?"

Langit terlihat tak begitu ramah pada tamunya kali ini. Tatapannya tajam, sementara laki-laki yang kini duduk di depan meja kerjanya itu hanya menunduk. Dia masih diam lalu menghela napas panjang.

"Sebenarnya saya tak ingin ikut campur urusan bapak dengan adik ipar saya, tapi sebagai laki-laki saya hanya ingin bapak sedikit bertanggungjawab atas ini semua. Adik ipar saya memang salah karena sudah menyakiti istri bapak, merusak rumah tangga yang sudah kalian ban
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Akhir yang Sempurna [TAMAT]

    ​Aroma semerbak bunga melati dan mawar sayup-sayup tercium dari setiap sudut ruangan, berpadu dengan wangi khas masakan nusantara, gulai kental, sate, dan aneka hidangan aqiqah yang telah disiapkan sejak subuh. Kediaman Ririn dan Awan hari ini tak ubahnya sebuah istana kecil yang sedang merayakan kehadiran sang putri mahkota.​Di depan cermin kamarnya, Ririn mematut diri. Gamis brokat berwarna peach lembut membalut tubuhnya dengan anggun. Dia menatap pantulan dirinya, lalu tatapannya turun pada boks bayi di sudut kamar. Di sana, tertidur pulas sesosok malaikat kecil berselimut kain putih. Aura Mega Wiryawan. Nama yang disematkan Awan dengan penuh doa dan harapan.​Sepasang lengan kokoh melingkar di pinggang Ririn dari belakang. Awan mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala istrinya. Aroma musk dan kopi yang selalu menguar dari tubuh suaminya itu mengantarkan ketenangan yang luar biasa. Awan meninggalkan urusan kafe sepenuhnya selama seminggu ini, menyerahkan kemudi pada kepercayaan

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Permata Hati

    Kehamilan pertama ini benar-benar menguji fisik Ririn. Masa-masa morning sickness yang dipikirnya hanya akan berlangsung di trimester pertama, nyatanya terus berlanjut hingga hampir bukan keempat. Bau tumis bawang, wangi sabun mandi tertentu, bahkan terkadang aroma tubuh Awan sehabis pulang dari kafe bisa membuatnya berlari ke kamar mandi.​Siang ini, Ririn terbaring lemas di sofa ruang tengah. Wajahnya pucat pasi setelah memuntahkan seluruh isi perutnya untuk yang ketiga kalinya sejak pagi. ​Awan datang dari arah dapur, membawa secangkir teh jahe hangat dan sebaskom air hangat lengkap dengan handuk kecil. Pria itu meletakkan barang bawaannya di meja, lalu berlutut di lantai, tepat di sebelah Ririn. Tangannya yang besar dan hangat mulai membasuh wajah istrinya yang berkeringat dingin dengan penuh kelembutan.​"Masih mual banget, Sayang?" tanya Awan parau. Mata elangnya memancarkan kekhawatiran yang mendalam. Jari-jarinya beralih memijat pelan tengkuk Ririn. ​Ririn mengangguk lemah, me

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Hasil USG

    Setelah mendengar penjelasan Ririn mengenai siklus haid dan hasil test pack, Dokter Sarah tersenyum hangat. "Mari kita pastikan dengan USG ya, Mbak Ririn. Silakan berbaring."Ririn berbaring di atas bed periksa. Awan berdiri tepat di sebelahnya, menggenggam erat tangan Ririn yang terasa dingin. Dokter Sarah mengoleskan gel ultrasound yang terasa dingin di perut bawah Ririn, lalu mulai menggerakkan transducer.Mata Awan dan Ririn terpaku pada layar monitor di sebelah bed. Awalnya hanya terlihat gradasi hitam putih yang tak bisa mereka pahami, hingga Dokter Sarah menghentikan gerakannya pada satu titik dan memperbesar gambar."Nah, ini dia." Dokter Sarah menunjuk layar dengan tersenyum. "Lihat lingkaran kecil yang berwarna hitam ini? Ini namanya kantung kehamilan, atau gestational sac. Dan titik kecil di dalamnya ini adalah bakal janinnya.""Itu anak kami, Dok?" tanya Awan dengan suara parau."Iya, Pak Awan. Alhamdulillah, penebalan dinding rahimnya bagus, posisi kantung kehamilannya

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Kehebohan Pagi

    Sinar matahari pagi baru saja menyusup lewat celah tirai kamar. Pagi ini seharusnya berjalan seperti rutinitas biasa di usia pernikahan mereka yang baru menginjak bulan kedua. Awan, dengan kebiasaannya sebagai pemilik kafe, selalu memulai hari dengan menyeduh kopi. Hari ini, dia memilih biji kopi Arabica dari Gayo yang biasanya menjadi favorit Ririn karena aroma fruity-nya yang khas.​Namun, alih-alih menghampiri meja makan dengan senyum mengembang seperti biasa, Ririn yang baru saja keluar dari kamar tiba-tiba mematung di ambang pintu dapur. Wajahnya pucat pasi. Aroma kopi yang menguar di udara yang biasanya terasa menenangkan, kini menghantam penciumannya dengan cara yang salah. Perutnya bergejolak hebat, seolah ada ombak yang mengaduk-aduk isinya. ​Tanpa sepatah kata pun, Ririn berbalik badan. Dia menutupi mulutnya dengan kedua tangan dan berlari setengah terhuyung menuju kamar mandi.​"Huek... huek..."​Suara keras memecah keheningan pagi. Awan, yang baru saja menuangkan air pana

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Membungkam Nyinyiran

    ​Suasana menuju rumah Bu Ratri biasanya tenang, namun sore ini terasa berbeda. Beberapa ibu-ibu tampak berkumpul di rumah Bu Laras, bisik-bisik mereka lebih riuh dari biasanya saat melihat mobil mewah berwarna hitam metalik melintas pelan menuju rumah Ratri.​"Liat tuh, baru pulang dari Labuan Bajo katanya. Bu Ratri beruntung sekali punya menantu anak orang kaya," bisik Bu Tejo sambil mengunyah mangga muda. Para ibu itu sedang rujakan di rumah Bu Laras. "Ada untungnya, tapi banyak ruginya sih, Jeng." Bu Ambar menyahut sembari mencibir. "Rugi gimana, Jeng?" sahut yang lain nyaris bersamaan."Rugilah. Awan itu kan pinter, mapan pula. Kok malah pilih janda. Dia bisa dapat perawan yang cantik dan kaya," balas Bu Ambar lagi. "Namanya jodoh, Bu. Mana bisa kita menolak takdir. Lagipula, Ririn itu baik, cantik, kaya dan sangat menghormati orang tua, apa salahnya dijadikan istri? Dia juga kan nggak pernah bermimpi jadi janda, cuma keadaan yang memaksakan demikian. Jangan salahkan statusnya

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Bulan Madu

    "Ini tiket pesawat buat kita bertiga, Mas?" tanya Ririn menatap tiga tiket yang disodorkan suaminya. Awan tersenyum lalu mengangguk pelan."Iya, Sayang. Kamu bilang pengin live on board ke Labuan Bajo kan? Aku kabulin pokoknya. Cuma, mendadak aku berpikir gimana kalau ajak ibu sekalian, Sayang. Ibu juga belum pernah naik kapal. Makanya ini kubelikan tiket pesawatnya, sekalian berangkat bareng kita." Pandangan mata Awan kini beralih pada ibunya. "Bu, biarkan Awan dan Ririn bahagiain Ibu. Kita jalan-jalan bertiga ya? Ibu nggak perlu takut kalau nanti bakal ganggu kami. Kapalnya besar kok, kamarnya terpisah. Ririn juga pasti setuju, kan?"Ririn tak menjawab dengan kata-kata. Dia langsung berpindah kursi, memeluk Awan dengan seulas senyum. "Setuju banget," bisik Ririn di telinga Awan. Lalu dia menoleh pada mertuanya. "Ibu harus ikut! Pokoknya Ririn yang bakal dandanin Ibu buat foto-foto nanti!"Melihat ketulusan anak dan menantunya, Bu Ratri akhirnya tak kuasa menolak. Air mata kebaha

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Tawaran Tes DNA

    "Darimana kamu tahu kalau saya punya tanda lahir itu di lengan kiri?" cecar Ririn lagi dengan perasaan tak karuan. Dia benar-benar shock dengan beberapa kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini. Belum kelar gugatannya dengan Rama, muncul masalah lain tentang masa lalunya. "Oh, bapak yang memberi

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Amarah Yang Meledak

    Rama menyalakan mesin mobil dengan kasar. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Di sebelahnya, Bu Rukayah duduk diam sambil sesekali melirik putranya yang mengemudi dengan kecepatan tinggi.Suasana mobil mencekam, hanya terdengar deru mesin dan napas berat Rama yang terdengar seperti mendidih."Apa-

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Shock

    Suara ketukan pintu membuat Ririn yang sedang melipat pakaian di ruang tamu menoleh. Langkahnya sempat terhenti ketika pintu terbuka, menampilkan sesosok lelaki yang tak asing. Wicaksono tersenyum tipis lalu mengangguk pelan. Di belakangnya, Dimas berdiri dengan mata teduh yang menyiratkan beban b

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Bukti

    Hujan rintik masih turun ketika Ririn berdiri di balik pohon besar yang berada di seberang cafe mewah itu. Tangannya bergetar saat menggenggam ponsel. Matanya tak berkedip menatap ke arah kaca bening yang memamerkan pemandangan dalam kafe. Dan di sanalah, Rama duduk berhadapan dengan Sonia.Rama, s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status