Share

Sesuatu Yang Disembunyikan

Penulis: NawankWulan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-14 12:58:10

"Sudah berapa hari kamu nggak jenguk bapak? Mentang-mentang sudah jadi orang kaya lantas lupa kalau masih punya orang tua di sini??" sentak Abel saat Senja dan Langit datang ke rumah Anwar.

"Apa maksudmu ngomong begitu, Bel? Kalau aku lupa, nggak mungkin datang ke sini hari ini. Nggak mungkin aku bertukar kabar dengan bapak setiap hari. Jangan mengada-ngada deh." Senja menepis tuduhan Abel yang terlalu berlebihan itu.

"Bertukar kabar tiap hari??" cibir Abel sembari melipat tangan ke dada.

"K
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Kebahagiaan Menantu dan Mertua

    ​Aroma manis dari nangka yang dimasak lambat dengan gula aren bercampur dengan gurihnya kuah areh dan pedasnya sambal krecek memenuhi ruang VIP restoran berkonsep pendopo kayu jati itu.​Awan sengaja menyewa ruangan privat di salah satu restoran gudeg legendaris di daerah Wijilan. Dia ingin ibunya bisa makan dengan tenang, jauh dari tatapan orang atau gangguan mendadak dari kerabat yang tak diundang.​Bu Ratri duduk di antara anak dan menantunya. Wajahnya yang tadi pucat dan tegang kini mulai dialiri warna kehidupan. Matanya tak lepas menatap Ririn yang sedang sibuk menyendokkan nasi putih ke piring keramik milik mertuanya itu, disusul dengan sepotong ayam kampung paha atas dan telur bebek cokelat yang mengkilap.​"Cukup, Rin. Jangan banyak-banyak, Ibu sudah tua, perutnya nggak muat kalau sebanyak ini," tegur Bu Ratri lembut, senyumnya mengembang tulus.​"Sedikit lagi ya, Bu? Kreceknya enak banget lho ini, pedesnya pas," bujuk Ririn dengan nada manja yang natural, sama sekali tak terl

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Balasan Menohok dari Ririn

    Lobi hotel bintang tempat mertua Ririn dan keluarganya menginap di kawasan Malioboro itu cukup ramai oleh wisatawan yang check-out, namun suasana di sudut ruang tunggu terasa begitu kelabu. Bu Ratri duduk di sofa dengan koper abu-abu di samping kakinya. Matanya masih terlihat sembab, meski sudah ditutupi bedak. Tangannya meremas tisu yang sudah hancur. Saat melihat sosok Awan dan Ririn berjalan masuk dari pintu kaca depan, Bu Ratri buru-buru membuang muka, mencoba menyembunyikan isak tangis yang tadi sempat lolos."Ibu!" panggil Awan setengah berlari. Ririn mengekor di belakang suaminya. Penampilannya saat ini cukup berbeda. Dia mengenakan gamis branded dan kacamata hitam yang disampirkan di kepala. Namun, wajah cantiknya tampak cemas. Awan langsung berjongkok di depan ibunya, menggenggam tangan wanita paruh baya itu yang terasa dingin."Ibu mau ke mana? Kenapa sudah bawa koper? Kan aku bilang Ibu pindah ke hotel kami aja, kita makan dan jalan-jalan bareng," cecar Awan, suaranya penuh

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Sidang Keluarga

    ​Matahari belum tinggi benar, tapi suhu di kamar hotel Bu Ratri mendadak terasa seperti di dalam oven. Hawa panas yang dibawa oleh lima kerabatnya itu membuat kamar itu terasa panas. ​Mereka adalah saudara kandung, ipar dan kerabat Bu Ratri sendiri. Orang-orang yang memiliki darah yang sama, namun kini menatapnya seolah dia adalah kriminal yang baru saja tertangkap basah.​"Jadi, Mbak Ratri masih mau menyangkal?" Suara Mira, adik tiri Ratri memecah keheningan dengan nada tinggi yang menyakitkan telinga. Wanita yang memakai gincu merah menyala itu duduk dengan kaki disilang angkuh, menatap kakaknya dengan jijik. ​Bu Ratri yang duduk di sudut ranjang meremas ujung daster batiknya. "Demi Allah, Mir. Demi Allah, Mbak nggak tahu. Sumpah," ucap Ratri dengan suara serak menahan tangis. "Awan nggak cerita soal keluarga Ririn yang sebenarnya. Dia cuma bilang kalau Ririn itu adiknya Damar, sahabatnya. Awan cerita sedikit soal status Ririn dan masa lalunya. Gitu aja, nggak ada yang lain. Mbak

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Kado Pernikahan

    ​Cahaya matahari pagi yang malu-malu mulai merayap masuk melalui celah tirai tebal Presidential Suite, menyapu lantai marmer yang dingin. Di luar, Gunung Merapi berdiri gagah dengan puncaknya yang berasap tipis, menjadi latar belakang kota Yogyakarta yang mulai menggeliat bangun.​Di dalam kamar yang hening dan sejuk itu, dua sajadah masih tergelar berdampingan menghadap kiblat. Mukena sutra putih milik Ririn baru saja dilipat rapi di atas nakas, bersisian dengan sarung tenun milik Awan. Selepas mandi wajib dan menunaikan kewajiban Subuh berjamaah, suasana spiritual yang menenangkan menyelimuti ruangan itu. Namun, di balik ketenangan itu, ada debar-debar sisa kemesraan semalam yang masih terasa hangat di udara.​Ririn duduk di tepi ranjang, masih mengenakan bathrobe putih tebal yang membungkus tubuhnya. Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai, meneteskan air ke handuk kecil di bahunya. Dia menatap Awan yang sedang berdiri di balkon, menyesap kopi hitam tanpa gula. Punggung suaminya te

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Malam Pertama

    ​Pintu suite hotel itu tertutup rapat, memisahkan hiruk-pikuk pesta resepsi dengan keheningan mewah kamar pengantin mereka.​Awan melonggarkan dasi kupu-kupunya dengan satu gerakan santai, lalu melempar jas mahalnya ke sofa. Dia berjalan menuju minibar, mengambil sebotol air mineral dingin, dan meneguknya hingga setengah. Gerak-geriknya tenang, penuh percaya diri. Dia berbalik, menyandarkan pinggangnya di meja bar sambil menatap Ririn yang sedang kesulitan melepas heels 12 cm-nya di tepi ranjang.​Awan tersenyum lalu melangkah mendekati istrinya. Dia berlutut dengan satu kaki, mengambil alih kaki Ririn, dan melepaskan sepatu itu dengan lembut. Jemarinya yang maskulin memijat sebentar telapak kaki istrinya yang kemerahan.​"Enak?" tanya Awan, matanya menatap intens ke mata Ririn.​"Enak banget ...." balas Ririn pelan. Jantungnya berdebar kencang. Awan versi mode 'suami' ini jauh lebih mempesona daripada Awan yang biasanya sibuk mengatur karyawan di cafe. ​Awan berdiri, lalu menarik t

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Senyum Kekalahan

    Profil Keluarga Mempelai WanitaAyah (Alm): Aryandanu Harjokusumo (Pengusaha Properti dan budayawan)Ibu (Alm) : Nella PratiwiKakak : 1. Dimas Putra Harjokusumo (CEO Dimas Utama Group) 2. Damar Putra Harjokusumo (CEO Damar Group dan Komisaris Utama Harjokusumo Land)"Uhuk! Uhuk!"Om Haryo tersedak ludahnya sendiri, matanya melotot ngeri menatap layar itu. Tangannya gemetar menunjuk tulisan Harjokusumo Land."Damar Group? Harjokusumo Land?" desis Om Haryo dengan suara tercekat. Dia menoleh horor ke arah Putri. "Putri! Itu yang punya gedung tempat Papa meeting bulan lalu! Kamu bilang Ririn anak orang miskin? Kamu bilang dia janda pengangguran?!""Aku ... aku nggak tau, Pa ...." cicit Putri, air matanya mulai menggenang. Bukan air mata haru, tapi air mata ketakutan."Mati kita," bisik Bude Laras, wajahnya tak kalah tegang. "Kita sudah menghina mereka habis-habisan di grup WA. Kalau Damar tau, habislah kita."Putri merasa lehernya dicekik. Rasa malu yang amat sangat menjalar dari ujun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status