Share

Tamu Spesial

Author: NawankWulan
last update Last Updated: 2026-01-06 23:59:32

​Suasana pagi di kediaman utama keluarga besar Harjokusumo terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk Jakarta. Aroma bunga sedap malam dan teh melati menguar samar dari arah pendopo utama. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat, diatur oleh detak jam kayu antik yang menggema di ruang tengah. ​Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar memasuki halaman luas yang dipenuhi pohon sawo kecik. Ririn menoleh ke arah jendela nako yang terbuka. Jantungnya berdesir. Sebuah Alphard hitam berhenti tepat di depan pendopo.

​Pintu mobil terbuka. Damar turun lebih dulu, mengenakan kemeja batik lengan panjang yang rapi. Diusul kemudian oleh Awan. ​Ririn menahan napas. Awan terlihat berbeda hari ini. Dia mengenakan kemeja batik bernuansa cokelat tua dan celana bahan hitam. Rambutnya ditata rapi, wajahnya bersih, namun Ririn bisa melihat ketegangan di rahangnya yang mengeras.

​"Ayo, Nduk. Tamu agungmu sudah datang," goda Bu Sulastri, ibu angkat Ririn yang ikut ke Jogja bersamanya.

​Di teras pendo
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
NawankWulan
Ngantuk kak ... Makanya kupotong separo tak tinggal tidur kwkwkw udah aku up ya
goodnovel comment avatar
NawankWulan
Wkwkwk iya kak aku ngantuk berat makanya kupotong. Eh mau lanjutin kmrin lupa. Tp udah aku up yaa lebih panjang kok
goodnovel comment avatar
Rita Hazi
lanjut kakak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Kediaman Harjokusumo

    ​"Eyang, Bapak-bapak, dan Ibu-ibu sekalian yang saya hormati." Suara Awan terdengar mantap meski jantungnya berpacu. "Saya, Awan Wiryawan, datang ke sini dengan niat baik dan tulus. Saya ingin meminta izin dan restu dari Eyang dan keluarga besar, untuk melamar Ririn menjadi istri saya."​Suasana hening sejenak. Angin sore menggesek dedaunan di halaman. ​Awan melanjutkan, kali ini menoleh sedikit ke arah Ririn yang duduk di samping ibu angkatnya. ​"Saya sadar, saya bukan laki-laki yang sempurna. Keluarga saya mungkin punya banyak kekurangan yang sempat melukai hati Ririn. Tapi saya berjanji di hadapan Eyang dan keluarga, saya akan menghabiskan sisa hidup saya untuk membahagiakan Ririn, melindunginya, dan menjaganya dengan baik. Saya mencintai Ririn bukan karena siapa dia, tapi karena dia adalah perempuan idaman saya."​Pakde Harjo, paman tertua Ririn, berdeham pelan. "Kami sudah dengar soal keluarga besarmu yang kurang setuju."​Awan mengangguk tegas. "Betul, Pakde. Tapi bagi saya,

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Tamu Spesial

    ​Suasana pagi di kediaman utama keluarga besar Harjokusumo terasa jauh lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk Jakarta. Aroma bunga sedap malam dan teh melati menguar samar dari arah pendopo utama. Di sini, waktu seolah berjalan lebih lambat, diatur oleh detak jam kayu antik yang menggema di ruang tengah. ​Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar memasuki halaman luas yang dipenuhi pohon sawo kecik. Ririn menoleh ke arah jendela nako yang terbuka. Jantungnya berdesir. Sebuah Alphard hitam berhenti tepat di depan pendopo.​Pintu mobil terbuka. Damar turun lebih dulu, mengenakan kemeja batik lengan panjang yang rapi. Diusul kemudian oleh Awan. ​Ririn menahan napas. Awan terlihat berbeda hari ini. Dia mengenakan kemeja batik bernuansa cokelat tua dan celana bahan hitam. Rambutnya ditata rapi, wajahnya bersih, namun Ririn bisa melihat ketegangan di rahangnya yang mengeras.​"Ayo, Nduk. Tamu agungmu sudah datang," goda Bu Sulastri, ibu angkat Ririn yang ikut ke Jogja bersamanya.​Di teras pendo

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Rencana Khusus Menghadapi Fitnah

    "Gila ...." desis Putri saat melihat foto-foto Ririn bersama Damar di ponselnya. Dia masih membuka foto-foto dan video yang sempat direkamnya siang tadi di Winter Resto. Sesekali dia berdecak kagum melihat ketampanan dan kegagahan Damar, mengingat kembali kedatangannya ke resto itu dengan mobil sport mewahnya. Putri mengerjap pelan, membayangkan betapa bahagianya dia jika dia yang berhasil menggaet hati Damar. "Ternyata dugaanku bener. Dia bukan cuma janda miskin, tapi pemain kelas kakap." Putri mengingat wajah Ririn yang berbinar saat melihat kedatangan Damar, lalu mencium punggung tangannya selayaknya pasangan. Putri kesal, cemburu bercampur benci. "Dia pasti pakai pelet atau susuk. Kalau nggak, nggak mungkin banget janda pengangguran dan miskin sepertinya bisa dapetin laki-laki kaya itu bahkan Mas Awan pun kena jebakannya juga. Gila sih ini. Beneran nggak waras!" Putri terus mengoceh, berprasangka yang tidak-tidak pad Ririn tanpa mau cari tahu siapa sebenarnya calon istri sepu

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Prasangka dan Kedengkian

    ​Dentingan sendok beradu dengan piring porselen menjadi latar suara yang menemani kegelisahan Ririn. Dia melirik jam tangan mungil di pergelangan tangannya untuk ketiga kalinya dalam lima menit. Damar, kakak kandungnya, memang super sibuk, tapi janji makan siang ini penting. Ririn rindu bermanja-manja pada sosok pelindung yang dia miliki di kota ini, selain ibu angkatnya. ​Restoran Winter siang ini cukup padat. Ini adalah tempat favorit para eksekutif muda di kawasan elit untuk menghabiskan waktu istirahat. Ririn menyesap lemon tea-nya, berusaha mengabaikan tatapan beberapa orang yang mungkin menilai penampilannya terlalu sederhana untuk tempat sekelas ini. Hanya gamis pastel lembut dan hijab senada, tanpa tas bermerek yang mencolok.​"Lho? Bukannya itu si janda yang merebut Mas Awan dariku?"​Suara cempreng yang sangat familiar itu membuat punggung Ririn menegang. Dia tak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Putri. Sepupu Awan yang sejak awal menentang hubungan mereka

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Balasan Telak Awan

    “Sudah selesai bicaranya, Tan?” Seketika, semua mata beralih padanya. Tante Mira mengerutkan kening. “Loh, Tante cuma ngomong apa adanya.” Awan menatap lurus.“Sayangnya, yang Tante sebut ‘apa adanya’, sebenarnya cuma asumsi yang lahir dari rasa sok paling tahu.” Tante Mira terdiam sepersekian detik.“Wan!”“Pertama,” lanjut Awan. “Status pernikahan seseorang bukan indikator nilai dirinya. Ririn janda bukan karena dia tak berharga. Pernikahan bisa gagal karena banyak faktor, termasuk laki-laki yang tidak tahu cara menghargai. Lagipula dia bukan diceraikan dengan alasan-alasan yang Tante sebutkan tadi, tapi dia yang menggugat cerai karena suaminya tak tahu diri dan tak mau bersyukur.”Beberapa kepala menunduk. Suasana mendadak hening karena Awan tampak mulai emosi. Volume suaranya sedikit meninggi. “Kedua." Matanya kini menatap Ririn dengan bangga. “Ririn bukan perempuan yang ‘mau enaknya’, seperti yang Tante kira. Dia juga bekerja. Dia membesarkan dirinya sendiri. Dia tak pernah m

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Hinaan Di Arisan Keluarga

    Sabtu sore itu, langit menggantung mendung. Bu Ratri sudah berangkat lebih dulu ke rumah adik tirinya, Mira untuk bantu-bantu menyiapkan acara arisan keluarga di sana. Rumahnya berada di kampung lain. Awan sudah janji akan datang belakangan bersama Ririn. Detik ini, Awan dan Ririn sudah melaju ke rumah Mira. Jalanan menuju kampung itu tampak ramai. Kanan kiri jalan sudah padat dengan rumah penduduk, seolah tak ada celah lagi. Sesekali terdengar obrolan ringan Awan dan Ririn tentang kampung itu. Sepertinya, Awan sedang menceritakan suasana masa kecilnya di kampungnya dan kampung sepupunya itu. Mobil berhenti tepat di sebuah rumah berwarna hijau pupus. Halaman tak terlalu luas itu sudah disesaki dengan beberapa kendaraan. Kini, Awan pun ikut memarkirkan mobilnya di sana. Suara tawa dan musik pelan terdengar dari dalam. Ririn memioin ujung hijabnya. Keringat dingin membasahi telapak tangannya.“Aku yakin harus ikut, Mas?” tanyanya, suaranya hampir bergetar.Awan menoleh, lalu tersenyum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status