MasukTheodore tidak membalas sapaan itu. Pandangan matanya langsung tertuju pada Catleiya yang menundukkan kepalanya dalam-dalam, menolak untuk menatap mata suaminya. Aroma manis stroberi yang biasa tercium dari tubuh Catleiya kini bercampur dengan bau alkohol yang cukup menyengat. Hal itu membuat rahang tegas Theodore mengeras sejenak. "Apa yang terjadi dengan dia?" tanya Theodore dengan suara yang rendah dan sangat dingin. Fanya bergegas memberikan penjelasan dengan wajah panik. "Maaf sekali, Pak Theodore. Ini semua salah kami. Tadi kami menjemput Leiya untuk pergi ke club bersama-sama. Leiya... dia tidak sengaja meminum minuman terlalu banyak sampai mabuk. Dan kami baru tahu kalau ternyata Leiya pergi tanpa meminta izin kepada Bapak terlebih dahulu." "Benar, Pak Theodore. Leiya tadi benar-benar lupa kalau dia sudah menikah karena saking bersemangatnya bertemu kami. Begitu dia sadar, kami langsung membawanya pulang ke sini," tambah Lalita dengan jujur, berharap kejujuran mereka bisa m
"Ayo, Leiya! Minum lagi! Malam ini kita harus bersenang-senang sampai puas!" seru Lalita sambil mengangkat gelasnya. Catleiya tertawa lepas dengan kesadaran yang sudah mulai menurun akibat pengaruh alkohol. "Hahaha! Benar, ayo kita tambah lagi! Aku merasa bebas sekali malam ini!" Fanya yang duduk di sebelah Catleiya memperhatikan sahabatnya yang sudah mulai meracau. "Leiya, kamu sepertinya udah terlalu banyak minum, deh. Nanti kalau suami kamu marah bagaimana?" Mendengar kata 'suami', gerakan Catleiya yang hendak mengangkat gelas mendadak berhenti. Ia mengerjapkan matanya yang sayu, mencoba mencerna kata-kata Fanya di dalam kepalanya yang terasa berputar. "Suami? Suami siapa?" tanya Catleiya dengan suara khas orang mabuk, wajahnya tampak kebingungan. "Ya suami kamulah, Theodore! Memangnya suami siapa lagi?" sahut Nadine yang duduk di depan mereka. Catleiya terdiam selama beberapa detik. Pandangannya kosong menatap meja di depannya. Tiba-tiba, matanya yang sayu melebar sempurna
Sreeet! Semburan air dingin itu langsung mengenai tubuh Theodore, membasahi kaos hitam dan wajahnya dalam sekejap. Theodore yang sama sekali tidak siap langsung tersentak kaget. Ia refleks meletakkan gelas kopinya di meja agar tidak tumpah, lalu berdiri dari kursinya. "Catleiya! Apa yang kamu lakukan?" seru Theodore dengan suara yang sedikit meninggi karena terkejut, meskipun wajahnya tidak tampak marah melainkan lebih kepada tidak percaya dengan kejahilan istrinya. Catleiya justru tertawa renyah melihat wajah kaget suaminya. "Hahaha! Biar Mas Theo tidak terlalu serius terus! Ayo, rasain air segar ini!" seru Catleiya riang sambil terus menggerakkan selang ke arah Theodore. Theodore tidak tinggal diam melihat dirinya dijadikan sasaran. Dengan gerakan cepat, ia melangkah maju mendekati Catleiya, mengabaikan semburan air yang terus membasahi tubuhnya. Kaos hitam yang ia kenakan kini sudah basah kuyup dan menempel ketat di tubuh atletisnya. Sebelum Catleiya sempat kabur, Theodore sud
Mendengar ucapan itu, mata Catleiya langsung berbinar senang. "Beneran, Mas Theo? Mas tidak akan protes lagi?" "Hanya untuk sudut yang satu itu," jawab Theodore. Ia mencoba menyembunyikan rasa gengsinya, meskipun dalam hati ia senang bisa membuat istrinya tersenyum. "Sekarang, berdiri yang benar. Saya harus bersihkan pecahan ini sebelum kaki kamu terluka." Catleiya tersenyum lebar, lalu mundur satu langkah dengan patuh. Kehadiran Catleiya yang ceria ternyata perlahan mulai mengubah perasaan Theodore, membuat hari liburnya yang biasa sepi kini terasa jauh lebih menyenangkan. Ia memperhatikan Catleiya dengan pandangan hangat sebelum mulai memunguti pecahan vas di lantai. _________ Setelah kejadian vas yang pecah, Theodore dan Catleiya kembali melanjutkan kegiatan menata ruang santai mereka. Theodore dengan sabar membantu mengangkat barang-barang yang berat, sementara Catleiya mengatur letak pajangan agar ruangan terlihat lebih cantik. Tanpa terasa, tumpukan kardus yang tadinya bera
Sinar matahari pagi masuk melalui jendela besar, menerangi ruang santai rumah baru mereka yang masih terasa agak kosong. Hari ini adalah hari libur, waktu yang jarang ada bagi Theodore yang biasanya selalu sibuk bekerja di kantor. Bukannya memakai setelan jas kerja, pria itu kini tampil santai hanya dengan kaos polos berwarna hitam dan celana pendek rumahan. Ia berdiri di tengah ruangan sambil melihat tumpukan kardus belanjaan dari mall kemarin. "Mas Theo! Ayo bantu aku buka kardus yang ini!" seru Catleiya riang, membuat suasana rumah menjadi ramai. Theodore mengembuskan napas pendek, lalu melangkah mendekat. "Kita bisa panggil orang untuk merapikan semua ini, Catleiya. Biar tidak membuang waktu libur." "Nggak mau, Mas Theo. Menata rumah sendiri itu jauh lebih seru," bantah Catleiya cepat sambil menyerahkan sebuah gunting kecil ke tangan suaminya. "Lagipula, ini kan rumah kita. Memangnya Mas tidak mau kita merapikannya bersama?" Theodore tidak menjawab. Kalimat terakhir Catleiya d
"Pelan-pelan, Catleiya. Jalanmu terlalu cepat untuk orang yang sedang membawa banyak barang," tegur Theodore dengan suara datar. Ia menyamai langkah istrinya sambil memasang wajah kaku seperti biasa. Langkah kakinya yang panjang dan tegap membuat beberapa orang di sekitar koridor mall melirik ke arah mereka. Catleiya langsung berhenti tepat di depan sebuah toko pajangan rumah yang dipenuhi barang-barang estetik. Ia berbalik badan, lalu menaruh satu tangannya di dagu sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jahil ke arah suaminya. "Lho, bukannya Mas Theo sendiri yang bilang cuma punya waktu tiga puluh menit? Makanya aku jalan buru-buru, biar Pak Bos yang sangat sibuk ini tidak telat balik ke kantor." Theodore hanya mendengus kesal mendengar jawaban itu. Jari telunjuknya mulai mengetuk-ngetuk paper bag belanjaan yang ia pegang dengan ritme yang teratur. Itu adalah kebiasaannya uniknya setiap kali merasa jengkel atau tidak sabar menghadapi sesuatu. Ditambah lagi, wangi manis stroberi







