เข้าสู่ระบบDi usianya yang menginjak 30 tahun, Theodore Kailash Wilson dipaksa menikahi Catleiya Izora Adhitama (25 tahun) demi menuruti keinginan sang mama yang mendambakan cucu. Theodore yang masih menutup hati sejak patah hati berapa tahun lalu terpaksa setuju, sementara Catleiya terpaksa menerima karena utang budi besar keluarganya pada keluarga Wilson. Theodore mengira pernikahan ini akan berjalan kaku dan dingin. Namun, ia tidak menyangka bahwa istri barunya adalah gadis centil yang hobi memancing emosinya. Mampukah pesona ceria Catleiya mencairkan dinding es di hati Theodore, ataukah pernikahan paksa ini berujung pada luka baru?
ดูเพิ่มเติมCatleiya menatap pantulan dirinya di jendela mobil sedan mewah yang membawanya membelah jalanan Jakarta. Wajah cantiknya dipoles riasan natural, kontras dengan gaun berpotongan elegan yang sengaja ia pilih untuk memberikan kesan wanita penurut. Padahal, di dalam dadanya, badai penolakan sedang berkecamuk.
"Leiya, Papa mohon kali ini saja. Perusahaan Adhitama Group benar-benar berada di ambang kebangkrutan dua bulan lalu. Jika keluarga Wilson tidak menyuntikkan dana segar dan membeli sebagian saham kita, hari ini kita tidak akan punya apa-apa lagi," suara William Adhitama terdengar bergetar dari kursi depan, menyiratkan beban berat seorang kepala keluarga. Sara Adhitama, sang mama, menggenggam tangan Catleiya dari samping. "Mama tahu ini tidak adil untuk kamu, Sayang. Menikah di usia dua puluh lima dengan pria yang belum pernah kamu temui.... tapi Dayana adalah sahabat baik Mama. Dia menjamin putranya adalah pria yang bertanggung jawab." Catleiya menghela napas panjang. Jiwa cerianya mendadak meredup. "Leiya paham, Pa, Ma. Leiya tidak akan mempermalukan kalian malam ini," ucapnya lirih. Di dalam hatinya, Catleiya berkomitmen menerima ini bukan karena dia pasrah, melainkan sebagai bentuk balas budi terakhirnya pada orang tua yang teramat dia sayangi. Kalau memang harus menikah, setidaknya aku harus bersenang-senang dengan kehidupan baru ini, pikir nakalnya mulai berputar. Sementara itu, di sisi lain kota, sebuah mobil sedan mewah hitam melaju membelah jalanan. Di balik kemudi, Theodore mencengkram setir dengan wajah sedingin es. Setelah jas formal desainer ternama yang melekat di tubuh tegapnya semakin mempertegas posisinya sebagai penerus tunggal Wilson Group. Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, dia sudah muak dengan satu kata, pernikahan. Dua tahun lalu, hubungan percintaannya kandas—ditinggal menikah oleh wanita yang ia cintai. Sejak saat itu, hati Theodore mati rasa. Pekerjaan adalah dunianya. Namun, kedamaian kerjanya terusik ketika sang mama mulai menuntut seorang cucu. "Aku tidak butuh istri, Ma," ucap Theodore datar tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. Di kursi penumpang, Dayana Wilson mengibaskan tangannya dengan anggun. "Kamu sudah tiga puluh tahun, Theodore! Mau sampai kapan kamu mengunci diri di kantor? Mama ingin mengendong cucu sebelum Mama terlalu tua untuk bermain dengan mereka. Lagipula, Papa kamu juga sudah setuju." Dari kursi belakang, Abraham Wilson sang papa yang biasanya tegas dalam urusan bisnis hanya berdehem kecil. "Gadis yang dipilih Mamamu adalah anak dari William Adhitama. Keluarganya beradab, dan gadis itu berpendidikan baik. Anggap saja ini langkah terbaik untuk menstabilkan posisimu di mata para pemegang saham, Theo." Theodore hanya mengetatkan rahangnya. Ia menyetujui pertemuan malam ini murni karena rasa sayang dan hormatnya yang mendalam pada sang mama, bukandia menginginkan pernikahan ini. _______ Pertemuan itu terjadi di ruang VVIP sebuah restoran mewah yang menampilkan pemandangan lampu-lampu gedung tinggi di baliknya. Ketika keluarga Wilson melangkah masuk, keluarga Adhitama sudah berdiri menyambut mereka dengan ramah. "Dayana! Ya ampun, sudah lama sekali!" Sara langsung memeluk sahabat lamanya itu dengan hangat. William dan Abraham saling berjabat tangan erat, mencerminkan hubungan bisnis dan persahabatan dia pria paruh baya yang saling menghormati. Namun, perhatian semua orang di ruangan itu langsung tersedot pada dua anak manusia yang berdiri di belakang orang tua mereka. Theodore menatap lurus dengan pandangan cuek dan menyelidik. Sementara Catleiya, yang awalnya mengira akan dijodohkan dengan pria tua buncit, sedikit terkesiap di tempatnya. Wow, Tuan Muda Wilson ini ternyata tampan sekali, batin Catleiya. Seketika, sifat centilnya mulai meronta untuk keluar. Mereka duduk berhadap-hadapan di meja makan panjang. Hidangan pembuka mulai disajikan, namun atmosfer di antara Theodore dan Catleiya terasa seperti medan perang yang membeku. "Theo," Abraham membuka suara setelah meneguk air putihnya. "Ini Catleiya. Dia baru saja menyelesaikan pendidikan masternya di bidang manajemen seni. Dan William, ini putraku, Theodore." Theodore hanya menganggukkan kepalanya sedikit. Sikapnya sangat formal, kaku, dan tanpa senyuman. "Selamat malam, Om, Tante. Malam, Catleiya," ucapnya pendek dengan suara bariton yang berat. Nada suaranya terdengar datar dan berjarak, seolah dia sedang menyapa rekan bisnisnya seperti biasa. Melihat respons super kaku dari calon suaminya, Catleiya justru sengaja menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja. Ia menatap Theodore dengan pandangan menggoda, mengedipkan matanya perlahan seolah sedang mengagumi sebuah pajangan seni yang mahal. Catleiya tersenyum manis, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai sambil menatap Theodore lekat-lekat. "Malam, Mas Theo," sapa Catleiya dengan nada suara yang lembut namun terdengar sangat santai. "Wah, salam kenalnya formal sekali ya, mirip seperti mau wawancara kerja. Tapi tidak apa-apa, kok. Aku jadi tidak perlu merasa bersalah karena malam ini sudah terlanjur pasrah menduga akan dijodohkan dengan pria tua galak." "Perkataan jujur yang dibungkus dengan nada polos itu sukses membuat William dan Sara menahan napas, khawatir putri mereka dianggap tidak sopan. Namun, Dayana justru tergelak heboh mendengarnya. "Ya ampun, Leiya! Kamu jujur sekali. Theo ini memang kalau di depan orang baru kaku sekali seperti patung, padahal aslinya tidak semenakutkan itu kok." Theo tidak membalas ucapan itu. Ia hanya mengalihkan mata abu-abunya, menatap tajam langsung ke bola mata Catleiya. Sinar matanya sangat dingin, memancarkan peringatan keras agar gadis itu menjaga bicaranya. Namun, melihat tatapan mengintimidasi itu, Catleiya justru membalasnya dengan senyuman kecil yang terkesan menantang. Di tengah obrolan hangat para orang tua mengenai tanggal pernikahan yang ingin dilangsungkan secepatnya, Catleiya tiba-tiba ikut menegakkan tubuhnya. Ia memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja, menatap Theodore dengan binar mata nakal yang penuh tantangan, namun suaranya terdengar begitu lembut dan sopan di telinga para orang tua. "Tante Dayana, Om Abraham, " celetuk santai dengan senyuman manis yang menggemaskan. "Melihat Mas Theo yang berwibawa dan pendiam begini, sepertinya Mas Theo tipe orang yang sangat fokus pada pekerjaannya, ya? Tapi Leiya sama sekali tidak keberatan, kok. Justru Leiya senang karena artinya Mas Theo adalah pria yang bertanggung jawab. Lagipula, tantangan tersendiri buat Leiya untuk belajar memahami sifat Mas Theo yang... sedikit misterius dan dingin begini." Catleiya sengaja menjeda kalimatnya, lalu melemparkan kerlingan mata centilnya khusus ke arah Theodore yang duduk di hadapannya. "Siapa tahu, setelah menikah nanti, Leiya bisa jadi alasan Mas Theo untuk lebih banyak tersenyum di rumah. jadi, Mas, Theo tidak perlu khawatir kesepian lagi," tambah Catleiya dengan nada manja yang halus, sukses membuat suasana di meja makan terasa lebih mencair. Dayana yang mendengar penuturan itu langsung menyatukan kedua tangannya di depan dada, merasa sangat tersentuh. " Aduh Theo, dengar itu! Leiya pengertian sekali. Mama sudah tidak salah pilih. Abraham, kita harus kunci tanggal pernikahannya bulan depan!" Theodore mengetatkan rahangnya. Sifat cuek dan kesabarannya benar-benar diuji oleh keberanian dan kelicikan gadis berusia dua puluh lima tahun di depannya ini. Di depan orang tuanya, gadis itu berbicara seolah-olah dia adalah calon istri yang penuh perhatian, padahal tatapan matanya barusan jelas-jelas mengibar-ngibarkan bendera perang untuk menggoda ketenangannya. Theodore menyadari satu hal, Catleiya adalah gangguan paling berisik yang siap mengacaukan hidup tenangnya. Di bawah lampu restoran yang temaram, pernikahan paksa ini resmi disetujui, menyulut api permainan baru di antara sang tuan muda dingin dan si nona centil.Keesokan paginya, matahari Bali bersinar cerah, memantulkan cahaya berkilauan di atas permukaan air kolam renang pribadi resor mereka. Angin laut yang hangat berhembus lembut, menggoyahkan daun-daun pohon palem di sekitar teras. Namun, keindahan pemandangan tropis itu sama sekali tidak dialihkan oleh Theodore. pria itu sudah duduk tegak di salah satu kursi malas teras sejak pukul tujuh pagi. Kemeja linen putih nya sengaja tidak dikancingkan sepenuhnya, menampilkan kesan santai namun tatapan mata abu-abunya tetap fokus serius pada layar laptop. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik, meninjau laporan keuangan perusahaannya yang sempat tertunda karena acara pernikahan. Baginya liburan lima hari ini hanyalah perpindahan ruang kerja dari Jakarta ke Bali. ketenangan kerja Theodore mendadak terganggu ketika suara langkah kaki ringan terdengar mendekat dari arah dalam resor. Ia menoleh sekilas, berniat menyuruh Catleiya untuk segera sarapan. Namun, begitu matanya menangkap sosok sa
Deru suara ombak malam di pantai Bali terdengar samar-samar dari balik dinding kaca besar resor privat yang mereka tempati. Setelah menempuh penerbangan menjelang malam yang cukup melelahkan dari Jakarta, Catleiya akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar utama resor mewah tersebut. Koper-koper mereka sudah tertata rapi di dekat lemari pakaian oleh pelayan resor. Namun, begitu Catleiya menyalakan lampu kamar, langkah kakinya langsung terhenti. Mata bulatnya menatap luru ke tengah ruangan. Di sana, sebuah ranjang berukuran king size berdiri dengan megah, lengkap dengan taburan kelopak bunga mawar merah membentuk hati di atas sprei putih bersih. Aroma harum, perpaduan wangi esensial melati dan mawar yang sangat khas untuk pasangan pengantin baru. Hanya ada satu ranjang besar. Tidak ada sofa panjang yang cukup luas untuk ditiduri, dan tidak ada kamar tidur tambahan di dalam resor privat ini. Catleiya menghela napas pendek, merasa situasi ini mendadak menjadi sangat canggung. Ingatan ten
Suasana di meja makan mendadak hening. Catleiya langsung merasa tenggorokannya mendadak kering. Nyali centilnya yang tadi sempat bangkit seketika menciut mengingat ancaman intens Theodore semalam yang tidak main-main. "Ah, s-soal itu..." Catleiya langsung kehilangan kata-kata. Wajahnya memerah padam. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya dengan gugup di bawah meja, benar-benar bingung harus menjawab apa hingga mencubit paha Theodore demi meminta bantuan. "Aunty Leiya mukanya merah banget, kayak tomat!" celetuk Galilo tiba-tiba dengan nada polosnya yang khas, menunjuk ke arah wajah Catleiya. Bocah berusia tujuh tahun itu langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya. Tawa renyah langsung pecah dari mereka yang ada di sana mendengar celetukan spontan dari Galilo. Catleiya hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan malu, sementara tangan di bawah meja semakin erat mencubit paha Theodore karena kesal. Theodore melirik sekilas ke arah istrinya yang kini sedang mati kutu. S
Theodore sudah runtuh. Pria kaku itu tidak lagi menahan diri. Ia langsung menunduk dan mengunci bibir Catleiya dalam sebuah ciuman yang tegas, dalam, dan menuntut. Catleiya terbelalak, tubuhnya gemetar karena terkejut sekaligus takut menghadapi dominasi Theodore yang begitu nyata. Kedua tangannya yang semula berniat menggoda kini mencengkram erat kemeja hitam Theodore karena lemas. Selama beberapa saat, keheningan kamar hotel mewah itu hanya dipenuhi oleh deru napas mereka yang saling memburu, sebelum akhirnya Theodore menjauhkan wajahnya perlahan. Catleiya menghirup oksigen banyak-banyak, wajahnya memerah alami dan napasnya tersengal-sengal karena syok yang teramat sangat. Ia langsung menundukkan kepala, tidak berani lagi menatap mata suaminya. Menatap lekat-lekat bibir ranum istrinya yang kini tampak merona. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis, merasa puas akhirnya berhasil menjinakkan gadis berisik ini hingga gemetar ketakutan di dalam dekapannya. "Sekarang masuk k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.