INICIAR SESIÓNLaks segera mendorong troli masuk dan mulai menata hidangan di atas meja.
Sementara itu, Haira berdiri tak jauh darinya, memperhatikan setiap gerakan pria tersebut. Jadi, dia bekerja di hotel milik Madhava? Tatapannya turun ketika menyadari Laks berjalan sedikit pincang. Haira langsung teringat kejadian tadi sore. Pria itu sempat terjatuh ke aspal saat menyelamatkan anak kecil. Apa kakinya terluka karena kejadian tadi? Tanpa sadar, Haira berjalan mendekat. "Bagaimana kakimu?" Gerakan tangan Laks terhenti. "Maaf, Nona?" "Kakimu. Kau terlihat kesulitan berjalan." Laks melirik kakinya sendiri, lalu tersenyum kecil. "Oh, hanya sedikit terkilir. Tidak apa-apa." "Kau tetap bekerja dalam keadaan seperti itu?" "Masih bisa berjalan, kok, Nona." Haira mengamatinya beberapa saat. "Sepertinya kau sangat membutuhkan uang." Laks sedikit mengernyit mendengar ucapan tersebut. "Semua orang bekerja untuk mendapatkan uang, bukan?" Haira tersenyum tipis. "Benar juga." Laks kembali merapikan hidangan di meja. Setelah memastikan semuanya selesai, ia berbalik. Namun, langkahnya seketika terhenti ketika mendapati Haira sudah berdiri tepat di belakangnya. "Astaga!" Ia refleks mundur setengah langkah. "Maaf, Nona. Saya tidak tahu Anda berdiri di situ." Haira hanya menatapnya dengan wajah tenang. "Sudah selesai?" "Sudah. Semua pesanan Anda sudah saya siapkan." "Bagus." "Kalau begitu, silakan menikmati hidangannya. Saya permisi." Laks membungkukkan badan sedikit, lalu berjalan menuju pintu. Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pintu, suara Haira kembali terdengar. "Sampai jumpa lagi." Laks menghentikan langkahnya. Ia menoleh dengan sedikit bingung. "Maaf?" Haira mengambil kembali gelas wine-nya. "Tidak ada. Kau boleh pergi." "Baik, Nona." Laks akhirnya keluar dan menutup pintu. Di sepanjang lorong hotel, pria itu masih memikirkan ucapan tamunya barusan. Sampai jumpa lagi? Ia mengernyit. Wanita aneh. Memangnya kami sudah pernah bertemu? Laks menggeleng pelan, lalu melanjutkan langkahnya menuju lift. “Sudahlah.” ꧁༺───────༻꧂ "Laksmana." Pria yang baru saja hendak meninggalkan area staf langsung menoleh. Atasannya berdiri tak jauh darinya dengan wajah serius. "Ada apa pak david?" "kamu jangan pulang dulu. Kamu di minta naik ke Maison Grey!" "Maison Grey, Pak? Ada perlu apa?" "Sudah, naik saja dulu. Ada orang yang mau ketemu kamu." "Siapa, Pak?" "Kalau saya tahu semuanya, saya juga nggak bakal nyuruh kamu naik tanpa penjelasan. Cepat, jangan bikin orang menunggu!" Dia juga tidak tahu kenapa laksmana di minta ke sana. "Baik pak." Tidak banyak bertanya Laks pun berjalan memasuki lift menuju lantai Maison Grey. Maison Grey bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang. Restoran sekaligus VVIP Business Lounge itu berada di lantai teratas hotel, khusus melayani tamu-tamu penting, mulai dari konglomerat hingga pejabat tinggi dan keluarga kerajaan. Bahkan, tidak semua staf hotel diizinkan bekerja di sana. Lalu, untuk apa dirinya dipanggil? Saat tiba di lantai Maison Grey, seorang wanita berpakaian rapi menghampirinya. "Laksmana?" "Betul." "Mari ikut saya." Laksmana mengekor wanita yang memperkenalkan diri sebagai Aina. Wajahnya tidak asing. Jika tidak salah, wanita itu berasal dari tim pusat yang sesekali datang untuk melakukan pemeriksaan kinerja hotel. Namun, mengapa seseorang dari tim pusat sampai harus menjemputnya sendiri? Siapa sebenarnya orang yang ingin menemuiku? Kenapa orang penting seperti itu tiba-tiba ingin bertemu dengannya? Saat memasukin Maison Grey sangat terasa aura kelas yang berbeda. Tempat ini bukan sekadar ruangan mewah biasa, melainkan sebuah VVIP Business Lounge super eksklusif yang terletak di lantai teratas hotel. Tempat ini didirikan khusus untuk melayani 0,001% orang terkaya dan paling berpengaruh, seperti konglomerat , pejabat tinggi negara, kepala VIP internasional, hingga keluarga kerajaan. Berbeda dengan lobi atau lounge biasa, staf di sini dituntut memberikan pelayanan yang sangat personal. Mereka harus menghafal preferensi spesifik setiap tamu, menjaga privasi tingkat tinggi, dan tidak boleh membuat kesalahan sekecil apa pun. Hotel tempat berkerja memang Hotel besar dan ternama, sungguh tidak menyangka ada seseorang yang mengundangnya untuk datang ke Maison Grey. Dan yang paling membuat penasaran, untuk apa dia di undang kemari? Kenapa diam? Masuklah!" Aina menoleh ketika menyadari Laksmana berhenti beberapa langkah di belakangnya. Laksmana segera kembali menyusul. "Maaf, Bu Aina. Sebenarnya siapa yang ingin menemui saya?" "Nanti Anda juga akan tahu." "Apakah ada masalah dengan pekerjaan saya?" Aina menoleh sekilas. "Tidak ada. Setahu saya, kinerja Anda justru cukup baik." "Kalau begitu, kenapa saya dipanggil?" Aina tersenyum tipis. "Saya hanya diminta mengantar Anda. Untuk urusan lainnya, silakan tanyakan langsung kepada beliau." Laks menghela napas pelan. Jawaban yang sama sekali tidak membantu. Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah ruangan privat. Aina mengetuk pintu dua kali. "Masuklah.""Laks!" Dimas langsung menghampiri begitu melihat sahabatnya datang tergesa-gesa ke ruang tunggu IGD. "Laila bagaimana?" "Masih diperiksa dokter. Duduk dulu." "Kenapa dia bisa masuk rumah sakit lagi?" Dimas menarik napas panjang. Wajahnya tampak serius. "Tadi rumahmu didatangi polisi. Ibumu dibawa karena terlibat kasus penipuan investasi." Laks membeku. "Apa?" Dia menatap Dimas tidak percaya. "Dim, jangan bercanda!" "Aku serius. Katanya ada beberapa korban yang melapor. Total kerugiannya sampai dua ratus juta." "Dua ratus juta?!" "Bagaimana mungkin Ibu terlibat penipuan?" "Aku belum tahu jelas. Waktu sampai di rumahmu, ibumu sudah dibawa polisi." Dimas juga tidak tahu pasti karena tidak saat kejadian. “Tapi katakanya ibumu juga berteriak kalo dia juga di tipu.” Laks mengusap wajahnya kasar. "Lalu Laila?" "Dia melihat semuanya. Waktu polisi membawa ibumu, Laila panik sampai sesak dan akhirnya pingsan. Tetanggamu langsung menghubungiku, jadi aku membaw
"Maaf, saya tidak tertarik."Laks menutup map hitam di hadapannya, lalu menggesernya kembali ke arah Haira."Jangan terburu-buru menolak. Dengarkan dulu tawaranku.""Saya sudah membacanya." Laks tidak mau mendengarkan apapun. Pernikahan kontrak? Sungguh tidak masuk akal."Tapi kau belum mendengar semuanya."Haira meletakkan gelasnya di atas meja. Tatapannya masih tertuju pada Laks, seolah penolakan barusan sama sekali tidak membuatnya gentar."Aku tahu kau memiliki banyak utang. Dengan penghasilanmu sekarang, entah berapa tahun lagi kau bisa melunasinya. Belum lagi biaya pengobatan adikmu."Wajah Laks seketika mengeras, bagaimana bisa wanita itu tahu."Anda menyelidiki kehidupan pribadi saya?""Tentu saja. Aku perlu mengetahui latar belakang pria yang akan menjadi suamiku.""Saya belum menyetujui apa pun.""Karena itu aku sedang berusaha meyakinkanmu."Haira sedikit mencondongkan tubuhnya. Senyum percaya diri masih menghiasi wajah cantiknya."Menikahlah denganku. Seluruh utangmu akan
Setelah Laksmana masuk, pintu kembali tertutup.Di dalam ruangan, seorang wanita telah duduk menunggunya.Wanita itu terlihat begitu tenang dan berkelas. Pakaiannya sederhana, tetapi dari potongan dan kualitas bahannya, Laks bisa menebak harganya tidak murah. Rambut hitamnya tergerai rapi, sementara jemarinya memainkan gelas berisi air mineral di atas meja.Ketika wanita itu mengangkat wajah, langkah Laks seketika terhenti.Dia?Bukankah ini wanita yang pernah ditemuinya saat mengantarkan pesanan makanan ke kamar hotel?Laks tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi, terlebih di ruangan privat Maison Grey.Sementara itu, Haira mengamati pria yang berdiri di ambang pintu.Penampilannya biasa saja. Kaos putih, celana hitam, serta wajah tampan yang terdapat sedikit bekas luka goresan di pipi.Tidak ada sesuatu yang istimewa dari penampilannya. Namun sudah Naluri jika ia menemuka permata mentah untuk memolesnya."Duduklah. Apa kau akan terus berdiri seperti patung?"Suara Haira membuyar
Laks segera mendorong troli masuk dan mulai menata hidangan di atas meja.Sementara itu, Haira berdiri tak jauh darinya, memperhatikan setiap gerakan pria tersebut.Jadi, dia bekerja di hotel milik Madhava?Tatapannya turun ketika menyadari Laks berjalan sedikit pincang.Haira langsung teringat kejadian tadi sore. Pria itu sempat terjatuh ke aspal saat menyelamatkan anak kecil.Apa kakinya terluka karena kejadian tadi?Tanpa sadar, Haira berjalan mendekat."Bagaimana kakimu?"Gerakan tangan Laks terhenti."Maaf, Nona?""Kakimu. Kau terlihat kesulitan berjalan."Laks melirik kakinya sendiri, lalu tersenyum kecil."Oh, hanya sedikit terkilir. Tidak apa-apa.""Kau tetap bekerja dalam keadaan seperti itu?""Masih bisa berjalan, kok, Nona."Haira mengamatinya beberapa saat."Sepertinya kau sangat membutuhkan uang."Laks sedikit mengernyit mendengar ucapan tersebut."Semua orang bekerja untuk mendapatkan uang, bukan?"Haira tersenyum tipis."Benar juga."Laks kembali merapikan hidangan di m
Haira Madhava termenung di dalam Lamborghini sport milikknya, ia melaju dengan kecepatan cukup tinggi membelah jalan. Tatapan matanya terlihat datar dan dingin, meskipun pikirannya sedang kacau.Bagaimana tidak? Sang ayah baru saja memberinya ultimatum untuk menikah dalam waktu enam bulan. Jika gagal, ia harus melepaskan jabatan CEO sekaligus seluruh haknya sebagai pewaris keluarga Madhava.Yang menjadi keresahan Haira saat ini adalah, siapa pria yang pantas menjadi suaminya?Bukannya Haira kesulitan mendapatkan pria. Dengan kekayaan dan kedudukannya, bahkan dalam sekali jentikan jari saja ia bisa mendapatkan pria paling tampan dan berpengaruh.Hanya saja, Haira tidak menginginkan suami yang haus kekuasaan, apalagi pria yang akan memanfaatkan pernikahan untuk menguasai perusahaan miliknya."Hah..." Haira menghela napas berat.Ia membutuhkan pria yang tidak memiliki ambisi terhadap kekayaannya. Seseorang yang bisa diajak bekerja sama tanpa menuntut cinta ataupun ikut campur dalam kehi
Bunyi heels menggema membuat pelayan yang berpapasan segera menundukkan kepalanya, ia adalah Putri sulung keluarga itu—Haira Madhava.Wanita selalu mencolok dengan aura dominan yang menguat. Langkah berhenti di depan sebuah ruang.Tok. Tok."Masuk."Wanita itu membuka pintu dan melangkah ke dalam. Bisa dia lihat pria paru baya—Dirga Madhava yang merupakan ayahnya duduk di balik meja kerjanya segera mengangkat kepala saat ia masuk ruangan tersebut."Kau sudah datang."Haira berdiri beberapa meter darinya, "Kalau Ayah ingin membicarakan sesuatu, langsung saja. Aku masih punya pekerjaan."Sang ayah berkerut mendengar ucapan putrinya, mulut Haira masih setajam biasanya. "Bahkan untuk berbicara dengan ayahmu sendiri, kau tidak bisa bersikap lebih sopan?"Haira mengangkat sebelah alis. "Kalimat itu terdengar familiar.""Sudahlah!" Dirga mengembuskan napas kasar. "Ayah dengar kau menampar putra keluarga Rajendra kemarin. Apa sebenarnya yang kau lakukan? dimana etikamu sebagai wanita?" "Ah,







