Share

Bab 5. Jawaban

Author: Mommynatta
last update publish date: 2026-10-18 20:08:02

"Maaf, saya tidak tertarik."

Laks menutup map hitam di hadapannya, lalu menggesernya kembali ke arah Haira.

"Jangan terburu-buru menolak. Dengarkan dulu tawaranku."

"Saya sudah membacanya." Laks tidak mau mendengarkan apapun.

Pernikahan kontrak? Sungguh tidak masuk akal.

"Tapi kau belum mendengar semuanya."

Haira meletakkan gelasnya di atas meja. Tatapannya masih tertuju pada Laks, seolah penolakan barusan sama sekali tidak membuatnya gentar.

"Aku tahu kau memiliki banyak utang. Dengan penghasilanmu sekarang, entah berapa tahun lagi kau bisa melunasinya. Belum lagi biaya pengobatan adikmu."

Wajah Laks seketika mengeras, bagaimana bisa wanita itu tahu.

"Anda menyelidiki kehidupan pribadi saya?"

"Tentu saja. Aku perlu mengetahui latar belakang pria yang akan menjadi suamiku."

"Saya belum menyetujui apa pun."

"Karena itu aku sedang berusaha meyakinkanmu."

Haira sedikit mencondongkan tubuhnya. Senyum percaya diri masih menghiasi wajah cantiknya.

"Menikahlah denganku. Seluruh utangmu akan kulunasi. Biaya pengobatan adikmu juga akan kutanggung sampai sembuh. Kau tidak perlu lagi bekerja siang malam hanya untuk membayar tagihan."

Laks terdiam.

Matanya sempat bergerak ke arah map hitam tersebut.

Tawaran itu terlalu besar untuk diabaikan. Dengan uang sebanyak itu, ia bisa melunasi utang sekaligus memastikan Laila mendapatkan pengobatan terbaik.

Namun, apakah semudah itu menyerahkan masa depannya kepada wanita yang bahkan belum dikenalnya?

Pernikahan adalah suatu yang sakral dan ia ingin pernikahan hanya akan terjadi satu kali seumur hidupnya sampai menua.

Melihat keraguan di wajah Laks, Haira semakin yakin bahwa tawarannya mulai berhasil.

"Bagaimana? Menguntungkan, bukan?"

"Kenapa Anda melakukan semua ini?"

"Karena aku membutuhkan suami, sementara kau membutuhkan uang. Kita sama-sama mendapatkan apa yang kita inginkan."

Laks mengembuskan napas perlahan.

"Jadi, menurut Anda hidup saya begitu menyedihkan sampai harus diselamatkan dengan uang?"

Senyum Haira sedikit memudar.

"Aku tidak mengatakan begitu. Aku hanya menawarkan jalan keluar."

"Jalan keluar dengan menjual diri saya kepada Anda?"

"Jangan berlebihan." Haira terkekeh kecil. "Anggap saja aku adalah dewi keberuntunganmu."

Laks menatapnya tidak percaya.

Wanita ini benar-benar berbicara seolah semua masalah bisa diselesaikan hanya dengan mengeluarkan uang.

"Anda menganggap semuanya bisa dibeli dengan uang?"

"Uang memang tidak bisa membeli segalanya. Tapi bukankah uang yang paling kau butuhkan sekarang?"

Laks terdiam. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak bisa membantah kenyataan tersebut.

Haira mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Laks yang terletak di atas meja.

"Kau terlalu mempersulit sesuatu yang sebenarnya sederhana. Kita sama-sama mendapatkan keuntungan. Tidak ada yang dirugikan."

"Jangan sembarangan menyentuh saya."

Laks langsung menarik tangannya.

Ia mendorong kursinya ke belakang hingga menimbulkan suara gesekan cukup keras di lantai.

Haira sedikit terkejut melihatnya tiba-tiba berdiri.

"Saya tidak akan menjual tubuh saya hanya demi uang."

Nada suara Laks terdengar dingin. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.

Hidupnya memang sulit, tetapi ia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan uang dengan cara seperti ini.

Haira mengerjap beberapa kali.

"Tunggu, siapa yang menyuruhmu menjual tubuh?"

"Anda sendiri yang menawarkan uang agar saya bersedia menjadi suami Anda."

"Tidak, tidak. Kau salah paham!"

Haira segera menggeleng, lalu ikut berdiri.

"Kita menikah secara sah. Sah di mata negara dan hukum. Kau menjadi suamiku, aku menjadi istrimu. Aku akan menanggung biaya pengobatan adikmu dan melunasi semua utangmu kepada rentenir itu."

Namun, Laks sudah kehilangan kesabaran.

"Maaf, Cari orang lain saja."

Ia berbalik menuju pintu.

"Laksmana! Tunggu!"

Langkah Laks tidak berhenti.

"Hei! Aku bisa membantumu, loh! Aku ini dewi kekayaanmu!"

Klik!

Pintu tertutup.

Haira terdiam, menatap pintu dengan bibir sedikit terbuka.

Beberapa detik kemudian, ia mendengus kesal.

"Dasar pria keras kepala!"

Tak lama kemudian, Aina masuk ke ruangan.

"Apa kita perlu mengejarnya?"

Haira menggeleng, "tidak perlu." Lalu ia melempar tubuhnya duduk bersandar di kursi. "Sangat aneh jika dia luluh sangat mudah."

Dia sudah memperkirakan bahwa Laks tidak mungkin akan langsung setuju. Pria yang keras kepala namun dia adalah Haira Maduava, uang yang di milikinya dapat membukan 1001 jalan untuknya.

Laks sudah meninggalkan hotel dengan hati yang semraut. Langkahnya cukup cepat menyusuri trotoar, seolah ingin segera menjauh dari tempat itu. Dia memang kesulitan ekonomi tapi tidak terpikir untuk melakukan perkerjaan kotor.

"Gila..."

Laks menghela napas panjang. ia duduk di bangku halte menatap jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan sore.

Sebagai seorang pria tawaran Haira terdengar tidak merugikan dirinya sama sekali, Tapi Laks tidak ingin menjual dirinya hanya karena uang.

"Tidak." Ia menggeleng, "Aku tidak akan menerima tawaran gila itu." Lanjutnya.

Setelah beberapa saat, bus yang ditunggunya datang. Laks pun naik dan memilih duduk di dekat jendela, sedikit melamum memandang gelapnya ibu kota.

Drrt... drrtt!

Suara ponsel dari sakunya membuat ia mengalihkan perhatiannya. Laks melihat layar ponselnya. Ternyata itu panggilan dari nomor tak di kenal.

Takut hal penting Ia mengangkat ponselnya.

—Klik!

"Hal— APA?!"

Raut wajah Laks langsung berubah seketika setelah mendengar kabar dari seberang telepon. Ia yang semula bersandar santai di kursi bus kini duduk tegak, sementara matanya menatap kosong ke arah jendela.

Beberapa penumpang di dekatnya sempat melirik karena suara Laks yang terdengar cukup keras, ia pun mennduk dan mengecilkan suaranya.. Pikirannya sudah dipenuhi kekhawatiran.

Baru saja Dimas mengabari kalau Adiknya—Laila masuk rumah sakit. padahal kondisi sudah membaik dan baru pulang ke rumah seminggu yang lalu.

'Ada apa ini?' Pikirnya.

Kenapa Dimas yang menghubunginya, dimana ibunya?

Laks mencengkeram ponselnya dengan wajah pucat. Tanpa membuang waktu, ia turun di halte terdekat dan mencari kendaraan menuju rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

BERSAMBUNG

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Kontrak Pilihan Sang Pewaris   Bab 6. Kabar buruk

    "Laks!" Dimas langsung menghampiri begitu melihat sahabatnya datang tergesa-gesa ke ruang tunggu IGD. "Laila bagaimana?" "Masih diperiksa dokter. Duduk dulu." "Kenapa dia bisa masuk rumah sakit lagi?" Dimas menarik napas panjang. Wajahnya tampak serius. "Tadi rumahmu didatangi polisi. Ibumu dibawa karena terlibat kasus penipuan investasi." Laks membeku. "Apa?" Dia menatap Dimas tidak percaya. "Dim, jangan bercanda!" "Aku serius. Katanya ada beberapa korban yang melapor. Total kerugiannya sampai dua ratus juta." "Dua ratus juta?!" "Bagaimana mungkin Ibu terlibat penipuan?" "Aku belum tahu jelas. Waktu sampai di rumahmu, ibumu sudah dibawa polisi." Dimas juga tidak tahu pasti karena tidak saat kejadian. “Tapi katakanya ibumu juga berteriak kalo dia juga di tipu.” Laks mengusap wajahnya kasar. "Lalu Laila?" "Dia melihat semuanya. Waktu polisi membawa ibumu, Laila panik sampai sesak dan akhirnya pingsan. Tetanggamu langsung menghubungiku, jadi aku membaw

  • Suami Kontrak Pilihan Sang Pewaris   Bab 5. Jawaban

    "Maaf, saya tidak tertarik."Laks menutup map hitam di hadapannya, lalu menggesernya kembali ke arah Haira."Jangan terburu-buru menolak. Dengarkan dulu tawaranku.""Saya sudah membacanya." Laks tidak mau mendengarkan apapun. Pernikahan kontrak? Sungguh tidak masuk akal."Tapi kau belum mendengar semuanya."Haira meletakkan gelasnya di atas meja. Tatapannya masih tertuju pada Laks, seolah penolakan barusan sama sekali tidak membuatnya gentar."Aku tahu kau memiliki banyak utang. Dengan penghasilanmu sekarang, entah berapa tahun lagi kau bisa melunasinya. Belum lagi biaya pengobatan adikmu."Wajah Laks seketika mengeras, bagaimana bisa wanita itu tahu."Anda menyelidiki kehidupan pribadi saya?""Tentu saja. Aku perlu mengetahui latar belakang pria yang akan menjadi suamiku.""Saya belum menyetujui apa pun.""Karena itu aku sedang berusaha meyakinkanmu."Haira sedikit mencondongkan tubuhnya. Senyum percaya diri masih menghiasi wajah cantiknya."Menikahlah denganku. Seluruh utangmu akan

  • Suami Kontrak Pilihan Sang Pewaris   Bab 4. Tawaran kesepakatan

    Setelah Laksmana masuk, pintu kembali tertutup.Di dalam ruangan, seorang wanita telah duduk menunggunya.Wanita itu terlihat begitu tenang dan berkelas. Pakaiannya sederhana, tetapi dari potongan dan kualitas bahannya, Laks bisa menebak harganya tidak murah. Rambut hitamnya tergerai rapi, sementara jemarinya memainkan gelas berisi air mineral di atas meja.Ketika wanita itu mengangkat wajah, langkah Laks seketika terhenti.Dia?Bukankah ini wanita yang pernah ditemuinya saat mengantarkan pesanan makanan ke kamar hotel?Laks tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi, terlebih di ruangan privat Maison Grey.Sementara itu, Haira mengamati pria yang berdiri di ambang pintu.Penampilannya biasa saja. Kaos putih, celana hitam, serta wajah tampan yang terdapat sedikit bekas luka goresan di pipi.Tidak ada sesuatu yang istimewa dari penampilannya. Namun sudah Naluri jika ia menemuka permata mentah untuk memolesnya."Duduklah. Apa kau akan terus berdiri seperti patung?"Suara Haira membuyar

  • Suami Kontrak Pilihan Sang Pewaris   Bab 3. Panggilan

    Laks segera mendorong troli masuk dan mulai menata hidangan di atas meja.Sementara itu, Haira berdiri tak jauh darinya, memperhatikan setiap gerakan pria tersebut.Jadi, dia bekerja di hotel milik Madhava?Tatapannya turun ketika menyadari Laks berjalan sedikit pincang.Haira langsung teringat kejadian tadi sore. Pria itu sempat terjatuh ke aspal saat menyelamatkan anak kecil.Apa kakinya terluka karena kejadian tadi?Tanpa sadar, Haira berjalan mendekat."Bagaimana kakimu?"Gerakan tangan Laks terhenti."Maaf, Nona?""Kakimu. Kau terlihat kesulitan berjalan."Laks melirik kakinya sendiri, lalu tersenyum kecil."Oh, hanya sedikit terkilir. Tidak apa-apa.""Kau tetap bekerja dalam keadaan seperti itu?""Masih bisa berjalan, kok, Nona."Haira mengamatinya beberapa saat."Sepertinya kau sangat membutuhkan uang."Laks sedikit mengernyit mendengar ucapan tersebut."Semua orang bekerja untuk mendapatkan uang, bukan?"Haira tersenyum tipis."Benar juga."Laks kembali merapikan hidangan di m

  • Suami Kontrak Pilihan Sang Pewaris   Bab 2. Pertemuan tidak sengaja

    Haira Madhava termenung di dalam Lamborghini sport milikknya, ia melaju dengan kecepatan cukup tinggi membelah jalan. Tatapan matanya terlihat datar dan dingin, meskipun pikirannya sedang kacau.Bagaimana tidak? Sang ayah baru saja memberinya ultimatum untuk menikah dalam waktu enam bulan. Jika gagal, ia harus melepaskan jabatan CEO sekaligus seluruh haknya sebagai pewaris keluarga Madhava.Yang menjadi keresahan Haira saat ini adalah, siapa pria yang pantas menjadi suaminya?Bukannya Haira kesulitan mendapatkan pria. Dengan kekayaan dan kedudukannya, bahkan dalam sekali jentikan jari saja ia bisa mendapatkan pria paling tampan dan berpengaruh.Hanya saja, Haira tidak menginginkan suami yang haus kekuasaan, apalagi pria yang akan memanfaatkan pernikahan untuk menguasai perusahaan miliknya."Hah..." Haira menghela napas berat.Ia membutuhkan pria yang tidak memiliki ambisi terhadap kekayaannya. Seseorang yang bisa diajak bekerja sama tanpa menuntut cinta ataupun ikut campur dalam kehi

  • Suami Kontrak Pilihan Sang Pewaris   Bab 1. Tuntutan pernikahan

    Bunyi heels menggema membuat pelayan yang berpapasan segera menundukkan kepalanya, ia adalah Putri sulung keluarga itu—Haira Madhava.Wanita selalu mencolok dengan aura dominan yang menguat. Langkah berhenti di depan sebuah ruang.Tok. Tok."Masuk."Wanita itu membuka pintu dan melangkah ke dalam. Bisa dia lihat pria paru baya—Dirga Madhava yang merupakan ayahnya duduk di balik meja kerjanya segera mengangkat kepala saat ia masuk ruangan tersebut."Kau sudah datang."Haira berdiri beberapa meter darinya, "Kalau Ayah ingin membicarakan sesuatu, langsung saja. Aku masih punya pekerjaan."Sang ayah berkerut mendengar ucapan putrinya, mulut Haira masih setajam biasanya. "Bahkan untuk berbicara dengan ayahmu sendiri, kau tidak bisa bersikap lebih sopan?"Haira mengangkat sebelah alis. "Kalimat itu terdengar familiar.""Sudahlah!" Dirga mengembuskan napas kasar. "Ayah dengar kau menampar putra keluarga Rajendra kemarin. Apa sebenarnya yang kau lakukan? dimana etikamu sebagai wanita?" "Ah,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status