INICIAR SESIÓN"Laks!"
Dimas langsung menghampiri begitu melihat sahabatnya datang tergesa-gesa ke ruang tunggu IGD. "Laila bagaimana?" "Masih diperiksa dokter. Duduk dulu." "Kenapa dia bisa masuk rumah sakit lagi?" Dimas menarik napas panjang. Wajahnya tampak serius. "Tadi rumahmu didatangi polisi. Ibumu dibawa karena terlibat kasus penipuan investasi." Laks membeku. "Apa?" Dia menatap Dimas tidak percaya. "Dim, jangan bercanda!" "Aku serius. Katanya ada beberapa korban yang melapor. Total kerugiannya sampai dua ratus juta." "Dua ratus juta?!" "Bagaimana mungkin Ibu terlibat penipuan?" "Aku belum tahu jelas. Waktu sampai di rumahmu, ibumu sudah dibawa polisi." Dimas juga tidak tahu pasti karena tidak saat kejadian. “Tapi katakanya ibumu juga berteriak kalo dia juga di tipu.” Laks mengusap wajahnya kasar. "Lalu Laila?" "Dia melihat semuanya. Waktu polisi membawa ibumu, Laila panik sampai sesak dan akhirnya pingsan. Tetanggamu langsung menghubungiku, jadi aku membawanya ke sini." Laks terdiam. Ia menjatuhkan diri ke kursi tunggu, kedua tangannya meremas rambut. Dimas duduk di sebelahnya. "Tenang dulu, Laks. Kita tunggu kabar dari dokter. Setelah itu, baru cari tahu soal ibumu." Laks mengangguk lemah, meski dadanya terasa sesak. Ceklek! Pintu IGD terbuka. Seorang dokter keluar sambil membawa berkas pemeriksaan. "Dokter Samuel!" Laks langsung bangkit menghampirinya. "Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" Dokter Samuel menghentikan langkahnya. Ia sudah bertahun-tahun menangani penyakit jantung Laila dan mengenal Laks yang hampir selalu mendampingi adiknya berobat. "Laks, ikut saya ke ruangan dulu. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan." Laks menelan ludah. Ia sempat menoleh kepada Dimas sebelum mengikuti dokter tersebut menyusuri koridor rumah sakit. Lampu-lampu putih menerangi lorong yang mulai sepi. Sesekali seorang perawat melintas sambil mendorong troli obat. Sepanjang perjalanan, Laks terus berdoa dalam hati. Ya Tuhan, jangan sampai terjadi sesuatu pada Laila. Ceklek! Dokter Samuel membuka pintu ruangannya, lalu mempersilakan Laks duduk. "Duduk dulu, Laks." Laks menarik kursi di hadapan meja dokter. Kedua tangannya bertaut erat di atas pangkuan. Dokter Samuel membuka hasil pemeriksaan Laila. Ia mengamatinya beberapa saat sebelum mengangkat wajah. "Laks, kamu masih ingat pembicaraan kita mengenai jadwal operasi Laila?" "Ingat, Dok. Masih beberapa bulan lagi, kan?" Dokter Samuel mengangguk pelan. "Sayangnya, kita tidak bisa menunggu selama itu." Laks langsung menegakkan tubuh. "Maksud Dokter?" "Kondisi jantung Laila memburuk lebih cepat dari perkiraan saya. Berdasarkan hasil pemeriksaan tadi, operasinya harus segera dilakukan." "Secepat apa, Dok?" "Kalau memungkinkan, malam ini juga." "Apa?!" Mata Laks membelalak. "Malam ini, Dok? Tapi minggu lalu Laila baru diperbolehkan pulang! Bukannya kondisinya sudah membaik?" "Saat itu kondisinya memang cukup stabil. Tapi sekarang berbeda." Dokter Samuel meletakkan berkas di atas meja. "Kalau operasi terus ditunda, risikonya semakin besar. Saya khawatir kondisi Laila tidak mampu bertahan sampai jadwal semula." Laks terdiam. Suara pendingin ruangan terdengar samar di tengah keheningan. Tatapannya kosong, sementara jemarinya mulai gemetar. "Dok..." Laks menelan ludah. "Apa benar-benar tidak bisa menunggu beberapa hari lagi?" Dokter Samuel menggeleng. "Terlalu berisiko, Laks. Saya tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi kalau kita terus menundanya." Laks menunduk. Kedua tangannya saling meremas hingga buku-buku jarinya memutih. Baru seminggu lalu Laila tersenyum bahagia karena akhirnya bisa pulang dari rumah sakit. Sekarang, nyawa adiknya justru berada di ujung tanduk. "Dokter tahu keadaan saya, kan?" Laks mengangkat wajahnya. "Uang yang saya kumpulkan belum cukup untuk biaya operasi." "Saya tahu, Laks." Dokter Samuel menatapnya dengan prihatin. "Selama ini saya melihat sendiri bagaimana kamu berusaha untuk Laila. Tapi sekarang keselamatannya harus kita utamakan. Untuk pembiayaan, nanti kita coba bicarakan dengan bagian administrasi." Laks mengusap wajahnya kasar. Utangnya keluarganya belum lunas. Tabungannya masih jauh dari cukup. Belum lagi masalah ibunya yang baru saja dibawa polisi. Semuanya datang bersamaan, seolah tidak memberinya kesempatan untuk bernapas. "Laks?" Laks mengangkat kepala. Matanya tampak memerah, tetapi ia berusaha menahan emosinya. "Lakukan saja, Dok." Dokter Samuel memperhatikannya. "Operasi Laila malam ini. Tolong selamatkan adik saya." "Kami akan berusaha semaksimal mungkin." "Untuk biayanya..." Laks menarik napas panjang. "Saya akan cari cara. Saya janji akan mengusahakannya secepat mungkin." Setelah pembicaraan selesai, Laks berpamitan dan meninggalkan ruangan. Ceklek! Pintu tertutup di belakangnya. Laks berjalan menyusuri koridor dengan langkah berat. Lampu-lampu rumah sakit masih menyala terang, sementara di balik jendela, langit malam tampak gelap tanpa bintang. Pikirannya terus menghitung jumlah uang yang harus ia kumpulkan. Dari mana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat ini? Ia berhenti di dekat deretan kursi tunggu, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding. Kedua tangannya menutupi wajah. "Ya Tuhan..." Selama ini ia sudah bekerja sekuat tenaga demi membiayai pengobatan Laila. Namun, semua usahanya seolah tidak pernah cukup. Laks menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Aku harus bagaimana sekarang...?" Bersambung"Laks!" Dimas langsung menghampiri begitu melihat sahabatnya datang tergesa-gesa ke ruang tunggu IGD. "Laila bagaimana?" "Masih diperiksa dokter. Duduk dulu." "Kenapa dia bisa masuk rumah sakit lagi?" Dimas menarik napas panjang. Wajahnya tampak serius. "Tadi rumahmu didatangi polisi. Ibumu dibawa karena terlibat kasus penipuan investasi." Laks membeku. "Apa?" Dia menatap Dimas tidak percaya. "Dim, jangan bercanda!" "Aku serius. Katanya ada beberapa korban yang melapor. Total kerugiannya sampai dua ratus juta." "Dua ratus juta?!" "Bagaimana mungkin Ibu terlibat penipuan?" "Aku belum tahu jelas. Waktu sampai di rumahmu, ibumu sudah dibawa polisi." Dimas juga tidak tahu pasti karena tidak saat kejadian. “Tapi katakanya ibumu juga berteriak kalo dia juga di tipu.” Laks mengusap wajahnya kasar. "Lalu Laila?" "Dia melihat semuanya. Waktu polisi membawa ibumu, Laila panik sampai sesak dan akhirnya pingsan. Tetanggamu langsung menghubungiku, jadi aku membaw
"Maaf, saya tidak tertarik."Laks menutup map hitam di hadapannya, lalu menggesernya kembali ke arah Haira."Jangan terburu-buru menolak. Dengarkan dulu tawaranku.""Saya sudah membacanya." Laks tidak mau mendengarkan apapun. Pernikahan kontrak? Sungguh tidak masuk akal."Tapi kau belum mendengar semuanya."Haira meletakkan gelasnya di atas meja. Tatapannya masih tertuju pada Laks, seolah penolakan barusan sama sekali tidak membuatnya gentar."Aku tahu kau memiliki banyak utang. Dengan penghasilanmu sekarang, entah berapa tahun lagi kau bisa melunasinya. Belum lagi biaya pengobatan adikmu."Wajah Laks seketika mengeras, bagaimana bisa wanita itu tahu."Anda menyelidiki kehidupan pribadi saya?""Tentu saja. Aku perlu mengetahui latar belakang pria yang akan menjadi suamiku.""Saya belum menyetujui apa pun.""Karena itu aku sedang berusaha meyakinkanmu."Haira sedikit mencondongkan tubuhnya. Senyum percaya diri masih menghiasi wajah cantiknya."Menikahlah denganku. Seluruh utangmu akan
Setelah Laksmana masuk, pintu kembali tertutup.Di dalam ruangan, seorang wanita telah duduk menunggunya.Wanita itu terlihat begitu tenang dan berkelas. Pakaiannya sederhana, tetapi dari potongan dan kualitas bahannya, Laks bisa menebak harganya tidak murah. Rambut hitamnya tergerai rapi, sementara jemarinya memainkan gelas berisi air mineral di atas meja.Ketika wanita itu mengangkat wajah, langkah Laks seketika terhenti.Dia?Bukankah ini wanita yang pernah ditemuinya saat mengantarkan pesanan makanan ke kamar hotel?Laks tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi, terlebih di ruangan privat Maison Grey.Sementara itu, Haira mengamati pria yang berdiri di ambang pintu.Penampilannya biasa saja. Kaos putih, celana hitam, serta wajah tampan yang terdapat sedikit bekas luka goresan di pipi.Tidak ada sesuatu yang istimewa dari penampilannya. Namun sudah Naluri jika ia menemuka permata mentah untuk memolesnya."Duduklah. Apa kau akan terus berdiri seperti patung?"Suara Haira membuyar
Laks segera mendorong troli masuk dan mulai menata hidangan di atas meja.Sementara itu, Haira berdiri tak jauh darinya, memperhatikan setiap gerakan pria tersebut.Jadi, dia bekerja di hotel milik Madhava?Tatapannya turun ketika menyadari Laks berjalan sedikit pincang.Haira langsung teringat kejadian tadi sore. Pria itu sempat terjatuh ke aspal saat menyelamatkan anak kecil.Apa kakinya terluka karena kejadian tadi?Tanpa sadar, Haira berjalan mendekat."Bagaimana kakimu?"Gerakan tangan Laks terhenti."Maaf, Nona?""Kakimu. Kau terlihat kesulitan berjalan."Laks melirik kakinya sendiri, lalu tersenyum kecil."Oh, hanya sedikit terkilir. Tidak apa-apa.""Kau tetap bekerja dalam keadaan seperti itu?""Masih bisa berjalan, kok, Nona."Haira mengamatinya beberapa saat."Sepertinya kau sangat membutuhkan uang."Laks sedikit mengernyit mendengar ucapan tersebut."Semua orang bekerja untuk mendapatkan uang, bukan?"Haira tersenyum tipis."Benar juga."Laks kembali merapikan hidangan di m
Haira Madhava termenung di dalam Lamborghini sport milikknya, ia melaju dengan kecepatan cukup tinggi membelah jalan. Tatapan matanya terlihat datar dan dingin, meskipun pikirannya sedang kacau.Bagaimana tidak? Sang ayah baru saja memberinya ultimatum untuk menikah dalam waktu enam bulan. Jika gagal, ia harus melepaskan jabatan CEO sekaligus seluruh haknya sebagai pewaris keluarga Madhava.Yang menjadi keresahan Haira saat ini adalah, siapa pria yang pantas menjadi suaminya?Bukannya Haira kesulitan mendapatkan pria. Dengan kekayaan dan kedudukannya, bahkan dalam sekali jentikan jari saja ia bisa mendapatkan pria paling tampan dan berpengaruh.Hanya saja, Haira tidak menginginkan suami yang haus kekuasaan, apalagi pria yang akan memanfaatkan pernikahan untuk menguasai perusahaan miliknya."Hah..." Haira menghela napas berat.Ia membutuhkan pria yang tidak memiliki ambisi terhadap kekayaannya. Seseorang yang bisa diajak bekerja sama tanpa menuntut cinta ataupun ikut campur dalam kehi
Bunyi heels menggema membuat pelayan yang berpapasan segera menundukkan kepalanya, ia adalah Putri sulung keluarga itu—Haira Madhava.Wanita selalu mencolok dengan aura dominan yang menguat. Langkah berhenti di depan sebuah ruang.Tok. Tok."Masuk."Wanita itu membuka pintu dan melangkah ke dalam. Bisa dia lihat pria paru baya—Dirga Madhava yang merupakan ayahnya duduk di balik meja kerjanya segera mengangkat kepala saat ia masuk ruangan tersebut."Kau sudah datang."Haira berdiri beberapa meter darinya, "Kalau Ayah ingin membicarakan sesuatu, langsung saja. Aku masih punya pekerjaan."Sang ayah berkerut mendengar ucapan putrinya, mulut Haira masih setajam biasanya. "Bahkan untuk berbicara dengan ayahmu sendiri, kau tidak bisa bersikap lebih sopan?"Haira mengangkat sebelah alis. "Kalimat itu terdengar familiar.""Sudahlah!" Dirga mengembuskan napas kasar. "Ayah dengar kau menampar putra keluarga Rajendra kemarin. Apa sebenarnya yang kau lakukan? dimana etikamu sebagai wanita?" "Ah,







