Share

Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris
Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris
Penulis: Dita SY

1. Tawaran Pekerjaan

Penulis: Dita SY
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-26 21:47:23

"Mas, beras di rumah kita udah habis." Nila menundukkan kepala. Berdiri di depan suaminya yang tengah duduk bersandar di kursi kayu.

Pria bernama Yanto itu langsung melotot, menatap Nila dengan wajah penuh amarah. "Gila, masa bisa habis sih? Uang dua puluh ribu kemarin kemana? Kamu nggak beli beras?"

Mendengar itu, Nila mengangkat kepalanya dan membalas tatapan tajam sang suami. "Uang dua puluh ribu cukup apa Mas? Untuk beli lauk aja aku harus utang ke warung Bu Ika."

"Alasan aja! Dasar Istri boros!"

Nila hanya bisa menarik napas panjang setiap kali mendengar omelan suaminya. Setiap kali ia meminta uang belanja, selalu saja ocehan, makian, dan bentakan yang ia dengar.

Hidup bersama pria bernama Yanto itu membuatnya merasa tersiksa. Bukan hanya kasar Yanto juga sangat pelit.

Setiap harinya ia hanya diberi jatah uang dua puluh ribu saja. Uang itu harus digunakan sebaik mungkin. Bahkan, tak jarang Yanto meminta makanan enak yang harus tersedia di atas meja makan.

Lelah rasanya hidup bersama laki-laki kasar dan pelit yang maunya menang sendiri.

Kalau bukan karena ia tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, mana sudi ia bertahan hidup dengan pria itu.

"Nih uangnya, beli beras sana!" Yanto melempar uang lembaran berwarna coklat yang hanya senilai lima ribu rupiah.

Nila hanya diam, menatap uang yang perlahan jatuh ke atas lantai. Dengan uang itu, apa yang bisa dibeli olehnya?

"Sana beli beras!" bentak Yanto dengan tatapan tajam.

Nila membungkukkan tubuh, meraih lembaran uang yang jatuh di bawah kakinya dengan malas.

"Uang segini mana cukup beli beras, Mas," keluh Nila sambil melebarkan uang kertas itu ke depan mata Yanto.

Pria itu melotot. "Biasanya juga cukup. Jangan manja deh. Kamu itu harus pintar puter otak. Usahakan uang dari suami cukup. Jadi Istri cuma bisa nuntut aja. Lihat tuh Yuni, tetangga sebelah kita, suaminya lumpuh tapi dia nggak tinggal diam. Dia kerja cari duit buat kehidupan mereka. Kamu apa?"

Nila terdiam sambil menghela napas jengah. Setiap kali mereka bertengkar, ia selalu dibandingkan dengan Istri orang lain yang membuatnya merasa semakin rendah.

Hari ini Yuni_tetangga sebelah rumahnya yang dipuji. Kemarin Dara_janda di kampung sebelah dibanggakan. Besok siapa lagi?

Apa pernah Yanto melihat pengorbanannya selama dua tahun mereka berumah tangga?

Padahal ia tidak pernah menuntut apapun, hanya ingin dicukupkan uang belanja saja, tetapi sepertinya semua itu berat bagi Yanto.

"Kenapa kamu ngeliatin aku begitu? Nggak terima?" Yanto menatap nyalang ke arah Nila, padahal wanita berusia dua puluh tiga tahun itu hanya diam saja.

Wajar ia menatap suaminya karena punya mata. Namun, di dalam pikiran Yanto berbeda.

Sebagai Istri, mana boleh ia menentang suaminya, atau sekedar membela diri.

Nila menelan ludah. Buru-buru memalingkan wajahnya. "Aku beli beras dulu," katanya pelan lalu melangkah pergi.

"Hmm," sahut Yanto datar. Matanya melirik ke arah pintu memastikan istrinya ke luar dari rumah sederhana itu.

Setelah Nila tak terlihat lagi, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang.

"Nanti malam jangan lupa kumpulin semua anak-anak di tongkrongan. Bawa duit banyak-banyak. Aku yakin malam ini aku menang lagi." Yanto menghembus napas kasar, dengan tatapan angkuh.

"Oke, tenang aja soal itu. Kalau mau taruhan, tinggal siapin aja duitnya."

"Sip!" Yanto mengakhiri telepon dan memasukan benda pipih hitam itu ke dalam saku celana.

Kelakukan minusnya selain kasar, ia juga hobi bermain judi dan minum-minuman keras. Entah apa yang bisa dibanggakan dari seorang Yanto.

***

Nila menarik napas panjang. Langkah kakinya mendadak pelan setelah ia berada di dekat warung kecil milik Bu RT.

Tiba-tiba saja telapak tangan dan kakinya terasa dingin. Ia gugup, karena lagi-lagi ia harus berhutang pada pemilik warung.

Sudah sering ia dibantu Bu RT, yang mengajukan permohonan bantuan dari Pemerintah, tetapi setiap dapat bantuan uang dan kebutuhan rumah tangga, semua itu selalu dihabiskan Yanto, entah untuk apa.

Sekarang ... masa iya harus berhutang lagi? Padahal tiga bulan lalu ia baru mendapatkan bantuan beras satu karung dari Pemerintah.

Namun, demi mengenyangkan perut suaminya ... apa boleh buat.

Dengan sekuat tenaga ia mengangkat kaki yang terasa berat. Menyeimbangkan tubuh yang limbung dan mengatur napasnya yang tertahan di tenggorokan.

Saat ia semakin dekat dengan warung kecil itu, ia mendengar suara seseorang dari ujung gang yang dilewati tadi.

"Nila!"

Suara itu semakin jelas. Awalnya ia pikir itu hanya suara gesekan angin di udara. Namun, ternyata itu benar-benar suara orang.

Ia pun menoleh ke asal suara dan melihat tetangga yang tadi dibicarakan suaminya sedang berjalan cepat menghampiri.

"Nil, saya mau ngomong sama kamu sebentar," seru Yuni, yang menghentikan langkah kaki di depan Nila.

"Mau bicara apa Mbak?" tanya Nila, menatap wanita yang usianya lebih tua darinya itu.

Yuni mengatur napas yang terengah-engah. "Bicara di sana saja, yuk." Ia menunjuk kursi di bawah pohon. Tempat biasanya tukang bubur berjualan di pagi hari.

Nila mengangguk saja, meski hatinya masih diselimuti tanda tanya. Apa yang ingin dibicarakan wanita yang terkenal jutek itu? Biasanya Yuni tidak pernah menyapa.

Sudah satu tahun mereka bertetangga, dan baru pertama kali ia diajak bicara oleh Yuni. Apa gerangan yang membuat wanita itu mendadak ramah?

Keduanya melangkah ke kursi yang ditunjuk tadi. Di seberang jalan, di bawah pohon Mangga.

"Duduk," kata Yuni sambil menunjuk kursi.

Nila menurut, masih dengan wajah yang terlihat bingung.

"Ada apa Mbak? Mbak mau ngomong apa sama saya?"

Yuni menatap Nila dari ujung kepala sampai kaki, lalu mengatakan, "Kamu mau nggak kerja di rumah saya? Tugas kamu membersihkan rumah, masak, nyuci baju dan ngurusin anak perempuan saya yang berusia tujuh tahun."

Nila terdiam. Kedua alis matanya yang terbentuk indah sejak lahir itu, naik tinggi-tinggi.

"Mau nggak? Saya tahu kamu lagi butuh uang. Iya 'kan?" lanjut Yuni.

"Iya Mbak," angguk Nila, menundukkan kepalanya agak malu mengakui kesulitan hidup pada orang lain.

"Gimana? Kamu mau?" tanya Yuni lagi.

"Saya mau," jawab Nila tanpa berpikir lagi. Takut Yuni berubah pikiran. Yang dikatakan wanita itu memang benar, ia sangat butuh uang.

Namun, seingat Nila tetangganya itu tidak kaya. Rumah mereka juga sederhana. Apalagi beberapa bulan lalu suami Yuni mengalami kecelakaan mobil dan membuat kakinya lumpuh.

Sejak Bima tak berdaya, Yuni yang akhirnya bekerja siang-malam. Lalu, darimana tetangganya itu membayar jasa pembantu?

Apa mungkin gaji Yuni sangat besar? pikir Nila.

"Saya akan membayar kamu lima juta sebulan, gimana?" tanya Yuni sambil tersenyum kecil.

Nila membulatkan kedua mata lebar. Uang lima juta rupiah bukan sedikit. Ia saja tidak pernah melihat uang sebanyak itu seumur hidupnya.

Tentu saja ia mau, tapi lagi-lagi pikirannya tertuju pada ... Yuni kerja apa?

"Saya mau Mbak, tapi ... apa benar Mbak bisa membayar saya sebanyak itu? Dibayar lima ratus ribu sebulan saja saya mau kok Mbak. Nggak usah memaksakan," ucap Nila, berhati-hati, takut menyinggung.

"Kamu nggak usah takut, saya pasti bayar kamu sesuai perjanjian asal kamu mau juga melayani suami saya di ranjang. Saya ingin kamu membuat dia puas, sampai dia nggak kepikiran minta dilayani sama saya lagi."

Nila tercengang. Matanya membulat lebar hingga nyaris keluar dari kelopak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   11. Salah Tingkah

    17:00 WIB. Setelah seharian berjibaku di rumah tetangganya, Nila memutuskan untuk pulang karena jam kerjanya sudah habis. Tugas terakhir pun sudah selesai. Semua piring sisa makan siang tadi sudah dicuci bersih dan disusun di dalam lemari.Nila tersenyum bangga pada hasil kerjanya. Semua terlihat rapih, dan bersih.Namun, seketika senyum itu memudar saat ia mengingat ia harus berpamitan pulang pada Bima. Sejak kejadian ciuman tadi, ia berusaha menghindari pria tampan itu, bahkan tak mau datang saat Bima memanggil. Namun sekarang, mau tidak mau ia harus berpamitan pulang.Nila menelan ludah keras, menghentikan langkah kaki di pembatas ruang tamu. Dari jarak beberapa meter ia melihat Bima sedang duduk di kursi roda sambil termenung, menatap jam dinding. Pakaian pria itu terlihat basah, entah oleh keringat atau tumpahan air, yang jelas pakaian Bima tampak lepek.Nila membuang napas panjang. Ragu untuk melangkah, bahkan u

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   10. Tangisan Nabila

    "Yuni, mau ke mana?" Pria berjas hitam itu berdiri di ambang pintu restoran, berteriak memanggil teman SMA-nya. Yuni memutar tubuh, "Kita tunda pertemuan. Besok pagi aku ke kantor kamu!" Dengan terburu-buru Yuni kembali berlari mengejar anaknya.Sementara pria bernama Aris itu berdecak, lalu masuk ke restoran. Langkah kakinya tertahan saat mendengar suara notifikasi dari ponsel. Ia melihat satu pesan dari Yuni yang langsung dibaca. [Maaf Ris, besok aku ke kantor kamu. Anakku ngambek, dia mau ngajak Papanya makan di restoran yang sama. Nggak mungkin 'kan aku ngajak Mas Bima di saat kita mau membahas soal perceraian]Aris membalas chat itu dengan malas. Agak kesal karena waktunya terbuang percuma. Kalau bukan karena Yuni teman baiknya saat SMA, ia tidak akan mau mengurus perceraian yang rumit seperti ini. Yuni keukeh menggugat Bima yang lumpuh, tetapi ingin terlihat baik. Wanita itu tak mau jika ada orang yang mengang

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   9. Kecupan Basah

    "Mas tahu semuanya?" Suara Nila tertahan, nyaris tak dapat keluar dari mulutnya.Bima mengangguk dengan senyuman kecil terlukis di wajah. Memang selama ini ia selalu memperhatikan tetangganya. Sejak mengetahui Nila sering disiksa, diam-diam Bima menaruh rasa iba.Dari beberapa bulan lalu, hampir setiap malam Bima selalu duduk di dapur hanya untuk melihat aktivitas Nila walau hanya bayangannya saja.Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh. Perasaan yang lama-lama lebih dari sekedar kasihan.Sekarang ... wanita yang sering ia perhatikan dari kejauhan itu ada di dekatnya. Sangat dekat, bahkan sedang duduk di atas pangkuan."Aku sering memperhatikanmu dari dapur." Bima melanjutkan. Suaranya terdengar pelan, tapi sangat merdu bagi Nila. Tangannya membelai pipi Nila dengan sangat lembut, lalu merengkuh jenjang leher wanita pemilik bulu mata lentik itu. Nila hanya diam saat Bima mendekatkan bibirnya, lalu mengecup lembut, dan melumat habis hingga ia kehabisan napas."Mas .... " Nila melepas

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   8. Melayani

    Pekerjaan memandikan suami orang, selesai. Nila mengira semua tugas mengurus pria itu berakhir, tapi ternyata Bima masih memberi pekerjaan lain. Bima yang lapar, meminta Nila mengambil makanan di dapur. Kebetulan pagi tadi Yuni membeli lauk di warung dekat rumah. Setelah berganti pakaian, Nila mengambil makanan untuk Bima, dan kembali ke kamar tamu. "Ini makanannya, Mas." Nila meletakkan piring berisi makanan ke atas meja kecil di samping ranjang.Bima mengangguk, lalu mengalihkan pandangan pada Nila. "Mau ke mana kamu?" Nila yang baru saja ingin keluar dari kamar itu, menghentikan langkah kakinya di ambang pintu. "Saya mau bersihin rumah Mas.""Tugas kamu merawatku belum selesai. Aku mau makan."Nila mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ia lalu menunjuk ke arah piring, "Itu makanannya Mas udah saya ambilin. Mas tinggal makan. Yang sakit kaki Mas 'kan? Bukan tangan?"Bima megembus napas sambil tersenyum kecut. "Iya aku tahu, tapi aku tidak biasa makan sendirian. Temani aku makan."Ni

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   7. Lebih Baik dari Istri Sah

    Nila berusaha mengabaikan ucapan ngelantur Bima. Tak perduli pria itu terus menatapnya, ia tetap melanjutkan pekerjaan sebagai pengasuh pria lumpuh.Dengan perlahan ia mengarahkan selang shower ke tubuh kekar Bima. Matanya tak lepas memandang pahatan sempurna dada kotak-kotak itu.Perasaan kagum pada sosok di depannya merayap, membuatnya semakin gugup dan gelisah.Namun, sebisa mungkin Nila menyembunyikan perasaan aneh yang bercampur aduk seperti gado-gado jualannya Bu Jalal.Nila menarik napas panjang. Dengan gerakan lembut ia mengusap lengan berotot Bima.Ada yang janggal dari bentuk tubuh pria itu. Bukannya Bima sudah berbulan-bulan duduk di kursi roda? Kenapa bentuk tubuhnya seperti orang yang selalu berolahraga setiap hari? Lagi-lagi Nila menepis semua pemikiran yang menyelinap. Rasa penasaran yang kadang di luar logika. "Aku belum tahu alasan Yuni memperkerjakanmu di rumah ini." Bima memulai pembicaraan. Memecah keheningan kamar mandi yang tadi hanya dipenuhi suara gemericik a

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   6. Tugas Pertama

    Pekerjaan pertama yang harus Nila lakukan adalah memandikan Bima? Tak pernah terbayangkan seumur hidup ia akan mengurus dan melayani pria lumpuh, yang tak lain suami tetangganya sendiri. Sekarang, tepat hari pertama ia bekerja, ia sudah diminta memandikan pria yang wajahnya cukup tampan itu. Nila mendadak gugup saat melihat Bima membuka pakaian satu per satu. Ia menelan ludah dan langsung memalingkan wajah ke samping. Diam-diam Bima memperhatikan wanita muda itu. "Buka celanaku," katanya memerintah. Nila membulatkan kedua mata. Pandangannya beralih pada celana jeans panjang yang dikenakan Bima. Pria itu tampak kesulitan menurunkan celana jeans biru tua yang terhimpit bokong dan kursi roda. Mata Bima menyempit menatap Nila. Wanita di depannya hanya diam seperti patung. "Cepat buka celanaku!" "Bu-buka .... " Nila tercengang hingga sulit mengeluarkan kata. Mulutnya terbuka lebar dengan tatapan polos tanpa dosa. "Ya, buka celanaku. Tidak mungkin aku mandi dengan celana masih m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status