แชร์

2. Menolak

ผู้เขียน: Dita SY
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-27 15:56:34

"Bagaimana, Nil?" Yuni menunggu jawaban dari wanita di depannya yang hanya diam seperti patung.

Nila menatap Yuni tanpa berkedip. Masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan tetangganya itu.

Bagaimana bisa seorang Istri meminta perempuan lain melayani suaminya sendiri? Dia saja tidak rela melihat Yanto berhubungan dengan wanita lain, padahal suaminya itu spek dajjal.

Selama ini yang ia tahu, rumah tangga tetangganya tidak pernah ada masalah. Tidak seperti rumah tangganya bersama Yanto, yang setiap hari selalu ribut besar meski hanya karena masalah sepele.

Bima yang ia kenal, adalah pria baik, bertanggung jawab dan pekerja keras.

"Saya tahu kamu dan suamimu sering ribut karena masalah ekonomi. Saya sering mendengar pertengkaran kalian berdua." Yuni melanjutkan ucapannya. "Kamu nggak akan menyesal menerima tawaran dari saya, Nil."

Sekian detik diam, Nila tersenyum kecil, hambar. Ia memalingkan wajahnya sesaat lalu mengatakan, "Maaf Mbak, meskipun saya dan suami saya sering bertengkar, tapi hubungan saya dan suami saya baik-baik saja. Nggak mungkin saya mau mengkhianati suami saya hanya karena uang, apalagi tidur dengan laki-laki lain. Suami Mbak sendiri. Kok bisa Mbak meminta perempuan lain memuaskan suami Mbak?"

Tatapannya pada Yuni berubah sinis. Ia merasa direndahkan oleh tetangganya itu. Masa iya, pekerjaan yang ditawarkan adalah melayani suami orang lain? Sudah gila!

Yuni mendengus kasar, "Nggak usah sok suci deh Nil. Asal kamu tahu, kelakuan suami kamu di luar sana juga nggak bener. Buat apa sih kamu setia sama dia?" Nada bicaranya meninggi, seolah yang dikatakan memang benar.

Sedikit banyaknya Yuni tahu kelakuan Yanto di luaran sana. Itu sebabnya ia memilih Nila untuk mengambil pekerjaan itu.

Semua dilakukan hanya karena ia ingin lepas dari Bima_suaminya yang lumpuh dan tak berdaya.

Sudah berbulan-bulan Bima tidak bekerja, tidak memberikan uang bulanan, meski suaminya itu masih memiliki tabungan, tetapi uang tabungan kian lama kian menipis.

Setiap kali ia mengeluh, Bima selalu menanggapi dengan santai, seolah pria itu memiliki banyak warisan.

Padahal yang Yuni ketahui, suaminya hanya anak yatim-piatu, tak punya sanak-saudara, apalagi warisan.

Lelah dengan kehidupan itu, Yuni meminta untuk bercerai saja, tetapi Bima selalu menolak dengan alasan tak ingin melukai anak perempuan mereka.

Sudah berbagai cara dilakukan Yuni untuk membuat suaminya berubah pikiran, dan mau bercerai, tapi jawaban Bima tetap sama ... ia ingin bertahan demi anak.

Hingga akhirnya ... hari ini Yuni nekat meminta Nila menggoda suaminya, memberi kepuasan seperti yang sering diminta Bima setiap malam.

Meski lumpuh, tetapi nafsu Bima masih besar. Bahkan, pria yang wajahnya tampan mirip artis Korea itu, selalu memaksa Yuni untuk berhubungan badan sebelum tidur.

"Tolong bantu saya, Nil." Yuni merendahkan nada bicaranya. Kali ini dengan tatapan memohon.

Namun, wanita muda di depannya tetap menolak dengan gelengan kepala tegas. "Maaf banget Mbak. Saya nggak bisa." Ia berdiri dari tempat duduknya.

Melihat Nila ingin pergi, Yuni langsung memegang lengan wanita itu. "Kamu mau belanja 'kan? Ini uang untuk kamu. Kamu bisa pakai uang itu untuk beli kebutuhan dan bayar hutang." Ia menyelipkan gulungan uang kertas merah ke dalam saku celana Nila.

"Nggak usah Mbak, aku .... "

Yuni berdiri dari tempat duduknya. "Udah ambil aja duitnya." Ia tersenyum kemudian melangkah pergi.

Sementara Nila masih membeku di tempatnya. Perlahan tangannya merogoh saku celana, dan melihat gulungan uang yang diberikan Yuni tadi.

"Mbak, duitnya!" seru Nila.

Yuni menoleh sambil tersenyum, "Kalau kamu berubah pikiran. Kamu temui aku di rumah. Kamu datang saja dan langsung bekerja besok."

Nila menelan ludah. Matanya melirik uang dan membuka gulungan, lalu menghitung lembaran uangnya satu per satu.

Jumlahnya lima ratus ribu. Uang sebanyak itu cukup untuk membeli beras sepuluh kilo, membayar hutang dan sisanya untuk beli lauk-pauk.

Nila menghela napas panjang, kembali menatap Yuni yang hilang dari pandangan.

Andai saja pekerjaan yang diberikan Yuni tidak menjatuhkan harga dirinya sebagai perempuan, ia pasti akan menerima.

"Kenapa Mbak Yuni minta aku buat melayani suaminya? Apa dia nggak cemburu?" gumam Nila.

Tak ingin memikirkan itu, ia pun melangkah cepat menuju warung Bu RT.

Kali ini ia tidak akan berhutang lagi, karena uang dari Yuni sudah lebih dari cukup untuk membeli kebutuhan.

Sesampainya di warung, Nila mengambil semua kebutuhan tanpa memikirkan uangnya cukup atau tidak.

Ternyata begini rasanya memiliki banyak uang, pikir Nila.

"Tumben belanja banyak," senyum Bu RT.

"Iya Bu, kebetulan hari ini Mas Yanto dapat rejeki." Nila membalas senyuman itu.

Bu RT manggut-manggut. "Udah nggak pelit lagi suamimu, Nil," celetuknya.

Nila hanya diam dengan wajah kaku. Tak heran dengan pertanyaan itu, karena semua orang tahu sifat buruk Yanto.

***

Yuni pulang ke rumah dengan wajah kecewa berat. Padahal hari ini ia sengaja meminta ijin pulang kerja setengah hari demi bisa menemui Nila, tetapi wanita itu menolak tawarannya.

Sebenarnya banyak wanita yang kemungkinan mau melakukan pekerjaan itu, tapi yang diinginkan hanya Nila.

Yuni yakin bisa mengatur Nila, dan percaya Nila bisa menjaga rahasia. Jika wanita lain ... kemungkinan dia akan diperas habis-habisan.

Baginya Nila itu polos, sangking polosnya wanita itu sampai menolak tawaran menggiurkan darinya.

Padahal kalau dipikir-pikir, dengan gaji sebesar itu, dan pekerjaan yang cukup mudah, harusnya Nila mau. Bonusnya Nila bisa tidur dengan pria tampan seperti Bima.

Ya, harus diakui suaminya memang tampan. Pria berusia 32 tahun itu memiliki mata indah, hidung mancung, kulit putih bersih. Tubuhnya tinggi dan sedikit kekar.

Belum lagi permainan Bima di ranjang sangat oke. Sayangnya sekarang pria itu tak berdaya karena lumpuh.

"Kamu udah pulang, Dek?" tanya Bima pada Yuni yang duduk di sofa ruang tamu.

Di rumah sederhana yang cukup luas itu, mereka hanya tinggal bertiga. Biasanya Yuni pulang jam lima sore dan kembali bekerja sampai malam.

Namun, hari ini Yuni pulang lebih cepat, tapi dengan wajah yang terlihat lesu.

"Aku ijin kerja setengah hari, Mas," jawab Yuni ketus.

"Oh, udah makan?" Bima menatap jam dinding, melihat jarumnya yang menunjukkan pukul satu siang.

"Udah." Yuni memalingkan wajahnya, malas melihat sang suami yang hanya duduk di kursi roda seharian.

"Kamu udah pikirin belum soal omongan Mas kemarin? Sebaiknya kamu kerja setengah hari saja, jangan ambil dua shift seperti itu. Kasihan badan kamu, pasti lelah. Apalagi anak kita, dia kesepian dan sering nyariin kamu. Atau kalau bisa kamu resign dari pekerjaan itu."

Mendengar ucapan suaminya, Yuni menatap dengan ekspresi merendahkan. "Kalau aku nggak kerja, apa kamu bisa ngasih uang bulanan kayak biasanya? Paling ujung-ujungnya cuma ngandelin uang tabungan aja! Lagian selama aku kerja, mana pernah sih aku cuekin anak kita? Dia selalu dapat perhatian dari aku. Aku juga masih sempat nganter-jemput dia sekolah. Ngga usah berlebihan deh. Seolah aku ini bukan Ibu yang baik."

Bima menghela napas panjang. Tanpa kata, ia memutar kursi roda dan melajukannya meninggalkan Yuni.

"Kebiasaan, kalau kalah debat pasti pergi!" kesal Yuni. "Kalau kamu lelah, mending kita cerai aja Mas!" teriaknya.

"Kamu istirahat di kamar aja, Dek. Aku buatin kamu teh manis."

"Nggak usah sok perhatian Mas! Aku nggak butuh perhatian kamu! Aku butuhnya suami yang bertanggung jawab!" pekik Yuni sambil meremas rambutnya frustasi.

Semakin Bima menunjukkan perhatian, semakin ia tersiksa dalam pernikahannya.

"Suami nggak guna!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   9. Kecupan Basah

    "Mas tahu semuanya?" Suara Nila tertahan, nyaris tak dapat keluar dari mulutnya.Bima mengangguk dengan senyuman kecil terlukis di wajah. Memang selama ini ia selalu memperhatikan tetangganya. Sejak mengetahui Nila sering disiksa, diam-diam Bima menaruh rasa iba.Dari beberapa bulan lalu, hampir setiap malam Bima selalu duduk di dapur hanya untuk melihat aktivitas Nila walau hanya bayangannya saja.Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh. Perasaan yang lama-lama lebih dari sekedar kasihan.Sekarang ... wanita yang sering ia perhatikan dari kejauhan itu ada di dekatnya. Sangat dekat, bahkan sedang duduk di atas pangkuan."Aku sering memperhatikanmu dari dapur." Bima melanjutkan. Suaranya terdengar pelan, tapi sangat merdu bagi Nila. Tangannya membelai pipi Nila dengan sangat lembut, lalu merengkuh jenjang leher wanita pemilik bulu mata lentik itu. Nila hanya diam saat Bima mendekatkan bibirnya, lalu mengecup lembut, dan melumat habis hingga ia kehabisan napas."Mas .... " Nila melepas

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   8. Melayani

    Pekerjaan memandikan suami orang, selesai. Nila mengira semua tugas mengurus pria itu berakhir, tapi ternyata Bima masih memberi pekerjaan lain. Bima yang lapar, meminta Nila mengambil makanan di dapur. Kebetulan pagi tadi Yuni membeli lauk di warung dekat rumah. Setelah berganti pakaian, Nila mengambil makanan untuk Bima, dan kembali ke kamar tamu. "Ini makanannya, Mas." Nila meletakkan piring berisi makanan ke atas meja kecil di samping ranjang.Bima mengangguk, lalu mengalihkan pandangan pada Nila. "Mau ke mana kamu?" Nila yang baru saja ingin keluar dari kamar itu, menghentikan langkah kakinya di ambang pintu. "Saya mau bersihin rumah Mas.""Tugas kamu merawatku belum selesai. Aku mau makan."Nila mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Ia lalu menunjuk ke arah piring, "Itu makanannya Mas udah saya ambilin. Mas tinggal makan. Yang sakit kaki Mas 'kan? Bukan tangan?"Bima megembus napas sambil tersenyum kecut. "Iya aku tahu, tapi aku tidak biasa makan sendirian. Temani aku makan."Ni

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   7. Lebih Baik dari Istri Sah

    Nila berusaha mengabaikan ucapan ngelantur Bima. Tak perduli pria itu terus menatapnya, ia tetap melanjutkan pekerjaan sebagai pengasuh pria lumpuh.Dengan perlahan ia mengarahkan selang shower ke tubuh kekar Bima. Matanya tak lepas memandang pahatan sempurna dada kotak-kotak itu.Perasaan kagum pada sosok di depannya merayap, membuatnya semakin gugup dan gelisah.Namun, sebisa mungkin Nila menyembunyikan perasaan aneh yang bercampur aduk seperti gado-gado jualannya Bu Jalal.Nila menarik napas panjang. Dengan gerakan lembut ia mengusap lengan berotot Bima.Ada yang janggal dari bentuk tubuh pria itu. Bukannya Bima sudah berbulan-bulan duduk di kursi roda? Kenapa bentuk tubuhnya seperti orang yang selalu berolahraga setiap hari? Lagi-lagi Nila menepis semua pemikiran yang menyelinap. Rasa penasaran yang kadang di luar logika. "Aku belum tahu alasan Yuni memperkerjakanmu di rumah ini." Bima memulai pembicaraan. Memecah keheningan kamar mandi yang tadi hanya dipenuhi suara gemericik a

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   6. Tugas Pertama

    Pekerjaan pertama yang harus Nila lakukan adalah memandikan Bima? Tak pernah terbayangkan seumur hidup ia akan mengurus dan melayani pria lumpuh, yang tak lain suami tetangganya sendiri. Sekarang, tepat hari pertama ia bekerja, ia sudah diminta memandikan pria yang wajahnya cukup tampan itu. Nila mendadak gugup saat melihat Bima membuka pakaian satu per satu. Ia menelan ludah dan langsung memalingkan wajah ke samping. Diam-diam Bima memperhatikan wanita muda itu. "Buka celanaku," katanya memerintah. Nila membulatkan kedua mata. Pandangannya beralih pada celana jeans panjang yang dikenakan Bima. Pria itu tampak kesulitan menurunkan celana jeans biru tua yang terhimpit bokong dan kursi roda. Mata Bima menyempit menatap Nila. Wanita di depannya hanya diam seperti patung. "Cepat buka celanaku!" "Bu-buka .... " Nila tercengang hingga sulit mengeluarkan kata. Mulutnya terbuka lebar dengan tatapan polos tanpa dosa. "Ya, buka celanaku. Tidak mungkin aku mandi dengan celana masih m

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   5. Perhatian

    Bima mengambil kotak P3K dari lemari kecil lalu melajukan kursi rodanya ke luar dari kamar. "Ikut saya!" Nila mengikuti pria itu menuju kursi di ruang tamu. "Duduk!" Bima menunjuk kursi di depannya. "Eh .... " Nila sedikit gugup dan ragu. Bima berdecak. "Duduk!" titahnya pada Nila yang diam seperti patung. "Gimana saya mau obati luka kamu kalau kamu berdiri begitu?" "Tapi Mas ... nggak usah, ngga apa-apa. Nanti juga luka saya sembuh sendiri. Lagian ini cuma lebam." "Cepat duduk!" Bima meninggikan suaranya. Mau tak mau Nila menurut, daripada ia dipecat oleh suami tetangganya itu, bisa-bisa Yuni marah besar padanya. Belum lagi Yanto sangat mengharapkan gaji bulanan Nila untuk memperbaiki keuangan mereka. Dengan perasaan takut-takut Nila duduk di depan Bima. Ia menatap pria di depannya sesaat, lalu menundukkan kepala. "Angkat kepalamu," pinta Bima. Nila mengikuti, menegakkan kepala, menatap pria itu. Kalau boleh jujur, wajah Bima sangat tampan meski dilihat da

  • Suami Lumpuh yang Disia-Siakan Ternyata Pewaris   4. Mulai Bekerja

    Paginya setelah pertengkaran besar terjadi tadi malam, tiba-tiba saja Nila mendatangi rumah Yuni. Wanita muda itu berdiri di depan pagar rumah tetangganya sambil celingak-celinguk. Melihat kedatangan Nila, buru-buru Yuni membuka pintu dan keluar dari rumahnya. "Nil .... " Yuni membuka pintu pagar. "Kamu mau kerja di sini?" Nila menundukkan kepala sambil meremas jemarinya di depan. Ia menarik napas panjang dan mengangguk sedikit. Melihat jawaban itu, Yuni tersenyum. "Kalau kamu menerima pekerjaan dari saya, kamu harus mengikuti syaratnya. Gimana?" Nila mengangkat kepalanya, "Syarat seperti apalagi Mbak?" "Kita bicara di tempat lain." Yuni keluar dari pagar rumah, dan membawa Nila ke dinding rumah tetangga sebelah. Nila menurut saja, toh dia hanya ingin bekerja demi suaminya. Semalam ia mengatakan pada Yanto kalau uang yang didapatkan itu dari Yuni. Ia juga menceritakan kalau Yuni menawarkan pekerjaan untuknya, dan jawaban Yanto ... pria itu malah setuju dan meminta Ni

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status