Masuk"Bagaimana, Nil?" Yuni menunggu jawaban dari wanita di depannya yang hanya diam seperti patung.
Nila menatap Yuni tanpa berkedip. Masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan tetangganya itu. Bagaimana bisa seorang Istri meminta perempuan lain melayani suaminya sendiri? Dia saja tidak rela melihat Yanto berhubungan dengan wanita lain, padahal suaminya itu spek dajjal. Selama ini yang ia tahu, rumah tangga tetangganya tidak pernah ada masalah. Tidak seperti rumah tangganya bersama Yanto, yang setiap hari selalu ribut besar meski hanya karena masalah sepele. Bima yang ia kenal, adalah pria baik, bertanggung jawab dan pekerja keras. "Saya tahu kamu dan suamimu sering ribut karena masalah ekonomi. Saya sering mendengar pertengkaran kalian berdua." Yuni melanjutkan ucapannya. "Kamu nggak akan menyesal menerima tawaran dari saya, Nil." Sekian detik diam, Nila tersenyum kecil, hambar. Ia memalingkan wajahnya sesaat lalu mengatakan, "Maaf Mbak, meskipun saya dan suami saya sering bertengkar, tapi hubungan saya dan suami saya baik-baik saja. Nggak mungkin saya mau mengkhianati suami saya hanya karena uang, apalagi tidur dengan laki-laki lain. Suami Mbak sendiri. Kok bisa Mbak meminta perempuan lain memuaskan suami Mbak?" Tatapannya pada Yuni berubah sinis. Ia merasa direndahkan oleh tetangganya itu. Masa iya, pekerjaan yang ditawarkan adalah melayani suami orang lain? Sudah gila! Yuni mendengus kasar, "Nggak usah sok suci deh Nil. Asal kamu tahu, kelakuan suami kamu di luar sana juga nggak bener. Buat apa sih kamu setia sama dia?" Nada bicaranya meninggi, seolah yang dikatakan memang benar. Sedikit banyaknya Yuni tahu kelakuan Yanto di luaran sana. Itu sebabnya ia memilih Nila untuk mengambil pekerjaan itu. Semua dilakukan hanya karena ia ingin lepas dari Bima_suaminya yang lumpuh dan tak berdaya. Sudah berbulan-bulan Bima tidak bekerja, tidak memberikan uang bulanan, meski suaminya itu masih memiliki tabungan, tetapi uang tabungan kian lama kian menipis. Setiap kali ia mengeluh, Bima selalu menanggapi dengan santai, seolah pria itu memiliki banyak warisan. Padahal yang Yuni ketahui, suaminya hanya anak yatim-piatu, tak punya sanak-saudara, apalagi warisan. Lelah dengan kehidupan itu, Yuni meminta untuk bercerai saja, tetapi Bima selalu menolak dengan alasan tak ingin melukai anak perempuan mereka. Sudah berbagai cara dilakukan Yuni untuk membuat suaminya berubah pikiran, dan mau bercerai, tapi jawaban Bima tetap sama ... ia ingin bertahan demi anak. Hingga akhirnya ... hari ini Yuni nekat meminta Nila menggoda suaminya, memberi kepuasan seperti yang sering diminta Bima setiap malam. Meski lumpuh, tetapi nafsu Bima masih besar. Bahkan, pria yang wajahnya tampan mirip artis Korea itu, selalu memaksa Yuni untuk berhubungan badan sebelum tidur. "Tolong bantu saya, Nil." Yuni merendahkan nada bicaranya. Kali ini dengan tatapan memohon. Namun, wanita muda di depannya tetap menolak dengan gelengan kepala tegas. "Maaf banget Mbak. Saya nggak bisa." Ia berdiri dari tempat duduknya. Melihat Nila ingin pergi, Yuni langsung memegang lengan wanita itu. "Kamu mau belanja 'kan? Ini uang untuk kamu. Kamu bisa pakai uang itu untuk beli kebutuhan dan bayar hutang." Ia menyelipkan gulungan uang kertas merah ke dalam saku celana Nila. "Nggak usah Mbak, aku .... " Yuni berdiri dari tempat duduknya. "Udah ambil aja duitnya." Ia tersenyum kemudian melangkah pergi. Sementara Nila masih membeku di tempatnya. Perlahan tangannya merogoh saku celana, dan melihat gulungan uang yang diberikan Yuni tadi. "Mbak, duitnya!" seru Nila. Yuni menoleh sambil tersenyum, "Kalau kamu berubah pikiran. Kamu temui aku di rumah. Kamu datang saja dan langsung bekerja besok." Nila menelan ludah. Matanya melirik uang dan membuka gulungan, lalu menghitung lembaran uangnya satu per satu. Jumlahnya lima ratus ribu. Uang sebanyak itu cukup untuk membeli beras sepuluh kilo, membayar hutang dan sisanya untuk beli lauk-pauk. Nila menghela napas panjang, kembali menatap Yuni yang hilang dari pandangan. Andai saja pekerjaan yang diberikan Yuni tidak menjatuhkan harga dirinya sebagai perempuan, ia pasti akan menerima. "Kenapa Mbak Yuni minta aku buat melayani suaminya? Apa dia nggak cemburu?" gumam Nila. Tak ingin memikirkan itu, ia pun melangkah cepat menuju warung Bu RT. Kali ini ia tidak akan berhutang lagi, karena uang dari Yuni sudah lebih dari cukup untuk membeli kebutuhan. Sesampainya di warung, Nila mengambil semua kebutuhan tanpa memikirkan uangnya cukup atau tidak. Ternyata begini rasanya memiliki banyak uang, pikir Nila. "Tumben belanja banyak," senyum Bu RT. "Iya Bu, kebetulan hari ini Mas Yanto dapat rejeki." Nila membalas senyuman itu. Bu RT manggut-manggut. "Udah nggak pelit lagi suamimu, Nil," celetuknya. Nila hanya diam dengan wajah kaku. Tak heran dengan pertanyaan itu, karena semua orang tahu sifat buruk Yanto. *** Yuni pulang ke rumah dengan wajah kecewa berat. Padahal hari ini ia sengaja meminta ijin pulang kerja setengah hari demi bisa menemui Nila, tetapi wanita itu menolak tawarannya. Sebenarnya banyak wanita yang kemungkinan mau melakukan pekerjaan itu, tapi yang diinginkan hanya Nila. Yuni yakin bisa mengatur Nila, dan percaya Nila bisa menjaga rahasia. Jika wanita lain ... kemungkinan dia akan diperas habis-habisan. Baginya Nila itu polos, sangking polosnya wanita itu sampai menolak tawaran menggiurkan darinya. Padahal kalau dipikir-pikir, dengan gaji sebesar itu, dan pekerjaan yang cukup mudah, harusnya Nila mau. Bonusnya Nila bisa tidur dengan pria tampan seperti Bima. Ya, harus diakui suaminya memang tampan. Pria berusia 32 tahun itu memiliki mata indah, hidung mancung, kulit putih bersih. Tubuhnya tinggi dan sedikit kekar. Belum lagi permainan Bima di ranjang sangat oke. Sayangnya sekarang pria itu tak berdaya karena lumpuh. "Kamu udah pulang, Dek?" tanya Bima pada Yuni yang duduk di sofa ruang tamu. Di rumah sederhana yang cukup luas itu, mereka hanya tinggal bertiga. Biasanya Yuni pulang jam lima sore dan kembali bekerja sampai malam. Namun, hari ini Yuni pulang lebih cepat, tapi dengan wajah yang terlihat lesu. "Aku ijin kerja setengah hari, Mas," jawab Yuni ketus. "Oh, udah makan?" Bima menatap jam dinding, melihat jarumnya yang menunjukkan pukul satu siang. "Udah." Yuni memalingkan wajahnya, malas melihat sang suami yang hanya duduk di kursi roda seharian. "Kamu udah pikirin belum soal omongan Mas kemarin? Sebaiknya kamu kerja setengah hari saja, jangan ambil dua shift seperti itu. Kasihan badan kamu, pasti lelah. Apalagi anak kita, dia kesepian dan sering nyariin kamu. Atau kalau bisa kamu resign dari pekerjaan itu." Mendengar ucapan suaminya, Yuni menatap dengan ekspresi merendahkan. "Kalau aku nggak kerja, apa kamu bisa ngasih uang bulanan kayak biasanya? Paling ujung-ujungnya cuma ngandelin uang tabungan aja! Lagian selama aku kerja, mana pernah sih aku cuekin anak kita? Dia selalu dapat perhatian dari aku. Aku juga masih sempat nganter-jemput dia sekolah. Ngga usah berlebihan deh. Seolah aku ini bukan Ibu yang baik." Bima menghela napas panjang. Tanpa kata, ia memutar kursi roda dan melajukannya meninggalkan Yuni. "Kebiasaan, kalau kalah debat pasti pergi!" kesal Yuni. "Kalau kamu lelah, mending kita cerai aja Mas!" teriaknya. "Kamu istirahat di kamar aja, Dek. Aku buatin kamu teh manis." "Nggak usah sok perhatian Mas! Aku nggak butuh perhatian kamu! Aku butuhnya suami yang bertanggung jawab!" pekik Yuni sambil meremas rambutnya frustasi. Semakin Bima menunjukkan perhatian, semakin ia tersiksa dalam pernikahannya. "Suami nggak guna!"Bima melangkah naik ke lantai dua rumahnya. Setibanya di depan pintu kamar, ia mengetuk pintu itu dengan perlahan.Tok! Tok! Tok!Tidak ada jawaban, hanya isakan kecil yang terdengar dari balik pintu. Tanpa menunggu ijin, Bima memutar knop pintu yang ternyata tidak dikunci.Bima menghela napas panjang, saat melihat di atas tempat tidur bernuansa merah muda itu, Nabila sedang meringkuk di bawah selimut, memeluk boneka beruang pemberian Bima tahun lalu."Sayang .... " Panggilan yang biasa dijawab dengan suara ceria, kini diabaikan begitu saja oleh Nabila."Papa mengerti perasaan kamu Nak." Perlahan Bima melangkah mendekati ranjang kemudian duduk di tepi. "Kamu pasti sedih dan kecewa, itu wajar Sayang, tapi kamu harus tahu satu hal .... ""Papa pergi aja!" teriak Nabila dengan suara parau.Bima menghela napas panjang, mengusap punggung kecil yang bergetar itu. "Kakak Nabila ...."Isakan itu semakin kencang. "Papa pergi aja! Cepat pergi! Papa urus aja bayi laki-laki itu. Papa 'kan suka
Pada jam makan malam, Nila dan Bima sudah menyiapkan diri untuk memberitahu kabar bahagia kehamilan itu pada Nabila.Setelah makanan spesial terhidang di atas meja, Nila memanggil anak sambungnya yang masih berada di dalam kamar.Kedatangan Nabila disambut senyum manis sang ayah ... Bima, melebarkan kedua tangan, menyambut pelukan anak Kesayangan."Kesayangan Papa. Kamu sedang apa di kamar tadi? Kok baru keluar?" "Aku lagi belajar matematika Pa. Besok kan ada ujian harian. Aku mau dapat nilai bagus, biar bisa dapat hadiah dari Mami Nila." Tatapan Nabila tertuju pada wanita cantik_sang Ibu sambung. Nila selalu bisa mengambil hati Nabila, memanjakan gadis kecil itu dengan memberikan hadiah-hadiah kecil atas pencapaian yang diraihnya. "Kalau begitu, kamu tunjukkan kamu bisa menjadi anak yang pintar dan membanggakan ya." Bima melepas pelukan, mengecup lembut kening Nabila. "Oke, aku janji aku bakal jadi anak yang pintar dan membanggakan untuk kalian berdua. Dan untuk Mama juga," senyu
Sebulan berlalu begitu cepat. Pagi hari seperti biasa, Nila bangun lebih pagi dari ayam tetangga.Saat beranjak dari tempat tidur, Nila merasakan kepalanya pusing, dan perutnya agak mual.Nila terdiam sejenak. Matanya beralih pada kalender duduk yang ada di atas meja.Di sana lingkaran merah yang terlihat, sudah terlewat beberapa hari. Di tanggal 10 hari terakhir ia datang bulan, tetapi sudah hampir tanggal 15 ia belum juga kedatangan tamu bulanan."Apa mungkin?" Tak ingin menebak-nebak, Nila mengambil testpack dari dalam laci meja dan masuk ke dalam kamar mandi.Setelah mengikuti semua arahan dalam kartu panduan itu, Nila menunggu beberapa menit sebelum membukanya.Nila menatap benda persegi panjang di tangannya dengan jantung yang bertalu hebat.Dua garis merah terlihat jelas saat ia membuka alat tes kehamilan it
"Ahhh!"Suara desahan panjang terdengar di ruang kamar bercahaya temaram itu. Suara yang lolos dari mulut Nila, memecah keheningan kamar. "Mas! Ahhh!" Nila memejamkan kedua mata sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.Khawatir wanitanya melukai bibir sendiri, Bima menghentikan kegiatan gilanya yang tengah menjilat bagian V sang Istri."Nikmati Sayang. Malam ini aku akan membuatmu merasakan apa yang tidak pernah kamu dapatkan dari Yanto," ucap Bima dengan senyuman mesum."Cukup ahhh Mas .... " rengek Nila di sela napasnya yang memburu. Bulir bening menetes di sudut matanya.Bukan karena sakit, melainkan karena rasa syukur yang meluap. Penghinaan Yanto di masa lalu tentang kekurangan fisiknya seketika lebur oleh cara Bima memujanya.Bima menegakkan kepala, wajahnya kemerahan dengan peluh yang membasahi dahi.Ia berpindah posisi, merangkak naik hingga wajahnya sejajar dengan Nila, lalu mengecup lembut air mata di pipi istrinya. "Kenapa menangis, Sayang? Apa aku terlalu kasar?"Nila
Satu minggu berlalu dengan sangat cepat. Hari ini adalah hari pernikahan Bima dan Nila.Bima berdiri di depan cermin, merapikan dasi putihnya. Nabila, yang mengenakan gaun mungil berwarna senada, berlari masuk dan memeluk kaki sang ayah."Papa! Mami Nila cantik sekali! Seperti bidadari!" seru Nabila riang.Bima berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Nabila, mengusap pipi putrinya dengan lembut. "Iya, sayang. Mulai hari ini, Nabila punya Mami yang sah. Nabila senang?""Senang banget! Nabila janji nggak akan nakal lagi dan nangis lagi."Pak Hermawan masuk ke ruangan, terlihat jauh lebih segar dan bahagia. "Sudah siap, Cucuku? Semua tamu penting sudah menunggu. Para kolega dari luar negeri pun sudah hadir."Bima berdiri tegak, menggenggam tangan kakeknya. "Siap, Kek. Terima kasih sudah mengembalikan harga diri keluarga kita."Ija
Sama seperti Yuni yang tenggelam dalam penyesalan, di dinding penjara yang lembap dan berbau pesing menjadi saksi bisu hancurnya hidup Yanto.Pria yang dulunya merasa paling berkuasa saat melayangkan tangan ke wajah Nila itu, kini meringkuk seperti tikus di sudut sel yang gelap.Hukuman lima belas tahun penjara bukan hanya sekadar angka di atas kertas vonis.Baginya, setiap detik di dalam sana adalah neraka yang nyata. Di dalam sel nomor 402 itu, Yanto bukanlah siapa-siapa. Dia berada di kasta terendah.Narapidana kasus KDRT. Di dunia hitam penjara, penyiksa wanita dianggap lebih rendah daripada kotoran sapi."Woi, Tukang Pukul Perempuan! Bangun!" teriak sebuah suara parau yang menggelegar.Seorang pria bertubuh raksasa dengan tato naga yang melilit lehernya, yang biasa dipanggil Bang Jalu, menendang tulang kering Yanto dengan sepatu botnya yang keras.







