LOGIN"Tante, udah ada telepon belum dari Papa?" Nabila menatap jam yang terus berputar.Jarum panjangnya sekarang sudah ada di angka dua, tetapi belum ada tanda-tanda sang Ayah menghubungi, ataupun datang menjemput.Bukan hanya Nabila yang menunggu, Nila pun sudah sejak tadi terlihat gelisah.Ditambah pertanyaan dari Nabila, membuat Nila semakin cemas. Sampai detik ini Bima belum juga memberi kabar kelanjutan dari pembicaraan tadi pagi.Takut Nabila kembali menangis dan menjerit-jerit, Nila pun beranjak dari sofa, tempat ia duduk bersama gadis kecil itu. "Tante coba hubungi Papa kamu ya," ucap Nila dengan senyuman keibuannya. Meski belum memiliki anak, ia tampak sangat menyayangi Nabila, dan sudah menerima kehadiran Nabila sebagai anak sambungnya nanti. Cup! Nila memberi kecupan tanda sayangnya di kening, kemudian ia berdiri sambil mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Langkah kakinya mengarah ke dekat pembatas ruang keluarga dengan ruang tengah lain di rumah luas dan mewah i
"Aku mau Mama! Aku mau Mama!"Suara teriakan Nabila terdengar sampai keluar kamar. Para pelayan menoleh ke arah yang sama, ruang tertutup di dekat tangga lantai dua. Mereka sudah berusaha menenangkan Nabila, tetapi gadis kecil itu tetap menangis histeris. Bahkan kehadiran mereka tidak diinginkan oleh Nabila yang meminta dipertemukan dengan ibunya.Dari arah ruang tamu, Nila melangkah terburu-buru mendekati kamar itu. Semua orang menghela napas lega.Mereka percaya Nila bisa mengatasi amukan Nabila.Perlahan Nila mendekati pintu kamar yang terbuka. Ia menatap gadis kecil itu dengan lirih."Aku mau Mama .... " Nabila melemahkan suara. Napasnya terengah dengan mata memerah seperti api.Suara isak tangis itu bukan lagi sekedar rengekan minta mainan. Itu adalah lengkingan pilu yang menyayat dinding-dinding kamar bernuansa pink putih tersebut.Nabila, yang biasanya ceria, kini tampak seperti prajurit kecil yang terluka dan terkepung."Mama! Aku mau Mama!" Teriakan itu kembali pecah, ser
Saat perjalanan menuju kantor, Bima mendengar suara deringan ponsel yang ia letakan di dalam dasbor mobil. Kendaraan roda empat itu ia berhentikan di pinggir trotoar jalan, kemudian ia mengambil ponsel dan melihat satu nama tertera di layar 'Nila.'Dengan wajah sumringah, Bima menerima telepon itu. Ingin secepatnya memberi kabar bahagia tentang perceraian yang akan selesai dalam waktu dekat. Namun, baru saja ingin berbicara, ia mendengar suara parau Nila. Wanita muda itu meminta Bima untuk secepatnya menghubungi Yuni. "Nabila nangis terus Mas. Tolong kamu bawa Nabila menemui ibunya, kalau dia terus begini, lama-lama dia drop. Kasihan dia Mas."Bima terdiam sambil menghela napas dalam. Sejak semalam ia sudah memikirkan permintaan anaknya itu, tetapi berat baginya menuruti. "Mas, kamu udah janji 'kan sama aku kalau kamu mau mempertemukan Nabila sama Mamanya? Tolong Mas, sekali ini saja, turuti keinginan Nabila. Semua demi kebaikan dia," mohon Nila. Bima tetap diam, hanya helaan nap
Pagi hari setelah semalaman tak bisa tidur nyenyak. Bima keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa.Sarapan yang sudah terhidang di meja makan tidak disentuh. Bahkan, keberadaan Nila di ambang pintu ruang makan tak dihiraukan oleh Bima. Nila hanya diam dengan tatapan kaku. Tak ada sedikitpun kata-kata yang keluar dari mulutnya.Melihat Bima yang melangkah dengan terburu-buru, ia sudah dapat memastikan pria itu memiliki banyak urusan.Setelah Bima pergi, Nila membuat tubuh, melangkah ke ruang makan. Namun, tiba-tiba saja seseorang dari belakang memeluknya dan berbisik mesra. "Maaf aku nggak bisa sarapan pagi ini. Titip Nabila, hmm." Bima mengecup lembut puncak kepala Nila. "Banyak urusan yang harus aku selesaikan sekarang juga.""Mas .... " Baru saja mendongak, kecupan kembali mendarat di kening Nila, begitu lembut dan mesra. Nila pun tersenyum hangat, "Hati-hati. Semoga urusan kamu secepatnya selesai.""Terima kasih Sayang." Kembali Bima mengecup kening Nila. "Aku berangkat dulu." Ia
"Warisan apa?" Kening Lola berkerut. Ucapan Yuni terdengar cukup jelas meski suaranya pelan.Namun, sahabatnya itu diam dengan tatapan kosong ke depan. Lalu, ingatan Lola tertambat pada curhatan yang pernah ia dengar dari Yuni. Soal warisan, kalau tidak salah mengingat, Yuni pernah mengatakan Bima akan mendapatkan warisan entah dari siapa."Warisan itu? Lo pernah ngasih tahu gue soal warisan. Jadi bener kalau Bima dapat warisan gede dan sekarang dia udah jadi orang kaya." Lola menelan ludah keras. Yang diucapkan tadi, jika terbukti benar, Yuni pasti akan pingsan.Yuni menatap sahabatnya. "Kamu percaya soal warisan itu?" Lola mengerutkan dahi. "Dan lo masih denial? Lo nggak percaya sama warisan itu? Terbukti sekarang ... Bima bisa mengalahkan lo dengan mudah, bahkan dia nyerang gue sama Arya juga. Lo nggak tahu 'kan? Arya baru aja ngajuin diri buat jadi pengacara lo, dia mau bantu lo diem-diem, tapi apa? Tiba-tiba aja dia diserang sama seseorang yang katanya itu orang suruhan Bima. S
Setelah Nabila tenang dan kembali tidur, Nila melangkah pelan-pelan keluar dari kamar, menemui Bima yang duduk termenung di ruang tamu.Tatapan pria itu kosong, dengan wajah muram. Sesekali Bima menghela napas panjang, sambil memutar jam yang melingkar di pergelangan tangannya.Nila menghentikan langkah kaki di samping sofa. "Mas .... "Bima mendongak, menatap wanita muda itu. "Hmm.""Boleh aku duduk?" Bima mengangguk pelan. "Duduklah."Perlahan Nila duduk di seberang meja, masih menatap pria di depannya. "Kamu masih mikirin tentang permintaan Nabila?"Bima hanya diam. Terdengar helaan napas panjang dan lirih. Tatapan matanya beralih pada kamar tidur Nabila yang dibiarkan terbuka."Aku nggak nutup pintu kamar karena takut suara Nabila nggak kedengeran. Malam ini aku tidur di kamar anak kamu ya," jelas Nila, sebelum pertanyaan itu keluar dari mulut Bima."Makasih," ucap Bima lirih. Ia menundukkan kepala, menatap lantai.Melihat kesedihan yang terpancar jelas di tatapan mata Bima, perl







