FAZER LOGIN“A-ayah! Ayah masih hidup?” tanyaku. Suaraku sampai tergugup. Aku terkejut tiba-tiba melihatnya datang.Ayah tersenyum dengan anggukan kecilnya.“Kamu lupa siapa Ayah?” Ayah tersenyum tipis.“Ayah tidak benar-benar pergi, Sayang. Maaf, Ayah tidak bermaksud membuatmu dan ibumu sedih dan tidak cepat-cepat pulang. Ayah hanya memerlukan sedikit waktu untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan pada keluarga kita dari jauh,” jawabnya. Dia menunjuk Arion dan Om Remon.Aku tersenyum haru, ada gejolak bahagia ketika melihat pahlawanku masih hidup. Seketika sebutan pembunuh pada dirinya, hilang terkikis haru. Ini terasa seperti mimpi. Namun, dia memang ada di hadapanku, bersuara, bahkan senyumannya bisa kulihat jelas.Ayah menatap nyalang ke arah Arion yang masih tersungkur di lantai.“Anak bodoh! Kamu kira aku tidak tahu tujuanmu mendekati putriku!” maki Ayah.Arion perlahan berdiri, menunduk di hadapan Ayah. Arion tidak bersuara, apakah dia takut?“Kamu merasa pintar karena telah berhasil
Om Remon memutar kursinya menghadapku. Kulihat matanya sembab, dia menangis?“Maaf, Om. Kenapa Om menangisi orang yang pernah bermasalah dengan keluarga Om?” tanyaku, sebelah tanganku menunjuk ke arah foto yang Om Remon pegang.Om Remon lantas melirik Foto tersebut, lantas beralih padaku.“Bermasalah?” tanyanya, aku mengangguk.“Iya, Arion yang bilang!” jawabku.“Arion mengatakan itu padamu?” Aku kembali mengangguk.Dari belakang, kudengar suara langkah kaki berhenti tepat di belakangku. Saat aku menoleh, ternyata Arion.Kini pandangan Om Remon beralih kepada Arion. Cukup lama, cukup membuatku bingung dari caranya menatap Arion.“Dia mati!” ucap Om Remon, seraya kembali menatap foto lelaki itu.“Iya, Om. Aku sudah tahu!” Aku menunduk. Kemungkinan besar Arion telah memberitahu Om Remon nasib orang yang ada di foto tersebut. Namun, yang aku heran, kenapa Om Remon menangisi foto tersebut?“Ayahmu yang membunuhnya!” lanjutnya. Aku semakin menunduk dalam.“Maaf! Maafkan ayahku!” ucapku lir
“Tapi aku tidak tahu Ayah membuang atau menguburnya di mana,” lanjutku.Arion tampak menyibak rambutnya ke belakang. Kudengar hembusan napas panjang dari hidungnya.“Baiklah … ayahmu sudah mewakili. Hanya saja caranya yang salah. Kalau begitu aku pamit, ya! Aku harus ke kantor, ayahku bisa marah jika aku berlama-lama meninggalkan pekerjaanku,” pamit Arion.Aku mengangguk, kupandangi kepergian Arion sampai mobilnya tidak lagi terlihat dari pandangan.Aku kembali ke rumah, kulihat Ibu tidak sedikit pun menyentuh makanan yang ada di atas meja. Hanya Glenn yang sibuk makan. Tatapan Ibu begitu kosong sepeninggal Ayah.Aku berjongkok di depan Ibu, kuraih kedua tangannya.“Aku juga sedih, Bu. Aku menyesal telah membenci Ayah. Tapi semua kehendak Tuhan. Kita tidak bisa terus menerus seperti ini. Ada aku, Glenn, yang membutuhkan Ibu. Jika Ibu serapuh ini, lalu bagaimana dengan kita?”Ibu menunduk, bahunya berguncang hebat. Namun, sesegera mungkin ia menegakkan tubuhnya, menghapus jejak air mat
Samar kudengar suara isak tangis seorang wanita. Serta sentuhan di pergelangan tanganku. Hangat, serta kecil.Perlahan kubuka mata ini, kuedarkan pandanganku, kamarku. Aku berada di dalam kamarku. Gorden yang tertutup rapat, menandakan hari telah malam.“Elia!” Kulihat Arion mendekatiku, tersenyum haru ketika melihatku membuka mata.Di samping kananku kulihat Ibu dan Glenn yang tengah duduk di sampingku. Ibu menangis, aku tahu hatinya terluka.Tidak terasa air mataku mengalir. Tidak kupungkiri, aku pun sama halnya seperti Ibu. Aku memang membenci Ayah. Namun, aku tidak ingin dia meninggal.Aku menangis sesenggukan, teringat uluran tangan yang dia lakukan padaku. Dia menatapku penuh cinta. Namun, aku menatapnya penuh kebencian. Dan kini … semua tinggal kenangan. Ayah tidak akan pernah lagi pulang ke rumah ini.“Bu, kenapa harus Ayah, Bu?” Aku mencoba untuk bangun. Arion segera membantuku.Ibu memelukku begitu erat. Kami saling menumpahkan tangis di kedua bahu yang berbeda pemilik.“Ibu
“Baik, Om Remon!” sahutku. Aku mengangguk kecil.“Oh iya, silahkan duduk, Elia! Bi–”“Em … Ayah, aku sudah menyuruh Bibi buatin minum tadi. Sepertinya sebentar lagi minumannya jadi,” potong Arion.Om Remon mengangguk-anggukkan kepalanya. “Anak pintar!”“Oke, baiklah. Em … Elia, Om mau tahu, Om penasaran juga, apa yang membuatmu jatuh cinta sama anak Om ini? Dia nakal loh, padahal. Bahkan sejak di bangku SMA, Om sangat sering dipanggil oleh guru BP. Hampir setiap hari anak ini membuat ulah. Om sampai bosan terus menerus mendatangi sekolahnya untuk meminta maaf. Kok bisa kamu menaklukan kenakalan dia? Bagaimana caranya?” tanya Om Remon.“Ayah … sudah, tidak usah membongkar masa laluku, aku malu. Aku sudah berubah, loh!” timpal Arion. Hal itu membuat Om Remon terkekeh.Wajah Arion sedikit memerah. Entah kenapa ketika melihatnya seperti itu, dia terlihat lucu dan konyol.“Tidak apa-apa, dong. Daripada orang lain yang membongkar, lebih baik Ayah sendiri memberitahunya. Lagi pula Elia ini p
Aku berlari menghampiri Ibu, kubantu Ibu untuk berdiri.“Ibu sakit?” tanyaku. Aku cemas melihatnya.Ibu menggeleng pelan, wajahnya begitu sayu.“Ibu tidak apa-apa, Sayang. Perasaan Ibu tidak enak, semoga ayahmu baik-baik saja di mana pun berada,” jawabnya.Aku membawa Ibu ke dalam rumah. Kubantu dia untuk duduk di sofa ruang tamu. Sementara Glenn, kubiarkan dia bermain dengan anak tetangga. Aku tidak mau mengganggu waktunya bermain. Kupantau dia dari kaca jendela.“Tidak usah berpikir buruk, Bu. Kita tahu siapa Ayah, dia pasti bisa jaga diri,” ucapku. Berusaha menenangkannya.Ibu mengangguk kecil, walaupun wajahnya masih terlihat murung. Aku mengambilkan air minum untuknya.“Sudah lebih tenang?” tanyaku.“Iya, Sayang. Ibu sudah tenang, terima kasih, ya!” Aku mengangguk, lantas mengusap lengannya dan bersandar pada bahunya.“Permisi!” Aku mengangkat kepalaku, kami berdua serempak menoleh ke ambang pintu.“Arion!” Lelaki itu berdiri di ambang pintu, dengan seulas senyuman yang dia lem







