Mag-log in“Rana!” gumamku.Aku cukup terkejut, Rana, dia adalah teman dekat dari Mawar. Terbaring dengan luka di lehernya.“Kenapa dia bisa melakukan ini?” tanyaku.Tidak ada yang menjawab, aku menoleh ke arah mereka. Namun, tidak kulihat orang-orang yang berkerumun itu ada di gudang. Lebih terkejutnya, pintu gudang ini telah tertutup rapat.“Ke mana, kalian semua?” teriakku.Tak ada jawaban. Kini aku hanya sendiri di gudang ini. Bukan, aku hanya berdua dengan mayat Rana. Aku menelan saliva susah payah. Aku cukup ngeri jika harus berdiam bersama mayat seperti ini.Aku membalikan badan, hendak membuka pintu. Namun, tiba-tiba sesuatu menutupi kepalaku.“Hei, apa-apaan ini? Siapa yang melakukan ini?” Aku memberontak.Sebuah karung goni membuatku tidak bisa melihat apa-apa di sini. Seseorang tengah memegangi kedua tanganku, menarik paksa tubuhku untuk berjalan mundur.“Tolong! Jangan lakukan ini! Aku kesulitan bernapas!” mohonku.Tak ada jawaban, yang ada, tangan itu terus menarik tubuhku, hingga
“Serius, Yah! Memangnya kenapa? Aku tidak apa-apa, kok! Ayo cepetan jalan! Aku capek mau istirahat!”Ayah berhenti menatapku, dia mulai melajukan mobilnya. Entah kenapa, ada perasaan lega ketika Ayah tidak lagi menatapku seperti itu.Aneh, aku seperti bukan melihat sosok ayahku barusan. Namun, aku menggelengkan kepalaku kuat. Mungkin karena lelah, aku jadi berpikiran aneh semacam ini.“Ayah harap di kampus kamu baik-baik saja. Kamu juga kalau mengerjakan apa pun, harus lebih berhati-hati.”“Iya, Yah, aku pasti ingat, kok, pesan Ayah!” sahutku.Jujur, aku tidak ingin mencampur adukkan masalahku di kampus dengan Ayah. Jelas kami berbeda. Aku tahu, setiap manusia pasti akan diberi ujian masing-masing, dan inilah ujianku, menghadapi Mawar dan circle pembully.Tidak berselang lama, akhirnya kami telah sampai di depan rumah. Lekas aku turun, dan mulai memasuki rumah.“Elia, kamu sudah pulang, Sayang? Ya Tuhan … Elia, wajah kamu kenapa, Nak?” Ibu berjalan mendekatiku. Namun, aku menghindar.
“Puas kalian? Puas kalian melakukan ini hampir tiap hari padaku?!”Untuk kali ini aku sudah tidak tahan. Walaupun sebenarnya aku sudah melakukan persiapan membawa baju ganti. Namun, tetap saja, perundungan ini cukup membuatku lelah.Selama ini, aku tidak pernah mengadu kepada siapa pun, termasuk ayahku. Kusimpan rasa sakit ini sendirian. Aku tidak ingin membebani pikiran Ayah, yang setiap hari harus lelah bekerja demi diriku dan juga Ibu.Satu persatu mereka berkumpul, mengelilingiku, menertawakanku, menjadikanku hiburan bagi mereka.“Sayangnya kami belum puas, Elia. Iya nggak, Guys?” ucap Mawar.Mereka menyorakiku. Aku seperti seorang badut tontonan mereka.Mawar, dia adalah mahasiswi populer di kampus ini. Mereka memujinya, mereka juga memujanya layaknya seorang ratu. Dan Mawarlah, pencetus perundungan terhadap diriku, sehingga yang lain ikut merundungku.Selain Mawar adalah anak dari pemilik kampus ini, Mawar juga dinobatkan sebagai wanita yang paling cantik di kampus ini. Bahkan M
SEASON 2(POV Elia)(Hari-hari tenangku di rumah ini telah terampas sejak lima belas tahun yang lalu. Dia kembali, dia membawa luka itu kembali. Menggores hatiku dengan kenangan kelam yang pernah dia lakukan pada Nek Lutfi di depan mataku. Aku benci dia. Tidak seharusnya Ayah membawa kembali pembunuh itu ke rumah ini. Dulu, memang, aku hanya bisa diam. Aku terus bersabar setiap hari harus melihat wajahnya atas permintaan Ayah. Namun, kini aku tidak peduli, aku mulai memberontak, dan tak segan mengatakan, ibuku, seorang pembunuh).Tok! Tok! Tok!“Elia! Kamu sudah siap?”Di luar kamar, beberapa kali Ayah mengetuk pintu, memanggilku.Kututup buku diary ini dan kumasukkan benda tersebut ke dalam tas anti airku.Aku beranjak dari meja belajar, lantas berdiri di depan cermin, merapikan kacamata tebal yang bertengger di batang hidungku. Serta kurapikan kedua kepangan rambut ini. Tidak lupa aku membawa dan memasukkan parfum kecil, handuk kecil dan satu stel baju ganti. Hari ini, aku harus per
Aku membeliak tajam, benarkah apa yang dikatakan Tristan itu?“Permainan?” tanyaku. Sungguh, aku tidak pernah menduga jika semua ini hanyalah sebuah permainan. Yang aku tahu, perjalanan hidup yang aku halani, adalah murni proses perjalanan hidup dari Tuhan. Aku tidak pernah mengira, jauhnya aku dari Tristan, bukanlah sebuah settingan. Namun, semuanya salah. Aku terlalu berprasangka baik.Ya! Terkadang terlalu besar prasangka baik, tidak selalu berakhir dengan baik. Namun, bukan berarti aku membenarkan prasangka buruk.Tristan kembali menyesap rokoknya. Asap kembali membumbung keluar dari mulut dan hidungnya.“Ya! Dean dan orang tuamu bekerja sama dengan si penjual sup itu untuk tujuan tertentu. Penculikan yang terjadi padamu, itu tidak benar-benar ada. Semua itu hanyalah sebuah drama. Drama itu Dean yang ciptakan, dan kedua orang tuamu bertugas menyusun skenario. Dean dan orang tuamu tidak sadar, jika aku selalu mengawasimu, walaupun aku tidak ada di dekatmu. Uang bisa membuat mataku
Aku menggelengkan kepalaku cepat. Ibu merasa dan menganggap dirinya yang paling tersakiti. Namun, dia tidak tahu seberapa sakitnya berada di posisiku.“Bukan begitu, Bu. Aku masih punya suami. Aku masih sah istri Tristan. Aku tidak bisa menikah lagi. Aku berhak menolak pernikahan ini,” sahutku.“Ya kalau begitu gugat cerai saja Tristan. Kan beres!” Ibu seolah tidak puas dengan egonya. Menganggap semua hal yang kuhadapi adalah gampang.Ibu tidak paham, masalah ini tidak sesederhana yang dia pikir. Gugat cerai, lalu menikah dengan Dean, dan hidup bahagia. Tidak! Itu salah besar. Kuremas sprei yang tengah aku duduki. Berusaha menahan emosi. Bagaimanapun aku tidak boleh marah terhadap Ayah dan Ibu. Aku harus bisa menahannya.“Kamu bisa menikah dengan Dean. Tidak apa-apa menikah siri, yang penting kalian bersatu. Terserah sekarang kamu tidak mencintainya. Tapi Ibu yakin, perlahan rasa cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Kamu harus bisa melihat sisi baiknya Dean. Dia banyak b







