MasukAku meraih remot yang tersembunyi di balik ranjang yang berdiri dan terbentang kokoh ini. Dengan satu kali tekan, klik! Ranjang itu telah bergeser ke sisi lain. Memudahkanku untuk mendekati pintu itu.Aku mulai meraba pintu tak terlihat ini di dinding bagian bawah. Jika melihat dengan hanya sekilas, mungkin semua orang tidak akan menyadari dinding ini memiliki sebuah pintu. Namun, jika dilihat lagi dengan teliti, aku bisa melihatnya, aku bisa merasakannya.Perlahan aku menggeser pintu ini, hingga sedikit demi sedikit pintu ini terbuka. Menampakkan suasana di balik pintu tersembunyi ini.Gelap, sejauh mata memandang. Aku tidak tahu ruangan apa dan gunanya untuk apa yang ada di balik pintu ini.Aku tidak mungkin masuk ke dalam sana tanpa membawa alat penerangan. Aku pun mencari sesuatu untuk menerangi ruangan itu terlebih dahulu.Rasa penasaran kian menjadi, aku harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin selagi Tristan tidak ada di rumah ini.Cukup lama berkutat mencari senter. Akh
Setelah terus menerus dihantui suara-suara aneh itu. Akhirnya aku bisa tertidur walaupun harus melewati malam yang penuh misteri ini.Hanya dua jam. Ya! Hanya dua jam aku tertidur, hingga aku terbangun ketika mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Tristan!Aku turun dari ranjang, kudekati ponsel yang semalam aku letakkan tersembunyi di dekat bufet.Tegang, menghiasi gerakanku ketika menutup rekaman video itu. Mungkin aku akan memeriksa rekaman ini nanti, setelah Tristan berangkat ke kantor.“Sudah bangun?” sapa Tristan, dia baru saja keluar dari kamar mandi.Aroma sabun menguar dari tubuh lelaki itu. Wangi, segar, bahkan terlihat lebih seksi ketika rambutnya sedang basah seperti ini.“Aku tidak tahu kamu pulang!” ucapku.Tristan berjalan ke arah lemari, membukanya, mengambil pakaian kerjanya.“Kamu tidur, sangat pulas, bahkan terlalu pulas menurutku,” sahutnya.Dari nada bicaranya, aku menangkap bahwa Tristan kesal padaku.“Maaf!” ucapku.Tristan membalikkan badannya menghadapk
“Remot?”Aku mengernyitkan dahi, kuraih benda yang tergeletak di kolong ranjang yang tak jauh dari dinding tersebut.Aku mengamati remot itu, terdapat sebuah tombol. Namun, berbeda dari remot biasanya yang sering kulihat. Entah gunanya untuk apa, aku baru kali ini melihat benda tersebut di kamar ini.“Tidak mungkin remot TV, apalagi AC!”Penasaran, aku mencoba menekan tombol remot tersebut.“Argh!”Aku tersungkur di lantai, tergeletak kesakitan. Bahkan lenganku sampai mengenai ujung meja. Sakit, sedikit berdarah, aku meringis sambil sedikit terisak.Aku menoleh ke arah ranjang. Posisi benda berukuran besar itu telah berada di posisi semula. Ranjang itu menabrakku? Kok bisa?Terdiam, terpaku, bahkan rasa sakit ini perlahan tidak lagi aku pedulikan.Pandanganku lurus, fokus pada satu objek. Ranjang!Mataku beralih kembali menatap remot yang ada di genggamanku. Kembali kutekan, ranjang itu kembali bergeser ke arah sisi lain, meninggalkan lantai tempat tergeletaknya ponselku.Sedikit aku
Plak!“Sadar, Sophia, sadar! Tidak seharusnya kamu seperti ini!” gumamku.Aku menampar-nampar wajahku sendiri. Berusaha sadar dari ketenggelamanku dalam diam ketika mendengar suara wanita itu.“Aku harus bisa masuk ke dalam ruangan itu.”Aku mencoba membuka pintu tersebut. Namun, aku merasa kemarahanku mulai terkikis ketika kucoba membuka pintu itu. Gila! Aku tidak bisa membukanya dengan cara apa pun. Bahkan aku telah mencoba membukanya dengan cara mencongkel lubang kunci itu menggunakan kawat dan jepitan hitam milikku.Aku cukup kelelahan, bahkan keringat pun telah membasahi tubuhku. Napas yang tersengal, dan dada terasa sesak.“Aku harus bagaimana, ya Tuhan?”Aku kembali masuk ke dalam kamarku. Rasa sesak di dada semakin menghimpit. Namun, ketika kembali kulangkahkan kaki ini ke dalam kamar, kudengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.Aku mengernyitkan dahi, kudekati pintu kamar mandi, kutajamkan pendengaran ini dengan telinga menempel pada daun pintu.“Apa itu Tristan?” guma
Aku terkesiap, sontak aku bangun dan menegakkan tubuhku menjadi posisi duduk.“Suara itu lagi?”Dari sini aku semakin yakin, aku tidak bermimpi pun tidak sedang berhalusinasi.Aku memang mendengarnya, aku sangat sadar! Bahkan untuk meyakinkan diri sendiri, aku sampai mencubit tanganku, dan rasanya sakit. Aku membalikkan badan, hendak membangunkan Tristan. Namun, tidak kulihat lelaki itu di sini. Ternyata aku hanya tidur sendirian.“Ke mana Tristan?”“Ah!”Lagi, aku mendengar suara itu. Suara seorang wanita seperti sedang menikmati sesuatu yang tengah memasuki tubuhnya.Semakin kudiamkan, semakin penasaran tentang sosok pemilik suara itu.“Tristan!” panggilku.Namun, tidak ada sahutan sama sekali. Kini suara itu berhenti, seolah puncak yang dinanti telah berhasil didaki, klimaks.Bergegas aku turun dari ranjang. Aku tidak bisa berdiam seperti ini. Aku harus tahu ada apa di rumah ini? Bukankah penghuni rumah ini hanya kami berdua, aku dan Tristan?Aku keluar dari kamar ini. Diam-diam m
“Tristan, bangun!”Aku menggoyangkan tubuh Tristan. Dia tengah terlelap, terpaksa aku harus membangunkannya.“Tristan, ayo bangun!” paksaku.Perlahan Tristan membuka mata. Tampak masih lengket, dia memicingkan matanya.“Ada apa, Sophia?” tanyanya, suaranya pun serak.“Tristan, aku mendengar suara teriakkan! Apa kamu mendengarnya juga?” Aku balik bertanya.“Teriakkan siapa? Aku kan tidur, kamu juga tidur. Kamu mimpi kali,” jawabnya.Aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan ini.“Aku tidak mimpi, Tristan. Aku memang mendengarnya,” ucapku.Jujur, aku merasa aneh. Ini bukan kali pertama aku mendengar suara teriakkan. Aku tidak mungkin sedang bermimpi. Aku memang mendengarnya.“Sudahlah, Sophia. Ini sudah dini hari. Jangan paksakan matamu untuk terus terjaga. Kamu perlu istirahat!”Tristan menarik tubuhku ke dalam dekapannya.Tristan kembali tertidur, bahkan kulihat Tristan tidak bergerak lagi. Sementara rasa kantukku tiba-tiba hilang. Aku kesulitan untuk memejamkan mataku lagi.
Aku duduk bersimpuh di depan Ayah. Kuraih jari tangan kirinya, hanya ada empat?Aku sampai tergugup ketika bertanya. Bahkan kedua mataku tiba-tiba berembun.Kutatap wajah tua milik Ayah. Sendu, seolah banyak sekali kekhawatiran yang ia simpan di dalam kepalanya.“Tangan ayahmu tidak sengaja terkena
“Ada apa?” tanya Tristan.Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Mengamati sandal yang sangat mirip dengan milik Tristan.“Katakan, apakah sandal ini milikmu?” tanyaku.Sebelah alis Tristan terangkat. Menatap sandal yang ada di teras kontrakan Stella.“Bukan! Sandalku yang asli yang kamu pegang. Me
Aku sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Aku telah terbakar api cemburu. Emosi ini sudah tidak bisa kukontrol.Mungkin jika sebelumnya aku masih bisa bersabar, wanita ini selalu menggoda Tristan. Namun, kali ini aku tidak bisa diam lagi.Sebagai seorang istri, tidak mungkin aku membiarkan kegila
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan. Suara itu tiba-tiba menghilang. Aku tidak lagi mendengarnya. Namun, aku yakin, aku memang mendengarnya.“Aku tidak mungkin salah dengar. Kenapa di sini ada suara jeritan wanita?” gumamku.Bahkan ketika aku melongok ke arah jendela yang sengaja k







