ANMELDEN“Remot?”Aku mengernyitkan dahi, kuraih benda yang tergeletak di kolong ranjang yang tak jauh dari dinding tersebut.Aku mengamati remot itu, terdapat sebuah tombol. Namun, berbeda dari remot biasanya yang sering kulihat. Entah gunanya untuk apa, aku baru kali ini melihat benda tersebut di kamar ini.“Tidak mungkin remot TV, apalagi AC!”Penasaran, aku mencoba menekan tombol remot tersebut.“Argh!”Aku tersungkur di lantai, tergeletak kesakitan. Bahkan lenganku sampai mengenai ujung meja. Sakit, sedikit berdarah, aku meringis sambil sedikit terisak.Aku menoleh ke arah ranjang. Posisi benda berukuran besar itu telah berada di posisi semula. Ranjang itu menabrakku? Kok bisa?Terdiam, terpaku, bahkan rasa sakit ini perlahan tidak lagi aku pedulikan.Pandanganku lurus, fokus pada satu objek. Ranjang!Mataku beralih kembali menatap remot yang ada di genggamanku. Kembali kutekan, ranjang itu kembali bergeser ke arah sisi lain, meninggalkan lantai tempat tergeletaknya ponselku.Sedikit aku
Plak!“Sadar, Sophia, sadar! Tidak seharusnya kamu seperti ini!” gumamku.Aku menampar-nampar wajahku sendiri. Berusaha sadar dari ketenggelamanku dalam diam ketika mendengar suara wanita itu.“Aku harus bisa masuk ke dalam ruangan itu.”Aku mencoba membuka pintu tersebut. Namun, aku merasa kemarahanku mulai terkikis ketika kucoba membuka pintu itu. Gila! Aku tidak bisa membukanya dengan cara apa pun. Bahkan aku telah mencoba membukanya dengan cara mencongkel lubang kunci itu menggunakan kawat dan jepitan hitam milikku.Aku cukup kelelahan, bahkan keringat pun telah membasahi tubuhku. Napas yang tersengal, dan dada terasa sesak.“Aku harus bagaimana, ya Tuhan?”Aku kembali masuk ke dalam kamarku. Rasa sesak di dada semakin menghimpit. Namun, ketika kembali kulangkahkan kaki ini ke dalam kamar, kudengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.Aku mengernyitkan dahi, kudekati pintu kamar mandi, kutajamkan pendengaran ini dengan telinga menempel pada daun pintu.“Apa itu Tristan?” guma
Aku terkesiap, sontak aku bangun dan menegakkan tubuhku menjadi posisi duduk.“Suara itu lagi?”Dari sini aku semakin yakin, aku tidak bermimpi pun tidak sedang berhalusinasi.Aku memang mendengarnya, aku sangat sadar! Bahkan untuk meyakinkan diri sendiri, aku sampai mencubit tanganku, dan rasanya sakit. Aku membalikkan badan, hendak membangunkan Tristan. Namun, tidak kulihat lelaki itu di sini. Ternyata aku hanya tidur sendirian.“Ke mana Tristan?”“Ah!”Lagi, aku mendengar suara itu. Suara seorang wanita seperti sedang menikmati sesuatu yang tengah memasuki tubuhnya.Semakin kudiamkan, semakin penasaran tentang sosok pemilik suara itu.“Tristan!” panggilku.Namun, tidak ada sahutan sama sekali. Kini suara itu berhenti, seolah puncak yang dinanti telah berhasil didaki, klimaks.Bergegas aku turun dari ranjang. Aku tidak bisa berdiam seperti ini. Aku harus tahu ada apa di rumah ini? Bukankah penghuni rumah ini hanya kami berdua, aku dan Tristan?Aku keluar dari kamar ini. Diam-diam m
“Tristan, bangun!”Aku menggoyangkan tubuh Tristan. Dia tengah terlelap, terpaksa aku harus membangunkannya.“Tristan, ayo bangun!” paksaku.Perlahan Tristan membuka mata. Tampak masih lengket, dia memicingkan matanya.“Ada apa, Sophia?” tanyanya, suaranya pun serak.“Tristan, aku mendengar suara teriakkan! Apa kamu mendengarnya juga?” Aku balik bertanya.“Teriakkan siapa? Aku kan tidur, kamu juga tidur. Kamu mimpi kali,” jawabnya.Aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan ini.“Aku tidak mimpi, Tristan. Aku memang mendengarnya,” ucapku.Jujur, aku merasa aneh. Ini bukan kali pertama aku mendengar suara teriakkan. Aku tidak mungkin sedang bermimpi. Aku memang mendengarnya.“Sudahlah, Sophia. Ini sudah dini hari. Jangan paksakan matamu untuk terus terjaga. Kamu perlu istirahat!”Tristan menarik tubuhku ke dalam dekapannya.Tristan kembali tertidur, bahkan kulihat Tristan tidak bergerak lagi. Sementara rasa kantukku tiba-tiba hilang. Aku kesulitan untuk memejamkan mataku lagi.
Aku membeliak, kuedarkan lagi pandangan ini. Ternyata … ternyata Tristan ada di sofa, berbaring, kacau, terluka. Dia memperhatikan kami.“Tristan!” gumamku.Aku berlari mendekatinya. Namun, dia bergeming. Matanya fokus tertuju pada Sena.“Em … dia Sena, temanku dari kampung. Dia yang mengantarku pulang ke sini, sebab di kampungku sulit untuk menemukan angkutan umum yang beroperasi malam,” jelasku.Tristan mengusap sudut bibirnya yang terluka.“Apa yang terjadi di sini? Kenapa kamu terluka?” tanyaku. Namun, pertanyaan ini sempat terpotong oleh suara Sena.“Jadi kamu suaminya Sophia? Wah! Selamat, ya! Tapi … sekedar peringatan, ya! Sophia itu suka buang angin sembarangan, ngupil sembarangan, dan … satu lagi, dia suka makan petai!” seru Sena. Dia tampak sok akrab dengan Tristan.Apa maksud lelaki itu? Kenapa dia membuka semua kebiasaan burukku dulu kepada Tristan?“Oh ya? Kamu tahu banyak tentang istriku?” tanya Tristan.“Tentu! Dulu kami bukan hanya sekedar teman. Kami–”“Ehem! Tristan,
“Sophia! Ini kan sudah malam … jangan pergi ya, Nak! Di sini dulu bersama kami. Begini saja, kamu hubungi saja Tristan lewat telpon, tanya apa masalahnya.”Di saat aku telah kembali membereskan pakaianku ke dalam tas, Ayah tiba-tiba mencegahku pergi.“Tapi, Yah! Aku takut terjadi apa-apa padanya. Dia suamiku, aku harus ada di sampingnya di setiap senang dan masalah. Aku harus menjadi orang nomor satu, yang membuatnya tenang,” sahutku.Ibu mengusap lengan Ayah.“Yah! Benar kata Sophia! Ini sudah menjadi tugas dan kewajiban Sophia menemani suaminya. Kita tidak bisa memaksa Sophia untuk tinggal di sini. Lagi pula, kapan-kapan Sophia bisa pulang lagi ke sini!” timpal Ibu.Ayah menggeleng pelan, ia terduduk di kursi tua.“Tapi, Bu. Perasaanku tidak enak jika Sophia pergi. Bagaimana jika terjadi apa-apa padanya?”“Ayah! Ayah dengar, dengarkan aku, Yah! Semua akan baik-baik saja. Tristan bukan penjahat, dia bukan orang lain, dan aku aman bersamanya. Ayah percaya, kan, sama suamiku?”Ayah men
“Remon!” gumamku.Lelaki itu pun tampak terkejut sama halnya denganku. Tidak kusangka ternyata Remon berkhianat, setelah mengucapkan kata janji akan menungguku kembali, setelah misiku berhasil. Namun, nyatanya dia hanya membual.“Hai, Vir! Bagaimana kabarmu?” sapa Tristan.“Tristan, hai! Kabarku ba
Aku membeliak atas jawaban yang keluar dari mulut Tristan. Cukup membuatku sedih, seolah sikapnya tak sama seperti sebelumnya.Ada apa? Kenapa? Mungkinkah kecurigaanku sejak awal memang benar, jika kematian mereka Tristanlah penyebabnya? Namun, dia tidak ingin aku mengetahuinya.Lebih menyakitkan,
Aku bersembunyi di balik pohon mangga dekat kuburan Shana. Walaupun hari sudah malam. Namun, aku tidak takut berada di kuburan seperti ini. Aku terus memantau pergerakan Tristan di tempat itu. Apa yang akan dia lakukan di depan kontrakan Stella?Tristan mulai mengetuk pintu kontrakan tersebut. Tak
Tristan mengusap bibir bawahku. Kulihat memang ada darah di tangan Tristan. Aku baru sadar, ternyata bibirku berdarah. Bahkan aku tidak merasa sakit sama sekali.“Jangan menyakiti dirimu sendiri, Sophia. Aku tidak suka!” ucap Tristan.Tristan masih sibuk dengan bibirku, sementara aku hanya diam den







