Home / Romansa / Suami Misteriusku / Bab 8 Pintu Usang

Share

Bab 8 Pintu Usang

last update publish date: 2026-03-28 08:32:43

Aku terbangun dengan posisi duduk serta kepala bertumpu pada meja. Kuedarkan pandangan ini menyapu seluruh sudut tempatku berada. Ruang makan?

“Aku ketiduran? Kok bisa?”

Kulihat piring kotor bekasku tadi pagi masih tersimpan di depanku, dengan sisa-sisa makanan yang tak habis aku makan.

Saking penasaran pada lorong itu, aku sampai terbawa mimpi. Kulirik jam telah menunjukkan pukul dua. Aku menghela napas dalam, ternyata aku tidur selama itu. Tidak biasanya.

Aku bangkit untuk membereskan piring-piring tersebut. Aku membawanya ke dapur, lantas segera aku mencucinya.

“Permisi!”

Aku menghentikan kegiatanku mencuci piring. Kubalikkan tubuhku, kulihat seorang lelaki tengah membawa karung berukuran besar entah berisi apa aku tidak tahu, berada di ambang pintu belakang.

“Ya! Siapa, ya?” tanyaku.

“Saya Pak Lutfi, penjual bahan makanan mentah langganan Mas Tristan. Sekarang saya diminta untuk membawakan stok makanan ke rumah ini!” jawabnya.

“Oh begitu? Silahkan masuk, Pak. Simpan saja semuanya,” ucapku.

Pak Lutfi pun masuk, membawa satu karung bahan makanan itu. Dia berjalan ke arah lorong itu. Penasaran, aku pun mengikutinya. Sampai Pak Lutfi berhenti di ujung lorong, lantas membuka sebuah pintu ruangan.

Dia masuk ke dalam ruangan itu, aku terus mengekor.

“Jadi ini tempat penyimpanan bahan makanan?” tanyaku.

“Benar, Mbak. Mbak istri barunya Pak Tristan, ya? Saya sudah sering ke sini, untuk membawakan bahan makanan seperti ini ke sini!” jawabnya.

Kini rasa penasaranku telah terpecahkan. Ternyata ruangan ini hanya ruangan biasa, tidak ada yang mencurigakan. Namun, hanya satu yang kupikirkan, kenapa bentuk, letak dan keadaan ruangan ini sama persis dengan mimpiku?

Tidak hanya satu, ternyata Pak Lutfi mengangkut banyak karung ke dalam ruangan itu.

“Pak, apakah Tristan pesan bahan makanan sebanyak ini?” tanyaku.

Pak Lutfi menghentikan langkahnya, demi menjawab pertanyaanku.

“Benar, Mbak. Mas Tristan memang selalu memesan banyak. Katanya untuk stok!” jawabnya.

Aku mengangguk paham, aku terus memperhatikan Pak Lutfi hingga ia selesai mengangkut barang terakhir.

“Sudah selesai, Mbak. Sekarang saya permisi!” pamit Pak Lutfi.

Lelaki itu pun berlalu dari rumah ini.

Aku berjalan ke teras samping rumah. Berdiri di dekat kran yang sering Tristan gunakan untuk membersihkan darah. Dari sini, kupandangi kontrakan yang pernah aku huni sebelum menikah.

“Sudah berpenghuni,” gumamku.

Seperti aku yang sebelumnya, kontrakan itu diisi oleh seorang wanita muda seorang diri. Dia tengah mencuci piring di kran samping kontrakan tersebut.

Aku jadi berpikir, seandainya aku gagal, apakah wanita itu akan menyaksikan Tristan membersihkan darahku di kran ini? Diam-diam dia akan mengintip Tristan dari balik pohon itu seperti yang sering aku lakukan?

Seketika aku menggelengkan kepalaku kuat. Menghempaskan pikiran buruk ini. Tidak, aku tidak boleh berpikir buruk. Keberanianku memang seujung kuku. Namun, demi keadilan wanita-wanita yang tertanam di tanah itu, aku harus bisa menguak misteri ini.

Sejenak aku duduk di teras, memikirkan langkah apa yang harus kulakukan sekarang?

Sontak aku teringat akan pintu kumuh di samping kamarku dan juga Tristan. Apakah di sana?

Aku menegakkan posisi dudukku, jantungku bertalu dengan kencang. Mungkin benar, kamar itu menyimpan bukti kejahatan Tristan.

Kulirik jam di ponsel telah menunjukkan pukul tiga. Masih ada waktu untuk mencari bukti hari ini. Tristan masih di tempat kerjanya, dan aku akan lebih leluasa menggeledah kamar itu.

Aku beranjak dari posisi dudukku. Aku masuk ke dalam, lantas berjalan cepat mendekati pintu yang kumaksud.

Berdiri di sana, menatap usangnya sebuah pintu yang tertutup rapat. Terlihat lembab, seolah menyimpan sebuah rahasia besar yang tidak ada orang yang mengetahui.

Aku mulai meraba daun pintu tersebut. Kudekatkan wajah ini ke arah sana, nyaris menempel.

Seketika aroma lapuk tercium menyeruak ke dalam rongga hidung. Entah sudah berapa tahun pintu ini terpasang. Tidak terawat, begitu berbeda dengan keadaan pintu-pintu yang lain.

Tanganku mulai menjulur ke handle pintu ini. Terasa dingin ketika benda itu tersentuh oleh telapak tangan ini. Begitu kuputar, ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Pintu ini terkunci, begitu kuat, membuatku kesulitan untuk masuk ke dalam sana.

“Ternyata di–”

“Kunci?”

Aku terkesiap, kubalikkan tubuh ini.

“Sejak kapan kamu pulang?” tanyaku. Jujur aku gemetaran, takut jika Tristan akan marah padaku.

Sebelah alisnya terangkat, dia terus menyorotiku dengan mata menyipit.

“Baru saja!” jawabnya singkat.

Tristan mendekatkan wajahnya ke arahku, aku mundur hingga tubuh ini mentok di daun pintu. Matanya tak beralih menatapku, sampai dia berbisik di sebelah telinga. “Jangan pernah dekati kamar ini!”

Seketika suasana tegang tercipta di antara kami.

“Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Sengaja aku pulang cepat demi kamu!”

Belum sempat aku bertanya perihal kenapa aku tidak boleh mendekati kamar itu, ekspresi Tristan telah berubah begitu cepat. Sehingga ketegangan itu mencair dengan cepatnya. Dia menarik tanganku, membawaku ke dalam mobil.

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Nanti kamu juga akan tahu!” jawabnya.

Tristan mulai melajukan mobilnya. Tangannya tidak bisa diam, dia terus memegangi tanganku. Seolah aku adalah anak kecil yang ditakutkan akan lepas dari pengawasan.

Mobil Tristan berhenti di depan sebuah cafe. Dia mengajakku turun dan memasuki tempat tersebut.

“Ganteng banget!”

“Sumpah, baru kali ini aku lihat cowok seganteng dia.”

“Iya, pacarku aja nggak ada seujung kuku pun!”

Sepanjang kami berjalan masuk, tidak sedikit pengunjung wanita menatap kagum ke arah Tristan. Bahkan tak segan mereka menyapanya. Tidak ada yang peka jika aku adalah istrinya. Mereka hanya tahu Tristan tampan, tanpa tahu Tristan seperti apa.

Kami berdua duduk di meja yang tak jauh dari tempat mereka duduk.

“Mau apa?” tanyanya.

“Apa saja!” jawabku.

Tristan memesankan makanan untukku. Aku merasa gugup, ini kali pertama aku diperlakukan seperti ini. Selama pacaran dengan Remon, kami tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Maklum, kami hanya karyawan pabrik biasa dengan gaji UMR yang terbilang kecil. Jadi kami lebih banyak berhemat daripada menghamburkan uang seperti ini.

“Aku mau ke toilet dulu!” Aku berdiri, meninggalkan Tristan di meja itu.

Sampai di toilet, aku mencuci muka di depan wastafel. Pikiran ini terus melayang ke pintu usang itu. Namun, kurasa Tristan sekarang ini tengah mengalihkan perhatianku dari tempat tersebut.

“Oke, akan aku ikuti permainanmu, Tristan. Tapi suatu saat aku pasti akan bisa memasuki ruangan itu!” batinku penuh tekad.

Aku keluar dari toilet dan berjalan menuju meja kami. Namun, kulihat Tristan sekarang tidak sendiri. Dia bersama mereka, dia terlihat senang, tanpa dia sadari aku berdiri membeku, menatap mereka dengan tangan terkepal kuat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Misteriusku    Bab 98 Terhibur

    “Bibi kenapa bengong?” tanya Randi, yang berhasil menyadarkanku dari lamunan.“Ah iya, Bibi tidak apa-apa, Sayang. Sekarang habiskan sarapannya, ya!” sahutku.Tidak berselang lama Pak Dirja kembali. Dia mulai memasak tulang yang dia potong tadi.“Em … Bapak jualan?” tanyaku.Di dapur, sambil mencuci piring bekas Randi makan, Pak Dirja tengah sibuk membuat bumbu sup.“Iya, saya jualan sup di sini,” jawabnya.“Apakah boleh saya bantu Bapak jualan?” tanyaku.“Saya tidak mampu membayar karyawan. Jadi saya selalu kerjakan semua sendiri. Saya harus menabung untuk pengobatan Randi.”“Em … maaf, Pak. Tapi saya butuh uang untuk ongkos saya pulang. Saya tidak mungkin terus menerus merepotkan Bapak di sini. Saya–”“Sudah saya bilang, saya belum punya uang untuk ongkosmu. Untuk sementara kamu tinggal saja di sini, sampai uang saya terkumpul. Baru nanti kamu boleh pulang,” potongnya.Aku menghembuskan napas kasar. Kuanggukan kepala ini pelan.Mungkin aku harus bersabar dulu. Bisa saja aku menghubu

  • Suami Misteriusku    Bab 97 Nyaris Dibuang

    Mendengar pertanyaanku, gerakan orang itu seketika terhenti. Suasana yang awalnya terdengar gaduh, kini berubah hening.Perlahan orang itu menoleh ke arahku. Mulutnya sibuk memainkan batang korek api. Dia adalah lelaki tua.“Sudah bangun? Saya Pak Dirja,” jawabnya.Orang yang bernama Pak Dirja itu kembali sibuk dengan tulang-tulang besar yang hendak ia potong. Perlahan aku mendekatinya, duduk di hadapannya sambil memperhatikan gerak tangan yang sibuk memotong benda keras berwarna putih serta cuilan-cuilan daging yang masih menempel tersebut.“Kenapa saya bisa ada di sini?” tanyaku.Gerakan Pak Dirja kembali berhenti.“Semalam kamu nyaris dibuang oleh dua orang di jurang di tepi jalan!” jawabnya.Aku mengernyitkan dahiku. Aku tidak paham.“Maksudnya, Pak? Dibuang? Siapa yang mau membuangku?” tanyaku.Pak Dirja kembali memotong tulang-tulang itu. Suasana kembali gaduh.“Saya tidak tahu, kemungkinan perampok. Kamu cek saja, apakah ada barangmu yang hilang? Saya hanya kebetulan lewat sa

  • Suami Misteriusku    Bab 96 Rumah Asing

    Malam yang seharusnya menjadi malam penuh penuh haru, penuh canda, tawa, menjadi obat di mana aku sangat membutuhkan semua itu. Namun, kini berubah dalam sekejap mata. Menjadi malam tangis, ketakutan, dan keputusasaan.Langkah ini begitu berat. Gelap yang semakin menguasai. Aku berjalan ditemani sayup-sayup angin malam yang menerpa seluruh tubuhku. Menerbangkan helai-helai rambut panjangku. Seolah tengah mendramatisir penderitaan yang tengah aku alami. Hebat, aku seperti hidup dalam sinetron. Namun, nyatanya yang kualami bukanlah sinetron.Aku tersenyum, bukan bahagia. Namun, luka. Sakit ini sudah semakin dalam. Menusuk kalbu. Tak pernah sedikit pun aku membayangkan bahwa hidupku akan seperti ini. Aku seolah berjalan mengelilingi garis lingkaran. Sejauh apa pun aku pergi, sepanjang apa pun aku berjalan, pada kenyataannya, aku kembali dan terus kembali pada satu titik. Tristan.Terjerumus dalam lingkaran darah. Terjerembab dalam pelukan yang sama. Sampai pernah terpikirkan, bahwa mati

  • Suami Misteriusku    Bab 95 Durhaka

    “Ada apa, Sophia? Kenapa kamu mengajak kami untuk pergi dari sini?” tanya Ibu.Tidak ada waktu untuk membahas alasannya. Aku ingin mereka mengikuti ajakanku. Aku takut, seseorang tengah mengintai di sekitar rumah ini.Surat itu berisi sebuah peringatan. Tidak ada toleransi untuk orang yang mengusik hubunganku dengan Tristan. Walaupun aku bersikeras untuk kembali kepada Tristan. Namun, ketakutan terbesarku sekarang, jika aku pergi, aku takut Ayah dan Ibu celaka. Aku takut, aku harus bisa melindungi mereka dengan tanganku sendiri.“Tidak ada waktu lagi. Secepat mungkin kita harus pergi dari sini!” ajakku.“Kenapa kami harus pergi dari sini? Ini rumah kami, kenapa kamu seperti ketakutan, Sophia? Bukankah kamu bersikeras ingin kembali lagi pada Tristan?” tanya Ibu.“Iya, Sophia. Kenapa sikapmu aneh seperti ini? Apakah ini ada hubungannya dengan Tristan?” timpal Dean.Aku bingung harus menjelaskannya seperti apa. Apakah mereka akan percaya dengan ancaman yang kudapat?“Tempat ini sudah tid

  • Suami Misteriusku    Bab 94 Malaikat

    Cepat-cepat aku mematikan telepon yang tersambung ke nomor Tristan ini.“Kenapa, Sop?” tanya Ibu.Cepat-cepat aku menggelengkan kepalaku. Aku memasukkan ponsel ini ke dalam saku celana.“Wajahmu tiba-tiba pucat. Ada apa dengan ponselmu?” tanya Dean.“Tidak apa-apa, aku hanya ingat Elia saja saat melihat fotonya barusan!” jawabku berdalih.Aku harap mereka tidak curiga atas apa yang Tristan lakukan pada ponselku, dan melakukan hal yang dapat membahayakan keselamatan mereka.“Kita berangkat sekarang!” ajakku.Aku dan Dean segera keluar, berjalan kaki menuju kediaman Sena.“Dean, kapan kamu kembali ke desamu?” tanyaku.Kami berdua jalan bersebelahan.“Sepertinya kamu berharap sekali aku pergi dari sini. Apakah kedatanganku sangat mengganggumu?” tanyanya.“Bukan! Bukan seperti itu. Aku hanya … aku hanya … ah, lupakan!” jawabku.Bahkan berjalan kaki seperti ini pun perasaanku seperti ada yang mengintai. Namun, aku tidak tahu dari arah mana, siapa, dan berapa orang. Yang aku tahu hanya satu

  • Suami Misteriusku    Bab 93 Terhimpit

    “Tristan!” ucapku.“Apakah aku terlihat seperti Tristan?”Aku membeliak, kuperhatikan dengan baik-baik siapa yang berdiri di ambang pintu.“Dean!” gumamku.Aku tidak mengerti, kenapa dia tahu aku ada di sini. Aku juga tidak paham, kenapa Dean tahu alamat rumah orang tuaku.“Aku mengikuti mobil suamimu. Jadi aku tahu sekarang ini kamu ada di sini,” ucap Dean, tanpa aku bertanya.Aku membeliak, berarti selama ini Dean telah mengetahui alamat rumahku dan Tristan. Itu artinya saat kejadian Lara, dia ….Aku terdiam, meremas sprei yang kududuki.“Aku tidak menyangka, ternyata suamimu yang dikenal baik dan dermawan oleh warga desa, tidak lain adalah seorang psikopat!” cetusnya.Aku menggelengkan kepalaku. Tristan memang beberapa kali telah menghabisi nyawa orang-orang. Namun, akar masalahnya adalah aku. Tristan tidak memiliki riwayat penyakit mental. Dia dikenal baik. Namun, dia tidak bisa menerima jika ada orang yang menggangguku.“Dia melakukanya karenaku. Kamu tidak tahu apa-apa tentangny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status