ログインAku terbangun dengan posisi duduk serta kepala bertumpu pada meja. Kuedarkan pandangan ini menyapu seluruh sudut tempatku berada. Ruang makan?
“Aku ketiduran? Kok bisa?” Kulihat piring kotor bekasku tadi pagi masih tersimpan di depanku, dengan sisa-sisa makanan yang tak habis aku makan. Saking penasaran pada lorong itu, aku sampai terbawa mimpi. Kulirik jam telah menunjukkan pukul dua. Aku menghela napas dalam, ternyata aku tidur selama itu. Tidak biasanya. Aku bangkit untuk membereskan piring-piring tersebut. Aku membawanya ke dapur, lantas segera aku mencucinya. “Permisi!” Aku menghentikan kegiatanku mencuci piring. Kubalikkan tubuhku, kulihat seorang lelaki tengah membawa karung berukuran besar entah berisi apa aku tidak tahu, berada di ambang pintu belakang. “Ya! Siapa, ya?” tanyaku. “Saya Pak Lutfi, penjual bahan makanan mentah langganan Mas Tristan. Sekarang saya diminta untuk membawakan stok makanan ke rumah ini!” jawabnya. “Oh begitu? Silahkan masuk, Pak. Simpan saja semuanya,” ucapku. Pak Lutfi pun masuk, membawa satu karung bahan makanan itu. Dia berjalan ke arah lorong itu. Penasaran, aku pun mengikutinya. Sampai Pak Lutfi berhenti di ujung lorong, lantas membuka sebuah pintu ruangan. Dia masuk ke dalam ruangan itu, aku terus mengekor. “Jadi ini tempat penyimpanan bahan makanan?” tanyaku. “Benar, Mbak. Mbak istri barunya Pak Tristan, ya? Saya sudah sering ke sini, untuk membawakan bahan makanan seperti ini ke sini!” jawabnya. Kini rasa penasaranku telah terpecahkan. Ternyata ruangan ini hanya ruangan biasa, tidak ada yang mencurigakan. Namun, hanya satu yang kupikirkan, kenapa bentuk, letak dan keadaan ruangan ini sama persis dengan mimpiku? Tidak hanya satu, ternyata Pak Lutfi mengangkut banyak karung ke dalam ruangan itu. “Pak, apakah Tristan pesan bahan makanan sebanyak ini?” tanyaku. Pak Lutfi menghentikan langkahnya, demi menjawab pertanyaanku. “Benar, Mbak. Mas Tristan memang selalu memesan banyak. Katanya untuk stok!” jawabnya. Aku mengangguk paham, aku terus memperhatikan Pak Lutfi hingga ia selesai mengangkut barang terakhir. “Sudah selesai, Mbak. Sekarang saya permisi!” pamit Pak Lutfi. Lelaki itu pun berlalu dari rumah ini. Aku berjalan ke teras samping rumah. Berdiri di dekat kran yang sering Tristan gunakan untuk membersihkan darah. Dari sini, kupandangi kontrakan yang pernah aku huni sebelum menikah. “Sudah berpenghuni,” gumamku. Seperti aku yang sebelumnya, kontrakan itu diisi oleh seorang wanita muda seorang diri. Dia tengah mencuci piring di kran samping kontrakan tersebut. Aku jadi berpikir, seandainya aku gagal, apakah wanita itu akan menyaksikan Tristan membersihkan darahku di kran ini? Diam-diam dia akan mengintip Tristan dari balik pohon itu seperti yang sering aku lakukan? Seketika aku menggelengkan kepalaku kuat. Menghempaskan pikiran buruk ini. Tidak, aku tidak boleh berpikir buruk. Keberanianku memang seujung kuku. Namun, demi keadilan wanita-wanita yang tertanam di tanah itu, aku harus bisa menguak misteri ini. Sejenak aku duduk di teras, memikirkan langkah apa yang harus kulakukan sekarang? Sontak aku teringat akan pintu kumuh di samping kamarku dan juga Tristan. Apakah di sana? Aku menegakkan posisi dudukku, jantungku bertalu dengan kencang. Mungkin benar, kamar itu menyimpan bukti kejahatan Tristan. Kulirik jam di ponsel telah menunjukkan pukul tiga. Masih ada waktu untuk mencari bukti hari ini. Tristan masih di tempat kerjanya, dan aku akan lebih leluasa menggeledah kamar itu. Aku beranjak dari posisi dudukku. Aku masuk ke dalam, lantas berjalan cepat mendekati pintu yang kumaksud. Berdiri di sana, menatap usangnya sebuah pintu yang tertutup rapat. Terlihat lembab, seolah menyimpan sebuah rahasia besar yang tidak ada orang yang mengetahui. Aku mulai meraba daun pintu tersebut. Kudekatkan wajah ini ke arah sana, nyaris menempel. Seketika aroma lapuk tercium menyeruak ke dalam rongga hidung. Entah sudah berapa tahun pintu ini terpasang. Tidak terawat, begitu berbeda dengan keadaan pintu-pintu yang lain. Tanganku mulai menjulur ke handle pintu ini. Terasa dingin ketika benda itu tersentuh oleh telapak tangan ini. Begitu kuputar, ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Pintu ini terkunci, begitu kuat, membuatku kesulitan untuk masuk ke dalam sana. “Ternyata di–” “Kunci?” Aku terkesiap, kubalikkan tubuh ini. “Sejak kapan kamu pulang?” tanyaku. Jujur aku gemetaran, takut jika Tristan akan marah padaku. Sebelah alisnya terangkat, dia terus menyorotiku dengan mata menyipit. “Baru saja!” jawabnya singkat. Tristan mendekatkan wajahnya ke arahku, aku mundur hingga tubuh ini mentok di daun pintu. Matanya tak beralih menatapku, sampai dia berbisik di sebelah telinga. “Jangan pernah dekati kamar ini!” Seketika suasana tegang tercipta di antara kami. “Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Sengaja aku pulang cepat demi kamu!” Belum sempat aku bertanya perihal kenapa aku tidak boleh mendekati kamar itu, ekspresi Tristan telah berubah begitu cepat. Sehingga ketegangan itu mencair dengan cepatnya. Dia menarik tanganku, membawaku ke dalam mobil. “Mau ke mana?” tanyaku. “Nanti kamu juga akan tahu!” jawabnya. Tristan mulai melajukan mobilnya. Tangannya tidak bisa diam, dia terus memegangi tanganku. Seolah aku adalah anak kecil yang ditakutkan akan lepas dari pengawasan. Mobil Tristan berhenti di depan sebuah cafe. Dia mengajakku turun dan memasuki tempat tersebut. “Ganteng banget!” “Sumpah, baru kali ini aku lihat cowok seganteng dia.” “Iya, pacarku aja nggak ada seujung kuku pun!” Sepanjang kami berjalan masuk, tidak sedikit pengunjung wanita menatap kagum ke arah Tristan. Bahkan tak segan mereka menyapanya. Tidak ada yang peka jika aku adalah istrinya. Mereka hanya tahu Tristan tampan, tanpa tahu Tristan seperti apa. Kami berdua duduk di meja yang tak jauh dari tempat mereka duduk. “Mau apa?” tanyanya. “Apa saja!” jawabku. Tristan memesankan makanan untukku. Aku merasa gugup, ini kali pertama aku diperlakukan seperti ini. Selama pacaran dengan Remon, kami tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Maklum, kami hanya karyawan pabrik biasa dengan gaji UMR yang terbilang kecil. Jadi kami lebih banyak berhemat daripada menghamburkan uang seperti ini. “Aku mau ke toilet dulu!” Aku berdiri, meninggalkan Tristan di meja itu. Sampai di toilet, aku mencuci muka di depan wastafel. Pikiran ini terus melayang ke pintu usang itu. Namun, kurasa Tristan sekarang ini tengah mengalihkan perhatianku dari tempat tersebut. “Oke, akan aku ikuti permainanmu, Tristan. Tapi suatu saat aku pasti akan bisa memasuki ruangan itu!” batinku penuh tekad. Aku keluar dari toilet dan berjalan menuju meja kami. Namun, kulihat Tristan sekarang tidak sendiri. Dia bersama mereka, dia terlihat senang, tanpa dia sadari aku berdiri membeku, menatap mereka dengan tangan terkepal kuat.“A-ayah! Ayah masih hidup?” tanyaku. Suaraku sampai tergugup. Aku terkejut tiba-tiba melihatnya datang.Ayah tersenyum dengan anggukan kecilnya.“Kamu lupa siapa Ayah?” Ayah tersenyum tipis.“Ayah tidak benar-benar pergi, Sayang. Maaf, Ayah tidak bermaksud membuatmu dan ibumu sedih dan tidak cepat-cepat pulang. Ayah hanya memerlukan sedikit waktu untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan pada keluarga kita dari jauh,” jawabnya. Dia menunjuk Arion dan Om Remon.Aku tersenyum haru, ada gejolak bahagia ketika melihat pahlawanku masih hidup. Seketika sebutan pembunuh pada dirinya, hilang terkikis haru. Ini terasa seperti mimpi. Namun, dia memang ada di hadapanku, bersuara, bahkan senyumannya bisa kulihat jelas.Ayah menatap nyalang ke arah Arion yang masih tersungkur di lantai.“Anak bodoh! Kamu kira aku tidak tahu tujuanmu mendekati putriku!” maki Ayah.Arion perlahan berdiri, menunduk di hadapan Ayah. Arion tidak bersuara, apakah dia takut?“Kamu merasa pintar karena telah berhasil
Om Remon memutar kursinya menghadapku. Kulihat matanya sembab, dia menangis?“Maaf, Om. Kenapa Om menangisi orang yang pernah bermasalah dengan keluarga Om?” tanyaku, sebelah tanganku menunjuk ke arah foto yang Om Remon pegang.Om Remon lantas melirik Foto tersebut, lantas beralih padaku.“Bermasalah?” tanyanya, aku mengangguk.“Iya, Arion yang bilang!” jawabku.“Arion mengatakan itu padamu?” Aku kembali mengangguk.Dari belakang, kudengar suara langkah kaki berhenti tepat di belakangku. Saat aku menoleh, ternyata Arion.Kini pandangan Om Remon beralih kepada Arion. Cukup lama, cukup membuatku bingung dari caranya menatap Arion.“Dia mati!” ucap Om Remon, seraya kembali menatap foto lelaki itu.“Iya, Om. Aku sudah tahu!” Aku menunduk. Kemungkinan besar Arion telah memberitahu Om Remon nasib orang yang ada di foto tersebut. Namun, yang aku heran, kenapa Om Remon menangisi foto tersebut?“Ayahmu yang membunuhnya!” lanjutnya. Aku semakin menunduk dalam.“Maaf! Maafkan ayahku!” ucapku lir
“Tapi aku tidak tahu Ayah membuang atau menguburnya di mana,” lanjutku.Arion tampak menyibak rambutnya ke belakang. Kudengar hembusan napas panjang dari hidungnya.“Baiklah … ayahmu sudah mewakili. Hanya saja caranya yang salah. Kalau begitu aku pamit, ya! Aku harus ke kantor, ayahku bisa marah jika aku berlama-lama meninggalkan pekerjaanku,” pamit Arion.Aku mengangguk, kupandangi kepergian Arion sampai mobilnya tidak lagi terlihat dari pandangan.Aku kembali ke rumah, kulihat Ibu tidak sedikit pun menyentuh makanan yang ada di atas meja. Hanya Glenn yang sibuk makan. Tatapan Ibu begitu kosong sepeninggal Ayah.Aku berjongkok di depan Ibu, kuraih kedua tangannya.“Aku juga sedih, Bu. Aku menyesal telah membenci Ayah. Tapi semua kehendak Tuhan. Kita tidak bisa terus menerus seperti ini. Ada aku, Glenn, yang membutuhkan Ibu. Jika Ibu serapuh ini, lalu bagaimana dengan kita?”Ibu menunduk, bahunya berguncang hebat. Namun, sesegera mungkin ia menegakkan tubuhnya, menghapus jejak air mat
Samar kudengar suara isak tangis seorang wanita. Serta sentuhan di pergelangan tanganku. Hangat, serta kecil.Perlahan kubuka mata ini, kuedarkan pandanganku, kamarku. Aku berada di dalam kamarku. Gorden yang tertutup rapat, menandakan hari telah malam.“Elia!” Kulihat Arion mendekatiku, tersenyum haru ketika melihatku membuka mata.Di samping kananku kulihat Ibu dan Glenn yang tengah duduk di sampingku. Ibu menangis, aku tahu hatinya terluka.Tidak terasa air mataku mengalir. Tidak kupungkiri, aku pun sama halnya seperti Ibu. Aku memang membenci Ayah. Namun, aku tidak ingin dia meninggal.Aku menangis sesenggukan, teringat uluran tangan yang dia lakukan padaku. Dia menatapku penuh cinta. Namun, aku menatapnya penuh kebencian. Dan kini … semua tinggal kenangan. Ayah tidak akan pernah lagi pulang ke rumah ini.“Bu, kenapa harus Ayah, Bu?” Aku mencoba untuk bangun. Arion segera membantuku.Ibu memelukku begitu erat. Kami saling menumpahkan tangis di kedua bahu yang berbeda pemilik.“Ibu
“Baik, Om Remon!” sahutku. Aku mengangguk kecil.“Oh iya, silahkan duduk, Elia! Bi–”“Em … Ayah, aku sudah menyuruh Bibi buatin minum tadi. Sepertinya sebentar lagi minumannya jadi,” potong Arion.Om Remon mengangguk-anggukkan kepalanya. “Anak pintar!”“Oke, baiklah. Em … Elia, Om mau tahu, Om penasaran juga, apa yang membuatmu jatuh cinta sama anak Om ini? Dia nakal loh, padahal. Bahkan sejak di bangku SMA, Om sangat sering dipanggil oleh guru BP. Hampir setiap hari anak ini membuat ulah. Om sampai bosan terus menerus mendatangi sekolahnya untuk meminta maaf. Kok bisa kamu menaklukan kenakalan dia? Bagaimana caranya?” tanya Om Remon.“Ayah … sudah, tidak usah membongkar masa laluku, aku malu. Aku sudah berubah, loh!” timpal Arion. Hal itu membuat Om Remon terkekeh.Wajah Arion sedikit memerah. Entah kenapa ketika melihatnya seperti itu, dia terlihat lucu dan konyol.“Tidak apa-apa, dong. Daripada orang lain yang membongkar, lebih baik Ayah sendiri memberitahunya. Lagi pula Elia ini p
Aku berlari menghampiri Ibu, kubantu Ibu untuk berdiri.“Ibu sakit?” tanyaku. Aku cemas melihatnya.Ibu menggeleng pelan, wajahnya begitu sayu.“Ibu tidak apa-apa, Sayang. Perasaan Ibu tidak enak, semoga ayahmu baik-baik saja di mana pun berada,” jawabnya.Aku membawa Ibu ke dalam rumah. Kubantu dia untuk duduk di sofa ruang tamu. Sementara Glenn, kubiarkan dia bermain dengan anak tetangga. Aku tidak mau mengganggu waktunya bermain. Kupantau dia dari kaca jendela.“Tidak usah berpikir buruk, Bu. Kita tahu siapa Ayah, dia pasti bisa jaga diri,” ucapku. Berusaha menenangkannya.Ibu mengangguk kecil, walaupun wajahnya masih terlihat murung. Aku mengambilkan air minum untuknya.“Sudah lebih tenang?” tanyaku.“Iya, Sayang. Ibu sudah tenang, terima kasih, ya!” Aku mengangguk, lantas mengusap lengannya dan bersandar pada bahunya.“Permisi!” Aku mengangkat kepalaku, kami berdua serempak menoleh ke ambang pintu.“Arion!” Lelaki itu berdiri di ambang pintu, dengan seulas senyuman yang dia lem
“Jangan-jangan dia orang jahat yang lagi pura-pura pingsan!” batinku menerka-nerka.Aku menoleh ke sana kemari, tidak ada orang lain selain aku dan orang itu.Tidak, aku tidak sepolos itu. Fix! Dia pasti pura-pura pingsan demi menjarah barang-barang orang yang lewat, lebih parahnya membahayakan nya
Aku heran dengan sikap mereka berdua. Kulihat tangan Tante Ella gemetar. Kemungkinan dia gugup karena melihat ketampanan ayahku. Bahkan kudengar Tante Ella menyebut nama ayahku.“Tante … kenal dengan ayahku?”“Ja-jadi … Elia anakmu? Apakah dia anakmu bersama Sophia?” tanya Tante Ella, matanya tak l
Neni membeliak, spontan ia menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.“Elia, kamu bercanda, kan? Sumpah ini tidak lucu!” sergah Neni.Cepat-cepat aku menggeleng, kutatap wanita yang ada di hadapanku ini dengan harapan yang begitu besar.“Aku tidak bercanda, Nen. Aku memang menginginkan ayahku menik
Aku penasaran dengan luka itu. Namun, rasa ingin buang air ini mengalahkan rasa penasaranku.Cepat-cepat aku menuntaskan urusanku di kamar mandi. Setelah merasa lega, aku kembali ke ruang tamu.“Bu, malam ini boleh, ya, Elia nginep di sini!” pinta Neni, ketika kami tengah berkumpul.“Em … memangnya







