Masuk“Aku tahu kamu dari mana!” bisik Tristan.
Aku membeliak, aku membalikkan tubuhku menghadapnya. Tristan tidak tidur, dia terjaga dengan senyuman kecil yang terlihat menakutkan. “A-aku–” Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Tristan telah mengungkungku, mengunci pergerakanku. Kembali aku dilanda was-was. “Aku tahu, Sophia ….” Dia tersenyum tipis. Wajah kami saling berhadapan, nyaris menempel, bahkan hembusan napasnya begitu terasa menerpa di kulit wajahku. “A-aku bisa jelaskan. Aku ke belakang karena–” “Lapar?” potongnya. Aku terbelalak, aku pikir Tristan mengetahui apa yang akan aku lakukan di lorong itu. Aku mengerjapkan mata beberapa saat. “Iya, aku lapar. Semenjak kamu membawaku ke sini, kamu sama sekali tidak menawariku makan. Apa kamu menginginkan aku mati?” celetukku. Kalimat itu meluncur begitu saja. Ucapan Tristan seolah membuka peluang untukku berkata bohong. “Ah iya, maaf aku lupa. Jangan berkata seperti itu, ya! Tadi aku terlalu tergoda ingin melakukan malam pertama denganmu.” Tristan kembali tersenyum tipis, dan aku hanya membeku menatapnya. “Kamu tunggu di sini, aku akan buatkan makanan untukmu!” imbuhnya. Sebelum aku mengangguk, Tristan terlebih dulu keluar dari kamar. Aku menghembuskan napas lega, aku terduduk sambil mengatur napas. “Selamat!” gumamku. Aku masih belum beranjak dari tempat tidur ini, sampai Tristan kembali dan mengajakku ke ruang makan. “Makanan sudah siap buat Tuan Putri. Mari!” Perlakuan Tristan terlihat memanjakanku. Bahkan dia membantuku turun dari ranjang ini. Padahal tinggi ranjang ini tidak terlalu tinggi. Sungguh manis. Akan tetapi aku harus berhati-hati. Bisa saja sikapnya yang dia tunjukkan sekarang hanya kamuflase. Tristan menggandengku, langkah kami terhenti ketika kami telah berada di ruang makan. “Makan! Aku harap kamu suka dengan masakanku!” pintanya. Aku menatap semua isi piring di depanku. Terlihat enak. Namun, jika harus jujur aku tidak merasa lapar. “Kenapa diam? Kamu … tidak suka?” tanyanya. Cepat-cepat aku menyendok, supaya Tristan tidak menaruh curiga padaku. “Aku suka!” Dengan enggan aku melahapnya, sampai makanan ini hanya tersisa setengahnya. “Aku sudah kenyang, aku juga ngantuk!” seruku. “Baiklah, kita istirahat sekarang!” Aku sudah seperti tawanan, setiap aku berjalan, tangan Tristan tidak hentinya menempel pada tanganku. Jujur aku risih, selain aku tidak mencintainya, aku juga takut padanya. Pagi hari ketika aku membuka mata, pertama kali yang kulihat di pagi ini adalah ruangan besar milik Tristan. Aku masih tidak menyangka, bahwa aku memang telah menjadi istri Tristan. Keputusan yang sangat nekat, seolah nyawaku sedang aku pertaruhkan. Aku bangkit, bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku mengedarkan pandangan ketika aku keluar dari kamar. Tidak ada Tristan, rumah ini sangat sepi. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku, aku membukanya. Dari Tristan, dia mengirimkan pesan singkat untukku. (Maaf, aku tidak bisa menemanimu sarapan. Ada meeting mendadak bersama klien pagi ini. Tapi aku sudah menyiapkan sarapan buatmu). Setelah membaca pesan tersebut, aku pun berjalan menuju ruang makan. Benar saja, di sana telah terhidang sarapan untukku. Bisa-bisanya Tristan menyiapkan semua ini sebelum pergi bekerja. Padahal jika dipikir, Tristan orang kaya raya, dia pasti mampu menyewa seorang asisten rumah tangga. Namun, semenjak aku mengenal Tristan, yang aku tahu dia belum pernah sama sekali mempekerjakan ART di rumah ini. Aku menggeleng cepat. Sudah pasti Tristan tidak mau menyewa ART, karena dia pasti tidak ingin kebusukannya terbongkar. Aku pun sarapan dengan begitu singkat. Bagiku waktu adalah sesuatu yang berharga. Tidak ada Tristan, maka aku leluasa untuk mencari bukti tentang semua kejahatannya. Hal pertama yang masih kupikirkan adalah lorong gelap itu. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk aku memasukinya. Tidak perlu takut dan tidak usah membawa senter. “Semoga berhasil!” Kalimat harapan itu terucap begitu saja. Aku mulai mendekati lorong. Di sana tampak sangat bersih, tidak menyeramkan. Sangat kontras jika waktu telah malam. Aku menyusuri tempat itu. Lorong yang cukup panjang. Seolah aku berjalan dihimpit oleh sesuatu yang tidak terlihat. Mungkin kematian telah menungguku di sana. Namun, aku tidak akan pernah membiarkan Tristan berhasil menghabisi nyawaku. Tekadku, aku akan pulang dengan kemenangan, dan Tristan mendapatkan hukuman yang layak dia terima. Kini aku telah berada di ujung, lorong ini terputus oleh sebuah pintu yang entah itu pintu masuk ke ruangan apa. Mungkin ruang gudang, atau mungkin ruang pesugihan. Kuputar handle pintu ini. Keyakinanku pasti aku akan membutuhkan sesuatu untuk membukanya. Tristan tidak akan membiarkan ruangan seperti ini dibiarkan tidak terkunci. Klik! Salah besar, pintu ini benar-benar terbuka dalam satu putaran saja. Aneh! “Rileks! Semua akan baik-baik saja, Sophia! Kamu wanita kuat,” gumamku. Degup jantung ini cukup sulit kukontrol. Bahkan tanganku tiba-tiba bergetar serta berkeringat. Ini pengalaman pertamaku melakukan hal seperti ini. Aku merasa aku tengah bermain detektif. Kuayunkan kaki ini ke dalam ruangan tersebut. Kulihat hanya kosong, hanya ruangan berbentuk persegi dengan perkiraan berukuran 4x4m². Terasa hampa. Aku mengedarkan pandangan menyapu seluruh sudut ruangan ini. Tidak ada apa pun, entah fungsinya untuk apa tempat seperti ini. Semakin aku masuk ke dalam, entah kenapa perasaanku berubah tidak nyaman. Ada yang aneh di dalam diriku. Kepalaku tiba-tiba pusing, ruangan ini terlihat berputar, seolah mengejek keberanianku yang belum ada apa-apanya. “Kenapa ini?” Hanya pertanyaan itu yang terakhir terucap sebelum pandanganku mengabur.“A-ayah! Ayah masih hidup?” tanyaku. Suaraku sampai tergugup. Aku terkejut tiba-tiba melihatnya datang.Ayah tersenyum dengan anggukan kecilnya.“Kamu lupa siapa Ayah?” Ayah tersenyum tipis.“Ayah tidak benar-benar pergi, Sayang. Maaf, Ayah tidak bermaksud membuatmu dan ibumu sedih dan tidak cepat-cepat pulang. Ayah hanya memerlukan sedikit waktu untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan pada keluarga kita dari jauh,” jawabnya. Dia menunjuk Arion dan Om Remon.Aku tersenyum haru, ada gejolak bahagia ketika melihat pahlawanku masih hidup. Seketika sebutan pembunuh pada dirinya, hilang terkikis haru. Ini terasa seperti mimpi. Namun, dia memang ada di hadapanku, bersuara, bahkan senyumannya bisa kulihat jelas.Ayah menatap nyalang ke arah Arion yang masih tersungkur di lantai.“Anak bodoh! Kamu kira aku tidak tahu tujuanmu mendekati putriku!” maki Ayah.Arion perlahan berdiri, menunduk di hadapan Ayah. Arion tidak bersuara, apakah dia takut?“Kamu merasa pintar karena telah berhasil
Om Remon memutar kursinya menghadapku. Kulihat matanya sembab, dia menangis?“Maaf, Om. Kenapa Om menangisi orang yang pernah bermasalah dengan keluarga Om?” tanyaku, sebelah tanganku menunjuk ke arah foto yang Om Remon pegang.Om Remon lantas melirik Foto tersebut, lantas beralih padaku.“Bermasalah?” tanyanya, aku mengangguk.“Iya, Arion yang bilang!” jawabku.“Arion mengatakan itu padamu?” Aku kembali mengangguk.Dari belakang, kudengar suara langkah kaki berhenti tepat di belakangku. Saat aku menoleh, ternyata Arion.Kini pandangan Om Remon beralih kepada Arion. Cukup lama, cukup membuatku bingung dari caranya menatap Arion.“Dia mati!” ucap Om Remon, seraya kembali menatap foto lelaki itu.“Iya, Om. Aku sudah tahu!” Aku menunduk. Kemungkinan besar Arion telah memberitahu Om Remon nasib orang yang ada di foto tersebut. Namun, yang aku heran, kenapa Om Remon menangisi foto tersebut?“Ayahmu yang membunuhnya!” lanjutnya. Aku semakin menunduk dalam.“Maaf! Maafkan ayahku!” ucapku lir
“Tapi aku tidak tahu Ayah membuang atau menguburnya di mana,” lanjutku.Arion tampak menyibak rambutnya ke belakang. Kudengar hembusan napas panjang dari hidungnya.“Baiklah … ayahmu sudah mewakili. Hanya saja caranya yang salah. Kalau begitu aku pamit, ya! Aku harus ke kantor, ayahku bisa marah jika aku berlama-lama meninggalkan pekerjaanku,” pamit Arion.Aku mengangguk, kupandangi kepergian Arion sampai mobilnya tidak lagi terlihat dari pandangan.Aku kembali ke rumah, kulihat Ibu tidak sedikit pun menyentuh makanan yang ada di atas meja. Hanya Glenn yang sibuk makan. Tatapan Ibu begitu kosong sepeninggal Ayah.Aku berjongkok di depan Ibu, kuraih kedua tangannya.“Aku juga sedih, Bu. Aku menyesal telah membenci Ayah. Tapi semua kehendak Tuhan. Kita tidak bisa terus menerus seperti ini. Ada aku, Glenn, yang membutuhkan Ibu. Jika Ibu serapuh ini, lalu bagaimana dengan kita?”Ibu menunduk, bahunya berguncang hebat. Namun, sesegera mungkin ia menegakkan tubuhnya, menghapus jejak air mat
Samar kudengar suara isak tangis seorang wanita. Serta sentuhan di pergelangan tanganku. Hangat, serta kecil.Perlahan kubuka mata ini, kuedarkan pandanganku, kamarku. Aku berada di dalam kamarku. Gorden yang tertutup rapat, menandakan hari telah malam.“Elia!” Kulihat Arion mendekatiku, tersenyum haru ketika melihatku membuka mata.Di samping kananku kulihat Ibu dan Glenn yang tengah duduk di sampingku. Ibu menangis, aku tahu hatinya terluka.Tidak terasa air mataku mengalir. Tidak kupungkiri, aku pun sama halnya seperti Ibu. Aku memang membenci Ayah. Namun, aku tidak ingin dia meninggal.Aku menangis sesenggukan, teringat uluran tangan yang dia lakukan padaku. Dia menatapku penuh cinta. Namun, aku menatapnya penuh kebencian. Dan kini … semua tinggal kenangan. Ayah tidak akan pernah lagi pulang ke rumah ini.“Bu, kenapa harus Ayah, Bu?” Aku mencoba untuk bangun. Arion segera membantuku.Ibu memelukku begitu erat. Kami saling menumpahkan tangis di kedua bahu yang berbeda pemilik.“Ibu
“Baik, Om Remon!” sahutku. Aku mengangguk kecil.“Oh iya, silahkan duduk, Elia! Bi–”“Em … Ayah, aku sudah menyuruh Bibi buatin minum tadi. Sepertinya sebentar lagi minumannya jadi,” potong Arion.Om Remon mengangguk-anggukkan kepalanya. “Anak pintar!”“Oke, baiklah. Em … Elia, Om mau tahu, Om penasaran juga, apa yang membuatmu jatuh cinta sama anak Om ini? Dia nakal loh, padahal. Bahkan sejak di bangku SMA, Om sangat sering dipanggil oleh guru BP. Hampir setiap hari anak ini membuat ulah. Om sampai bosan terus menerus mendatangi sekolahnya untuk meminta maaf. Kok bisa kamu menaklukan kenakalan dia? Bagaimana caranya?” tanya Om Remon.“Ayah … sudah, tidak usah membongkar masa laluku, aku malu. Aku sudah berubah, loh!” timpal Arion. Hal itu membuat Om Remon terkekeh.Wajah Arion sedikit memerah. Entah kenapa ketika melihatnya seperti itu, dia terlihat lucu dan konyol.“Tidak apa-apa, dong. Daripada orang lain yang membongkar, lebih baik Ayah sendiri memberitahunya. Lagi pula Elia ini p
Aku berlari menghampiri Ibu, kubantu Ibu untuk berdiri.“Ibu sakit?” tanyaku. Aku cemas melihatnya.Ibu menggeleng pelan, wajahnya begitu sayu.“Ibu tidak apa-apa, Sayang. Perasaan Ibu tidak enak, semoga ayahmu baik-baik saja di mana pun berada,” jawabnya.Aku membawa Ibu ke dalam rumah. Kubantu dia untuk duduk di sofa ruang tamu. Sementara Glenn, kubiarkan dia bermain dengan anak tetangga. Aku tidak mau mengganggu waktunya bermain. Kupantau dia dari kaca jendela.“Tidak usah berpikir buruk, Bu. Kita tahu siapa Ayah, dia pasti bisa jaga diri,” ucapku. Berusaha menenangkannya.Ibu mengangguk kecil, walaupun wajahnya masih terlihat murung. Aku mengambilkan air minum untuknya.“Sudah lebih tenang?” tanyaku.“Iya, Sayang. Ibu sudah tenang, terima kasih, ya!” Aku mengangguk, lantas mengusap lengannya dan bersandar pada bahunya.“Permisi!” Aku mengangkat kepalaku, kami berdua serempak menoleh ke ambang pintu.“Arion!” Lelaki itu berdiri di ambang pintu, dengan seulas senyuman yang dia lem
“Jangan-jangan dia orang jahat yang lagi pura-pura pingsan!” batinku menerka-nerka.Aku menoleh ke sana kemari, tidak ada orang lain selain aku dan orang itu.Tidak, aku tidak sepolos itu. Fix! Dia pasti pura-pura pingsan demi menjarah barang-barang orang yang lewat, lebih parahnya membahayakan nya
Aku heran dengan sikap mereka berdua. Kulihat tangan Tante Ella gemetar. Kemungkinan dia gugup karena melihat ketampanan ayahku. Bahkan kudengar Tante Ella menyebut nama ayahku.“Tante … kenal dengan ayahku?”“Ja-jadi … Elia anakmu? Apakah dia anakmu bersama Sophia?” tanya Tante Ella, matanya tak l
Neni membeliak, spontan ia menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.“Elia, kamu bercanda, kan? Sumpah ini tidak lucu!” sergah Neni.Cepat-cepat aku menggeleng, kutatap wanita yang ada di hadapanku ini dengan harapan yang begitu besar.“Aku tidak bercanda, Nen. Aku memang menginginkan ayahku menik
Aku penasaran dengan luka itu. Namun, rasa ingin buang air ini mengalahkan rasa penasaranku.Cepat-cepat aku menuntaskan urusanku di kamar mandi. Setelah merasa lega, aku kembali ke ruang tamu.“Bu, malam ini boleh, ya, Elia nginep di sini!” pinta Neni, ketika kami tengah berkumpul.“Em … memangnya







