Share

9. Jaga Mata

Author: kamiya san
last update Huling Na-update: 2025-11-14 17:02:57

"Alin...," gumam Zoe terkejut, tidak menyangka gadis itu akan melakukan perintahnya begitu saja.

Meski sempat merasa kikuk, Alingga menyandarkan punggung dengan santai di sofa. Kemudian tersenyum, melawan rasa malu dalam hatinya.

“Jadi, Pak Zoe… eh, maksudku Paman Julin, kapan bisa mengantarku menemui ibuku? Aku ingin cepat. Bisakah?” tanya Alingga berusaha tenang. Melirik selimut yang telah teronggok tak berguna di sampingnya.

Karena kesal dengan ucapan Zoe yang menyebutnya gadis keci
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   128.

    Mak Tini bahkan sudah menyongsong dengan wajah bantal. Kini duduk semua di ruang tamu. Danu telah berbicara dan memulai interogasi. Nadanya tegas dengan tatapan tajam. Anak Pak RT rupanya sudah mulai menunjukkan bakat. “Saya hanya ingin menikahinya, Mas. Tidak ada maksud jahat. Mohon maaf.” Lelaki penyusup bernama Andri itu ternyata adalah mantan pacarnya Dinda. “Tetapi untuk apa menyusup ke rumah orang, itu perbuatan tidak terpuji sekaligus meresahkan. Anda bisa dituntut banyak pasal. Lagipula, kenapa memaksa jika dia tidak mau?” Danu kembali mendesak. Dia juga melirik pada Dinda. Tampak tegas dan garang, ingin terang benderang malam ini juga. “Saya sangat khawatir, Mas. Soalnya, Dinda pernah akan bunuh diri dan berniat aborsi.” Andri menunduk. Namun, ucapannya membuat Alingga terkejut bukan main. “Maksudmu ... Dinda hamil?” tanyanya dengan perasaan shock dan menahan napas. “Benar, Mbak. Kehamilan Dinda sudah masuk ke tiga bulan. Tetapi tidak pernah mau saya nikahin

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   127.

    Meski sudah curiga, rasanya masih saja terkejut dan sangat tegang. Sebab seperti tidak percaya, Alingga memutar ulang hingga tiga kali. Ternyata sebelum Dinda datang, Mak Tini keluar ke belakang. Mengejutkan, seorang lelaki baru saja melompat pagar dan mereka saling berhadapan. Rupanya Mak Tini marah dan berusaha menyuruh lelaki itu pergi. Mungkin perangkat dalam pantauan kurang bekerja, suara percakapan mereka tidak terdengar sama sekali. Alingga berencana komplain esok hari. Mak Tini masuk kembali ke dalam rumah. Namun, lelaki itu tidak pergi dan tidak juga melompati pagar lagi. Dia duduk sambil bersembunyi di balik beton bekas sumur. Oh, jadi di sana mangkalnya! Alingga hampir menangis. Rasanya sungguh tegang, waswas, dan marah. Dirinya seperti sedang dikhianati. Rupanya Mak Tini …. Alingga makin merasa tegang saat Dinda datang dan masuk ke pekarangan belakang. Lelaki langsung muncul dan mendekat. Berusaha memegang tangan Dinda tetapi ditepis. Gadis itu berbicara sam

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   126.

    Satu hari kemudian. Mak Tini sedang menyiapkan makanan di dapur saat bell berbunyi. Terdengar pintu dibuka dengan percakapan ramah tamah antara Alingga dan seorang lelaki. Tetapi beberapa langkah terdengar mendekat, sangat dekat, dan hanya melewati. Rupanya kru pemasangan CCTV yang diundang Alingga telah datang. Gadis itu sedang memberi arahan di mana saja posisi kamera perlu diletakkan. “Di teras yang menjangkau pagar dan pintu rumah ya, Mas. Sama di sini ... yang menjangkau keseluruhan. Dah, dua saja,” ucapnya terdengar jelas dari dapur. Mak Tini meras lega. Setidaknya dengan hanya meletak kamera di luar, menunjukkan jika alasan Alingga pasang CCTV bukan sebab curiga dengan kinerjanya, mungkin untuk keamanan dan bahaya dari luar. Maka asisten rumah itu pun lebih bersemangat kembali lanjut memasaknya. “Mak!” Alingga masuk ke dapur dan mendekati Mak Tini yang menoleh kaget. Wanita itu melepas ulekan di cobekan. Menatap Alingga dengan ekspresi penuh tanya. “Ada apa,

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   125. Bau Rokok

    Alingga melangkah ke bagian belakang rumah dengan niat jelas. Ia hendak mencuci pakaian di kamar mandi luar, tempat mesin cuci berada di teras belakang. Tidak ada pilihan lain selain segera membereskannya. Ia enggan membiarkan baju-baju yang dibawa berhari-hari itu lembap terlalu lama, apalagi sampai menimbulkan bau tidak sedap. Baginya, mencuci sekarang jauh lebih baik daripada menyesal kemudian. Makin lama makin malas! Sore merangkak senja, suasana menuju petang yang redup. Alingga mencari tombol lampu di tempat biasa dan menghidupkan. Suasana menjadi lebih terang meski tidak sangat mencolok, sebab hari belum malam. Fungsi lampu belum terlalu tampak wujudnya. “Uhuk! Uhuk!” Alingga tiba-tiba terbatuk keras. Udara yang terhirup terasa serik, menusuk tenggorokan tanpa aba-aba. Ia sontak terkejut, dadanya terasa sesak. Aroma asing itu sama sekali tidak wajar. Setelah menarik napas pendek-pendek, ia baru menyadari penyebabnya, bau tembakau terbakar alias asap rokok! Baunya menyu

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   124. Teman Serumah

    Kunci pintu rumah yang sudah dipegang dia genggam lagi lebih dalam. Seseorang di dalam rumah sudah menyahut salamnya meski terdengar sayup. Langkah samar pun terdengar kemudian. Ceklek Seorang gadis telah membuka pintu dan tertegun mengamati Alingga. Kemudian keduanya saling melempar senyum. “Eh, Mbak Alingga?!” sapanya dengan senyum jauh lebih lebar. Menyadari siapa yang mengetuk pintu. Sang pemilik rumah! “Benar, Din. Kamu apa kabar?” tanya Alingga. Gadis itu yang terlihat gelisah meski berusaha ditutup dengan senyum. “Alhamdulillah, baik, Mbak. Eh, sekarang pakai kerudung? Mbak Alingga makin cantik …,” puji gadis itu setelah menatap lama Alingga. Merasa ada yang berbeda dari beberapa bulan lalu. Ternyata kerudung anggun itu. “Eleh…,” sahut Alingga sambil mencibir kecil. Merasa lega, gadis itu mengenalinya dengan cepat. Dinda adalah mahasiswa berprestasi dari Gunung Kidul yang sedang mengambil pendidikan di perguruan tinggi. Dari keluarga tidak mampu. Alingga ken

  • Suami Rahasiaku Ternyata Paman Tiriku   123. Aku Rela

    Tin! “Antar saya ke Kota Malang ya, Pak!” seru Alingga sambil membungkuk. “Gass, Ning!” sahut driver taksi dengan wajah cerahnya. Alingga bergegas menghampiri pintu belakang. Blak! Telah duduk dengan perasaan waswas dan sedikit lega. Dadanya berdebar kencang sebab cemas. Taksi yang sedang lewat berhasil distop tepat saat Hanan keluar bersama mobilnya. “Alingga!” seru Hanan yang membawa sendiri kemudinya. Berhenti di tengah gerbang pagar dengan tercengang. Gadis yang dulu patuh, kini benar-benar sudah tidak mendengarnya. Padahal sudah dipesan agar menunggu sebentar saja. Dirinya pun buru-buru mengeluarkan kendaraan dan siap mengantar Alingga ke kota dingin Malang tanpa niat modus. “Maafkan aku, Ling.” Hanan merasa demikian sesak sekaligus hampa. Rasa hangat seolah menghilang menjadi ruang kosong yang tawar di dadanya. “Benarkah sudah tidak ada jodoh untuk kita? Namun, aku memang sementara dengan Amira. Atau jika selamanya, aku harus bersyukur istriku mendapat panja

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status