LOGINBima terus menciumi Nabila tanpa ampun, dia membuka jas dan melempar dasinya.
"Bim.. hentikan Bim." Ucap Nabila dengan terus mencoba melepaskan diri dari Bima. Bukannya mendengarkan ucapan Nabila, Bima malah menaikan tubuh Nabila ke atas meja kerjanya. Berkas-berkas dan barang diatas meja seketika berantakan. Dia menarik Tali pakaian dan kancing Nabila dengan kasar hingga kancing Nabila terlepas berjatuhan dilantai. Kemeja Nabila langsung dilempar oleh Bima, Gunung kembar Nabila menyembul dibalik bra hitam Nabila, Bima membukanya dengan cepat lalu melemparnya lagi sambil mencium bibir Nabila dengan penuh nafsu. Bima menghisap gunung kembar yang menyembul dihadapannya itu. "Aaahh.. Bima.. ah.. dengarkan aku Bim, aku akan menjelaskan pada kamu. Aaahh.." ucap Nabila sambil mengeram nikmat. Bima masih tidak menghentikan aktivitasnya, dia terus menghisap titik gunung kembar Nabila yang berwarna pink dengan penuh nafsu dan terus meremas nya tanpa ampun. "Aahh.. sayang, maafkan aku.. hmm." Ucap Nabila sambil meremas rambut Bima yang sedang bermain dengan gunung kembarnya. Bukan memberi ampun Bima malah mengangkat rok Nabila lalu merobek celana dalamnya dengan kasar sambil tetap fokus menghisap gunung kembar yang sekal itu. Bima menundukan tubuhnya dan mengangkat kaki Nabila dengan kasar keatas pundaknya, perlahan dia memainkan lidah nya dari perut hingga sampai di strawberry Nabila yang sudah tidak terhalang apapun. Dia menghisap strawberry Nabila dengan lembut dan terus memainkan jari-jarinya yang nakal keluar masuk lubang kecil milik strawberry Nabila, hingga Nabila tidak kuasa berucap apapun lagi untuk menjelaskan kepada Bima tentang pertemuan nya bersama Kevin. "Sayang.. aaahh.." rintih Nabila sambil terus meremas rambut Bima karena merasakan puncak nikmatnya. Sambil terus memainkan lidahnya diarea itu Bima membuka celana dan kemeja yang tersisa ditubuhnya dengan cepat, lalu Bima memasukkan pisangnya yang sudah begitu mengeras ke dalam strawberry Nabila dengan kasarnya dia menggoyangkan tubuhnya sehingga Nabila terus mengeram nikmat. Meja kerja itu seakan menjadi saksi bisu pasangan yang penuh nafsu itu hingga suara meja yang terdengar ikut bergoyang karena aktivitas mereka berdua. Mereka saling berpandangan dengan wajah yang penuh nikmat, sesekali mereka kembali berciuman. Bima terus melakukannya dengan kasar lalu dia menggendong Nabila sambil terus melakukan olah raga menaik turunkan tubuh Nabila sambil berjalan perlahan dan mendudukan tubuhnya diatas sofa. Kini Nabila yang menyetir permainan, dia menggoyangkan pinggulnya dan sesekali menaik turunkan pinggulnya. Tangan Bima yang berada dibok*ng Nabila membantu istrinya itu untuk bergoyang dengan kencangnya. Tubuh mereka penuh keringat, bermain dengan kasar tanpa henti hingga mereka tidak sadar sudah jam pulang kantor. Ardi yang masih setia berjaga diluar memastikan semua karyawan sudah pulang terlebih dahulu baru dia meninggalkan kantor untuk pulang dan membiarkan dua pasangan suami istri itu melakukannya dengan tenang. Mereka terus melakukannya dengan berbagai gaya, langitpun hingga berubah gelap dan akhirnya mereka sama-sama berada dipuncak nikmatnya entah yang kesekian kalinya. Nabila menurunkan tubuhnya dari pangkuan Bima, dia memandang suaminya yang terengah-engah kelelahan sambil menutup matanya. Nabila tidak mengatakan apapun, dia membiarkan suaminya itu dan menunggu sampai Bima mau berbicara dengannya nanti. Dia mengambil pakaiannya dan berjalan menuju toilet pribadi Bima dengan kaki yang mengangkang karena perihnya bekas peperangan sengit itu. Nabila mengenakan kembali pakaiannya, baju nya tidak terpasang sempurna karena beberapa kancing nya lepas ditarik oleh bima bahkan dia tidak memakai celana dalam karena sobek. Nabila memandang dirinya dicermin, lipstik dan rambutnya benar-benar berantakan. dia mencuci wajahnya dan merapikan rambut panjangnya, lalu keluar dari toilet. Terlihat Bima yang sedang memakai pakaiannya , Bima melihat Nabila yang berjalan dengan kesakitan, dia sadar itu ulahnya. Bima memakaikan jas navy nya pada nabila karena ia melihat baju nabila yang telah dirusak olehnya, tak ada kata apapun terucap, mereka pulang dengan keheningan seakan tidak ada pemenang diantara mereka. Sesampainya dirumah, Nabila mandi terlebih dahulu dan berganti pakaian. Setelah selesai dia duduk diatas tempat tidur dan memasukan kakinya kedalam selimut. Dengan harap-harap cemas dia menunggu suaminya selesai membersihkan diri, Bima selesai mandi dan berganti pakaian. Dia berjalan menghampiri Nabila dengan membawa salep ditangannya, tanpa mengucapkan apapun dia membuka selimut yang menutupi paha nabila yang mulus itu. Perlahan Bima membuka bagian bawah gaun tidur Nabila lalu merenggangkan kaki istrinya itu. Nabila hanya memandang suaminya tanpa melakukan penolakan apapun atas perlakuan suaminya. Dengan lembut Bima mengoleskan salep dibagian sensitif Nabila. "Ahh.. sakit Bim. Pelan-pelan.." ucap Nabila yang meringis perih. Tanpa mengatakan apapun Bima menyelesaikan hal itu, lalu menyelimuti Nabila lagi. Mereka berbaring saling berhadapan, Nabila juga tidak menjelaskan apapun pada Bima karena dia merasa akan lebih baik jika Bima yang berbicara terlebih dahulu padanya. Dalam keheningan malam, mereka yang masih berpandangan itu tanpa terasa tertidur nyenyak karena kelelahan akibat perang sengit sore tadi. ---- Terik matahari masuk kedalam kamar Nabila melewati kaca jendelanya, perlahan dia membuka matanya karena silau mengarah kewajahnya. Dia melihat Bima yang sudah tidak berada disampingnya, waktu menunjukan jam 10 pagi tentu saja dia kaget karena dia benar-benar terlambat pergi bekerja. Dia dengan segera bersiap untuk berangkat ke kantor, dia memakan sarapan yang telah disiapkan Bima seperti biasanya. Meskipun sedang marah Bima tidak lupa untuk selalu melakukan kegiatan rutinnya sebelum berangkat bekerja menyiapkan sarapan untuk sang istri. Sesampainya dikantor Nabila berjalan dengan sedikit mengangkang karena masih terasa perih akibat perang kemarin. Belum sempat dia sampai diruangannya Raya dengan segera menghampiri Nabila dengan wajah penuh rasa cemas. " Bu Nab kemana saja sih baru datang? gawat bu gawat !" ucap Raya yang cemas. "Ada apa sih Raya?" Tanya Nabila Bingung. "Bu gawat! Pak Bima mengalihkan proyek New Brand kita di Chandra mall untuk diteruskan oleh Jenie." Ucap Raya. "Apa?" Ucap Nabila kaget. Dengan segera dia berjalan menuju ruangan Bima, dia masuk tanpa mengetuk pintu. Didalam sana ada Jenie dan Ardi. "Pagi Bu Nab." ucap Jenie sambil tersenyum seakan dia pemenangnya. "Apa maksud kamu Bim?" Ucap Nabila dengan wajah penuh kekesalan. "Kalian boleh kembali bekerja." Ucap Bima mempersilahkan Ardi dan Jenie meninggalkan ruangannya. Ardi dan Jenie meinggalkan ruangan Bima, Nabila melirik untuk memastikan mereka berdua sudah keluar lalu menghampiri Bima lebih dekat. "Jawab Aku Bima !" ucap Nabila kesal. "Biarkan proyek New Brand kita di Chandra mall Jenie yang meneruskan, kamu urus proyek lain. Atau kamu boleh cuti dan berjalan-jalan untuk bersantai. Kamu mau ke Swiss? Atau ke Paris?" Ucap Bima. "Jangan bercanda kamu Bim! Proyek ini aku dan timku dan bersusah payah merancangnya. Aku paling gak suka ada yang mengganggu proyekku Bim!" Ucap Nabila kesal. "Oh jadi kamu gak mau aku ganggu kamu dan Kevin?" Ucap Bima. "Bima! Jaga ucapan kamu Bim!" Ucap Nabila kesal. "Kamu berikan proyek ini pada Jenie atau aku tarik kembali opening brand kita di Chandra mall!" Ucap Bima tegas. "Kamu gila ya Bim!" Ucap Nabila semakin kesal. "Aku gila karena aku gak mau dia terus mendekati kamu Bil! Prasaja Sapphire tidak akan miskin hanya dengan menarik diri dari Chandra mall! Dia yang membutuhkan kita, dia yang memohon untuk bekerja sama dengan kita. Aku bisa kapanpun membatalkan semua ini!" Ucap Bima. "Jangan berlebihan seperti itu Bim, Kamu hanya salah paham! Aku hanya makan siang biasa dengan Kevin, aku bilang tidak punya pacar karena memang aku tidak memiliki pacar. Yang aku miliki itu suami! Tapi bukankah kita sudah sepakat untuk menyelesaikan proyek ini dulu baru kita umumkan hubungan kita Bim. Tolong mengertilah Bim." Ucap Nabila menjelaskan. Ditengah perdebatan mereka, tiba-tiba pintu kantor Bima terbuka. Seseorang memaksa masuk..Hari pertama Nabila kembali masuk kerja, sekarang Nabila dan Bima berangkat kerja bersama. Tentu saja dikantor sudah riuh dengan gosip Nabila yang hamil dan diantarkan oleh Bima, karena Ririn yang menceritakan semua itu. Saat Nabila dan Bima masuk, semua mata tertuju pada mereka. Semua orang sangat heran ada apa sebenarnya diantara mereka, bukankah selama ini mereka selalu perang dingin.Nabila dan Bima masuk ke ruangan mereka masing-masing, Raya mengikuti Nabila masuk ke ruangan Nabila."Bu Bil? Gosip panas banget Bu Bil. Tapi kenapa ini tentang Bu Bil?" Ucap Raya."Gosip apa lagi si Raya?" Tanya Nabila sambil tersenyum, tapi dalam hatinya ingin tertawa karena sudah tau apa yang digosipkan."Ririn pagi-pagi sudah heboh, bilang ketemu Bu Nabila dan pak Bima di dokter kandungan. Bahkan bilang Bu Nabila lagi cek up kandungan dan pak Bima mengelus perut Bu Bil." Ucap Raya."Oh itu, itu bukan gosip kok. Itu fakta." Ucap Nabila sambil fokus pada komputer nya."Hah? Apa? Fakta?" Ucap Raya.
"Ardi??" Panggil Anya hingga membuyarkan lamunan Ardi."Iya Nya? Hmm.. lebih baik nanti kamu tunggu Bu Nabila saja yang menceritakan hal detailnya. Aku merasa tidak nyaman jika menceritakan privasi pak Bima. Aku tidak terbiasa untuk itu." Ucap Ardi."Luar biasa, kamu benar-benar berdedikasi tinggi. Sangat setia pada bos." Ucap Anya."Maaf ya Nya, aku hanya ingin memisahkan masalah pribadi dan pekerjaan. Kamu gak marah kan?" Ucap Ardi sambil merangkul tubuh Anya."Tidak, aku hanya kagum dengan kinerjamu. Aku juga penasaran kenapa kamu belum memiliki kekasih? Meskipun kamu itu terlalu serius bekerja kamu itu cukup tampan dan tubuh kamu bagus. Pasti banyak juga yang menyukaimu?" Ucap Ardi."Memang beberapa wanita ada yang mendekatiku, tetapi aku merasa tidak tertarik merasa kurang cocok. Setelah bertemu kamu, entah kenapa aku bisa seterbuka ini padamu." Ucap Ardi."Ucapan laki-laki semua sama." Ucap Anya sambil tertawa.Ardi bicara dalam hatinya (" bagaimana caranya agar kamu percaya pad
Pagi yang begitu cerah, Nabila masih tertidur dalam pelukan Bima tanpa pakaian hanya tertutup selimut.Bima yang terbangun lebih dulu mengelus rambut Nabila dan mencium keningnya.Nabila perlahan terbangun dan membuka matanya perlahan."Pagi sayang." Ucap Nabila tersenyum."Pagi sayangku." Ucap Bima lalu mengecup bibir Nabila."Rasanya nyenyak sekali bisa tidur dipeluk kamu lagi." Ucap Nabila semakin mempererat pelukannya pada tubuh Bima."Maaf yah harus terpisah beberapa waktu kemarin, bahkan aku tidak menemanimu saat cek up pertama anak kita." Ucap Bima."Sudah sayang minta maafnya, yang terpenting sekarang kita sudah bersama lagi." Ucap Nabila sambil mengelus wajah Bima."Setelah pulang nanti jangan ada yang ditutup-tutupi lagi, aku mau semua orang tau kamu adalah istriku. Satu-satunya istriku." Ucap Bima."Iya sayang." Ucap Nabila tersenyum bahagia."Hari ini kamu mau jalan-jalan kemana? Ayo kita nikmati babymoon disini." Ucap Bima."Hmmm.. aku ingin naik kapal pesiar, dan yah men
Mobil nya berasap dan rusak cukup parah membuat semua orang berkumpul dan memanggil ambulan untuk segera membawa Brian dan Bima ke RS. Luka benturan dikepala Brian sangat parah dan sebelah mata Bima terkena pecahan kaca. Dengar segera ambulan datang dan melakukan pertolongan pertama pada mereka lalu segera membawa mereka ke rumah sakit. Silvi yang mengetahuinya langsung berangkat ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan mereka berdua. Kecelakaan itu membuat Silvi ketakutan, dia tidak menyangka kecelakaan ini akan terjadi. Brian dan Bima sampai dirumah sakit dan langsung ditindak di IGD, mereka bersebelahan. Bima masih mengerang kesakitan karena sebelah matanya terkena pecahan kaca dan dokter memeriksa nya kemungkinan harus di operasi dan sepertinya mata sebelah kiri Bima tidak bisa melihat lagi karena rusak cukup parah. Brian yang setengah sadar mendengar hal itu, dengan lemah dia memanggil Bima. Silvi mengintip mereka dari luar dan tidak berani masuk kedalam. Keluarga Brian d
"Sial ! Aku minum wine yang salah." Ucap Silvi dalam hati."Silvi kamu baik-baik saja kan?" Tanya Brian lalu memapah Silvi untuk keluar dari bar."Antar aku ke kosanku Brian." Ucap Silvi."Baiklah." Ucap Brian.Brian mengantarkan Silvi ke kosannya, tidak jauh dari bar. Brian menggendong Silvi sampai ke kamarnya.Tubuh Silvi benar-benar bergejolak, bahkan melihat wajah Brian menjadi wajah Bima. Saat Brian menidurkannya ditempat tidur, Silvi menarik nya mendekati tubuhnya hingga menindih tubuh Silvi."Silvi? Kamu ngapain?" Ucap Brian."Bima, akhirnya kamu disini. Aku sangat menyukai kamu Bima." Ucap Silvi lalu mengecup bibir Brian."Silvi, kamu lihat baik-baik aku ini siapa!" Ucap Brian mencoba melepaskan pelukan Silvi.Tanpa menjawab apapun karena Silvi yang sedang bernafsu dia membalikan keadaan sekarang dia yang berada diatas Brian.Perlahan dia mengelus wajah Brian dan sampai ke dada Brian, tangannya menyelelusup masuk kedalam kaos Brian dan meraba tubuh Brian membuat Brian kegelian
Sesampainya di Swiss, Bima dijemput oleh travel yang disiapkan oleh hotel. Dia menginap di tempat yang sama dengan Nabila bahkan bersebelahan, itu semua sudah diatur oleh Anya.Di hotel, Bima langsung masuk ke kamarnya. Dia begitu takjub dengan keindahan lingkungan sekitar dan pemandangan yang sangat menakjubkan.Dia membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu keluar untuk menghirup udara segar dibalkon.Dia menarik nafas panjang, merasa bebannya lebih ringan. Tanpa dia sadari seseorang dari balkon sebelah memandangi nya dengan tajam, yah dia Nabila. Nabila juga sedang menikmati keindahan pemandangan dibalkon, tetapi tiba-tiba dia menyadari orang yang baru saja datang ke balkon samping adalah suaminya Bima.Nabila memandang tajam karena kaget, apa ini mimpi pikirnya. Bima kembali memandang nya dengan penuh kerinduan dan tersenyum manis pada Nabila."Sayang?" Panggil Bima."Ka..kamu ngapain disini Bim?" Ucap Nabila bingung."Menurut kamu untuk apa aku disini? Ya tentu saja menikmati p







