Beranda / Rumah Tangga / Suami Sederhana sang Nona Kaya / 6. Jangan Mengandung Anaknya

Share

6. Jangan Mengandung Anaknya

Penulis: rindiyoon
last update Terakhir Diperbarui: 2024-01-06 10:17:33

"Jangan berbohong," ucap Sonya pada anak bungsunya.

"Aku benar-benar sudah malam pertama dengan suamiku!" tegas Clara yang sudah berdiri dan menatap kedua orang tuanya yang masih duduk di sofa.

"Ceraikan atau..." Soni menjeda ucapannya dan Clara menatap tajam ke arahnya.

Clara benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada didalam pikiran kedua orang tuanya, apa orang tuanya ingin dirinya menjadi janda? Sungguh menyebalkan, pikir Clara.

"Aku sudah menuruti keinginan ayah dan ibu untuk kuliah dalam urusan bisnis dan lain sebagainya, aku juga akan mengurusi perusahaan setelah lulus. Lalu, apa aku salah menikah dengan pilihanku?" Clara akhirnya membuka suaranya, dia benar-benar jengah dengan kedua orang tuanya yang selalu banyak mengatur hidupnya.

Walaupun Clara adalah anak konglomerat tapi hidupnya penuh tekanan, contahnya seperti sekarang. Dia mirip sekali seperti boneka keluarganya, harus menuruti setiap perkataan orang tuanya.

Clara seperti itu karena dirinya ingin membebaskan sang kakak, Haris. Dia ingin sekali melihat kakaknya bahagia dengan keluarga kecilnya, terkadang Clara ingin sekali merasakan hal yang sama seperti sang kakak.

Namun, semua itu hanya hayalan semata saja. Karena sampai kapanpun Clara sulit terbebas seperti itu dari kedua orang tuanya, apa lagi saat ini dirinya sudah menikah dengan pria lain. Pria yang bukan menjadi tipe menantu keluarga Bastian, sudah pasti Clara hidupnya harus terus-menerus mengikuti keinginan orang tuanya.

"Iya, kamu memang harus seperti itu!" Sonya menatap tajam kearah anak bungsunya.

"Ya sudah, lalu aku harus apa lagi? Setelah lulus juga aku akan mengurus perusahaan," ucap Clara.

"Kau tidak boleh mengandung anak dari suamimu!" tegas Soni.

Clara mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti kenapa ayah kandungnya mengatakan itu padanya. Sebenarnya pasangan yang sudah menikah pasti menginginkan kehadiran seorang anak, tapi lihatlah ayahnya menentang keras masalah ini.

"Setelah ini kau harus menggunakan KB," sambung Sonya.

"Apa? Kalian kenapa sih, aku menikah juga ingin memiliki keturunan dan aku..." Clara belum sempat melanjutkan ucapannya karena sudah disela terlebih dahulu oleh ayahnya.

"Kau tidak pantas mengandung anak dari pria miskin seperti suamimu," sela Soni yang menghina menantunya sendiri.

Tanpa mereka sadari, ada sosok pria yang sedari tadi berdiri tepat di pintu kamar orang tuanya Clara. Sosok pria itu adalah suaminya Clara, Yordan.

'Aku memang miskin, tapi tak seharusnya mereka memperjelas semua itu,' batin Yordan yang dadanya terasa sesak akibat mendengar percakapan mereka sedari tadi.

Semenjak Clara di panggil ke kamar orang tuanya, sebenarnya Yordan juga mengikuti langkahnya tapi dia tertinggal lebih dulu karena pintu kamarnya mulai tertutup rapat. Artinya pintu itu sudah di tutup oleh Clara, tapi Yordan tetap setia berdiri di pintu itu.

Sebenarnya Yordan tidak menguping pembicaraan mereka bertiga, hanya saja dia ingin mengetahui apakah kedua mertuanya masih tidak menginginkan keberadaannya atau sebaliknya.

Ternyata, kedua mertuanya Yordan masih tidak mau menerima keberadaannya. Hati Yordan sangat sakit, tapi dia sadar diri siapa dia sebenarnya.

"Mau aku punya anak atau tidak, itu urusan aku dengan suamiku karena aku yang menikah dan membuat anak dengannya," jelas Clara dan langsung meninggalkan kamar kedua orang tuanya.

Saat Clara membuka pintu kamar orang tuanya, dia terkejut saat melihat suaminya berdiri didepan pintu.

"Ka ... Kak, kok disini?" Clara sedikit gugup saat melihat suaminya yang sudah berdiri didepan pintu kamar orang tuanya, bahkan dia berpikir apa suaminya mendengar semua pembicaraan mereka? Semoga saja tidak, batin Clara.

"Iya aku sengaja disini karena mau mengajak kamu pergi ke kampus, soalnya ini sudah jam hampir kesiangan hehe," ucap Yordan yang berbohong pada istrinya.

Seketika Clara melirik kearah jam tangannya. "Oh iya, ya sudah ayo kita pergi!" Clara menggenggam tangan suaminya.

"Kalian pergi dengan supir saja," celetuk Sonya saat melihat anak dan menantunya berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Tidak perlu, aku ingin naik motor dengan suamiku," ujar Clara yang menolak saran dari ibu kandungnya.

Yordan tidak bisa berbuat apa-apa, dia juga langsung membungkukkan badannya pada kedua mertuanya. Yordan berpamitan, dan tangannya lekas di tarik oleh sang istri.

'Untung suamiku tidak mendengar pembicaraan kami didalam,' batin Clara sambil bernapas lega.

Sebenarnya Clara tidak tau jika suaminya sedari tadi sudah berdiri didepan pintu kamar orang tuanya, tapi Yordan selaku suaminya Clara tidak ingin memberitahu masalah ini dan bahkan dia ingin berpura-pura tidak tau saja untuk pembahasan tadi.

Yordan lebih memilih berpura-pura dari pada harus membahas ini dengan istrinya, karena menurutnya itu sangat menyakitkan.

"Yakin mau naik motor? Nanti kepanasan loh," celetuk Yordan pada sang istri.

Saat ini kedua pengantin baru sudah berada diluar pintu rumah keluarga Bastian. Mereka juga sudah membawa tas masing-masing.

"Yakin, aku suka panas-panasan kok," ujar Clara sambil tersenyum manis.

Yordan membalas senyuman manis pada istrinya, dia benar-benar suka dengan istrinya yang selalu tampil apa adanya. Oleh sebab itu, Yordan menikahi Clara.

Karena menurut Yordan, Clara adalah tipe gadis yang apa adanya dan bisa diajak suka maupun duka. Namun, Yordan tidak ingin membuat istrinya menderita.

"Tapi, motorku masih dirumah," ucap Yordan yang baru menyadari saat kemarin dirinya tidak membawa motor hanya membawa perlengkapan pakaian dan beberapa barang yang di butuhkan.

"Pakai motorku aja!" Clara kembali menarik tangan suaminya dengan semangat.

Clara mengajak suaminya menuju garasi yang berada disamping rumahnya, saat mereka berdua masuk kedalam garasi itu.

Kedua matanya Yordan melotot tak percaya, garasinya mirip sekali dengan showroom motor. Didalam garasi ini banyak pilihan motor, dan Clara mulai melepaskan genggaman tangannya.

"Pilih, mau pakai motor yang mana?" tanya Clara sambil menatap kearah sang suami.

"Aku bingung pilih yang mana," jawab Yordan dengan jujur.

Clara tersenyum dan paham dengan perubahan sikap suaminya. "Pakai motor sport aja biar aku duduknya nungging biar kayak cewek-cewek diluaran sana hahaha." Clara tertawa saat mengingat kejadian lucu diluaran sana.

Sebenarnya Yordan tidak tau kenapa istrinya mengatakan itu, tapi dia paham dengan arah pembicaraan istrinya.

"Jangan pakai itu, kita pakai motor beat aja biar bensinnya irit," kata Yordan.

"Oke, terserah suamiku aja." Clara hanya manggut-manggut dan menuruti apa yang di katakan oleh suaminya.

Clara mengambil kunci motor yang akan di gunakan oleh suaminya dan dirinya pergi.

Yordan dan Clara sudah memakai helm masing-masing dan mereka sudah duduk diatas jok motor. Kini Yordan mulai mengendarai motor itu dengan pelan-pelan.

Tanpa mereka sadari ada sepasang suami-istri yang sedari tadi memantau gerak-gerik pasangan pengantin baru itu, siapa lagi kalau bukan orang tuanya Clara.

"Dasar pria miskin, sudah menikah dengan Clara masih aja sikap miskinnya di tunjukkan," ucap Sonya yang kesal dengan menantunya itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suami Sederhana sang Nona Kaya   40. Special Part

    Lima tahun berlalu. Rumah tangga Clara dan Yordan semakin hari semakin bahagia, mereka tidak menyangka hari ini adalah hari pertama anak pertamanya masuk sekolah taman kanak-kanak. Namun, sang anak sudah sangat pandai berbicara, anak mereka sangat cerewet sekali, hehehe."Ma!" Elizabeth Yora Bastian mulai berlari menghampiri kamar orang tuanya setelah dirinya sudah menggunakan seragam sekolah dan tas ransel yang sudah digendongnya. "Mama, lama banget." Yora menunjukkan ekspresi kesal, tapi ia tidak benar-benar kesal, kekesalan yang begitu imut bagi anak seusianya.Clara dan Yordan menghampiri anaknya yang sudah siap pergi ke sekolah. Clara membungkukkan badannya dan mengecup kening Yora, begitu juga dengan Yordan."Papa, papa antar aku ke sekolah, kan?" Yora menatap ayahnya dengan penuh harapan, ia berharap jika hari pertamanya sekolah diantar oleh sang ayah juga.Yordan terdiam dan menatap Clara."Papa, aku tanya papa loh!" Suara Yora begitu gemas.Terdengar suara langkah kaki yang s

  • Suami Sederhana sang Nona Kaya   39. Kebahagiaan

    Di saat Tarra dan Yolla merasakan penyesalan, di sisi lain ada Clara dan Yordan yang selalu merasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang selalu datang bertubi-tubi membuat pasangan suami istri itu selalu bersyukur dan berterima kasih pada sang pencipta."Sayang, aku bahagia sekali saat ibu dan ayah sudah merestui kamu dan mulai bersikap baik padamu." Clara memeluk erat tubuh suaminya.Posisi Clara dan Yordan saling berhadapan, mereka sedang menatap keluar jendela dari dalam kamar, tapi Clara memeluk tubuh Yordan dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu, dada yang selalu membuat Clara tenang dan nyaman."Aku lebih bahagia karena mertuaku mengizinkan ibuku tinggal di sini juga." Yordan mengecup kening istrinya dengan lembut."Ternyata kebahagiaan selalu datang di waktu yang tepat," ungkap Clara yang tidak sengaja meneteskan air matanya.Saat Soni dan Sonya izinkan Dewi tinggal bersama mereka, akhirnya Yordan memutuskan untuk membawa Dewi ke rumah mewah ini, rumah yang sudah menjadi sa

  • Suami Sederhana sang Nona Kaya   38. Penyesalan

    Di sebuah kontrakan petak. Tarra dan Yolla sedang termenung di ruangan masing-masing. Tarra berada didalam kamar, dan Yolla berada di ruang tengah. Tarra menatap datar sebuah foto yang ada di ponselnya, foto dirinya bersama mantannya, Clara. Tarra meneteskan air matanya, ia teringat dengan semua prilaku buruknya pada sang mantan. Di sisi lain, Yolla juga seperti itu, ia menatap foto dirinya bersama mantannya, Yordan. Apakah Tarra dan Yolla menyesal? Ya. Penyesalan hadir pada Tarra dan Yolla, mereka sedang merenung atas semua yang terjadi dalam hidupnya, hidup yang begitu perih dan sangat memprihatikan."Dia sudah bahagia dengan suami dan anaknya," gumam Tarra yang sudah mengetahui sang mantan sudah memiliki anak. "Mungkin, jika aku menikah dengannya dan menjadi suaminya, aku akan bahagia." Tarra menangis tanpa suara, ia mulai mengusap air matanya dengan kasar. Lalu ia teringat orang tuanya, ia bergumam. "Jika aku kembali, apakah mereka akan menerimaku lagi?" Tarra sepertinya sudah lel

  • Suami Sederhana sang Nona Kaya   37. Shana's Cake

    Setelah berhari-hari liburan keluarga, kini liburan itu sudah berakhir dan semuanya kembali pada aktivitasnya masing-masing. Saat ini Soni dan Sonya berada di toko roti milik Haris dan Elia yang bernama Shana's Cake. Haris dan Elia masih terus bersyukur dan terharu dengan apa yang terjadi dalam hidup mereka, mereka masih tidak menyangka dengan yang terjadi. Namun, seperti inilah rencana Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan selalu memberikan kebahagiaan setelah kesedihan."Mulai besok, ibu akan merenovasi ini." Sonya ingin merenovasi toko milik anak dan menantunya."Bu, tidak perlu." Elia merasa tidak ingin merepotkan mertuanya."Tidak apa, sekarang bilang pada ibu jika kalian membutuhkan sesuatu," ucap Sonya yang terus melangkahkan kakinya menuju kedalam dapur.Elia mengikuti langkah Sonya ke dapur, di sana Sonya memeluk erat tubuh Elia yang sedikit gemetar, gemetar karena masih tidak menyangka dengan semuanya."Elia, terima kasih, terima kasih sudah setia dan menjaga anakku." Sonya kembali

  • Suami Sederhana sang Nona Kaya   36. Akhirnya Merestui

    Dewi tidak ingin ikut campur dengan masalah keluarga besannya, ia lebih memilih membawa Shana dan Yora ke ruangan lain, dan terlebih dia tidak ingin anak seusia Shana mendengarkan tentang pembicaraan orang dewasa tersebut. Clara tersentuh dengan prilaku ibu mertuanya yang segera sigap dengan situasi yang ada, dan Clara selalu merasa bersalah pada mertuanya karena orang tuanya selalu memperlakukan suaminya dengan tidak baik. Namun, Clara yakin momen seperti ini akan selalu terjadi, walaupun harus lama menunggu. Apakah Soni dan Sonya akan menerima kehadiran Yordan dan Elia sebagai menantu mereka? Ya, jawabannya iya."Maafkan saya selama ini memperlakukan kalian dengan tidak baik," ungkap Sonya yang terdengar tulus, bahkan ia meneteskan air matanya, ia juga terus menatap menantunya satu persatu.Elia yang sangat cengeng langsung meneteskan air matanya, dan Haris mulai merangkul pundak istrinya dengan penuh haru. Haris juga meneteskan air matanya, ia selalu tidak menyangka dengan momen sa

  • Suami Sederhana sang Nona Kaya   35. Liburan Keluarga

    Satu tahun berlalu. Sonya sempat menginginkan rencana liburan pada Soni, dan akhirnya liburannya terlaksana setelah satu tahun berlalu, karena mereka tidak ingin cucu kedua mereka berlibur saat masih bayi, mereka khawatir akan kesehatan, karena bayi mudah sakit jika pergi jauh."Akhirnya liburan keluarga." Clara senang dengan orang tuanya yang mengadakan liburan keluarga. Clara juga berharap tidak ada keributan apapun saat mereka berlibur.Liburan keluarga saat ini berada di luar kota. Soni dan Sonya menyewa villa untuk keluarga besar mereka, Sonya terlihat sangat bahagia, begitupun dengan Soni."Terima kasih sudah mengundang saya dalam acara keluarga ini," ucap Dewi yang merasa beruntung diajak berlibur dengan sang besan."Saya yang seharusnya berterima kasih padamu," kata Sonya.Seketika suasana di ruangan keluarga terasa sunyi, orang-orang yang ada di sana saling menatap satu sama lain.'Semoga tidak ada pertengkaran,' batin Haris yang selalu khawatir jika orang tuanya akan berbuat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status